Hasil pencarian
9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Aming yang Dilupakan
PADA 1973, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menggelar lomba desain logo untuk Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri). Salah satu jurinya adalah pelukis sekaligus kritikus seni rupa, Koesnadi. Lomba ini sampai dihelat dua kali karena dewan juri belum juga mendapatkan logo yang cocok untuk Korpri yang baru berumur dua tahun. Korpri dibentuk Soeharto melalui Keputusan Presiden Nomor 82 Tahun 1971 tentang pembentukan Korpri sebagai satu-satunya wadah organisasi pegawai negeri sipil (PNS). Tujuannya untuk menggiring PNS dan keluarganya agar memberikan suara bagi Golkar. Saat itu, Menteri Dalam Negeri Amirmahmud merangkap sebagai Ketua Korpri. Pihak penyelenggara lomba logo frustrasi. Akhirnya, pihak Departemen Dalam Negeri meminta beberapa pelukis antara lain Aming Prayitno, Mujitha, Suharto PR, dan beberapa seniman lain dari Bandung dan Jakarta, untuk merancang logo Korpri. Rancangan karya Aming yang terpilih. Dia mendapatkan hadiah Rp50.000 dan piagam penghargaan Nomor Peng. 02/K.III/wan/73 tertanggal 6 Maret 1973. Menurut Pengajar Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Mikke Susanto, logo Korpri karya Aming merupakan sekumpulan tanda yang disatukan dalam sebuah desain. Dalam logo tersebut tercantum beberapa simbol: Pohon Hayat atau Kalpataru merupakan pohon pelindung dan penyeimbang alam. Dalam pohon tersebut terdapat 17 ranting, 8 cabang, dan 45 daun sebagai simbol Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Pohon tersebut menaungi sebuah siluet rumah yang memiliki 5 buah tiang yang melambangkan dasar negara Pancasila. Di bawahnya terdapat sayap yang menyiratkan kebebasan. Logo Korpri tersebut berwarna emas (atau kuning) sebagai warna paling mulia dan tinggi. “Logo ini lalu di-batik-kan. Maksudnya bukan batik dalam arti sebenarnya, tetapi dibuat sebagai baju seragam batik printing . Pakaian batik printing ini dipakai sebagai pakaian wajib dalam melaksanakan tugas sehari-hari para PNS,” ujar Mikke. Anehnya, kata Mikke, setelah mendapatkan sertifikat dan uang jasa pembuatan logo, Aming yang juga PNS sebagai dosen di STSRI Yogyakarta, tidak lagi mendapat peran apa pun. Bahkan, sebagai desainer logo, dia tak mendapatkan pemberitahuan sebelumnya maupun hak kekayaan intelektual atas desainnya. Aming Prayitno lahir di Surakarta 9 Juni 1943. Dia pernah belajar seni di Koninklijk Akademie voor Schonkunsten di Gent, Belgia pada 1976, dan menyelesaikan studinya di STSRI Yogyakarta pada 1977. Menurut Mikke, Aming dinilai oleh beberapa ahli sebagai salah satu perupa yang beraliran Lirical Abstraction atau Lirisisme. Aliran ini mulai berkembang di akhir dekade 1960 hingga 1970-an, di antara ramainya perdebatan dan polemik Manifesto Kebudayaan (Universalisme) melawan Manifesto Kerakyatan (Realisme Sosial). Lirisisme, terang Mikke, merupakan karya-karya yang memiliki kualitas dan proses kreatif yang bersifat personal, melahirkan ungkapan-ungkapan yang menitikberatkan pada perasaan dan emosi (liris). Dalam beberapa ungkapan visual terlihat intuitif, imajinatif, dekoratif dan nonformal improvisatoris, serta memiliki dimensi abstrak yang cukup kuat. Batik logo Korpri zaman Orde Baru menjadi motif batik paling dikenal dibanding motif batik lain. Maklum, batik itu menjadi atribut wajib PNS yang berjumlah ratusan ribu. Batik Korpri sempat surut di era Reformasi. Namun, tak lama kemudian muncul kembali motif batik baru untuk PNS masih menggunakan logo Korpri karya Aming Prayitno. Aming Prayitno, pelukis yang merancang logo Korpri, meninggal dunia pada 24 Januari 2023. *
- Soedirman, Guru Kecil Jadi Panglima Besar
KETIKA muda, Soedirman aktif berorganisasi di Muhammadiyah. Dia pernah menjadi pemimpin Hizbul Wathan, kepanduan Muhammadiyah daerah Banyumas. Selain itu, dia juga aktif di Pemuda Muhammadiyah. Bahkan, dia terpilih menjadi Wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah cabang Banyumas, kemudian Jawa Tengah. Bagi Soedirman, berorganisasi adalah pengabdian, bukan tempat mencari penghidupan. Dia kadangkala mengutamakan kepentingan organisasi daripada keluarga. Karena itu, kendati menjadi pemimpin, rumah tangganya serba kekurangan. Orang pun heran. Namun, baginya itu wajar saja. “Bukankah yang besar itu adalah organisasi. Besarnya dan mekarnya organisasi bukan berarti harus besar dan mewahnya si pemimpin. Untuk mencukupi biaya hidupnya, dia aktif sebagai guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap,” demikian tertulis dalam biografi Sudirman Prajurit TNI Teladan . HIS (Hollandsch Inlandsche School) adalah sekolah dasar dengan masa belajar tujuh tahun. Sebagai guru, Soedirman mendapat gaji f.3 (tiga gulden Belanda) per bulan. Dia menjadi guru bukan semata karena kekurangan. Dia bisa saja mencari pekerjaan lain yang gajinya lebih besar, mengingat saat itu dia cukup populer sebagai pemimpin Pemuda Muhammadiyah. “Apakah artinya uang sebanyak itu (f.3) untuk hidup dalam jangka waktu satu bulan? Jelasnya bagi Soedirman pekerjaan sebagai pengajar didasarkan atas keikhlasan dan kesadaran serta rasa tanggung jawab akan pentingnya pendidikan bagi generasi muda,” demikian disebut dalam buku terbitan Dinas Sejarah TNI AD itu. Soedirman menyadari kekurangannya sebagai guru karena hanya lulusan sekolah menengah pertama, MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Wiworotomo. Dia tak memiliki ijazah sekolah guru, HIK (Hollandsch Inlandsche Kweekschool). Untuk mengatasi kekurangannya, dia memilih les kepada guru-gurunya di MULO Wiworotomo. Dia juga mendapatkan pengetahuan keguruan dari R. Mokh. Kholil yang memimpin Muhammadiyah Cilacap dan Lembaga Pendidikan Muhammadiyah. Kendati tak berijazah guru, Soedirman memiliki bakat sebagai pendidik. Dia punya pengalaman dalam membimbing anak-anak pandu Hizbul Wathan. Bahkan, ketika di MULO Wiworotomo, dia dijuluki “guru kecil” karena diandalkan gurunya untuk membantu teman-temanya yang kesulitan dalam pelajaran. Tak hanya disukai murid-muridnya karena mengajarnya mudah dimengerti, Soedirman juga disenangi guru-guru lain. Bahkan, kepercayaan dari para pengajar membuat Soedirman terpilih menjadi kepala sekolah HIS Muhammadiyah. Gajinya naik menjadi f.25,50. Baginya kenaikan gaji itu cukup membantu kekurangannya dalam rumah tangga. Namun, yang lebih penting adalah kepercayaan yang diberikan rekan-rekannya dan pimpinan Lembaga Pendidikan Muhammadiyah. Tentu saja, kenaikan pangkat menjadi kepala sekolah berkat ketekunan dan kesungguhannya sebagai pendidik. Ada pengalaman unik ketika Soedirman masih menjadi guru. Dia menceritakannya kepada Pak Kholil. Suatu hari, ketika sedang mengajar, dia didatangi seorang Tambi (orang Keling dari Bombay). Setelah becakap-cakap, orang beragama Hindu itu melihat telapak tangan Soedirman dan berkata: “kelak engkau menjadi orang yang besar, tabahlah.” Soedirman menganggap ramalan itu biasa saja. Jadi Panglima Besar Menjelang pendudukan Jepang, Soedirman terpaksa melepaskan pekerjaan yang dicintainya sebagai kepala sekolah HIS Muhammadiyah. Saat itu situasinya tak memungkinkan menjalankan pendidikan karena semua orang terpusat pada serangan Jepang. Dia bahkan menjadi ketua sektor LBD (Lucht Besherming Dienst) atau Dinas Perlindungan Bahaya Udara yang dibentuk Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, Soedirman menjadi anggota Syu Sangikai (semacam dewan perwakilan), kemudian anggota Jawa Hokokai Karesidenan Banyumas. Setelah mengikuti pelatihan Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor, dia ditempatkan sebagai daidancho (komandan batalion) Daidan III di Kroya, Banyumas . Setelah Indonesia merdeka, Kolonel Soedirman menjabat komandan Divisi V TKR Purwokerto. Saat itulah, dia mengatur strategi melawan Sekutu di Ambarawa. Karier militernya mencapai puncak setelah dia terpilih menjadi panglima besar tentara Indonesia –inikah maksud "orang besar" yang diramalkan orang Tambi itu? Ketika Belanda melancarkan agresi militer kedua, Soedirman dalam keadaan sakit melawan dengan bergerilya dari 19 Desember 1948 sampai 10 Juli 1949. Jenderal Soedirman, guru yang jadi panglima besar, meninggal dunia pada 29 Januari 1950.*
- Satu Cinta Tiga Wanita
KISAH cinta ini bermula di Semarang tahun 1972. Ketika hendak mendaftar sekolah di SMA PGRI Semarang, Sri Suyati diperkenalkan seorang teman dengan Fredy S yang baru lulus SMA. “Rambutnya gondrong. Seniman gembel,” ujar Yati, 59 tahun. Perkenalan itu berlanjut ke perjumpaan hati. Tiga bulan berpacaran, mereka naik ke pelaminan. Yati tak jadi masuk SMA. Saat menikah, Fredy S berusia 18 tahun, sedangkan Yati 17 tahun. “Kawin muda. Bandel sih.”
- Menggoreskan Nama di Sinema
SETELAH membaca Senyummu Adalah Tangisku , Ny. Leonita Sutopo, juragan PT Inem Film, tertarik mengangkat novel itu ke layar lebar. Ia pun menyampaikan ketertarikannya ke si empunya karya. Fredy S senang novel perdananya, yang diterbitkan Mutiara pada 1978, difilmkan. Maka, ia mengangguk. Leonita serius menggarap film ini. Tak tanggung-tanggung, ia menggandeng sederet artis papan atas. Mulai Rano Karno sampai Sukarno M. Noor. Dari Anita Carolina hingga Farida Pasha. Bahkan, untuk menggubah cerita dari novel menjadi gambar hidup, ia mendapuk Dasri Yacob, seorang sutradara kawakan. Dasri Yacob pula, bersama Fredy S, yang bikin skenario film.
- Cerita di Balik Nama Fredy S
JUARIYAH tergopoh-gopoh membawa anak keduanya yang baru berusia tiga bulan ke sebuah rumah sakit di Kalisari, Semarang. Dokter mendiagnosis bayi itu sakit paru-paru basah sehingga harus dirawat di rumah sakit. Sementara Juariyah hidup pas-pasan. Tak ada lagi sandaran hidup setelah berpisah dari suaminya, M. Zein, seorang keturunan Arab, yang memutuskan kembali ke Jakarta. Dalam keputusasaan, ia bergumam: “Aku sudah capek di rumah sakit. Kalau ada yang mau anak ini, aku akan memberikannya.”
- Hikayat Roman Sepicis
AYUNING Tias anak seorang juragan tembakau kaya dari Jenggawah, sebuah desa kecil di selatan Jember. Parasnya nan rupawan kesohor hingga kampung sebelah. Dari sekian banyak kumbang, Marlan berhasil mengisap madu sang kembang. Menjelang lulus sekolah, Ayu pun hamil. Namun Marlan justru mencampakkannya setelah mengeruk kekayaan orang tua Ayu. Dengan bantuan seorang dukun beranak, Ayu menggugurkan kandungannya. Trauma ini membuat Ayu mengambil jarak dengan laki-laki. Hingga suatu hari ia termakan rayuan Yudi Margono, pemuda tampan bermobil dan tinggal di rumah gedongan.
- Mengukir Nama di Ladang Cinta
RUMAH dua tingkat di Bintara, Bekasi itu berpagar jerajak besi. Halamannya dipenuhi aneka bunga. Beranda dibiarkan kosong; tak ada meja maupun kursi. Sebuah sepeda mini terparkir di garasi. Dua bocah laki-laki asyik bermain. Mereka cucu si empunya rumah: Fredy Siswanto atau Fredy S. Ruangan di dalamnya cukup luas. Agak menjorok ke dalam, anak tangga meliuk ke lantai dua. Di bawahnya, kolam ikan mini tak lagi terawat. Dinding kolam itu bercorak ala lembah di pegunungan. Kering. Berdebu. “Maaf, agak berantakan. Semenjak Fredy sakit, sempit sekali waktu untuk mengurus rumah. Anak-anak juga sudah tinggal di rumah masing-masing dengan keluarganya. Paling seminggu sekali datang ke mari,” kata Sri Suyati, biasa disapa Yati, istri pertama Fredy S.
- Mohamad Hasbi dari Petrus ke Kedung Ombo
HINGGA hari ini, istilah “gali” masih ada di Yogyakarta. Gali adalah singkatan dari gabungan anak liar. Istilah ini sudah populer di awal dekade 1980-an, ketika diadakan operasi berdarah terhadap premanisme di sekitar Yogyakarta. Apapun nama operasi berdarah itu, lebih banyak orang mengingatkanya sebagai Petrus alias Penembakan Misterius. Kota Yogyakarta adalah wilayah teritorial dari Komando Distrik Militer (Kodim) 0734 yang berada di bawah Komando Resort Militer (Korem) 072 —yang membawahi kabupaten-kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) plus Kabupaten Temanggung, Megelang, Wonosobo, Purworejo, dan Kebumen. Ketika para preman itu diburu, komandan Kodim (Dandim) Yogyakarta adalah Letnan Kolonel CZI Mohamad Hasbi (1939-2022). Dialah yang dianggap sebagai pelopor Petrus tersebut. “Landasan hukum operasi yang ditanganinya adalah Operasi Clurit. Sedang landasan pelaksanaannya adalah tingkat keresahan masyarakat,” terang Hasbi sebagaimana diberitakan Kompas , 15 April 1983. Operasi Petrus Kendati dijalankan secara terukur oleh militer, banyak yang mengkhawatirkan praktik tersebut. Salim Said, pakar politik, termasuk orang yang khawatir dengan Petrus. “Kalau kurang hati-hati Petrus bisa menjalar dari pembunuhan kriminal menjadi pembunuhan politik,” ujar Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto . Sekitar tahun 1983, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) yang dipanglimai Laksamana Sudomo melancarkan Operasi Clurit untuk menghantam para kriminal yang akhirnya dianggap pemerintah meresahkan. Ketika Jenderal Benny Moerdani menjadi panglima Kopkamtib, operasi terhadap para preman bercap kriminal pun semakin dikeraskan. Operasi yang dipelopori Letnan Kolonel Mohamad Hasbi itu, menurut Salim Said, “kemudian diam-diam diambil alih Pangkopkamtib Moerdani dan diberlakukan di seluruh Indonesia.” Sebelum menjadi Dandim Yogyakarta, Hasbi menjadi Dandim di Kodim 0703 dari tahun 1979-1982. Pria kelahiran Tapaktuan, Aceh, 20 Januari 1939 ini sekitar dua tahun menjadi Dandim di Yogyakarta. Setelah Petrus menewaskan 532 orang yang dicap preman kriminal dan hampir lima tahun Hasbi menjadi Dandim di Cilacap dan Yogyakarta, jabatan Hasbi dinaikkan. “Gubernur Jawa Tengah Ismail tanggal 16 Juni (1984) melantik Letkol CZI M. Hasbi sebagai Bupati Boyolali di gedung Pemda Boyolali. Hasbi menggantikan posisi pejabat sebelumnya MC Tohir,” demikian diwartakan Mimbar Kekaryaan ABRI edisi 162, Juni 1984. Waduk Kedung Ombo Masalah yang dihadapi Hasbi di Boyolali bukan “gali” lagi. Masalah yang dihadapinya, sebuah proyek pembangunan waduk di Kedung Ombo. Sebagai bupati, Hasbi jelas diajak bicara terkait masalah pembebasan tanah. Kala itu, banyak yang menolak ganti rugi untuk pembebasan tanah tersebut. Namun, “tangan besi” rezim Orde Baru meresponnya dengan tindakan tak manusiawi. “Di Kedung Ombo, petani yang membangkang untuk menyerahkan tanahnya dicap sebagai PKI dengan cara diberi kode ET di KTP mereka,” kata Ikrar Nusa Bhakti dalam Militer dan Politik Kekerasan Orde Baru: Soeharto di Belakang Peristiwa 27 Juli . Pelabelan PKI terhadap siapapun yang melawan kehendak pemerintah merupakan praktik umum yang “sakti” rezim Orde Baru. Dengan pelabelan itu, pemerintah tak perlu buang banyak tenaga karena masyarakat dengan sendirinya akan mengucilkan mereka yang dicap, meskipun mereka yang dicap PKI itu sebetulnya tak ada kaitannya dengan masalah 1965. Dengan begitu, cap PKI adalah sesuatu kutukan yang menakutkan banyak orang di zaman Orde Baru. Saking menakutkannya, pernah ada isu bahwa ada petani yang masuk hutan karena takut. Namun, lewat Kompas tanggal 20 Juni 1986, Hasbi membantah isu tersebut. Hasbi menjadi bupati Boyolali selama 10 tahun (1984-1994). Ketika tak jadi bupati lagi, dia masih militer aktif namun hampir memasuki masa pensiun di ABRI. Meski karier militernya kurang cemerlang, sang jebolan Sekolah Calon Perwira ini setidaknya berhasil menjadi perwira tinggi dengan pangkat Brigadir Jenderal. “Tidak banyak data tentangnya,” terang Donny Alamsyah Syeoputra yang mengkurasi keseluruhan jenderal Angkatan Darat. Menurut Apa & Siapa Caleg Golkar Jawa Tengah, DPRD I Pemilu 1997, Hasbi kemudian bergabung dengan Golongan Karya (Golkar) dalam Pemilu 1997, pemilu terakhir Orde Baru. Hingga beberapa tahun setelahya, dia menjadi wakil ketua DPRD Jawa Tengah sebelum tutup usia pada 25 November 2022.*
- Misteri Fredy S
PEMBACA novel populer era 1980 hingga 1990-an tentu tak asing lagi dengan nama Fredy Siswanto atau kerap ditulis Fredy S. Dia penulis produktif di masanya. Novel-novelnya laku keras. Bahkan masih beredar hingga kini. Namun sosoknya dianggap misterius. Siapa dia sebenarnya? Nama aslinya Bambang Eko Siswanto. Lahir di Semarang pada 5 Mei 1954. Sebelum menjadi novelis, dia lebih dikenal sebagai komikus. Beberapa komiknya, umumnya bergenre roman percintaan, terbit. Antara lain Gema Tangismu , Karang Tajam , Segaris Harapan , Kepergian Seorang Kekasih , Lagu Sendu , Selembut Sutra , dan Pengorbanan Ibu . Komik tak mengangkat namanya. Maka, dia mencari penghasilan lain sebagai pelukis poster film. Dia juga sempat menulis beberapa cerita silat seperti serial Retno Wulan dan Pendekar Gagak Rimang dan jadi wartawan sebelum berkiprah sebagai penulis novel populer. Fredy S penulis produktif. Karyanya ratusan judul, diterbitkan di Indonesia maupun di Malaysia dan Singapura. Sebulan dia bisa menghasilkan dua hingga tiga judul novel. Fredy S menyebut dirinya sebagai “sastrawan kaki lima”. Saking tenar, namanya kerap dicatut, atas seizinnya maupun tidak, untuk novel-novel lainnya. Namun namanya tenggelam oleh ratusan karyanya. Bahkan tak diakui dalam dunia kesusastraan Indonesia. Apresiasi terhadap karya-karya Fredy S pernah coba dituangkan Muhidin M. Dahlan, pegiat radiobuku.com . Dia bersama teman-temannya menerbitkan buku setebal bantal bertajuk Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikubur . Karya-karya yang terpilih diresensi, biografi pengarangnya diulas. Bila jeli, tak ada nomor urut 32 di buku setebal 1001 halaman itu. “Ini sebetulnya template yang disiapkan buat Fredy S.,” kata Muhidin M. Dahlan. Namun, karena tak berhasil menelisik sosok Fredy S, ruang itu dibiarkan kosong. Fredy S tak tergantikan. Bagi Muhidin dkk, Fredy S dan novel-novelnya adalah bintang di masa keemasan kedua “sastra picisan” pada 1980-an. Fredy S adalah penanda zaman. Debut Fredy S sebagai novelis mendapat sambutan hangat. Novel pertamanya Senyummu Adalah Tangisku (terbit 1978) diangkat ke layar lebar. Tak tanggung-tanggung lakon yang membintanginya sederet artis papan atas: Soekarno M. Noor, Rano Karno, Anita Carolina, dan Farida Pasha. Setahun kemudian, novelnya Sejuta Serat Sutera juga difilmkan. Bintangnya Rudi Salam dan Tanty Josepha. Dari sinilah, Fredy S terjun ke dunia sinematografi, dari penulis skenario hingga jadi asisten sutradara. Ketika televisi swasta mulai berkecambah dan produksi sinema elektronik (sinetron) mendapat tempat, Fredy S tak mau ketinggalan. Dia menyutradarai beberapa sinetron melalui berbagai rumah produksi. Antara lain Fatamorgana (1995) dan Bukan Sekedar Sandiwara (1997). “Bila di film kurang menonjol, Fredy S mencetak prestasi lumayan waktu pindah ke layar kaca,” tulis Apa Siapa Orang Film Indonesia , yang diterbitkan Direktorat Pembinaan Film dan Rekaman Video Departemen Penerangan. Karya terakhirnya adalah sinetron Jelangkung 2 produksi PT Virgo Putra Film, yang tayang di RCTI tahun 2002. Karena terserang stroke, dia terpaksa meninggalkan dunia film dan sinetron. Bahkan, sekalipun sempat kembali menulis novel, Fredy S akhirnya tutup buku dengan novel populer. Fredy S menghabiskan hari tuanya di rumah istri pertamanya di Bintara, Bekasi, sampai meninggal dunia pada 24 Januari 2015.* Berikut ini laporan khusus Fredy S: Mengukir Nama di Ladang Cinta Hikayat Roman Sepicis Cerita di Balik Nama Fredy S Menggoreskan Nama di Sinema Satu Cinta Tiga Wanita
- Samudra Pasai Kaya Lantaran Berdagang Lada
JELANG dinihari 21 Juni 2024, KRI Dewaruci sudah memasuki perairan Aceh dalam pelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempah. Paginya, Dewaruci sudah melewati kawasan Lhoksumawe dan Lhoksukon. Kawanan lumba-lumba sempat terlihat di perairan Aceh Timur sekitar pukul 10.00 pagi. Mereka terlihat di bawah anjungan kapal latih TNI AL itu. Beberapa di antaranya melompat. Dari kejauhan, terlihat tangki-tangki minyak berukuran besar. Aceh dikenal juga karena minyaknya. Kawasan ini dulunya diperkirakan wilayah dari kerajaan Samudra Pasai, salah satu kerajaan besar di Aceh. Dulu, murid-murid sekolah dalam pelajaran sejarah Indonesia diajari bahwa Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia. Namun setelah ada upaya pelurusan sejarah, disebutkan bahwa Peurelak atau Perlak justru yang merupakan kerajaan Islam tertua di Indonesia. Baik Samudra Pasai maupun Perlak sama-sama di Aceh. Lokasi bekas kerajaan Perlak itu kini menjadi Kabupaten Perlak. “Posisi sekarang berada di Aceh Utara dan Aceh Timur,” kata Miftah Roma Uli Tua Nasution dari Balai Pelestarian Kebudayaan I Aceh, menerangkan tentang Kerajaan Pasai, kepada Historia . Kawasan Kerajaan Pasai itu kini dilewati jalan raya Maden-Banda Aceh. Tua tak tua, Samudra Pasai tetap kerajaan Islam yang penting dan berpengaruh di Selat Malaka. Samudra Pasai adalah penghasil lada. Kawasan Aceh sejak dulu identik dengan lada. “Di Pasai perkebunan lada telah berproduksi sejak abad ke-14,” catat Muhamad Ibrahim dkk dalam Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh . Hingga sekitar tahun 1920, lada tetap tanaman penting di Aceh. Lada banyak diusahakan di pantai barat. Selain lada, sutra dan kemenyan juga dihasilkan di Pasai. Samudra Pasai merupakan kerajaan dagang yang terbuka dengan bangsa-bangsa lain. Pasai menjadikan diri sebagai pelabuhan penting di sisi utara Selat Malaka. Perdagangan di wilayahnya itu telah mengundang banyak pedagang asing untuk dagang. Mulai dari orang orang Gujarat, Keling, Bengal (Benggala), Pegu (Burma), Siam, Kedah, hingga Beruas. “Sebagian besar orang Pasai merupakan orang Bengal, atau keturunan asli dari orang-orang ini,” catat Tome Pires dalam Suma Oriental yang disusun antara 1512-1515. Orang Bengali atau Benggala menjadi yang paling banyak berdagang di Pasai. Bengali kini berada di perbatasan India dengan Bangladesh –yang berada di India menjadi Provinsi Benggala Barat. Adanya relasi antara orang Bengal dan Pasai itu mengakibatkan adanya kedekatan kuliner antara daerah India dengan Aceh. Menurut Andreas Maryoto, penulis buku Jejak Pangan: Sejarah, Silang Budaya, dan Masa Depan , pengaruh India secara garis besar masuk dalam dua gelombang: pertama , abad ke-14 dan kedua , pada masa Kesultanan Mughal. Pengaruh India di Pasai terjadi pada gelombang kedua. Saat itu, Mughal memang memiliki hubungan diplomatik dengan Aceh. “Beberapa makanan yang bisa diduga terkait pengaruh Mughal antara lain makanan yang bersantan dan pedas,” tulis Andreas Maryoto. Sebagai pedagang, masyarakat Pasai tentu mengenal uang. Pada 1500-an, Pires mencatat uang yang digunakan adalah koin-koin kecil yang terbuat dari timah dengan cap raja yang berkuasa di sisi-sisinya. Selain koin timah, ada pula koin kecil emas yang disebut Drama. Sembilan Drama sama nilainya dengan 1 Cruzado. Serbuk emas dan perak juga digunakan dalam perdagangan. Merica dihitung pula dengan satuan Bahar. Namun nilai Bahar di Pasai lebih rendah daripada yang digunakan di Malaka. Perdagangan antarnegara di Pasai melibatkan banyak kapal. Termasuk yang disebut Jung. Masuknya pedagang asing ke Pasai menjadi pemasukan tersendiri bagi kas kerajaan. Besar-kecilnya kapal, menurut Tome Pires, menentukan besaran pajak pedagang dari luar. Untuk barang dari arah barat yang masuk ke Pasai dikenai pajak 6 persen. Untuk seorang budak ada pungutannya pula. Perdagangan antarnegara membuat Pasai kaya-raya. Apalagi ketika Malaka nun jauh di seberang tenggara dan Pedir, yang merupakan musuh bebuyutan Pasai, mendapat masalah. “Kerajaan Pasai memiliki kota bernama Pasai, sebagian orang menyebutnya Camotora (Sumatra),” catat Tome Pires. Kota Pasai dihuni tidak kurang dari 20.000 orang. Kota ini berada di Aceh Timur. Para pedagang asing di Pasai tentu tak kesulitan mencari makanan . Sebelum agama Islam masuk, daerah Pasai diperintah oleh raja pagan. Meurah Silu dianggap sebagai pemimpin Pasai pertama yang masuk Islam. Dia kemudian bergelar Sultan Malikussaleh, berkuasa antara 1267 dan 1297. Setelah dirinya, raja-raja Pasai bergelar sultan. Namun keadaan akhirnya berubah. Tak selamanya keturunan Meurah Silu berkuasa. Di zaman Tome Pires bertualang ke sekitar Aceh, keluarga Meurah Silu sudah tidak berkuasa lagi. “Seratus enam puluh tahun telah berlalu sejak raja tersebut digulingkan oleh pedagang Moor yang licik, yang pada saat itu berada di Kerajaan Pasai. Diberitakan bahwa pada waktu itu, orang-orang Moor telah menguasai pesisir pantai dan mereka akhirmya mengangkat seorang raja Moor yang berasal dari kasta Bengal,” catat Tome Pires. Moor kerap menjadi sebutan untuk orang-orang Timur Tengah yang berkulit agak gelap. Setelah orang Bengali berkuasa, cara pergantian pemerintahan bisa berubah. Siapapun yang bisa membunuh raja bisa menjadi raja. Bekas wilayah Pasai dan Pedir kemudian menjadi wilayah dari Kerajaan Aceh yang muncul di pengujung abad ke-15.*
- Viva Vivian! Transeksual yang Mengubah Jenis Kelamin
INI hari yang membahagiakan bagi Vivian. Bergaun pengantin warna putih, dia terlihat begitu anggun ketika turun dari sebuah Mercy 300 SEL. Dengan luwes dia melangkah memasuki ruangan resepsi di sebuah restoran mewah di Jakarta, menggandeng tangan Felix Rumayar. Dia merasa jadi ratu semalam setelah sebelumnya menikah di sebuah gereja Katolik di Petamburan dan mencatatkan pernikahan di kantor Catatan Sipil, awal November 1975. Sejumlah orang penting hadir, antara lain pengacara kondang Adnan Buyung Nasution dan Gubernur Jakarta Ali Sadikin. Kuncoro, sejawatnya di Viva Kosmetik, memberi sambutan dengan kisah pertemuan kedua mempelai, lalu mengakhirinya dengan teriakan: “Viva Vivian, Viva Felix!”
- Ketika Ali Sadikin Mau Gebuk Sudomo
KENDATI sama-sama berasal dari Angkatan Laut (AL), hubungan antara Ali Sadikin dan Sudomo bisa dibilang fluktuatif. Keduanya adalah pribadi yang berbeda tipikal. Ali Sadikin kritis terhadap pemerintah Orde Baru. Sementara Sudomo membungkam mereka yang menentang rezim. Ketika Ali Sadikin vokal mengkritik pemerintah lewat Petisi 50, Sudomo yang kala itu jadi panglima Kopkamtib melakukan pencekalan (cegah-tangkal). Untuk membawa istrinya berobat ke negeri Belanda, Ali Sadikin kesulitan akibat dicekal. Perintah cekal itu berasal dari Sudomo. Padahal, Sudomo masih terhitung juniornya Ali Sadikin. “Pencekalan itu sebenarnya inisiatif saya, bukan karena diminta Pak Harto. Dengan Bang Ali saya tidak ada masalah, kawan baik. Kita kan tinggal berdekatan, bertetangga, ” kata Sudomo dalam Warnasari , edisi Oktober 1997 mengutip harian Terbit . Namun soal relasi pribadi, Sudomo mengatakan, “Kalau ia ulang tahun saya datang, peluk-pelukan. Pokoknya saya menghormatinya, karena ia kan atasan saya.” Setelah pensiun dari jabatan gubernur Jakarta, Bang Ali –pangglian Ali Sadikin– tinggal di Jalan Borobudur No. 2, Jakarta Pusat, berseberangan dengan kediaman Sudomo. Ali dan Sudomo tampaknya memang berseberangan dalam banyak hal. Mulai dari rumah, pandangan politik, hingga selera wanita. “Mana mungkin sama (selera) antara seorang marinir dengan seorang pelaut. Kalau dia memang dikenal sebagai pemburu wanita,” tutur Ali Sadikin dalam wawancara majalah Detik , 21–27 Juli 1993 termuat di Pers Bertanya Bang Ali Menjawab . Reputasi Sudomo sebagai pecinta perempuan tidak lekang bahkan hingga di usia senjanya. Di masa Orde Baru berkuasa ketika dirinya menjadi orang penting, Sudomo beberapa kali menikah. Sudomo terkenal dengan kelakar khasnya. “Dari pinggang ke atas saya sudah tua tapi dari pinggang ke bawah (masih aktif). Heehee...,” ujar Sudomo dikutip Jakarta Jakarta , 20-26 September 1997. Artinya, meski sudah tua, Sudomo masih kuat vitalitas seksualnya. Pada 1997, pada usianya yang ke -70, Sudomo dikabarkan kembali memeluk Islam setelah sempat pindah agama. Keputusan Sudomo tersebut sempat memantik tanda tanya publik. Sebagian kalangan menilai Sudomo sedang melakukan manuver politik untuk menduduki jabatan wakil presiden. Sebagian lagi menganggap itu akal-akalan Sudomo karena ingin mencari istri lagi. Saat itu, Sudomo santer diisukan dekat dengan perempuan bernama Endah Melati Suci. “Ya ndak . Pokok nya bukan tujuan politik apalagi kawin, ” kata Sudomo kepada Jakarta Jakarta, 20–26 September 1997 ketika ditanya tujuannya pindah agama. “Itu datangnya dari Tuhan yang Maha Kuasa. Dari dulu saya ndak jalanin penuh. Wong , saya kalau bulan puasa ikut puasa kok.” Melihat polemik yang terjadi terhadap Sudomo, Ali Sadikin ikut angkat bicara. Dia tetap berbaik sangka. Perhatian dan simpati juga masih diperlihatkan Bang Ali terhadap junior yang pernah mencekalnya itu. “Kita tidak baik punya pikiran jelek seperti itu. Kita harus percaya ia sudah kembali ke agamanya semula, Tuhan menerimanya,” kata Bang Ali dikutip Warnasari . “Nah, bila nanti ternyata ada niatan lain, atau ini sebuah manuver, ya kita gebukin saja.” Meski demikian, Bang Ali mengakui secara personal, hubungannya dengan Sudomo baik-baik saja. Jika Bang Ali dan Pak Domo berbeda langkah, semua itu terjadi karena iklim politik Orde Baru. “Waktu ulang tahun saya ke-70, ia (Sudomo) datang memberi ucapan selamat,” kenang Bang Ali dalam Warnasari . Saling sowan Bang Ali-Pak Domo ini menandai bahwasanya tidak ada konflik yang berarti apalagi dendam diantara keduanya.*






















