Hasil pencarian
9912 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Prasasti Berisi Kutukan
SELAIN dijajah Portugis, Belanda, Prancis, dan Jepang, Indonesia juga pernah dijajah Inggris. Ada anggapan bangsa yang dijajah Inggris akan bernasib baik. Benarkah? Sejarawan asal Inggris, Peter Carey menolak anggapan tersebut. Selama lima tahun menjajah Indonesia, Inggris banyak membawa kerugian. “Banyak yang katakan mungkin jika Indonesia dijajah oleh Inggris akan lebih baik, mereka banyak berkaca pada Malaysia dan Singapura. Tapi semua itu bohong,” ujarnya dalam seminar “Objects, Museums, Histories Between the Netherlands and Indonesia: the Case of Diponegoro,” di Museum Nasional, Jakarta, Rabu (18/5). Menurut Peter Carey, ketika menginjakan kaki di Jawa, Inggris membuat kekacauan. Terlebih mereka adalah pencuri aset Indonesia nomor wahid. Dia menyoroti dua benda cagar budaya penting milik Indonesia yang masih berada di museum luar negeri. Prasasti Pucangan yang dikenal Calcutta Stone berada di Museum India dan Prasasti Sangguran atau dikenal dengan Minto Stone.
- Menggali Isi Prasasti
PADA masa Jawa Kuno, raja atau penguasa daerah menerbitkan prasasti untuk memberitakan beragam hal. Mulai dari pemberian anugerah raja kepada rakyat hingga putusan pengadilan terkait konflik dan aduan masyarakat. Salah satu yang menarik adalah konflik kependudukan yang menimpa warga Desa Wurudu Kidul bernama Sang Dhanadi pada era Mataram Kuno. Dalam Prasasti Wurudu Kidul (922) diceritakan Sang Dhanadi dituduh oleh petugas pajak sebagai warga asing sehingga harus membayar pajak lebih tinggi. Menurut Prasasti Palebuhan (927) ada beberapa orang asing yang wajib membayar pajak, yaitu keling, Arya, dan Singhala. Sang Dhanadi tak terimalalu mengadu ke pengadilan. Pengadilan mengusut asal-usulnyauntuk membuktikan adanya darah orang asing. Sang Dhanadi dianggap memenangkan perkara karena yang menuduhnya tak hadir ketika dua kali dipanggil pengadilan.
- Prasasti Damalung Wajib Dipulangkan, Begini Kata Arkeolog
DARI seabrek warisan Nusantara yang dibawa melintasi benua ke Belanda, Prasasti Ngadoman atau Batu Damalung adalah salah satu yang nyaris luput dari perhatian. Ia teronggok di salah satu gudang museum di Belanda sejak era kolonial. Diharapkan, ia dapat turut dipulangkan ke tanah air. Prasasti Damalung sempat dinyatakan “hilang”. Ia pertamakali ditemukan pada medio 1824 oleh Residen Semarang Jacob Hendrik Domis di Ngadoman, sisi timur lereng Gunung Merbabu yang dahulu disebut Damalung. Pada 1825, ia diserahkan ke Bataviaasch Genootschap (kini Museum Nasional Jakarta) di Batavia. Namun, catatan mengenai itu tak lagi berlanjut. Baru hampir setengah abad kemudian, 1873, muncul catatan dari Leiden bertajuk Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indi, Vol. 91. Berarti, di tahun itu Prasasti Damalung sudah berada di Belanda. Dokumentasi lainnya berbentuk foto di Museum Volkenkunde, “Charter in Kawi script, language Kawi, dated 1371 Saka, found on the Merbabu, OD-10019”.
- Prasasti Damalung yang Hilang Ditemukan di Negeri Seberang
DI sebuah gudang museum di kota kecil ‘s-Gravenzande, Provinsi Zuid-Holland, Belanda, teronggok Prasasti Ngadoman atau kondang disebut Batu Damalung. Prasasti ini ditengarai jadi salah satu saksi bisu peralihan aksara Kawi atau Jawa Kuna ke Jawa Baru di akhir era Kerajaan Majapahit. Prasasti Ngadoman ditemukan kembali seiring kunjungan sejarawan Bonnie Triyana ke ‘s-Gravenzande pada 7 Agustus 2024. Ia sebelumnya mendengar tentang Prasasti Ngadoman itu dalam sebuah diskusi di Salatiga, Jawa Tengah, awal 2023. Lantas, ia dibantu sejarawan dan kurator Museum Volkenkunde Leiden, Pim Westerkamp, melacak prasasti itu hingga akhirnya ditemukan setelah sekira dua abad berdiam di Belanda. Disebut Prasasti Ngadoman karena benda tersebut ditemukan di Ngadoman (kini wilayah Kabupaten Semarang) oleh Residen Semarang Hendrik Jacob Domis, medio 1824. Sedangkan nama alias “Batu Damalung” merujuk pada lokasi Ngadoman di lereng Gunung Merbabu, yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut Damalung.
- Merangkai Sejarah Bahasa Bunga
SUDAH sejak lama bunga menjadi media untuk mengekspresikan perasaan atau gagasan. Kebiasaan ini memicu lahirnya floriografi atau bahasa bunga, yang digunakan masyarakat Inggris dan Amerika Serikat pada abad ke-19 sebagai metode komunikasi rahasia. Popularitas floriografi berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat era Victoria yang menjunjung tinggi norma sosial dan membatasi ekspresi emosi yang terbuka dan mencolok. Menurut Jessica Roux dalam Floriography: An Illustrated Guide to the Victorian Language of Flowers, floriografi pertama kali muncul pada 1819 melalui karya Charlotte de la Tour berjudul Le Langage des Fleurs. Buku tentang “bahasa” berkode ini digunakan secara luas sepanjang abad ke-19 baik di Inggris maupun Amerika Serikat, yang kemudian menjadi identik dengan tradisi dan budaya era Victoria. “Makna bunga diambil dari sastra, mitologi, legenda abad pertengahan, dan bahkan bentuk bunga itu sendiri. Seringkali penjual bunga menciptakan simbolisme untuk menemani bunga-bunga baru dalam koleksi mereka, dan kadang-kadang, makna bunga berbeda tergantung pada lokasi dan waktu,” tulis Roux. Dalam konteks budaya Victoria, bunga dan kelompok bunga memperoleh makna yang beragam seperti budaya tempat mereka muncul. Dalam konteks floriografi, bunga dipandang sebagai lambang pikiran dan perasaan. Kelas menengah Victoria sangat menikmati menghidupkan kembali bahasa bunga. Tren ini berpusat pada kelas menengah yang besar dan mengalami pertumbuhan signifikan di Britania Raya, Prancis, dan Amerika Serikat, yang didorong oleh Revolusi Industri. Para wanita di rumah tangga ini memiliki pelayan dan waktu luang, tetapi sedikit kesempatan untuk berkarier. Sesuai dengan cita-cita Victoria, kebun bunga dan hortikultura dipandang sebagai hobi yang konstruktif. Bunga tidak hanya dihias dan dirangkai untuk dekorasi interior, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pemikiran dan opini para perempuan berpendidikan tentang isu-isu moral, kebajikan, dan kritik sosial. Kaum terpelajar mempelajari bahasa bunga untuk bertukar pesan tanpa menggunakan kata-kata. Hal ini menguntungkan bagi mereka yang terbatas oleh latar belakang pendidikan dan konvensi sosial borjuis. Selain itu, bahasa bunga dianggap terhormat, dan memberikan status kehormatan bagi mereka yang menguasainya. Kemahiran dalam floriografi dianggap sebagai pencapaian sosial yang prestisius, yang mengungkapkan kecerdasan feminin seorang wanita dan kebajikan seorang pria. Michael Waters menulis dalam The Garden in Victorian Literature, popularitas bahasa bunga sebagian besar berasal dari dorongan untuk melarikan diri dari dekadensi kehidupan perkotaan dan kebosanan rutinitas sosial yang monoton. Hal ini terkait dengan penggunaan bunga untuk dekorasi, hiasan, dan penghiburan, serta ratusan puisi bunga yang penuh perasaan yang tersebar di majalah-majalah populer. Di lain pihak, floriografi yang bersifat simbolis dipandang sebagai ekspresi untuk menemukan makna yang lebih dalam dari tumbuhan. Antusiasme terhadap bahasa bunga itu merupakan ekspresi dari dorongan untuk menghidupkan kembali gambaran dunia yang simbolis. “Pandangan ini menyatakan bahwa setiap objek di alam pasti memiliki keterkaitan tersembunyi dengan setiap objek lain di alam, karena semua objek merupakan bagian dari korespondensi vertikal antara alam dan Tuhan,” tulis Waters. Meski identik dengan masyarakat Victoria, floriografi memiliki sejarah yang panjang. Selama ribuan tahun, orang-orang telah melekatkan makna pada bunga-bunga yang tumbuh di sekitarnya. Makna-makna tersebut sering kali berbeda dari satu budaya dengan budaya lain. Menurut Sally Coulthard dalam Floriography: The Myths, Magic & Language of Flowers, sebuah bunga dikaitkan dengan sifat manusia karena cara tumbuhnya, misalnya bunga yang tumbuh melilit dan merapat ke tanaman lain sering dikaitkan dengan sifat lengket atau gairah yang intens. Sedangkan bunga pemalu, seperti violet yang mekar sebentar, dikaitkan dengan gagasan tentang rasa malu atau kematian tak terduga. Antusiasme orang-orang Victoria terhadap bahasa bunga terlihat dalam sastra. Para penulis berasumsi bahwa pembaca terpelajar memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Tanpa pemahaman ini, pembaca modern menganggap pemilihan nama tanaman dalam puisi dan novel era Victoria bersifat acak atau sekadar subjektif. “Tanpa terikat oleh batasan kaku alfabet bunga, nama-nama tumbuhan dapat digunakan untuk melambangkan nilai-nilai moral, status sosial, dan identitas kelompok sosial, suatu keuntungan yang tidak kecil bagi mereka yang berkecimpung dalam pemetaan lanskap budaya. Hal ini mencakup para penulis imajinatif era Victoria, yang berperan penting dalam mediasi, konstruksi, dan negosiasi kode-kode bunga,” tulis Waters. Makna bunga biasa berasal dari penampilan tanaman atau turunan dari nama Latin yang berakar dari mitologi, dan ada pula yang terinspirasi oleh norma-norma budaya Victoria. Misalnya, Amaryllis yang batangnya megah dan di atasnya terdapat bunga-bunga cerah yang menjulang tinggi. Tanaman ini merepresentasikan kebanggaan atau ketangguhan karena tidak mudah layu di bawah kondisi yang keras. Sedangkan makna bunga camelia berkaitan dengan karya sastra era Victoria yang menggambarkan moralitas dan nilai-nilai sosial yang diusung masyarakat. Menurut Roux, makna camelia berasal dari novel Alexandre Dumas, La Dame Aux Camelias (1848), yang menceritakan kisah cinta tragis karakternya, yaitu pria borjuis Armand Duval dan pelacur kelas atas Marguerite Gautier. Keduanya jatuh cinta tetapi tak direstui oleh ayah Armand. Khawatir skandal akan menimpa Armand, ayahnya meyakinkan Marguerite untuk meninggalkan putranya. Armand berduka atas kepergian kekasihnya, tetapi dia tidak mengejarnya karena mengira Marguerite meninggalkannya demi pria lain. Marguerite jatuh sakit karena tuberkulosis. Dia meninggal dan merindukan Armand. Itu sebabnya bunga camelia menjadi representasi untuk menyatakan kerinduan terhadap seseorang. Makna bunga yang berkaitan dengan mitologi Yunani misalnya hyacinth. Dikisahkan, seorang pemuda tampan bernama Hyacinthus sangat disayangi oleh Apollo, dewa terpenting dalam mitologi Yunani dan Romawi, sebagai dewa cahaya, musik, puisi, pemanah, pengobatan, dan ramalan. Dalam sebuah pertandingan lempar cakram, cakram milik Apollo terlempar dari jalurnya hingga menghantam Hyancinthus dan membunuhnya. Peristiwa itu terjadi akibat campur tangan Zephyrus yang cemburu. “Bunga hyacinth konon tumbuh dari darah yang mengalir dari luka di kepala pemuda tersebut saat Apollo memohon maaf kepadanya. Rangkai hyacinth dengan bunga zaitun untuk memohon perdamaian dan pengampunan. Atau padukan dengan pansy untuk menunjukkan bahwa pengkhianatanmu terus menghantui dirimu,” tulis Roux. Floriografi yang menarik minat orang Victoria menjadi tren yang menyebar luas, khususnya di antara wanita kalangan menengah atas. Mereka mengirimkan karangan bunga sebagai tanda cinta atau peringatan. Mawar paling populer karena bunga ini melambangkan ekspresi cinta. Bagi orang Victoria, warna mawar menunjukkan tingkat kasih sayang: mawar putih melambangkan cinta yang murni, mawar merah muda melambangkan romansa yang mulai berkembang, dan mawar merah tua melambangkan gairah. Bunga ini dirangkai dengan tanaman lain seperti baby’s breath untuk perayaan pernikahan, atau cornflower untuk harapan dalam hubungan romantis yang baru. Perempuan era Victoria juga mengenakan bunga di rambut atau gaun, serta merayakan segala hal yang berhubungan dengan bunga. Di antaranya membuat rangkaian bunga kecil yang disebut tussie-mussies atau nosegays, dengan menggabungkan beberapa kuntum bunga dalam buket kecil. Dipakai atau dibawa sebagai aksesori, pesan-pesan tersembunyi tentang kasih sayang, hasrat, atau kesedihan memungkinkan orang Victoria untuk menunjukkan perasaan mereka dalam tampilan yang misterius dan memikat.*
- Saat Ketua Masyumi Berhaji
DAMPAK pandemi Covid-19 kembali dirasakan masyarakat Indonesia. Kali ini pemerintah pusat, melalui Kementerian Agama (Kemenag) memutuskan membatalkan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun ini. Keputusan tersebut diambil setelah melihat situasi di tanah air maupun di Arab Saudi. Keputusan Kemenag itu dituangkan dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor 494 Tahun 2020 tentang pembatalan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun 1441 Hijriah. Dikutip laman Kompas, Fachrul menegaskan bahwa pembatalan ibdah haji tahun ini berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali. “Pihak Arab Saudi tak kunjung membuka akses bagi jemaah haji dari negara mana pun. Akibatnya, pemerintah tidak mungkin lagi memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan, utamanya dalam pelayanan dan perlindungan jemaah,” ungkap Menteri Agama Fachrul dalam konferensi pers virtual.
- Aidit dan Natsir Saling Sikat dalam Debat
ANIES Baswedan dan Prabowo Subianto kedapatan tidak bersalaman usai debat calon presiden ketiga akhir pekan kemarin. Sebagaimana diketahui, Anies dan Prabowo berdebat sengit pada debat yang bertemakan pertahanan, keamanan, hubungan internasional, dan globalisasi itu. Suasana debat memanas manakala Anies menyinggung soal aset pribadi Prabowo sementara banyak prajurit TNI yang tidak punya rumah dinas. Pernyataan Anies tentu saja membuat Prabowo jengkel karena membandingkan dua hal yang tidak berhubungan. Pada akhir debat terlihat keduanya tidak saling berjabat tangan. Tampaknya ada yang masih emosi. Debat memang mudah memantik emosi. Apalagi perdebatan di antara politisi yang sedang kontestasi memenangkan pemilihan umum. Setelah debat ada yang masih memendam kesumat. Namun, ada pula yang berbesar hati dengan berangkulan kembali. Pada dekade 1950-an, perdebatan sengit acap mewarnai Konstituante, lembaga parlemen yang bertugas menyusun undang-undang dasar. Terlebih lagi di antara tokoh politisi dari Partai Masyumi dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ideologi kedua partai ini memang saling bertentangan. Masyumi mengusung ideologi politik Islam sedangkan PKI mengusung komunisme menuju masyarakat tanpa kelas. Itulah sebabnya para kader mereka sering “berkelahi” di Konstituante dalam merumuskan dasar negara yang baru.
- Konsep Toleransi Mohammad Natsir
OKTOBER 1967. Ketegangan antar umat Islam dan Kristen terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pada awal bulan itu, sekitar 20 gereja dan sekolah Kristen dirusak oleh sekelompok pemuda. Disinyalir perusakan dilakukan sebagai buntut pernyataan seorang guru sekolah Protestan di kota itu yang menghina agama Islam. Sebelumnya, Juni 1967, gesekan antar umat juga terjadi di Meulaboh, Aceh Barat dan Sumatera Selatan. Sebuah gereja di masing-masing daerah dibakar oleh penduduk Muslim. Pemicunya adalah pembangunan gereja itu dianggap tidak pantas karena dilakukan di tengah pemukiman Muslim yang hanya dihuni oleh sedikit umat Kristiani saja. “Sejak naiknya Orde Baru, hubungan umat Islam dan Kristen di Indonesia memperlihatkan perkembangan baru. Jumlah konflik Islam-Kristen menanjak tajam, terutama dalam bentuk penutupan, perusakan, dan pembakaran gereja,” ungkap Ihsan Ali-Fauzi, dkk dalam Kontroversi Gereja di Jakarta.
- Saat Natsir Gagal Merangkul PNI
PADA 1950, setelah berhasil mengamankan pemerintahan pasca pembubaran Republik Indonesia Serikat (RIS), Mohammad Natsir resmi melepas jabatan Menteri Penerangan di Kabinet Hatta I (1948-1949). Dia segera mengalihkan fokus kepada urusan lain, yakni mengemban amanah sebagai ketua Partai Masyumi. Natsir bertekad menjadikan partai berasas Islam itu garda terdepan perjuangan. Namun di tengah upaya tersebut, Natsir harus membuat keputusan yang sulit. Pada 22 Agustus 1950 di Istana, Presiden Sukarno menyampaikan keputusannya menunjuk Natsir menjadi formatur kabinet. Menurut Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natsir: Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan, berdasar keputusan muktamar Masyumi tahun 1949, ketua partai dilarang menduduki jabatan di pemerintahan, termasuk menjadi perdana menteri. “Natsir merespon keputusan presiden itu dengan mengatakan bahwa hal tersebut akan dia musyawarahkan dulu dengan pimpinan partai Masyumi. Sesudah mendapat persetujuan dari pimpinan partai, keesokan harinya Natsir kembali menemui Bung Karno, dan menyatakan kesiapannya melaksanakan tugas dari presiden,” tulis Lukman.
- Haji Agus Salim di Mata Natsir
PADA 1950, Indonesia kembali mengubah bentuk pemerintahannya dari Republik Indonesia Serikat (RIS) ke Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketua Masyumi Mohammad Natsir ditunjuk oleh Presiden Sukarno sebagai perdana menteri. Jabatan itu menjadi yang tertinggi bagi Natsir sekaligus yang pertama. Kabinet Natsir mulai menjalankan aktivitas kenegaraannya pada September 1950. Dalam Biografi Mohammad Natsir, Lukman Hakiem menyebut ada tiga tokoh yang mempengaruhi alam pikir seorang Natsir, yakni: Ahmad Hassan (pendiri Persis), Syaikh Ahmad Soorkati (pendiri Al-Irsyad Al-Islamiyah), dan Haji Agus Salim. Jika Ahmad Hassan adalah guru di bidang keagamaan, Agus Salim diakui Natsir sebagai guru di bidang politik. “Dalam mata rantai generasi kepemimpinan umat Islam Indonesia, M. Natsir adalah penerus kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto (1882-1934) dan H. Agus Salim (1884-1954). Karena itu dapatlah dikatakan bahwa sikap dan jejak langkahnya adalah kelanjutan sikap dan jejak langkah umat terdahulu,” tulis Thohir Luth dalam M. Natsir: Dakwah dan Pemikirannya.
- Kipas Hitam
SETELAH Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, Departemen Propaganda (Sendenbu) di bawah pimpinan Hitoshi Shimizu berusaha melakukan perlawanan. Dia mendirikan perkumpulan rahasia Ular Hitam, berisi orang-orang Indo-Belanda bermarkas di Bogor; Chin Pan, menampung orang-orang Tionghoa; dan yang terpenting adalah Kipas Hitam. “Kipas Hitam dibentuk untuk mempersiapkan orang-orang Indonesia melakukan perang kemerdekaan di bawah bimbingan Jepang,” tulis Joyce C. Lebra dalam Tentara Gemblengan Jepang. Menurut Aiko Kurasawa dalam Mobilisasi dan Kontrol, Shimizu adalah seorang propagandis profesional yang memulai kariernya di China pada 1930-an. Dia kembali ke Jepang pada 1940 dan bergabung dengan Persatuan Pembantu Pemerintahan Kekaisaran (Taisei Yokusankai), organisasi massa bentukan pemerintah Jepang, yang kemudian menjadi model bagi Jawa Hokokai. Dia juga bergabung dengan Toa Remmei (Federasi Asia Timur).
- Dari Syal hingga Dasi
Muasal Penggunaan Syal Syal sekarang identik dengan fesyen. Ia digunakan sebagai aksesoris untuk mempercantik penampilan. Namun, siapa sangka dulu syal lebih sering digunakan lelaki ketimbang perempuan? Pada masa Romawi Kuno, lelaki diketahui kerap melilitkan sepotong kain di leher. Tujuannya untuk menyeka keringat. Ini sesuai dengan namanya, sudarium atau kain keringat. Tak heran, banyak yang memandang Romawi sebagai tempat muasal syal. Setelah kerap dipakai lelaki, barulah perempuan ikut melilitkan syal di leher. Umumnya, syal terbuat dari wol dan sutra. Sementara itu, di Tiongkok syal digunakan untuk mengukur kedudukan seseorang, terutama dalam pemerintahan dan militer. Pada abad ke-17, beberapa tentara Eropa melilitkan kain katun di lehernya untuk membedakan dengan tentara lainnya. Fungsi Kipas bagi Penguasa Beberapa abad lampau, kipas tak sekadar penyejuk badan kala cuaca panas. Kipas juga menunjukkan kemegahan. Penguasa Romawi Kuno biasa mempekerjakan budak-budak untuk mengipasi mereka. Tradisi ini terus bertahan di Eropa hingga Abad Pertengahan. Ratu Inggris Elizabeth I (1558–1603) tercatat gandrung terhadap kipas. Ia hampir tak bisa lepas dari kipas kesayangannya, terbuat dari bulu burung nan indah. Batu pualam atau kulit kerang menambah keindahannya. Louis XVI (1754–1793) tak mau kalah. Penguasa Prancis ini memiliki koleksi kipas yang berhiaskan intan berlian dan emas. [Hendaru Tri Hanggoro] Jas untuk Acara Resmi dan Santai Khalayak Eropa biasa menggunakan jas sejak abad ke-18. Dan memang awal penggunaannya ditujukan untuk acara resmi. Dress-coat atau frock coat adalah jas resmi pas badan yang bagian belakangnya memiliki ekor, sedangkan bagian depannya berbentuk meruncing atau kotak. Tapi itu berubah pada abad ke-19. Sejumlah pria mengenakan setelan jas baru untuk bersantai, disebut lounge. Potongannya yang tidak resmi membuat setelan lounge sangat populer di kalangan seniman, bohemian, dan intelektual. [Hendaru Tri Hanggoro] Fungsi Dasi di Masa Lampau Sehelai kain yang menjuntai dari leher hingga dada ini sudah dikenal sejak zaman Romawi Kuno. Biasanya dipakai oleh juru bicara. Fungsinya sebagai pelindung tenggorokan dan dada. Mereka melilitkan seikat kain dari leher hingga ke dada untuk menjaga kualitas suara. Mereka menggunakan dasi kala berkumpul di agora, sebuah forum publik. Agora berlangsung dalam koloseum atau teater besar. Sementara di Tiongkok dasi berfungsi sebagai aksesoris prajurit. Prajurit Kroasia mengikuti cara ini pada abad ke-17 M. Dasi menjadi pembeda satu divisi tentara dengan divisi lainnya. Pada era Renaisans, masyarakat Eropa mengenal ruff, kerah kaku dari kain putih menyerupai piringan yang melingkari leher. Pemakaian ruff yang kerap menyebabkan iritasi tergeser oleh cravat, sehelai sapu tangan terbuat dari bermacam jenis kain yang diikatkan ke leher. Penggunaan cravat mencuat di Prancis pada medio 1600-an. Ia diperkenalkan orang-orang Kroasia yang jadi tentara sewaan Raja Louis XIII. Sehingga, kata cravat pun berarti “penduduk dari Kroasia”. Keindahan cravat mewarnai gaya berbusana di Eropa. Ia pun menjadi penanda status sosial si pemakai, hingga menjadi dasi yang kita kenal hari ini. [Martin Sitompul]





















