top of page

Hasil pencarian

9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah di Balik “Pabrik” Bayi Nazi

    HILDEGARD TRUTZ baru saja menyelesaikan sekolahnya pada 1936. Ia tidak tahu pekerjaan apa yang dapat membuat masa depannya cerah. Gadis berusia 18 tahun itu kemudian meminta saran kepada seorang pemimpin Bund Deutscher Mädel (BDM, organisasi perempuan yang setara dengan Hitler Youth atau Pemuda Hitler), tempatnya bergabung sebagai anggota sejak tahun 1933, yang menyarankannya untuk ambil bagian dalam progam Lebensborn. “Apa yang dibutuhkan Reich adalah pasokan tenaga yang sehat dan murni secara rasial,” kata pemimpin BDM setempat kepada Hildegard sebagaimana dikutip oleh Paul Roland dalam Nazi Women of the Third Reich: Serving the Swastika. Lembaga Lebensborn, yang berarti “mata air kehidupan”, didirikan pada Desember 1935. Menurut sejarawan Amy Carney dalam Marriage and Fatherhood in the Nazi SS, Lebensborn didirikan tidak semata-mata untuk menyokong para ibu yang tidak menikah dan anak-anak yang lahir di luar pernikahan, tetapi juga bermanfaat bagi para ibu yang sudah menikah dan anak-anak yang sah.

  • Kakek Elon Musk Simpatisan Nazi dan Apartheid?

    ELON Musk diserbu kritik berbagai kalangan, dari warganet biasa, sejarawan, politikus Eropa, hingga petinggi pemerintahan Jerman. Pasalnya, saat menyudahi pidatonya di perayaan pelantikan Presiden Donald Trump, Senin (20/1/2025), Musk melakukan gestur yang dianggap meniru salam pentolan Nazi, Adolf Hitler. Tentu kemudian bos media sosial X, provider internet Starlink, serta manufaktur roket Space X dan otomotif Tesla itu menyanggahnya. Musk menganggapnya sebagai fitnah dan menanggapi aneka hujatan itu dengan santai. “Sejujurnya, mereka butuh trik-trik kotor yang lebih baik. Serangan ‘semua orang adalah Hitler’ sungguh membosankan,” cuit Musk di akun X-nya, @elonmusk, Selasa (21/1/2025).  Banyak pendukung Musk membelanya. Salah satunya penasihat Musk, Andrea Stroppa, yang menganggap itu sejatinya salam Romawi. Namun, pembelaan itu justru memantik hujatan balik. “Itu jelas salam Nazi dan [gestur] yang juga memperlihatkan sikap bermusuhan juga,” sebut sejarawan New York University Ruth Ben-Ghiat dikutip The Guardian, Selasa (21/1/2025).

  • Dari Kamp Nazi Lalu Desersi di Surabaya

    HARRY Hulskar dan Freddy Weerenstijn masih mendekam di kamp tawanan Jerman-Nazi pada 1944. Kala itu mayoritas Eropa Barat masih diduduki Jerman. Jangankan membayangkan negeri ataupun sekadar nama Indonesia, yang jelas belum eksis, menerka nasib mereka sendiri pun masih lebih sulit ketimbang mengatasi perut yang lapar. Namun, nasib orang siapa yang tahu. Bombardir artileri Prancis ikut mengubah nasib keduanya. Dari bombardir itu Harry dan Freddy lalu bisa mendapatkan kebebasan. Dengan kebebasan itu, keduanya bisa bertualang. Ketika artileri berat Perancis membombardir kamp mereka, Harry dan Freddy hanya bisa menanti sambil berharap akan ada kesempatan keluar. Benar saja. Setelah bersabar menanti bombardir reda, keduanya kabur ke Amsterdam, tempat asal keduanya.

  • Jalan Sunyi Melawan Nazi

    KEHENINGAN hutan sirna oleh derap langkah cepat seorang prajurit Jerman. Sambil sesekali menoleh ke belakang, Hans Quangel (diperankan Louis Hofmann) yang terpisah dari pasukannya terus berlari untuk menghindari pengejaran tentara Sekutu. Dor! Peluru tentara Sekutu memangsanya. Hans rubuh. Jasadnya disambut guguran dedauan. Di Paris, yang diduduki Nazi-Jerman, di tengah lalu-lalang tentara Jerman, seorang bocah menjajakan koran sembari berteriak “Victory over France ... victory over France”. Semangat perlawanan tengah tumbuh. Demonstrasi dan parade digelar penduduk Paris. Di tengah kemeriahan itu, seorang tukang pos mampir ke kantor militer lalu bergegas menuju rumah pasangan Otto Quangel (Brendan Gleeson) dan Anna (Emma Thompson). Anna terhenyak, merobek-robek surat yang baru dibacanya, lalu menangis. Otto terdiam, seakan tak percaya putra semata wayangnya takkan pernah kembali. Kematian Hans meninggalkan kepedihan mendalam bagi pasangan ini.

  • Anak Kapten KNIL Membelot di Perang Aceh

    DARI Italia, Johan Gamari Carli (1802-1872) berangkat ke Belanda. Putra dari Giovanni (Jean) Marie Carli dan Catharina itu lalu mendaftar masuk tentara. Pria kelahiran Dervio, Lecco, Lambordia pada 12 Maret 1802 itu lalu pada 22 April 1826 terdaftar sebagai sukarelawan untuk tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) dengan masa kontrak dinas enam tahun.   Johan kemudian dikirim ke Hindia Belanda. Pada 1830-an, pangkatnnya naik menjadi brigadir dalam satuan pengawal Sultan Hamengkuwono V di Yogyakarta. Masa itulah Johan mengawini Josina Justina Kladowits Kladowitz (1813-1881). Di kota itu pula beberapa anak Johan lahir: Fredrik, Petrus, Adrianus Bernardus, Gerardus, Josephine Emeli dan Johanna Petronella. Petrus kemudian mengikuti jejak ayahnya, jadi serdadu.   Petrus Carli, disebut arsip Studbook 'Oost-Indisch Boek', Onderofficieren en minderen, 1832-1949, Nederlands-Indië, archive 2.10.50, inventory number 351, folio 35695, lahir di Yogyakarta pada 16 Mei 1839. Dia terdaftar menjadi sukarelawan pada 25 Oktober 1855 dan kemudian mendapat pangkat sersan. De Indisch Courant tanggal 27 April 1933 menyebut dirinya ikut serta dalam Ekspedisi Bone ke-2 –untuk menaklukkan Kesultanan Bone di Sulawesi Selatan– tahun 1859. Di sana, dirinya terluka akibat tertembak.

  • Derita Djoko Pekik Sebelum Jual Celeng

    WAKTU sekelompok prajurit Angkatan Darat (AD) menculik jenderal-jenderal Staf Umum Angkatan Darat pada dini hari 1 Oktober 1965, Djoko Pekik masih seorang pelukis muda berusia 28 tahun; kelahiran Grobogan, 2 Januari 1937. Ia aktif di Sanggar Bumi Tarung yang dicap kiri. Lantaran itulah kemudian Djoko Pekik dijadikan tahanan politik (tapol) oleh rezim Orde Baru meski tak sampai ditahan di Pulau Buru. Djoko Pekik adalah kawan dari Amrus Natalsya, seorang perupa di Sanggar Bumi Tarung dan juga menjadi tapol. Bumi Tarung karib dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Keduanya doyan turun ke rakyat bawah (turba). Djoko Pekik dan Amrus, menurut Agus Burhan dalam Seni Lukis Indonesia Masa Jepang Sampai Lekra, pernah hidup berbulan-bulan bersama para transmigran di Lampung, yang hidupnya menderita. Dengan rakyat sekitar Bantul pun dia juga pernah hidup. Militansi seniman maupun aktivis “kiri” dan kedekatan mereka dengan rakyat jelas mengusik rivalnya dalam kancah perpolitikan nasional, Angkatan Darat (AD), yang juga menebar cengkeramannya hingga ke pelosok lewat komando teritorial. Maka ketika isu sakitnya Presiden Sukarno merebak, persaingan AD-PKI kian meruncing untuk memperebutkan posisi paling “sah” sebagai pengganti Sukarno.

  • Djoko Pekik dan Trilogi Celeng

    PATUNG seosok lansia bertelanjang dada dengan jemari tangan kanannya mengapit rokok itu terduduk di atas sebuah batu. Bersanding di sisi kirinya dua sosok lain mengusung celeng atau babi hutan gemuk yang sudah tak berdaya. Kedua karya itu memang dihasilkan dari dua pematung berbeda tapi yang menyatukan keduanya adalah sama-sama terinspirasi seniman senior Djoko Pekik. Sosok patung seorang uzur itu tak lain adalah figur Djoko Pekik sendiri karya pematung Dunadi. Patung tersebut dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan untuk Djoko Pekik pada acara “Pekik’an Jejeran Djoko Pekik” di Taman Yakopan, kawasan rumah budaya Omah Petroek, Sleman, Yogyakarta, 29 Mei 2023. Adapun patung yang menggambarkan dua orang memanggul celeng dalam keadaan terbalik dengan keempat kaki terikat merupakan patung karya Pramono yang sudah dibuat satu dekade lewat. Patung ini terinpirasi dari karya Djoko Pekik paling dikenal, Indonesia 1998: Berburu Celeng.

  • Pembersihan PKI di DPRD Yogyakarta

    SEJAK Pemilu 1955, Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi partai paling kuat di Daerah Istimewa Yogyakarta. PKI menguasai mayoritas kursi DPRD dari 1955 sampai 1965. Pada pemilu pertama itu, PKI meraih 10 dari 40 kursi DPRD. PKI merebut 14 kursi pada pemilihan anggota DPRD untuk menggantikan DPRD Peralihan pada 1957. Menurut Julianto Ibrahim, pada kampanye Pemilu 1955, PKI aktif melakukan agitasi, infiltrasi, dan penggalangan massa di desa-desa melalui organisasi onderbouw-nya. PKI juga melakukan pengkaderan terhadap para buruh perkotaan, mahasiswa, pelajar, guru, bahkan militer. Selain itu, dalam upaya menguasai pemerintahan, PKI lebih suka berkerja sama dengan PNI. “Upaya melakukan penggalangan massa di desa maupun perkotaan dan bekerja sama dengan partai lain terbukti membawa hasil yang baik pada Pemilu 1955,” tulis Julianto, “Goncangan pada Keselarasan Hidup di Kesultanan,” termuat dalam Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional Bagian II Konflik Lokal.

  • Awal Mula Ritel Skala Besar di Indonesia

    PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mengumumkan telah menutup 26 gerai dan mem-PHK 532 karyawan pada awal tahun 2019. Manajemen HERO menyatakan penutupan dan PHK merupakan langkah efisiensi dan strategi bisnis demi mempertahankan laju perusahaan. Demikian rilis manajemen HERO kepada berbagai media pada 13 Januari 2019. Penutupan gerai dan PHK karyawan HERO memperpanjang masa suram bisnis ritel skala besar di Indonesia dalam dua tahun terakhir. Lotus dan Debenhams, gerai ritel di bawah naungan PT Mitra Adiperkasa Tbk, telah lebih awal tutup pada 2017. Menyusul kemudian sejumlah gerai milik Grup Ramayana dan Matahari sepanjang 2018. Penyebab ritel berskala besar menutup gerai dan mem-PHK karyawannya tak pernah berasal dari satu faktor dominan. Ada keterkaitan dari soal perubahan cara orang berbelanja, kesalahan strategi pengembangan bisnis, penurunan daya beli masyarakat, perkembangan keruangan kota, sampai kepada persaingan dengan sesama pebisnis ritel.

  • Awal Kejayaan Pasar Swalayan

    SENIN sore 23 Agustus 1971 menjadi saat bersejarah bagi pasangan suami-istri Muhamad Saleh Kurnia dan Nurhajati. Mereka membuka supermarket pertama di Indonesia bernama HERO Mini Supermarket. “Belum pernah ada pedagang yang merintis atau mengelolanya,” kata Nurhajati kepada Wong Tung To dalam Perintis Ritel Modern Indonesia : Memoar Pendiri Grup HERO. Pesta kecil pun digelar. Kurnia dan Nurhajati mengundang sahabat, teman, dan mantan guru SMA-nya ke HERO di Jalan Falatehan 1 No. 23, Jakarta Selatan. Mereka bersulang cocktail dan melambungkan harapan untuk HERO. “Semoga laris manis dan banyak untung,” kata mereka.

  • Jinarwa Raden Ngabehi Ranggawarsita

    SHAKESPEARE pernah bilang: “Apalah arti sebuah nama? Mawar, jika diganti dengan nama lain, pasti akan sama harumnya.” Bagi Ki Herman Sinung Janutama, pekerja budaya dan pemerhati persoalan filsafat, tentu saja nama sangat berarti. Bahkan, dia membedah peran pujangga besar Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) dari namanya. Menurut Ki Herman membaca makna nama Raden Ngabehi Ranggawarsita dengan cara landa (Belanda) atau barat, akan mendapati simpulan yang tidak proporsional atau ala barat. Karena itu, dia menggunakan kajian budaya Jawa dari tradisi paramasastra atau jinarwa Jawi, yang telah dicontohkan oleh para leluhur Jawa yang tersebar dalam berbagai teks kejawen. “Inilah yang disebut alam kapujanggan Jawi. Di dalamnya terdapat banyak model operasi demi menggali maknanya (jinarwa). Kali ini saya hanya menggunakan beberapa saja di antara operasi-operasi tersebut. Yakni operasi jinarwa dasanama, jarwadhosok, kiratabasa, dan garba,” papar Ki Herman dalam kuliah umum bertajuk “Islam dan Mistisisme Nusantara: Ranggawarsita, Islam dan Kejawen,” di Salihara, 28 Juli lalu.

  • Akibat Priyayi Berkunjung ke Eropa

    PERKENALAN masyarakat pribumi dengan bahasa Belanda menjadi jalan untuk mengenal pengetahuan baru tentang negara lain. Selain itu, adanya pengajaran tentang atlas dunia juga turut mendorong hasrat para elite pribumi (termasuk bupati dan pejabat pemerintahan) untuk mulai berpergian ke luar negeri. Walau umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari bahasa, tetapi keinginan kuat telah mengantar mereka pada pengalaman besar yang tidak terlupakan. Biasanya setelah kembali ke tanah air, sebagian melanjutkan karir di pemerintahan sementara lainnya menjadi akademisi yang membangun tren intelektual Barat di dalam negeri. Dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid I, Denys Lombard menulis ada sejumlah elit Pribumi di Jawa yang diberi kesempatan pergi ke Eropa. Di sana mereka melihat dan mengadopsi kebiasaan yang tidak ada di negerinya. Kemudian memperkenalkannya kepada masyarakat.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page