Hasil pencarian
9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Suara dari Rimba Raya
KUTARAJA, Banda Aceh, 19 Desember 1948. Sore itu, di markas Penerangan TRI Divisi X, Gubernur Militer Aceh Tengku Daud Beureuh menerima kawat kilat. Pesan telegram tertulis, “Kita telah diserang.” Tertera nama si pengirim pesan: Panglima Angkatan Perang Indonesia Letnan Jenderal TNI Soedirman. Belanda melancarkan Agresi Militer II. Akibat agresi itu, ibukota Yogyakarta diduduki tentara Belanda. Sejumlah pemimpin Republik ditahan. Pusat pemerintahan Indonesia di Jawa lumpuh. Radio Belanda, baik Hilversum di negeri Belanda maupun jawatannya di Jakarta dan Medan, gencar memberitakan bahwa Republik Indonesia telah habis. Berita itu tersiar sampai ke Aceh, yang belum berhasil diduduki Belanda.
- Pedagang dan Pejuang dari Tanah Rencong (Bagian II)
SUNGAI Tamiang membentang dari hulu di pegunungan hingga bermuara di Selat Malaka sepanjang 104 kilometer. Ia jadi nadi peradaban di Aceh Timur, utamanya bagi masyarakat yang berdiam di Aceh Tamiang. Wilayah ini terdampak paling parah dalam bencana alam pada akhir November 2025 yang menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat hingga menewaskan lebih dari 1.100 jiwa. Belum juga pulih, warga Aceh Tamiang yang bermukim di sepanjang Sungai Tamiang terendam akibat luapan sungai yang disebabkan curah hujan tinggi pada awal tahun 2026. Dulu, Sungai Tamiang tak hanya menampung hujan dan menyuburkan lahan-lahan di sekitarnya, tetapi juga jadi jalur perdagangan dan perjuangan di masa revolusi kemerdekaan. Julius Pour dalam biografi Laksamana Sudomo: Mengatasi Gelombang Kehidupan mencatat, upaya Mayor John Lie dengan kapal The Outlaw bernomor lambung PPB 58 LB mendapatkan persenjataan dari Singapura dan Malaya untuk pasukan Republik di Sumatra berawal dari Sungai Tamiang. Ketika itu, tak sedikit komoditas perkebunan yang dibawa menembus blokade laut Belanda untuk dibarter dengan keperluan militer.
- Pedagang dan Pejuang dari Tanah Rencong (Bagian III–Habis)
SIANG itu, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat begitu ramai dengan lalu-lalang kendaraan. Gaduh. Namun setiba di depan sebuah gedung kawasan Kwitang yang tak jauh dari jalan layang Senen dan gedung-gedung sibuk di dekatnya seperti Universitas BSI, Ibis Hotel, dan Museum Sumpah Pemuda, waktu seolah berhenti. Ia seakan membawa kita ke masa lalu. Bak langit dan bumi dibandingkan dengan bangunan-bangunan baru tadi, gedung tua lima lantai yang masih tegak berdiri di Jalan Kramat Raya No. 94-96 itu kumuh dan terbengkalai. Bentuk Gedung CTC (Central Trading Company), demikian bangunan itu dinamai, khas gedung modern era 1950-an. Terdiri dari dua sayap bangunan terpisah, lantai 1 sayap kanan hanya ditempati Bank Mandiri KCP Kramat Raya sebagai tenant -nya. Di gerbang tengah dan trotoar di depannya banyak orang menawarkan jasa cat duco.
- Habis PNI Terbit Partindo
RAPAT umum PNI di Yogyakarta bubar pada tengah malam. Sukarno dan Gatot Mangkoepradja bermalam di rumah Mr. Soejoedi, pengacara dan ketua PNI Yogyakarta. Jam lima pagi, 29 Desember 1929, polisi menggedor rumah dan menangkap Sukarno dan Gatot. Keduanya kemudian dibawa dan dimasukkan ke penjara Banceuy di Bandung. Penguasa kolonial melakukan penangkapan besar-besaran kepada anggota dan pimpinan PNI. Razia dilakukan pada 24 Desember 1929 di 37 tempat: 27 tempat di Jawa, 8 tempat di Sumatra, 1 tempat di Sulawesi dan Kalimantan. Jumlah penggeledahan 780: 400 di Jawa, 50 di Sumatra, 28 di Sulawesi, dan beberapa di Kalimantan. Setidaknya 180 pemimpin PNI ditahan, sebagian besar kemudian dilepaskan.
- Belanda Kembalikan 288 Benda Warisan Nusantara ke Indonesia
BERANGSUR-ANGSUR, sejumlah harta benda warisan Nusantara yang dijarah Belanda semasa kolonial dikembalikan lagi. Sebanyak 288 benda cagar budaya resmi direpatriasi tahun ini lewat kesepakatan kerjasama provenance research dan kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan Belanda. Kesepakatan repatriasinya akan diteken bersama oleh Direktur Jenderal Kebudayaan RI Hilmar Farid dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda Eppo Egbert Willem Bruins. Penandatanganan tersebut dilakukan di Wereldmuseum, Amsterdam, Jumat (20/9/2024) petang waktu setempat (malam WIB).
- Program Makanan Bergizi Era Orde Baru
“SELAMAT makan anak generasi emas.” Jargon itu berkumandang sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan untuk anak sekolah pada awal tahun ini. Program MBG dicetuskan Presiden Prabowo Subianto sebagai program unggulan pemerintahannya. Ia sekaligus menunaikan janji kampanye Prabowo dalam gelaran Pilpres 2024 silam. Dalam komitmennya, Prabowo berseru untuk menuntaskan masalah kekurangan gizi yang banyak dialami anak-anak di Indonesia. “Tidak boleh ada stunting lagi di Republik Indonesia! Tidak boleh ada anak yang lapar di Indonesia! Tidak boleh ada anak Indonesia yang tidak minum susu lagi!” kata Prabowo dalam sambutannya pada Rakernas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), 7 November 2023. Menurut Prabowo, mutu dan kualitas manusia Indonesia yang rendah berkelindan dengan asupan gizi dan nutrisi yang dikonsumsi sejak dini. Oleh karena itu, program MBG jadi salah satu solusi untuk membentuk generasi emas manusia Indonesia pada 2045. Kendati menuai banyak kritik, Prabowo percaya diri bahwa program MBG bisa dijalankan demi memperbaiki gizi anak-anak bangsa.
- Mendidik Dulu Merdeka Kemudian
MOHAMMAD Hatta merasa gundah dengan cara agitasi yang dilancarkan oleh Sukarno, tetapi tak menggembleng kadernya dengan pendidikan. Dia juga jengah dengan keputusan PNI membubarkan diri pascapenangkapan para pemimpinnya pada April 1931. Dia juga mengkritik cara PNI yang terkesan hanya menggantungkan perjuangan kepada pemimpinnya saja, sehingga ketika mereka dipenjara, rakyat seperti anak ayam kehilangan induknya. “Dengan jalan pendidikan, rakyat jelata akan mendapat keyakinan bahwa tidak saja pemimpin harus tahu kewajibannya, tetapi juga rakyat semuanya. Bukan saja pemimpin yang harus berjuang, malahan rakyat juga turut berjuang,” kata Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku .
- Koleksi Pita Maha Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi
TIDAK semua dari 472 benda bersejarah Indonesia yang akan direpatriasi dari Belanda tahun ini berstatus jarahan kolonial. Satu cluster repatriasi yang dimaksud adalah benda-benda seni koleksi Pita Maha asal Ubud, Bali. Koleksi Pita Maha yang berjumlah 132 items itu jadi satu dari empat cluster artefak dengan total 472 benda yang masuk dalam daftar repatriasi dari Belanda. Peresmian penyerahannya sudah dihelat di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda pada 10 Juli 2023 antara Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid yang mewakili pemerintah Indonesia dan Menteri Muda urusan Kebudayaan dan Media Gunay Uslu mewakili pemerintah Belanda. Tiga cluster lainnya adalah sebilah keris Klungkung, empat arca Singhasari, dan 335 harta jarahan Ekspedisi Lombok 1894.
- I Nyoman Ngendon, Perupa Pita Maha yang Terjun ke Medan Perang
ASOSIASI seni Pita Maha, yang didirikan pada 29 Januari 1936 di Ubud, menaungi sekitar 150 seniman dari berbagai desa di Pulau Dewata. Salah satunya adalah I Nyoman Ngendon, pelukis yang menjadi ikon utama seni lukis aliran Batuan era 1930-an hingga 1940-an. Ngendon belajar melukis dari I Dewa Nyoman Mura. Menurut antropolog Amerika, Hildred Geertz dalam Storytelling in Bali , Ngendon membuat lukisan pertamanya pada 1933 ketika berusia sekitar 22 tahun. Selain aktif melukis, pria yang pernah terlibat dalam pertunjukan drama tari siang hari untuk orang asing itu juga seorang penjual ukiran kayu untuk turis. Ia juga disinyalir pernah bekerja di toko ukiran kayu yang dikelola oleh Brahmana Siwa, ayah dari teman dekatnya, Ida Bagus Putu Boen Sentoelan.
- Jepang Datang, Tentara Belanda Lari Tunggang Langgang
LETNAN Didi Kartasasmita bingung. Setelah susah payah membawa pasukannya berlayar 18 jam dari Bula ke Ambon, dia tak mendapat penjelasan apa-apa dari komandan batalionnya, Letkol Kapitz. “Saya sudah mulai bingung, sebab tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Saya terus menunggu perintah dari komandan teritorial,” ujarnya dalam otobiografi Didi Kartasasmita: Pengabdian Bagi Kemerdekaan karya Tatang Sumarsono. Didi kemudian menjabat panglima Komandemen I Jawa Barat.
- Pulihnya Kekuasaan Melayu
KABAR proklamasi kemerdekaan Indonesia baru sampai ke Sumatra pada Oktober 1945. Tengku Muhammad Hasan, yang diangkat jadi gubernur, berusaha menjalankan pemerintahan lokal. Namun, tantangan datang dari sultan-sultan Melayu, yang bukan hanya tak mengakui eksistensi Republik Indonesia, tetapi juga membentuk Perkumpulan Anak Deli Islam untuk melindungi kerajaan. Untuk merangkul pihak kerajaan, Hasan mengangkat orang-orang kerajaan sebagai pejabat pemerintah. Hasan juga mengatakan Republik siap mengakui posisi istimewa raja-raja sebagai pengganti dukungan mereka kepada Republik. Tawaran itu tak mendapat tanggapan. Para pemuda gerah dengan kondisi ini. Meletuslah revolusi sosial pada Maret 1946.
- Kompeni Bubar Karena Korupsi
TIDAK kurang dari 290 kapal Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC, Verenigde Oostindische Compagnie, biasa disebut Kompeni) tenggelam di lautan Indonesia. Selain pertempuran dengan kongsi dagang pesaingnya maupun dengan penguasa-penguasa Nusantara, banyak kapal karam karena kelebihan muatan dengan barang dagangan pribadi. Perdagangan pribadi atau perdagangan gelap merupakan salah satu bentuk korupsi pejabat VOC. Korupsi sebagai penyebab keruntuhan membuat VOC diplesetkan menjadi Vergaan Onder Corruptie (Runtuh Lantaran Korupsi).






















