top of page

Hasil pencarian

9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Awal Mula Bisnis Eka Tjipta Widjaja

    SEPASANG cincin berbatu zamrud melingkar di dua jari telunjuknya. Hijau di telunjuk kanan dan merah di kiri. Hijau lambang banyak relasi, sedangkan merah tanda murah rezeki.   Semasa muda, dia hanya memakai cincin zamrud hijau. Suatu hari seorang teman menyarankannya untuk juga memakai cincin merah. Tujuannya mengimbangi aura cincin hijau. Temannya seorang ahli batu. Dia percaya sarannya. “Maka saya pakai dua ini, yang satu hoki, yang lain buat sosial,” kata dia pada suatu hari dalam tahun 1989 di ruang kerjanya, Gedung Bank International Indonesia (BII), Jakarta, seperti termuat dalam Eksekutif , Mei 1989.

  • Cara Eka Tjipta Widjaja Membangun Usaha

    SETELAN jas gelap, dasi, dan pantofel. Begitulah pilihan busana Eka Tjipta Widjaja untuk menghadiri urusan bisnis semasa hidup. Dari pergi ke kantor, bertemu relasi, menghadapi wartawan, sampai ke seminar. Kelihatan serius, formal, dan kaku. Tapi dengan gaya begitu pun dia masih bisa bikin ngakak lawan bicaranya. “Kami ini disebut sebagai seorang konglomerat. Tapi, kami ini konglomerat yang banyak utang. Kami banyak usaha, tapi banyak utang juga. Dengan kata lain, besar usahanya besar juga utangnya,” kata Eka dalam suatu seminar pada 1991, seperti diceritakan oleh Dahlan Iskan dalam Eka Tjipta Widjaja Kisah dan Liku-likunya Menjadi Konglomerat .

  • Pedagang dan Pejuang dari Tanah Rencong (Bagian I)

    DARI gerbang utama TPU Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, areal sisi utara, beberapa ratus meter dari belakang kantor unit TPU, kita akan menemukan lebih sedikit pusara yang berhias bambu runcing dan bendera merah putih dari material besi. Salah satunya milik tokoh pejuang asal Aceh yang jarang dikenal, Teuku Abdul Hamid Azwar.

  • Sukarno dan Johny Indo Menemukan Tuhan di Penjara

    BAGI sejumlah narapidana (napi), penjara tak bikin mereka menyadari kesalahannya. Mereka justru jadi lebih jahat dan pandai berbohong. Tapi buat segelintir orang lainnya, penjara telah memberi mereka gagasan dan pengalaman segar tentang agama. Misalnya, terjadi pada Sukarno dan Johny Indo. Mari mulai dari Sukarno. “Saya pernah hidup di dalam penjara:  satu kali dalam penjara tahanan Banceuy di Bandung, dua kali di penjara besar Sukamiskin. Satu kali lagi di penjara Mataram, dan juga di penjara Surabaya,” tulis Sukarno dalam artikelnya “Propaganda Islam di dalam Pendjara”, termuat di Pedoman Masjarakat, 9 Maret 1938.

  • Perjalanan Johny Indo, Perampok Cerdik dan Licin

    JOHNY INDO, mantan narapidana kakap kasus perampokan kurun 1970—1980-an, meninggal dunia di Jakarta pada 26 Januari 2020. Dia sempat mendapat vonis hukuman penjara selama 14 tahun untuk menebus laku kriminalnya. Dia kesohor lantaran sepak terjangnya di dunia kriminal begitu licin, cerdik, dan berpegang pada kode etik buatannya sendiri. Kelar menjalani hukuman penjara, Johny menempuh laku agamis. Dia menjadi pendeta Serani, lalu beralih lakon sebagai pendakwah Islam. Jelang akhir hayat, dia kembali lagi sebagai penganut Serani. Untuk mencapai keputusan itu, dia telah mengalami hidup penuh pergulatan batin. Tegangan-tegangan antara menjadi perampok, bintang film, suami, dan ayah.

  • Daud Beureueh Larang Judi di Aceh

    CINTA Mega anggota, DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI-P, terciduk main gim saat rapat paripurna pertanggungjawaban APBD pejabat gubernur Heru Budi Hartono (20/7). Aktivitas itu terbidik dalam gawai Ipad Cinta yang disiarkan YouTube DPRD DKI Jakarta. Andai kata yang dimainkannya permainan biasa, masihlah bisa dimaklumi. Tapi, dari tampilan layar gawainya yang belakangan viral, jenis gim yang dimainkan Cinta adalah judi slot. Cinta sendiri membantah bermain judi online saat rapat. Menurut pengakuannya, dia hanya memainkan gim puzzle Candy Crush. Namun, berbagai media memastikan layar gawai Cinta menampilkan permainan judi slot Gate of Olympus. Lagipula, gawai yang digunakan Cinta untuk bermain gim itu merupakan fasilitas milik negara. Meski sudah meminta maaf atas insiden memalukan tersebut, Cinta terancam sanksi oleh Badan Kehormatan DPRD DKI Jakarta.

  • Sersan Mas Soemitro Melawan Nazi di Belanda

    SEORANG pemuda Jawa, Mas Soemitro,   tiba di Negeri Belanda pada 1914 bersama mantan asisten residen Belanda yang tinggal di Utrecht. Setahun sebelumnya, Mas Soepardji tiba di Belanda bersama istri asisten residen itu. “Kepada orang tua kedua pemuda itu, asisten residen berjanji akan menyekolahkan mereka di Negeri Belanda untuk menjadi pengawas pekerjaan umum, tetapi ternyata mereka dimanfaatkan sebagai pembantu rumah tangga,” tulis Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda . Mas Soemitro dan Mas Soepardji kemudian melapor ke pihak berwenang. Dewan Perwalian pun turun tangan. Sehingga mereka terbebas dari mantan asisten residen itu. Atas permintaan mereka, Dewan Perwalian mengirim keduanya ke Kampen atau sekolah pendidikan bintara. Mas Soemitro dan Mas Soepardji berasal dari keluarga priayi Jawa.   Menurut Staatsblad van het Koninkrijk der Nederlanden, Staatsdrukkerij en Uitgeverijbedrijf  tahun 1957, Mas Soepardji lahir di Pati, Jawa Tengah, 1 Agustus 1898.  Sementara Mas Soemitro, berdasarkan arsip yang tersimpan di The Utrecht Archives, adalah anak dari pasangan Mas Reksodirdjo dan Raden Roro Sitimaemonak. Menurut Regionaal Archief Nijmegen,   Mas Soemitro lahir pada 14 Agustus 1898. Ketika tiba di Negeri Belanda, usia mereka sekitar 16 tahun dan sudah pernah sekolah dasar berbahasa Belanda. “Mereka sebenarnya ingin sekali menjadi perwira, t api pendidikan mereka sebelumnya tidak mencukupi, hingga dua kali mereka ditolak mengikuti pendidikan itu,” tulis Poeze. Mereka berdua tampaknya bukan lulusan HBS yang bisa diterima di akademi militer kerajaan Belanda di Breda. Tak bisa jadi letnan, jadi sersan pun akhirnya mereka lakoni. Bagi sebagian orang Jawa berpendidikan rendah menjadi sersan setidaknya akan hidup berkecukupan, meski sebagian priayi memandang hina profesi tentara Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Peluang menjadi Koninklijk Landmacht (KL) alias Angkatan Darat Kerajaan Belanda juga terbuka untuk mereka. Setelah bertugas belasan tahun, Mas Soemitro akhirnya menemukan jodohnya, seorang wanita Belanda bernama Wilhelmina Catharina Kluvers. Usia Mas Soemitro sekitar 33 tahun dan istrinya berusia 28 tahun ketika menikah pada 14 Juli 1932 di Utrecht, kampung halaman istrinya. Pangkat Soemitro masih sersan kelas satu di Resimen Infanteri ke-16 tahun 1938.   Dia tetap menjadi tentara Belanda sampai pecah Perang Dunia II. Ketika tentara Nazi-Jerman menduduki Negeri Belanda, Mas Soemitro dan istrinya tinggal di Soest, Utrecht. Mas Soemitro terlibat dalam gerakan bawah tanah melawan tentara Nazi-Jerman. Namun, pada musum semi tahun 1943, dia terjatuh dari trem. Dia terluka cukup parah hingga meninggal dunia pada 26 Januari 1944. Mas Soemitro dikenang oleh Kerajaan Belanda sebagai pejuang perlawanan ( verzet ) terhadap Nazi-Jerman. Sementara itu, kawan sependeritaannya, Mas Soepardji, tidak banyak catatan tentangnya, kecuali belakangan dia menjadi ajudant  (pembantu letnan).   Akhirnya,   dia punya nama belakang De Patier karena berasal dari Pati, Jawa Tengah.*

  • Rose Pandanwangi Diva Seriosa Indonesia

    SENJA menghampiri Jakarta. Sepi melanda. Jalan silang Monumen Nasional (Monas), yang biasanya ramai lalu lalang kendaraan, mendadak senyap. Maklum, hari itu, 1 Oktober 1965, Kodam V/Jaya selaku Penguasa Pelaksana Perang Daerah memberlakukan jam malam mulai pukul 18.00 sampai 06.00. Pasukan baret merah dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) mengendap mendekati gedung , di seberang Monas. Mata mereka nyalang. Setiap personelnya memegang senjata dalam posisi .

  • Korpri Bantu Orde Baru Menangi Pemilu

    PEMILIHAN Umum 2024 kian dekat. Kurang lebih dua bulan lagi rakyat Indonesia akan melangsungkan pesta demokrasi. Namun, netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) telah diwanti-wanti sejak jauh-jauh hari. Entah itu pegawai negeri ataupun polisi. Aparat negara memang rawan dipolitisasi untuk mendulang suara. Salah posisi tangan dalam berfoto saja bisa jadi perkara. Ia akan dianggap memihak nomor urut salah satu kandidat capres. Repot urusannya.    Selain jumlah sumber dayanya yang signifikan, ASN merupakan tulang punggung penyelenggara negara. Dalam pemilu, mereka dituntut netral. Keberpihakannya dalam skala masif, terstruktur, dan sistematis tentu menguntungkan salah satu pihak tapi merugikan yang lain. Penyalahgunaan aparat negara dalam pemilu seperti ini lazim terjadi di masa Orde Baru (Orba) berkuasa. Praktik itu bahkan sudah dilakukan pada pemilu perdana Orba tahun 1971.

  • Pegawai Negeri Bukan Priayi

    PRESIDEN Joko Widodo dalam sambutan di hari jadi Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) ke-43 pada 1 Desember 2014, meminta para pegawai negeri sipil agar meninggalkan mental priayi atau penguasa. “Jadilah birokrat yang melayani dan mengabdi dengan sepenuh hati untuk kejayaan dan kesejahteraan rakyat Indonesia,” kata Jokowi . Sosiolog Harsya W. Bachtiar menyebutkan, golongan yang dahulu dinamakan priayi sekarang muncul dalam bentuk korps pegawai negeri sipil. Persamaannya, cara bekerjanya tidak diarahkan pada prestasi profesional tetapi untuk naik pangkat.

  • Orang-orang Terkenal Asal Kota Kelahiran ALS

    DATANGLAH seorang pengamat sosial dari luar Sumatra Utara ke daerah Kotanopan di Kabupaten Mandailing Natal (disingkat Madina), Sumatra Utara. Setelah mengamati beberapa orang Mandailing yang berhasil dalam karier mereka, pengamat itu pun mencari tahu apa makanan orang di sana. Didapatinya, ternyata ubi tumbuk adalah makanan orang di sana. Sayur daun singkong berkuah ini adalah salah satu menu makanan orang Mandailing yang sudah terkenal. Namun rupanya makanan bukan kunci kesuksesan, namun ada faktor lain.   “Kesimpulannya bukan tergantung makanan,” kata Mihron Parinduri, warga Kecamatan Kotanopan. “Keadaan ekonomi di tempat ini memang di bawah garis, jadi semua berjuang,” sambungnya mengenai alasan mengapa pemuda-pemuda terpelajar setempat setelah lulus SD akan merantau ke luar daerah seperti Siantar atau Bukittinggi.   Sejak zaman Hindia Belanda, di Kotanopan sudah terdapat Hollandsche Inlandsch School (HIS), yang gedungnya kini menjadi SDN 1 Kotanopan. Sekolah dasar berbahasa Belanda tujuh tahun ini diperuntukkan bagi anak-anak pribumi dari kalangan orang terpandang.   “HIS itu sekolah ningrat,” kisah Elida Lubis yang leluhurnya berasal dari Kotanopan. HIS Kotanopan hanya bisa dimasuki orang-orang terpandang. Anak pedagang, asalkan terpandang, bisa bersekolah di sana.   Di antara jebolan HIS Kotanopan adalah jurnalis sekaligus politisi Masyumi Mohammad Yunan Nasution (1913-1996),  Hakim Agung Bismar Siregar (1928-2012), dan Jenderal Abdul Haris Nasution (1918-2000) yang dua kali menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dan ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Sementara, guru HIS Kotanopan yang terkenal adalah Todung Sutan Gunung Mulia Harahap (1896-1966) yang pernah menjadi menteri pendidikan.   Adam Malik Batubara, wakil presiden RI ketiga, meski tak bersekolah di HIS Kotanopan, berasal dari Kotanopan pula. Desa asal Adam Malik adalah Huta Pungkut Julu, dekat dari Huta Pungkut Jae yang desa asal AH Nasution. Keduanya orang Huta Pungkut, yang jaraknya dengan Kotanopan sekitar 6 km.   Selain keduanya, ada tiga orang pergerakan nasional asal Mandailing yang juga berasal dari Huta Pungkut. Menurut Basyral Hamidy Harahap dan Hotman Siahaan dalam Orientasi nilai-nilai budaya Batak,  ketiganya adalah Buyung Siregar, Muhidin Nasution, dan Abu Kasim Dalimunte. Ketiganya pernah dibuang ke Boven Digoel, Papua oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Di jalan masuk ke Huta Pungkut dari poros antara Padang Sidempuan (Sumatra Utara) dan Padang (Sumatra Barat), terdapat tempat bernama Pamutaran. Di situlah mobil-mobil besar biasa berputar, termasuk milik maskapai bus terkenal Antar Lintas Sumatra (ALS). Maskapai bus ini didirikan di Kotanopan.   ALS berdiri berdasar Akte Notaris Pendirian nomor 50 tanggal 29 September 1966 dan awalnya bernama PT Pengangkutan dan Industri Antar Lintas Sumatera. Beberapa orang kaya memodali perusahaan ini dengan membeli dua unit bus Chevrolet C-50. Operasionalnya berawal dari Sumatra, kemudian Jawa.   Di antara orang kaya pemodalnya itu adalah Haji Sati Lubis. Ia berasal dari Butong. Ketika muda di zaman Hindia Belanda, dirinya pernah bekerja di perusahaan minyak Bataafsch Petroleum Maatschappij (BPM). Setelah mendirikan ALS, Sati Lubis menjadi direktur ALS.   “Dia orang yang sangat memperhatikan orang kecil. Ketika menjadi pegawai minyak BPM dia dekat dengan para buruh,” kata Todung Mulya Lubis, pengacara kondang dan salah satu putra Haji Sati Lubis, dalam Dari Kediktatoran Sampai Miss Saigon .*

  • Van Halen, Van Banten

    LAGU-lagunya menghiasi kehidupan banyak remaja, termasuk saya, ketika musik masih didengarkan melalui kaset berpita yang disetel pada radio tape. Van Halen, pengusung musik cadas yang berjaya era 1980-an sampai era 1990-an dimotori oleh van Halen bersaudara, Alex dan Eddie. Selasa, 6 Oktober 2020, pagi waktu Amerika Serikat, Eddie van Halen meninggal dunia dalam usia 65 tahun setelah berjuang melawan kanker tenggorokan yang dideritanya. Dari mana Eddie dan kakaknya, Alex, mendapat nama van Halen dan siapa asal-usul kedua orang tua mereka? Riwayat orang tua mereka terungkap saat Alex dan Eddie menjawab David Lee Roth, vokalis Van Halen sebelum Sammy Hagar, yang bertanya tentang dari mana kedua orang tua mereka berasal. Ketika Alex sedang menjelaskan asal usul ibunya dari Indonesia, Eddie nyeletuk “Rangkasbetung,” menyebutkan nama kampung kelahiran ibunya sembari terkekeh dalam wawancara delapan tahun lalu itu. Rangkasbitung ibu kota Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

bottom of page