Hasil pencarian
9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kala Malcolm X Melawat ke Jalur Gaza
TIDAK ada tempat yang aman di Jalur Gaza, Palestina, sepanjang 347 hari genosida oleh Israel sejak Oktober 2023. Termasuk di Khan Younis. Kota di selatan Jalur Gaza itu sudah menampung pengungsi, bahkan sejak Peristiwa Nakba pada 1948. Kota Khan Younis pernah disinggahi akvitis HAM Malcolm X. Enam dasawarsa silam, dia melihat sendiri pahitnya kehidupan pengungsi Palestina akibat kebiadaban zionisme Israel. Selain Martin Luther King Jr., Malcolm X dikenal paling lantang mengadvokasi hak-hak komunitas Afro-Amerika yang tertindas. Menjelang ajal menjemputnya pada 21 Februari 1965, ia juga lantang menyuarakan keprihatinannya kepada penduduk Gaza, Palestina. Bukan hanya karena ia seorang mualaf, tapi secara kemanusiaan ia melihat orang-orang Palestina tertindas oleh zionis Israel.
- Kelakar Gus Dur dan Benny Moerdani Tentang Israel
KECAMAN dan cerca mendera Abdurrahman Wahid alias Gus Dur usai menunaikan kunjungan ke Israel. Apalagi setelah kepulangannya, Gus Dur merekomendasikan peluang bagi pemerintah Indonesia untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Gus Dur berkunjung ke Israel pada Oktober 1994 atas undangan Kantor Kepresidenan Israel. Di sana Gus Dur menyaksikan proses perdamaian Israel dengan negara-negara Arab. “Hubungan diplomatik itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi masa depan setelah perkembangan kian membaik antara negara-negara Arab dan Israel,” kata Gus Dur kepada wartawan di Jakarta menceritakan hasil kunjungannya ke Israel, diberitakan Berita Yudha , 7 November 1994.
- Hubungan Gus Dur dan Yahudi
BEBERAPA waktu lalu publik Indonesia dihebohkan dengan kabar normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan Indonesia. Kabar tersebut muncul setelah beberapa bulan terakhir lima negara telah membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Mereka adalah Uni Emirat Arab, Maroko, Sudan, Bahrain, dan Bhutan. Sejumlah media di negara itu, seperti Jerusalem Post , mengklaim Indonesia masuk dalam daftar negara yang akan melakukan pemulihan hubungan politiknya dengan Israel, bersama Oman dan negara-negara Asia lainnya. Klaim tersebut membuat publik bertanya-tanya dengan sikap yang diambil pemerintah Indonesia.
- Daeng Mangalle dan Konspirasi Melawan Raja Thailand
BERHENTI berperang melawan maskapai dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) bukan pilihan Daeng Mangalle. Pangeran Kerajaan Gowa ini tak sudi terhadap gencatan senjata VOC Belanda dengan Gowa. Maka ia pun meninggalkan Makassar. Mula-mula dia tiba di ujung barat Jawa. Di Banten, Daeng Mangalle diterima dengan baik oleh sultan Banten. Bahkan, Daeng Mangalle boleh menikahi Angke Sapiah, salah seorang putri sultan. Namun, ketenangan Daeng Mangalle di Banten terusik. Dia yang berusaha menjauhkan diri dari VOC, belakangan tahu VOC juga berada di Banten. Maka dia pun pergi dari Banten.
- Awal Mula Munculnya Air Mata Buaya
AIR mata buaya menggambarkan seseorang yang berpura-pura menangis atau sedih untuk menarik simpati orang lain.Istilah ini sangat populer. Bagaimana awal mula “air mata buaya” muncul? Menurut leksikografer Inggris, Susie Dent, ungkapan air mata buaya yang berarti menunjukkan ekspresi sedih yang tidak tulus berasal dari pertengahan abad ke-16. Dalam sebuah catatan tentang kehidupan Edmund Grindal, Uskup Agung Canterbury pada abad ke-16 termuat kalimat “Saya mulai khawatir, jangan-jangan kerendahan hatinya … adalah kerendahan hati yang palsu, dan air matanya adalah air mata buaya”.
- Berawal dari Sebuah Paviliun
TJIPTO Mangunkusumo paling tua di antara para aktivis muda yang berkumpul di sebuah paviliun rumah, di Regentsweg No. 22 (kini Jl. Dewi Sartika), Bandung, pada malam 4 Juli 1927 itu. Rata-rata umur mereka baru seperempat abad, sedang Tjipto sudah malang melintang di dalam pergerakan politik. Keberadaannya di Bandung pun dalam status sebagai orang buangan, yang dilarang berpolitik praktis. Pemerintah kolonial menghukumnya atas tuduhan membantu anggota PKI yang memelopori pemberontakan pada 1926. Dari tujuh orang yang hadir dalam pertemuan itu, hanya Tjipto yang menyatakan keberatannya atas rencana enam orang lainnya untuk membentuk partai politik. Bagi Tjipto, mendirikan partai politik bakal mengundang reaksi keras pemerintah kolonial yang baru setahun sebelumnya menumpas perlawanan PKI. “Cipto Mangunkusumo tidak setuju berdirinya suatu partai nasional karena ia berpendapat bahwa partai nasional itu akan dinilai oleh pemerintah kolonial sebagai pengganti Partai Komunis Indonesia yang sudah dilarang,” tulis Iskaq Tjokrohadisurjo, salah satu pendiri PNI, dalam memoarnya, Iskaq Tjokrohadisurjo: Alumni Desa Bersemangat Banteng .
- Puak Beradu di Tanah Melayu
MINGGU, 11 Mei 1969, ribuan pendukung Parti Tindakan Demokratis (Democratic Action Party, DAP) dan Parti Gerakan Ra’yat Malaysia (Gerakan) turun ke jalanan ibukota. Pendukung kedua partai yang kebanyakan orang Tionghoa dan India ini tengah diliputi euforia. Partai mereka meraup banyak kursi parlemen dalam Pilihan Raya. Mereka berjalan kaki, bermotor, dan naik truk bak terbuka di jalanan Kuala Lumpur hingga menyasar wilayah di mana banyak bermukim orang Melayu. Bendera partai dikibarkan. Bel kendaraan bersahut-sahutan. Sayangnya ada laku mereka yang kurang simpatik. Tampak di antara mereka mengibaskan sapu, yang bisa dianggap sebagai “pembersihan” orang-orang Melayu. Di atas truk mereka juga memekikkan slogan-slogan tak bersahabat. “Melayu Sudah Jatuh!” “Kuala Lumpur sekarang China punya!” “Ini negeri bukan Melayu punya, kita mau halau semua Melayu!”
- Gerilyawan RI Disergap Sewaktu Mandi
SETELAH ibukota RI Yogyakarta diserbu pasukan Belanda pada 19 Desember 1948, Batalyon Andjing NICA yang berada di –bawah komando Overste (setara letnan kolonel) Adrianus van Santen– daerah Banyumas bergerak ke Magelang. Batalyon ini bagian dari Brigade V KNIL. “Gerak maju yang spektakuler dari Brigade V melalui Pantai Utara, sepanjang lereng [Gunung] Slamet menuju dataran Jawa Tengah Selatan. Pasukan Andjing NICA, di bawah pimpinan komandan barunya yang populer, Mayor (sekarang lettnan kolonel) Van Santen, dengan cepat maju melewati Gombong,” demikian De Locomotief tanggal 8 Desember 1948 memberitakan laju Andjing NICA menuju Magelang.
- Dulu Cabbage Patch Kids, Kini Labubu
BONEKA Labubu tengah menjadi sensasi dunia. Boneka bertelinga panjang yang berujung lancip dan memiliki senyum nakal yang dihiasi dengan gigi-gigi runcing itu merupakan bagian dari The Monster, sekelompok karakter fiksi dalam buku cerita anak-anak yang diciptakan oleh Kasing Lung pada 2015. Seniman asal Hong Kong itu terinspirasi dari dongeng Nordik dan mitologi Viking. Setelah dirilis, The Monster sukses menarik perhatian masyarakat hingga menarik minat Pop Mart, perusahaan mainan karakter yang terkenal dengan konsep blind box , untuk memproduksi dan menjualnya dalam bentuk mainan tahun 2019. Di antara sejumlah karakter The Monster, Labubu yang paling terkenal. Popularitasnya semakin meningkat setelah bintang K-Pop Lalisa Manoban atau Lisa Blackpink mengunggah video tengah memeluk dan memegang boneka Labubu di akun media sosialnya beberapa waktu lalu. Unggahan wanita yang memiliki pengikut mencapai 104 juta di Instagram itu segera menarik perhatian banyak orang dari berbagai negara yang langsung memburu boneka tersebut.
- Pejuang Tua dari Aceh dalam Perang Kemerdekaan
SEWAKTU Kota Medan jatuh ke tangan tentara Belanda, pejuang dari berbagai tempat berbondong-bondong turun ke front Pertempuran Medan Area. Mereka datang dari berbagai daerah. Mulai dari Langkat, Simalungun, Tapanuli, Tanah Karo, hingga Aceh. Kedatangan para pejuang ke Medan seiring dengan makin banyaknya pengungsi warga sipil dari Medan ke pedalaman. Pejuang Aceh yang turun ke front Medan Area punya misi khusus. Mereka lebih memilih menjemput lawan ke Medan daripada menunggu tentara Belanda memasuki tanah Aceh. Gelombang kedatangan pejuang Aceh ke Medan terjadi sekitar pertengahan Februari 1946. Tidak hanya pasukan laskar yang kebanyakan dari kelompok pemuda pejuang, pejuang tua dari Aceh juga turun ke front Medan Area.
- Sabra, Superhero Israel Sarat Kontroversi
BELUM juga tayang, film Captain America: Brave New World yang dijadwalkan rilis tahun depan sudah menuai kritik dari kalangan pro-Palestina maupun pro-Israel sejak tahun lalu. Perkaranya gegara kemunculan karakter Ruth Bat-Seraph alias Sabra, superhero Israel. Captain America: Brave New World yang rencananya dirilis pada 14 Februari 2025 itu digarap sineas Julius Onah sebagai film ke-35 dari semesta Marvel Cinematic Universe (MCU) sekaligus sekuel bagi miniseri televisi The Falcon and the Winter Soldier (2021). Mengisahkan Sam Wilson alias The Falcon (diperankan Anthony Mackie) yang melanjutkan tongkat estafet sebagai Captain America sepeninggal Steve Rogers (diperankan Chris Evans) sejak Avengers: Endgame (2019).
- Virus Nipah yang Bikin Resah
SEJUMLAH bandara internasional di Asia tengah siaga, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Para penumpang yang berasal dari mancanegara diwajibkan mengikuti protokol kesehatan, termasuk screening atau pemeriksaan kesehatan ketat sebagai langkah antisipasi masuknya virus Nipah ( Henipavirus nipahense /NiV). Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemkes) RI, Kamis (29/1/2026), virus Nipah kembali terdeteksi dan kian meresahkan setelah laporan dua kasus di India pada 12 Januari 2026 lalu. Tiga suspek lain terdeteksi di West Bengal, di mana salah satunya punya riwayat merawat kasus pertama yang masih kritis. Meski hingga kini belum terdapat satu kasus pun di Indonesia, kita tetap mesti waspada. Virus Nipah sendiri adalah semacam virus zoonosis yang terbawa hewan, seperti babi ( Sus domesticus ) dan kelelawar buah ( Pteropus ), yang bisa menular ke manusia. Penularannya bisa secara kontak langsung atau melalui sekresi hewan yang terinfeksi. Menurut The Guardian , Rabu (28/1.2026), fatality rate -nya cukup tinggi karena virus Nipah bukan kali ini saja terdeteksi. Jika menginfeksi manusia, maka akan lebih dulu berinkubasi selama 14 hari. Gejala-gejala awal yang muncul meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, gangguan pernafasan, dan sakit tenggorokan. Jika tidak segera ditangani, virus Nipah akan menyebabkan pneumonia, pembengkakan otak, hingga gangguan-gangguan syaraf seperti kejang-kejang. Menurut organisasi kesehatan dunia WHO, virus ini termasuk sangat menular dan punya fatality rate yang lebih mematikan ketimbang Virus Covid-19, yakni mencapai 40-70 persen. Namun, hingga sekarang belum ada vaksin untuk melawan virus Nipah. Pun dengan pengobatan spesifik. Perawatan yang diberikan baru sekadar perawatan yang bersifat suportif terhadap gejala-gejala yang timbul. Maka Kemkes dalam lamannya tadi juga merilis 10 imbauan. Di antaranya menghindari kontak dengan hewan kelelawar, babi, kuda. Tidak mengonsumsi nira/aren secara langsung dari pohonnya karena potensi kelelawar dapat mengontaminasi sadapan aren/nira. “Konsumsi daging ternak secara matang, menerapkan protokol kesehatan, menerapkan pencegahan dan pengedalian infeksi (PPI) dengan benar, dan segera periksa ke fasilitas kesehatan jika merasa mengalami gejala-gejala di atas,” tulis Kemkes dalam imbauan-imbauannya. Dari Peternakan Babi di Negeri Jiran Pertamakali virus ini terdeteksi dan merebak terjadi pada akhir 1998 hingga 1999, tak lama setelah krisis moneter mengguncang Asia dan Asia Tenggara. Malaysia dan Singapura jadi negara yang paling terdampak. Total ada 265 kasus dengan kematian 105 jiwa. Industri peternakan babi di Malaysia pun nyaris kolaps setelah lebih dari sejuta ekor babi mesti dimusnahkan. Pakar patologi Dr. Looi Lai-Meng dan Dr. Chua Kaw-Bing dalam artikel “Lessons from the Nipah virus outbreak in Malaysia” di The Malaysian Journal of Pathology , 29 (2), 2007 mengungkapkan, virusnya pertamakali muncul di peternakan-peternakan babi di Ipoh, Perak, medio September 1998. Diawali dengan munculnya gejala berupa gangguan pernafasan dan radang jaringan otak (ensefalitis) pada ternak-ternak babi yang lantas menginfeksi 28 pekerja peternakannya. Hampir semuapunya gejala kehilangan kesadaran dan hampir setengahnya mengalami kejang-kejang pula. Para peternak babi pun resah setelah Ipoh jadi epicenter merebaknya virus itu. Sialnya, pemerintah Malaysia mulanya keliru mengidentifikasinya. Mereka mengira yang menginfeksi babi-babi itu dan lantas menularkannya kepada manusia adalah virus Japanese Encephalitis (JE) karea gigitan nyamuk. Hal itu terjadi karena setelah mengambil empat serum sampel terhadap 28 kasus infeksi pertama pada pasien, ternyata positif Immunoglobin M (IgM). Ia semacam antibodi JE yang muncul di awal terjadinya infeksi. “Konsekuensinya, upaya pengendalian awalnya adalah fogging dan vaksinasi terhadap ternak babi yang sayangnya tidak efektif. Ipoh yang menjadi epicenter, mencatatkan 15 kematian, 9 di antaranya kemudian baru terkonfirmasi bahwa mereka terinfeksi Virus Nipah saat diotopsi,” tulis Looi dan Chua. Pemerintah Malaysia saat itu belum mau panik. Padahal hingga Februari 1999, virus itu sudah menyebar sampai ke Sikimat dan Bukit Pelandok di tepi Sungai Nipah, Distrik Port Dickson yang juga dua kawasan industri peternakan babi terbesar di Negeri Sembilan atau sekitar 300 kilometer sebelah selatan Ipoh. Maka Negeri Sembilan jadi epicenter kedua yang lebih besar lagi korbannya. Menurut Looi dan Chua, tercatat ada 180 pasien dengan 89 jiwa kematian. “Rasanya sudah seperti mimpi buruk. Setiap hari kami melihat suratkabar bahwa banyak yang meninggal. Saya sendiri kehilangan banyak teman. Banyak sekali,” kenang Thomas Wong, salah satu peternak babi di tepi Sungai Nipah, dilansir NPR , 25 Februari 2017. Lantas menyebar lagi ke Sepang dan Sungai Buloh di Selangor. Pada Maret 1999 sudah mencapai Singapura dengan 11 kasus dan 1 kematian. Ketika itu, hanya Chua yang menyadari bahwa virus itu bukanlah JE yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, melainkan jenis virus lain yang ditularkan melalui kontak langsung maupun via sekresi babi. Saat itu, Chua masih jadi periset muda virologi di University of Malaya. “Saya mengontak kepala departemen (patologi). Saya bilang, ‘Prof, saya ingin menunjukkan sesuatu,” kata Chua. Akan tetapi guru besarnya tak percaya pada sebuah eksperimen dari satu sampel virusnya yang dilakukan Chua ketika itu. Ia tak menyerah. Chua membawanya ke koleganya di Amerika Serikat, di Laboratorium Centers for Disease Control for Prevention, Fort Collins, Colorado. Nama “Virus Nipah” itu pun didapat dari sampel yang terisolasi yang diperoleh dari penelitiannya di Kampung Sungai Nipah itu. Dari penelitiannya, didapati virusnya semacam Henipavirus (HeV) yang berarti ditularkan dari mamalia kecil dan itu berarti bukan nyamuk. Melainkan babi atau sejenis kelelawar buah. Tak ayal dari ratusan pasiennya yang terinfeksi adalah para pasien yang terbiasa berkontak langsung dengan ternak babi dan mengonsumsi daging babi. “Faktanya memang tidak ada pasien muslim yang sakit. Jika penyakitnya datang dari nyamuk, akan ada (pasien) muslim, Hindu, dan Kristen. Dan seperti yang Anda tahu, orang-orang muslim tidak berurusan dengan babi,” timpal rekan Chua yang juga pakar virus, Dr. Tan Cheng Siang. Setelah dari Amerika, Chua pun kembali ke Malaysia dan memperingatkan bahwa fogging sia-sia karena ia bawa bukti bahwa virusnya dari babi, bukan dari nyamuk. Yang terjadi adalah perubahan langkah antisipasi yang radikal: pemerintah menggerakkan Angkatan Darat (AD) Malaysia untuk memusnahkan sekitar 1,1 juta ekor babi. Uniknya penyebaran virusnya kemudian terhenti dan kasus kematian terakhir terjadi pada 27 Mei 1999, meski tidak hilang sama sekali. Sampai kini pun masih jadi misteri, dari mana babi-babi itu bisa terpapar virusnya.*






















