top of page

Hasil pencarian

9913 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Puncak Seni Arca dari Candi Singhasari

    SOSOK Durga, Mahakala, Nandiswara, dan Ganesha dalam bentuk arca yang tingginya berkisar antara 154-175 cm itu begitu gagah dan indah saat terpajang dalam pameran“Repatriasi: Kembalinya Saksi Bisu Peradaban Nusantara” di Galeri Nasional, Jakarta, sedari 28 November hingga 10 Desember 2023. Mahakarya yang jadi warisan era Kerajaan Singhasari itu kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi setelah dua abad bersemayam di negeri Belanda. Empat arca yang sebelumnya merupakan bagian dari Candi Singhasari di Malang, Jawa Timur dari abad ke-13 itu menjadi salah satu himpunan koleksi dari 472 benda bersejarah Indonesia yang direpatriasi dari Belanda. Serah terimanya sudah diresmikan sejak 10 Juli 2023 dan keempat arca itu tiba di tanah air pada 23 Agustus 2023. “Arca pada masa Singhasari ini dibuat sangat halus dan jelas arca ini besar-besar, kemudian dipahat dengan sangat halus, dan sesuai dengan kaidah ikonografi, seni arca, dan saya pikir punya ciri sendiri. Ini adalah satu puncak seni arca yang ada di Indonesia,” ujar arkeolog dan pakar epigraf Universitas Indonesia Ninie Susanti Tedjowasono kepada Historia.

  • Candrasengkala Prasasti Batutulis

    ADOLF Winkler, seorang kapten VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur), dibantu seorang ahli ukur, 16 pasukan Eropa, dan 26 orang Makassar, melakukan ekspedisi untuk membuat peta lokasi “bekas kerajaan Pajajaran”. Pedomannya: hasil laporan ekspedisi pertama pasukan VOC yang dipimpin Sersan Scipio tiga tahun sebelumnya. Pada 25 Juni 1690, rombongan Winkler tiba di daerah yang kini dikenal dengan daerah Batutulis, Bogor. Mereka mendapati batu prasasti setinggi dua hasta yang memuat informasi penting terkait sejarah Sunda Kuna. Winkler mencatat temuannya dalam Daghregister 1690. Laporan Winkler memantik perhatian orang-orang Eropa untuk menyelidiki lebih lanjut prasasti Batutulis. Hasil penyelidikan mereka hanya membahas letak dan betuk prasasti Batutulis. Penelitian epigrafis baru dilakukan Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles pada 1817, yang dituangkan dalam karya monumental, The History of Java. Raffles melampirkan transkripsi prasasti Batutulis sebagai objek penyelidikannya, namun dia menyebut kondisi prasasti itu kurang baik.

  • Prasasti Berisi Kutukan

    SELAIN dijajah Portugis, Belanda, Prancis, dan Jepang, Indonesia juga pernah dijajah Inggris. Ada anggapan bangsa yang dijajah Inggris akan bernasib baik. Benarkah? Sejarawan asal Inggris, Peter Carey menolak anggapan tersebut. Selama lima tahun menjajah Indonesia, Inggris banyak membawa kerugian. “Banyak yang katakan mungkin jika Indonesia dijajah oleh Inggris akan lebih baik, mereka banyak berkaca pada Malaysia dan Singapura. Tapi semua itu bohong,” ujarnya dalam seminar “Objects, Museums, Histories Between the Netherlands and Indonesia: the Case of Diponegoro,” di Museum Nasional, Jakarta, Rabu (18/5). Menurut Peter Carey, ketika menginjakan kaki di Jawa, Inggris membuat kekacauan. Terlebih mereka adalah pencuri aset Indonesia nomor wahid. Dia menyoroti dua benda cagar budaya penting milik Indonesia yang masih berada di museum luar negeri. Prasasti Pucangan yang dikenal Calcutta Stone berada di Museum India dan Prasasti Sangguran atau dikenal dengan Minto Stone.

  • Menggali Isi Prasasti

    PADA masa Jawa Kuno, raja atau penguasa daerah menerbitkan prasasti untuk memberitakan beragam hal. Mulai dari pemberian anugerah raja kepada rakyat hingga putusan pengadilan terkait konflik dan aduan masyarakat. Salah satu yang menarik adalah konflik kependudukan yang menimpa warga Desa Wurudu Kidul bernama Sang Dhanadi pada era Mataram Kuno. Dalam Prasasti Wurudu Kidul (922) diceritakan Sang Dhanadi dituduh oleh petugas pajak sebagai warga asing sehingga harus membayar pajak lebih tinggi. Menurut Prasasti Palebuhan (927) ada beberapa orang asing yang wajib membayar pajak, yaitu keling, Arya, dan Singhala. Sang Dhanadi tak terimalalu mengadu ke pengadilan. Pengadilan mengusut asal-usulnyauntuk membuktikan adanya darah orang asing. Sang Dhanadi dianggap memenangkan perkara karena yang menuduhnya tak hadir ketika dua kali dipanggil pengadilan.

  • Prasasti Damalung Wajib Dipulangkan, Begini Kata Arkeolog

    DARI seabrek warisan Nusantara yang dibawa melintasi benua ke Belanda, Prasasti Ngadoman atau Batu Damalung adalah salah satu yang nyaris luput dari perhatian. Ia teronggok di salah satu gudang museum di Belanda sejak era kolonial. Diharapkan, ia dapat turut dipulangkan ke tanah air. Prasasti Damalung sempat dinyatakan “hilang”. Ia pertamakali ditemukan pada medio 1824 oleh Residen Semarang Jacob Hendrik Domis di Ngadoman, sisi timur lereng Gunung Merbabu yang dahulu disebut Damalung. Pada 1825, ia diserahkan ke Bataviaasch Genootschap (kini Museum Nasional Jakarta) di Batavia. Namun, catatan mengenai itu tak lagi berlanjut. Baru hampir setengah abad kemudian, 1873, muncul catatan dari Leiden bertajuk Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indi, Vol. 91. Berarti, di tahun itu Prasasti Damalung sudah berada di Belanda. Dokumentasi lainnya berbentuk foto di Museum Volkenkunde, “Charter in Kawi script, language Kawi, dated 1371 Saka, found on the Merbabu, OD-10019”.

  • Prasasti Damalung yang Hilang Ditemukan di Negeri Seberang

    DI sebuah gudang museum di kota kecil ‘s-Gravenzande, Provinsi Zuid-Holland, Belanda, teronggok Prasasti Ngadoman atau kondang disebut Batu Damalung. Prasasti ini ditengarai jadi salah satu saksi bisu peralihan aksara Kawi atau Jawa Kuna ke Jawa Baru di akhir era Kerajaan Majapahit. Prasasti Ngadoman ditemukan kembali seiring kunjungan sejarawan Bonnie Triyana ke ‘s-Gravenzande pada 7 Agustus 2024. Ia sebelumnya mendengar tentang Prasasti Ngadoman itu dalam sebuah diskusi di Salatiga, Jawa Tengah, awal 2023. Lantas, ia dibantu sejarawan dan kurator Museum Volkenkunde Leiden, Pim Westerkamp, melacak prasasti itu hingga akhirnya ditemukan setelah sekira dua abad berdiam di Belanda. Disebut Prasasti Ngadoman karena benda tersebut ditemukan di Ngadoman (kini wilayah Kabupaten Semarang) oleh Residen Semarang Hendrik Jacob Domis, medio 1824. Sedangkan nama alias “Batu Damalung” merujuk pada lokasi Ngadoman di lereng Gunung Merbabu, yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut Damalung.

  • Merangkai Sejarah Bahasa Bunga

    SUDAH sejak lama bunga menjadi media untuk mengekspresikan perasaan atau gagasan. Kebiasaan ini memicu lahirnya floriografi atau bahasa bunga, yang digunakan masyarakat Inggris dan Amerika Serikat pada abad ke-19 sebagai metode komunikasi rahasia. Popularitas floriografi berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat era Victoria yang menjunjung tinggi norma sosial dan membatasi ekspresi emosi yang terbuka dan mencolok. Menurut Jessica Roux dalam Floriography: An Illustrated Guide to the Victorian Language of Flowers, floriografi pertama kali muncul pada 1819 melalui karya Charlotte de la Tour berjudul Le Langage des Fleurs. Buku tentang “bahasa” berkode ini digunakan secara luas sepanjang abad ke-19 baik di Inggris maupun Amerika Serikat, yang kemudian menjadi identik dengan tradisi dan budaya era Victoria. “Makna bunga diambil dari sastra, mitologi, legenda abad pertengahan, dan bahkan bentuk bunga itu sendiri. Seringkali penjual bunga menciptakan simbolisme untuk menemani bunga-bunga baru dalam koleksi mereka, dan kadang-kadang, makna bunga berbeda tergantung pada lokasi dan waktu,” tulis Roux.

  • Saat Ketua Masyumi Berhaji

    DAMPAK pandemi Covid-19 kembali dirasakan masyarakat Indonesia. Kali ini pemerintah pusat, melalui Kementerian Agama (Kemenag) memutuskan membatalkan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun ini. Keputusan tersebut diambil setelah melihat situasi di tanah air maupun di Arab Saudi. Keputusan Kemenag itu dituangkan dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor 494 Tahun 2020 tentang pembatalan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun 1441 Hijriah. Dikutip laman Kompas, Fachrul menegaskan bahwa pembatalan ibdah haji tahun ini berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali. “Pihak Arab Saudi tak kunjung membuka akses bagi jemaah haji dari negara mana pun. Akibatnya, pemerintah tidak mungkin lagi memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan, utamanya dalam pelayanan dan perlindungan jemaah,” ungkap Menteri Agama Fachrul dalam konferensi pers virtual.

  • Aidit dan Natsir Saling Sikat dalam Debat

    ANIES Baswedan dan Prabowo Subianto kedapatan tidak bersalaman usai debat calon presiden ketiga akhir pekan kemarin. Sebagaimana diketahui, Anies dan Prabowo berdebat sengit pada debat yang bertemakan pertahanan, keamanan, hubungan internasional, dan globalisasi itu. Suasana debat memanas manakala Anies menyinggung soal aset pribadi Prabowo sementara banyak prajurit TNI yang tidak punya rumah dinas. Pernyataan Anies tentu saja membuat Prabowo jengkel karena membandingkan dua hal yang tidak berhubungan. Pada akhir debat terlihat keduanya tidak saling berjabat tangan. Tampaknya ada yang masih emosi. Debat memang mudah memantik emosi. Apalagi perdebatan di antara politisi yang sedang kontestasi memenangkan pemilihan umum. Setelah debat ada yang masih memendam kesumat. Namun, ada pula yang berbesar hati dengan berangkulan kembali. Pada dekade 1950-an, perdebatan sengit acap mewarnai Konstituante, lembaga parlemen yang bertugas menyusun undang-undang dasar. Terlebih lagi di antara tokoh politisi dari Partai Masyumi dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ideologi kedua partai ini memang saling bertentangan. Masyumi mengusung ideologi politik Islam sedangkan PKI mengusung komunisme menuju masyarakat tanpa kelas. Itulah sebabnya para kader mereka sering “berkelahi” di Konstituante dalam merumuskan dasar negara yang baru.

  • Konsep Toleransi Mohammad Natsir

    OKTOBER 1967. Ketegangan antar umat Islam dan Kristen terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pada awal bulan itu, sekitar 20 gereja dan sekolah Kristen dirusak oleh sekelompok pemuda. Disinyalir perusakan dilakukan sebagai buntut pernyataan seorang guru sekolah Protestan di kota itu yang menghina agama Islam. Sebelumnya, Juni 1967, gesekan antar umat juga terjadi di Meulaboh, Aceh Barat dan Sumatera Selatan. Sebuah gereja di masing-masing daerah dibakar oleh penduduk Muslim. Pemicunya adalah pembangunan gereja itu dianggap tidak pantas karena dilakukan di tengah pemukiman Muslim yang hanya dihuni oleh sedikit umat Kristiani saja. “Sejak naiknya Orde Baru, hubungan umat Islam dan Kristen di Indonesia memperlihatkan perkembangan baru. Jumlah konflik Islam-Kristen menanjak tajam, terutama dalam bentuk penutupan, perusakan, dan pembakaran gereja,” ungkap Ihsan Ali-Fauzi, dkk dalam Kontroversi Gereja di Jakarta.

  • Saat Natsir Gagal Merangkul PNI

    PADA 1950, setelah berhasil mengamankan pemerintahan pasca pembubaran Republik Indonesia Serikat (RIS), Mohammad Natsir resmi melepas jabatan Menteri Penerangan di Kabinet Hatta I (1948-1949). Dia segera mengalihkan fokus kepada urusan lain, yakni mengemban amanah sebagai ketua Partai Masyumi. Natsir bertekad menjadikan partai berasas Islam itu garda terdepan perjuangan. Namun di tengah upaya tersebut, Natsir harus membuat keputusan yang sulit. Pada 22 Agustus 1950 di Istana, Presiden Sukarno menyampaikan keputusannya menunjuk Natsir menjadi formatur kabinet. Menurut Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natsir: Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan, berdasar keputusan muktamar Masyumi tahun 1949, ketua partai dilarang menduduki jabatan di pemerintahan, termasuk menjadi perdana menteri. “Natsir merespon keputusan presiden itu dengan mengatakan bahwa hal tersebut akan dia musyawarahkan dulu dengan pimpinan partai Masyumi. Sesudah mendapat persetujuan dari pimpinan partai, keesokan harinya Natsir kembali menemui Bung Karno, dan menyatakan kesiapannya melaksanakan tugas dari presiden,” tulis Lukman.

  • Haji Agus Salim di Mata Natsir

    PADA 1950, Indonesia kembali mengubah bentuk pemerintahannya dari Republik Indonesia Serikat (RIS) ke Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketua Masyumi Mohammad Natsir ditunjuk oleh Presiden Sukarno sebagai perdana menteri. Jabatan itu menjadi yang tertinggi bagi Natsir sekaligus yang pertama. Kabinet Natsir mulai menjalankan aktivitas kenegaraannya pada September 1950. Dalam Biografi Mohammad Natsir, Lukman Hakiem menyebut ada tiga tokoh yang mempengaruhi alam pikir seorang Natsir, yakni: Ahmad Hassan (pendiri Persis), Syaikh Ahmad Soorkati (pendiri Al-Irsyad Al-Islamiyah), dan Haji Agus Salim. Jika Ahmad Hassan adalah guru di bidang keagamaan, Agus Salim diakui Natsir sebagai guru di bidang politik. “Dalam mata rantai generasi kepemimpinan umat Islam Indonesia, M. Natsir adalah penerus kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto (1882-1934) dan H. Agus Salim (1884-1954). Karena itu dapatlah dikatakan bahwa sikap dan jejak langkahnya adalah kelanjutan sikap dan jejak langkah umat terdahulu,” tulis Thohir Luth dalam M. Natsir: Dakwah dan Pemikirannya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page