Hasil pencarian
9741 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bahasa Indonesia di Dewan Rakyat Hindia Belanda
KONGRES Pemuda II, 28 Oktober 1928, menetapkan “satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.” Bahasa Indonesia dapat diterima karena tidak mengancam dan tidak eksklusif. “Dan belakangan, bahasa Indonesia menjadi pertanda pertumbuhan keyakinan akan Indonesia,” tulis RE Elson dalam The Idea of Indonesia , “sebagaimana ketika fraksi Thamrin mulai menggunakan bahasa Indonesia untuk kali pertama dalam perdebatan Volksraad pada 1938.” Muhammad Husni Thamrin, wakil Betawi dan ketua Fraksi Nasional di Dewan Rakyat Hindia Belanda (Volksraad) , mewujudkan tuntutan Kongres Bahasa Indonesia pertama di Solo, 25-27 Juni 1938, agar Fraksi Nasional menggunakan bahasa Indonesia.
- Bahasa Indonesia yang Terdesak Bahasa Asing
TAHUN 2013, di kawasan pesisir pantai losari Makassar, berdiri gedung serba guna. Namanya Celebes Convention Center . Gedung ini dibangun pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan menjadi salah satu kebanggaan. “Inilah yang saya bilang, kenapa tak menggunakan bahasa Indonesia saja. Kenapa harus memasukkan bahasa asing,” kata Guru Besar Bahasa Indonesia Universitas Hasanuddin, Muhammad Darwis. “Mulai ibukota negara sampai ke ibukota provinsi, bahkan pada ibukota kabupaten kita menyaksikan bahasa Inggris berkibar-kibar sebagai nama gedung dan badan usaha,” lanjut Darwis. Fenomena ini, kata Darwis, menunjukkan bagaimana bahasa Indonesia tak memiliki prestise oleh penuturnya sendiri. Dianggap bahasa kelas dua dan tidak menjanjikan kemajuan ataupun kemodernan.
- Ben Anderson, Pakar Asia Tenggara Penutur Banyak Bahasa
SAYA mengenal Ben Anderson secara pribadi. Dengannya, saya biasa ngobrol tentang banyak hal, misalnya bahasa, politik, masak memasak dan terutama musik klasik. Ben Anderson paling suka karya Richard Strauss berjudul Vier Letzte Lieder dinyanyikan oleh Lisa della Casa, tapi paling benci Beethoven. Berikut kenangan saya tentang seorang sobat yang ditulis cepat-cepat. Benedict Richard O’Gorman Anderson (1936-2015) kita kenal sebagai seorang Indonesianis, pakar Indonesia yang pertama mempertanyakan versi Soeharto dalam peristiwa G30S. Tulisan yang dimuat di dalam Cornell Paper itu menyebabkannya dilarang masuk ke Indonesia selama seperempat abad lebih oleh rezim Orde Baru. Lantaran, atau lebih tepat lagi berkat pencekalan itu, Ben Anderson melebarkan sayap, beralih menekuni Thailand dan Filipina.
- Bahasa Daerah yang Terancam Punah
NURHAYATI RAHMAN, guru besar filologi di Universitas Hasanuddin Makassar, memperlihatkan salinan aksara dalam menulis teks La Galigo . Beberapa hurufnya terlihat tak biasa dan aneh. Tak seperti aksara Bugis dan Makassar yang dipelajari di sekolah. “Coba lihat huruf Sa -nya. Ada tiga buah aksara yang digunakannya,” katanya. “Terus bandingkan dengan huruf Sa dalam aksara sekarang, hanya ada satu dan seperti ketupat.” Tiga penanda huruf Sa dalam teks La Galigo yakni berbentuk satu garis lurus tegak, atau kadang-kadang satu garis miring, dan bahkan menyerupai simbol listrik yang digunakan perusahaan listrik negara. Aksara huruf Ja pun memiliki tiga buah penanda. Sementara aksara Ngkaq, Nya, Nra, dan Mpa hanya menggunakan satu buah penanda yakni garis lurus –seperti kata penghubung dalam menuliskan dua kata yang terulang dalam ejaan bahasa Indonesia saat ini.
- Buku Kartini dalam Beragam Bahasa
R.A. Kartini mengirimkan puluhan surat kepada J.H. Abendanon, direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, sejak 1899 hingga 1904. Isi surat-surat itu meliputi tata cara kehidupan keluarga bupati di Jepara; sikap saudara-saudara Kartini; keinginannya meneruskan pendidikan seperti temannya bangsa Eropa; keadaan masyarakat sekeliling; dan imbauan kepada yang berwajib untuk mengangkat bangsa Jawa. Sepeninggal Kartini pada September 1904, Abendanon menerbitkan surat-surat Kartini dengan judul Door Duistrnis tot Licht . Namun, tak semua surat diterbitkan. Buku itu dicetak pertama kali oleh N.V. Electrische Drukkerij “Luctor et Emergo” di ‘s-Gravenhage pada 1911. Setahun kemudian muncul cetakan kedua dan ketiga. Sementara cetakan keempat atau cetakan terakhir dari penerbit itu baru muncul pada 1923.
- Revolusi Bahasa di Sriwijaya
PENGUASA dan rakyat Sriwijaya percaya diri membuat prasastinya dalam bahasa lokal, yaitu Melayu Kuno. Fenomena itu menandai adanya revolusi status bahasa daerah yang dianggap setara dengan bahasa Sanskerta. Dr. Andrea Acri, peneliti dari Ecole Pratique des Hautes Etude Paris Prancis, mengatakan ketika Melayu Kuno muncul di Sriwijaya, di India juga mulai muncul penggunaan huruf Pallawa dan Tamil. “Prasasti bukan cuma pakai Sanskerta, tapi bahasa daerah. Kakawin juga muncul,” kata Andrea dalam seminar "Reviving the Sriwijaya-Nalanda Civilization Trail", di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Senayan, Jakarta, 8 Agustus 2017.
- Kisah Berita Proklamasi dalam Bahasa Daerah
KETIKA proklamasi dibacakan oleh Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat pada 17 Agustus 1945, sesungguhnya kekuataan Jepang di Indonesia masih kuat. Untuk menyiasatinya,para pemuda pro republik menuliskan berita tersebut dalam bahasa daerah. Seperti yang terjadi di di Jawa Timur, berita proklamasi ditulis dalam bahasa Jawa dan Madura. Di Surabaya sendiri, berita proklamasi baru ramai diperbincangkan pada 18 Agustus 1945. Kendati beberapa jam usai pembacaan sudah ada upaya menyiarkannya lewat Kantor Berita Domei Jakarta (kini Kantor Berita Antara) oleh Angkatan Muda Pejuang (AMP), namun hanya sedikit orang yang tahu.
- Mencegah Kemusnahan Bahasa Betawi
BUDAYAWAN Betawi Abdul Chaer bilang, banyak orang Betawi, khususnya generasi muda, yang kini tak tahu lagi kata-kata atau istilah-istilah Betawi. “Orang tidak tahu buah kundur. Padahal yang nanya orang umur 30-an. Itu karena buah kundur sudah tidak ada di Betawi,” katanya sewaktu menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Pendekar Bahasa dan Budaya Betawi: Abdul Chaer” yang dihelat di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (9/12/17) malam. Hilangnya buah kundur disebabkan oleh perubahan lingkungan yang menjadi sumber pengetahuan masyarakat Betawi. Ketiadaan pohon buah kundur, yang dulu mudah ditemukan di kampung-kampung, itulah yang membuat generasi muda Betawi tak memiliki referensi tentang tanaman yang dulunya populer di lingkungannya.
- Alkitab Seribu Bahasa
KETIKA berkunjung ke Perpustakaan Wurttembergische Landesbibliothek di kota Stuttgart, Jerman, Harsiatmo Duta Pranowo, sekretaris umum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), berniat membuat replika Injil Matius terjemahan Albert Cornelisz Ruyl. Pihak perpustakaan memberikan dukungan dan kemudian mengirim scan naskah Ruyl dalam resolusi tinggi. LAI segera bekerja. Rencananya, replika itu akan diterbitkan pada 2014 saat perayaan 60 Tahun Pelayanan LAI dan 385 Tahun terbitnya Injil Matius tersebut. Namun, sebagaimana diberitakan dalam laman LAI, alkitab.or.id , permintaan dan pesanan datang dari Pertubuhan Bible Malaysia, yang 5 November lalu memperingati 400 tahun penerjemahan Injil ke dalam bahasa Melayu-Indonesia kali pertama.
- Bahasa Belanda Gatot Subroto di India
DI Bandar Udara Kemayoran, sejumlah petinggi negara berkumpul. Tampak di antara mereka Menteri Keamanan Nasional/Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal Abdul Haris Nasution, yang berbincang dengan wakilnya Letnan Jenderal Gatot Subroto. Selain Nasution, turut mendampingi Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Surjadi Suryadarma bersama Gubernur DKI Jakarta Soemarmo dan Panglima Kodam V Jaya Kolonel Umar Wirahadiusumah. Duta Besar India dan Myanmar beserta atase militer masing-masing pun tampak mengiringi. Mereka hendak mengantar rombongan misi Angkatan Darat bertolak ke India dan Myanmar. “Misi ADRI ke India dan Birma untuk persahabatan dan meninjau objek militer,” demikian diwartakan Harian Patriot , 19 April 1960. Pada 16 April 1960, pesawat Air India membawa rombongan misi Angkatan Darat (AD) yang dipimpin oleh Gatot Subroto. Gatot didampingi sejumlah perwira menengah, antara lain Kolonel Moersjid (Asisten II KASAD), Kolonel Surono (Wakil Gubernur Akademi Militer Nasional), Kolonel Cdm dr. Suyoto (Dinas Kesehatan AD), dan Mayor Nurmanly Aman (Paban Asisten I KASAD sebagai penerjemah), Letkol Soemitro (Wakil Komandan Pusat Infantri), serta Kapten CPM Soedibjo yang bertindak selaku ajudan Gatot Subroto.
- Memperjuangkan Indonesia Lewat Bahasa
MESKI terbilang masih muda, 24 tahun, Sarmidi Mangunsarkoro menyampaikan pidato dengan lantang ketika menjadi pembicara di sesi pertama hari kedua Kongres Pemuda tahun 1928. Dalam sesi dengan tema pendidikan kebangsaan itu, Mangunsarkoro menyampaikan gagasan tentang pentingnya kebudayaan bangsa untuk dijadikan landasan pendidikan putra-putri Indonesia. Menurutnya, pendidikan yang berlandaskan kebudayaan bangsa sendiri akan menjadi pupuk istimewa untuk menyuburkan pengetahuan. “Beliau bicara tentang pentignya pendidikan kebangsaan, pendidikan yang seimbang antara sekolah dan rumah, dan pendidikan demokrasi,” kata Anik Yudhastowo Mangunsarkoro, menantu Mangunsarkoro, pada Historia .
- Perlawanan Lewat Bahasa
SEKEMBALINYA dari Belanda tahun 1931, Maria Ullfah bertekad mematuhi Sumpah Pemuda dengan cara menggunakan bahasa Indonesia. Untuk itu, bersama Soegiarti (kemudian jadi istri Sutan Takdir Alisyahbana) sahabat karibnya Maria mencari seseorang yang bisa mengajari bahasa Indonesia. Upaya itu berhasil. Pujangga Amir Hamzah bersedia menjadi guru les mereka. Namun, Amir rupanya tak cocok menjadi guru Maria Ullfah dan Soegiarti. Kosakata yang diajarkan Amir terlalu mendayu-dayu dan sangat sastrawi, sementara kebutuhan Maria dan Soegiarti bukan itu. Maria lalu berterus terang pada Amir. “Maaf, Saudara Amir Hamzah. Bahasa Indonesia yang Saudara ajarkan pada kami adalah bahasa pujangga. Kami memerlukan bahasa Indonesia yang biasa untuk berpidato dan bercakap-cakap, bukan untuk menjadi sastrawan,” kata Maria seperti ditulis Gadis Rasyid dalam biografi Maria Ullfah Subadio Pembela Kaumnya.






















