top of page

Hasil pencarian

9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Si Putih Penunjuk Jalan Jenderal Soedirman

    KEBERHASILAN gerilya Jenderal Soedirman terletak pada kesediaan masyarakat membantu perjuangannya. Mereka menyediakan penginapan dan makanan, membuatkan tandu baru, memikul tandu, dan penunjuk jalan karena penduduk setempat lebih mengetahui arah jalan yang akan ditempuh. “Menjadi kebiasaan rombongan itu untuk menggunakan tenaga-tenaga setempat sebagai penunjuk jalan,” tulis buku Soedirman Prajurit TNI Teladan. Pada 24 Januari 1949 malam, Kapten Tjokropranolo, pengawal Soedirman, memutuskan jalan dari Desa Jambu menuju Warungbung. Penduduk setempat menyarankan agar paginya sudah harus berangkat ke tempat lain karena ternyata rombongan bergerek mendekati markas Belanda di Kasugihan, yang jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer.

  • Jenderal Soedirman Tak Selalu Ditandu

    JENDERAL Soedirman tak selalu ditandu ketika bergerilya. Dari Kompleks Mangkubumen Yogyakarta, dia dan pengawalnya naik mobil dan pick-up. Belanda mengetahui perjalanannya itu, sehingga pesawat cocor merah menghujani rombongan. “Rupanya mereka dapat mengetahui rombongan kami karena pada mobil yang kami tumpangi itu masih terpasang bendera Panglima Besar. Dalam keadaan gawat itu Pak Dirman saya dorong ke semak di pinggir jalan sehingga beliau terhindar dari bahaya maut,” kata Harsono Tjokroaminoto dalam otobiografinya, Selaku Perintis Kemerdekaan. Harsono menjadi penasihat politik Soedirman selama bergerilya. Lolos dari bahaya, Soedirman melanjutkan perjalanan dengan mobil sampai Bantul, lalu Kretek. Untuk menghilangkan jejak, Kapten Tjokropranolo, pengawal Soedirman, memerintahkan mobil dan pick-up yang dipakai rombongan dibawa pergi sejauh mungkin, kalau perlu dirusak di lain tempat. Malam itu juga, Soedirman dan rombongan menyeberangi Kali Opak. Sesampainya di seberang kali, mereka dijemput lurah Mulyono Djiworedjo, dengan dokar tanpa kuda.

  • Pengunduran Diri Jenderal Soedirman

    SEBAGAI pernyataan penutup dalam debat calon presiden pada 22 Juni 2014, Joko Widodo membacakan kutipan Panglima Besar Jenderal Soedirman. “Satu-satunya hak milik nasional Republik yang masih tetap utuh dan tidak berubah-ubah meskipun harus menghadapi segala macam soal dan perubahan hanyalah Angkatan Perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia). Maka sebenarnya menjadi kewajiban bagi kita sekalian yang senantiasa tetap mempertahankan tegaknya Proklamasi 17 Agustus 1945. Untuk tetap memelihara agar supaya hak milik nasional republik itu tidak dapat diubah-ubah oleh keadaan yang bagaimana pun juga.” A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia menyebut kutipan tersebut merupakan bagian dari surat Soedirman tertanggal 1 Agustus 1949 kepada Presiden Sukarno yang ditulisnya ketika sakit. Ketika itu, terjadi krisis politik-militer di Yogyakarta. Sesuai Persetujuan Roem-Royen, Sukarno mengeluarkan perintah gencatan senjata pada 3 Agustus 1949.

  • Pangeran Makassar Membela Raja Louis-Prancis

    SETELAH Daeng Mangalle terbunuh di Siam atas tuduhan konspirasi melawan raja Siam, dua anak laki-lakinya, Daeng Ruru dan Daeng Tulolo, kemudian jadi tawanan perang. Beberapa pengikutnya menghabisi istri dan anak Daeng Mangelle dalam pertempuran September 1686 agar tidak menjadi tawanan atau budak, namun Daeng Ruru dan Daeng Tulolo selamat. Keduanya lantas dikapalkan ke Brest, Prancis pada November 1686 dan tiba di sana pada 15 Agustus 1687. “Keduanya masih muda, berumur masing-masing 14 dan 12 tahun,” tulis Ahmad Massiara Daeng Rapi dalam Menyingkap Tabir Sejarah Budaya di Sulawesi Selatan. Keduanya disukai Raja Louis XIV yang berkuasa di Prancis hingga dipersilahkan belajar bahasa Prancis. Bahkan keduanya diperbolehkan memakai nama Louis sehingga Daeng Ruru sebagai Louis Pierre Makassar dan Daeng Tulolo sebagai Louis Dauphin Makassar.

  • Penembak Jitu Desersi Ikut Panglima Polem

    DI BIVAK Cot Dah, Lhokseumawe, Aceh antara 6-8 Juli 1899, seorang fuselier (prajurit infanteri) asal Ambon dengan nomor stamboek 54784 melapor kepada komandan peletonnya bahwa dirinya sedang sakit. Alih-alih mendapatkan izin, prajurit dari Batalyon Infanteri ke-3 Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) itu malah dipukuli oleh sersan di peleton tersebut. Setelah dipukuli, prajurit bernama Kamby itu segera ditugaskan berjaga. Kamby harus terus waspada terhadap serangan para pejuang Aceh yang menjadi musuh pemerintah kolonial meski tubuhnya sedang sakit. Tugas itu tetap diselesaikannya. Setelah berjaga, Kamby dilaporkan hilang. Sumatra Courant, 7 September 1899, memberitakan, Prajurit Kamby membelot pada malam tanggal 6 menjelang 7 Juli. Kamby yang kabur membawa senjata terbilang canggih itu langsung dicap desertir oleh militer Belanda. Kamby, disebut De Avondpost, 28 September 1903, telah beberapa tahun menjadi serdadu di Aceh. Dia berpindah-pindah kesatuan selama bertugas dan berperang di Aceh. Het Vaderland, 29 Oktober 1903, menyebut Kamby penembak jitu yang terampil. Kamby membelot ke orang Aceh jejaring Panglima Polem, panglima perang Aceh yang sangat berpengaruh di daerah bekas Kesultanan Aceh yang telah dihancurkan pemerintah kolonial. Kamby membawa amunisi cukup banyak, sehingga pembelotannya amat menguntungkan Aceh. Kamby memulai hidup baru. Diberitakan De Nieuwe Courant, 3 Februari 1904, Kamby mengaku tak sadar ketika dibawa oleh orang Aceh. Dia terbaring sakit selama 16 hari di Desa Paja Bakun. Pemuka orang Aceh di situ adalah Tengku Ie di Mata. Setelah bergaul dengan orang-orang Aceh, Kamby yang beragama Kristen memutuskan menjadi muslim. Namanya berganti menjadi Djohan. Dari Paja Bakun, Kamby dibawa ke Blang Si Alif. Di sana dia berada di bawah perintah Teungku di Barat Alui Djalingen. Kamby dengan kemampuan dan kelebihannya diandalkan pihak Aceh dalam melawan Belanda. Hanya saja, di masa awal bersama orang Aceh, dia tidak membawa senapan canggihnya sendiri. Sebaliknya, pembelotan Kamby merugikan militer Belanda bahkan sampai marah. “Dia bertanggung jawab atas kematian atau cedera banyak mantan rekannya,” kata perwakilan militer Belanda, dikutip Het Vaderland, 29 Oktober 1903. Tak hanya itu, militer Belanda juga melakukan pembunuhan karakter dengan menyebutnya “tidak kompeten secara mental.” Kamby disebut berlaku aneh sebagai militer. Ketika masih bertugas, dia diacuhkan para atasannya. Numun, Kamby yang berada ada di pihak lawan juga dianggap berbahaya oleh militer Belanda. Tuduhan Kamby menyebabkan luka dan kematian kawan-kawannya di KNIL dibantah orang Aceh. De Nieuwe Courant, 3 Februari 1904, menyebut, Tuanku Raja Menkuta, kepala kampung terkenal di Aceh, menyatakan bahwa Kamby tidak pernah berpartisipasi dalam pertempuran apa pun. Bahkan, dia dijaga dengan ketat oleh orang-orang Aceh. Lebih dari tiga tahun Kamby bersama orang-orang Aceh. Akhirnya, pada 20 September 1903, Kamby menyerahkan diri di tangsi Paja Meundru, Pasai. Konon dia menyerah dengan sukarela. Kamby yang orang Ambon dianggap pengkhianat oleh serdadu KNIL dari Ambon di Kotaraja (kini Banda Aceh), sehingga dijauhkan dari mereka. Serdadu-serdadu Ambon KNIL dikenal loyal terhadap Kerajaan Belanda, maka Kamby bisa dihabisi jika berada bersama mereka. Sebagai prajurit desersi, hukuman berat menanti Kamby, setidaknya kurungan penjara. Kamby bukan satu-satunya serdadu KNIL yang desersi. Sersan Sersan Matheus, anak Kapten Carli, pernah desersi antara 1891-1896, lalu mati.*

  • Anak Kapten KNIL Membelot di Perang Aceh

    DARI Italia, Johan Gamari Carli (1802-1872) berangkat ke Belanda. Putra dari Giovanni (Jean) Marie Carli dan Catharina itu lalu mendaftar masuk tentara. Pria kelahiran Dervio, Lecco, Lambordia pada 12 Maret 1802 itu lalu pada 22 April 1826 terdaftar sebagai sukarelawan untuk tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) dengan masa kontrak dinas enam tahun. Johan kemudian dikirim ke Hindia Belanda. Pada 1830-an, pangkatnnya naik menjadi brigadir dalam satuan pengawal Sultan Hamengkuwono V di Yogyakarta. Masa itulah Johan mengawini Josina Justina Kladowits Kladowitz (1813-1881). Di kota itu pula beberapa anak Johan lahir: Fredrik, Petrus, Adrianus Bernardus, Gerardus, Josephine Emeli dan Johanna Petronella. Petrus kemudian mengikuti jejak ayahnya, jadi serdadu. Petrus Carli, disebut arsip Studbook Oost-Indisch Boek, Onderofficieren en minderen, 1832-1949, Nederlands-Indië, archive 2.10.50, inventory number 351, folio 35695, lahir di Yogyakarta pada 16 Mei 1839. Dia terdaftar menjadi sukarelawan pada 25 Oktober 1855 dan kemudian mendapat pangkat sersan. De Indisch Courant, 27 April 1933, menyebut Carli ikut serta dalam Ekspedisi Bone ke-2 –untuk menaklukkan Kesultanan Bone di Sulawesi Selatan– tahun 1859. Di sana, dia terluka akibat tertembak.

  • Hidangan Favorit Napoloon

    BERMULA dari kemenangannya dalam Pengepungan Toulon (29 Agustus-19 Desember 1793), yang menyelamatkan Revolusi Prancis, reputasi Napoloon Bonaparte terus menanjak. Karier militer dan kemudian politik terus didakinya secara perlahan tapi pasti. Puncaknya, 9 November 1799, Napoleon mendaulat dirinya sebagai premier consul atau pemimpin tertinggi republik. Namun, capaian itu tak berbanding lurus dengan selera makannya. Berbeda dari Louis XVI (1774-1792) yang menggemari beragam sajian premium macam bouillabaisse (sup ikan), coq au vin (ayam masak anggur), hingga beouf bourguignon (semur daging), Napoloon tak punya makanan favorit. Ia hanya menikmati hidangan-hidangan sederhana seperti kentang dengan bawang bombay, sup kentang, kacang-kacangan rebus, dan omelette. Ia juga tak punya kebiasaan berlama-lama di meja makan. “Napoleon punya kebiasaan makan yang mengherankan. Ia tak pernah makan lebih dari 25 menit. Selain makan dengan cepat porsinya pun sedikit. Favoritnya sekadar kentang yang digoreng dengan bawang bombay. Di rumah, saat makan bersama istrinya, Josephine, ia menyukai ayam panggang,” tulis Frank McLynn dalam Napoleon: A Biography.

  • Cerita Rombongan Presiden Soeharto Disuntik Vaksin

    PRESIDEN Joko Widodo dan para pejabat negara serta figur publik menerima vaksinasi Covid-19 pada 13 Januari 2021. Vaksinasi ini untuk meyakinkan masyarakat agar bersedia divaksin yang akan diberikan dalam dua tahap. Tahap pertama (Januari–April 2021) vaksinasi diberikan kepada petugas kesehatan, petugas publik, dan lansia. Sedangkan tahap kedua (April 2021–Maret 2022) vaksinasi diberikan kepada masyarakat rentan dan masyarakat lainnya. Melihat ke belakang, Presiden Soeharto dan rombongan juga pernah menerima vaksin dalam kasus khusus. Saat itu, Soeharto tengah mengadakan kunjungan kenegaraan ke beberapa negara.

  • Penolakan Vaksin Dulu dan Kini

    SEJAK beberapa tahun bekalangan, gerakan anti-vaksin muncul di tanah air. Alasan di balik gerakan beragam. Ada yang beranggapan vaksin mengganggu sistem kekebalan anak, dilarang agama, atau mengira vaksin jadi penyebab autisme anak. Meski klaim terakhir telah dibantah para ilmuwan, gerakan ini tak lantas surut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut keraguan penggunaan vaksin jadi satu dari sepuluh ancaman terbesar pada kesehatan global 2019. Buntut penolakan ini tak sepele, ada kemunculan kembali penyakit yang sebetulnya dapat dicegah dengan vaksin. Padahal beberapa penyakit pernah hampir diberantas di masa lalu. "Ada infeksi yang belum pernah kita lihat selama bertahun-tahun atau kita tidak ingat kapan terakhir kali kita melihatnya," kata Michael Angarone, asisten profesor kedokteran di Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago, Amerika Serikat, seperti ditulis Beritagar.ID.

  • Menanti Vaksin Pembasmi Penyakit

    SEBAGAI salah satu lembaga yang meneliti vaksin corona, Universitas Oxford pada 23 April 2020 sudah mulai mengujicoba hasil risetnya pada manusia. Sebanyak 1110 sukarelawan menjadi bagian dari percobaan tersebut. Setengahnya menerima vaksin ujicoba, setengah lainnya mendapat vaksin meningitis. Vaksin yang diujicoba merupakan ChAdOx1 nCoV-19, yang dibuat dari virus (ChAdOx1) atau virus flu biasa (adenovirus) yang sudah dilemahkan. Adenovirus biasanya menginfeksi simpanse. Secara genetis, virus ini telah berubah sehingga muskil berkembang pada manusia. Materi genetik dari protein SARS-Cov-2 (disebut Spike Glycoprotein) ditambahkan pada konstruksi ChAdOx1. Protein ini biasa ditemukan pada permukaan SARS-Cov-2 dan punya peran penting dalam proses infeksi ke manusia.

  • Vaksin dan Harapan di Tengah Wabah Penyakit

    PRESIDEN Joko Widodo mendapatkan suntikan pertama vaksinasi Covid-19 di Istana Merdeka pagi ini, Rabu (13/01/2021). Jokowi menerima dosis pertama dari vaksin produksi Sinovac. Pemberian vaksin ini dilakukan setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) untuk vaksin Covid-19 produksi Sinovac. Pun setelah Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menetapkan vaksin Covid-19 produksi Sinovac halal dan suci. Dalam konferensi pers yang digelar usai vaksinasi, Joko Widodo menyatakan bahwa pemberian vaksinasi ini penting untuk memutus mata rantai penularan sekaligus memberikan perlindungan kesehatan kepada seluruh masyarakan Indonesia. “Keselamatan, keamanan bagi kita semua masyarakat Indonesia dan membantu percepatan proses pemulihan ekonomi,” katanya.

  • Vaksin Darurat Masa Revolusi

    PROF. Dr. Satrio. Nama ini sohor sebagai salah satu jalan utama di Jakarta. Tak banyak orang tahu siapa sosok ini dan apa yang telah dilakukannya sehingga namanya diabadikan. Dia seorang dokter tentara yang berjasa dalam memberikan vaksin cacar kepada penduduk Banten Selatan dan Bogor pada masa revolusi kemerdekaan. Cerita pemberian vaksin oleh dr. Satrio bermula pada Desember 1948. Kala itu, Belanda berupaya merebut sejumlah wilayah Banten seperti Serang, Pandeglang, dan Rangkasbitung dari Republik. Pejuang-pejuang Republik melawan upaya itu dengan perang gerilya. Dr. Satrio ikut bertugas membantu pejuang gerilya Republik sesuai surat kawat dari Markas Besar Tentara. Dia tergabung dalam Brigade Tirtayasa dan beberapa kali mengurus pejuang-pejuang yang terluka atau gugur. Tapi penugasannya di wilayah Gunung Karang, Banten Selatan, menggerakkan dirinya turut membantu rakyat.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page