Hasil pencarian
9791 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dayo, Pusat Kerajaan Sunda Terakhir
KEBERADAAN Sunda Empire mulai meresahkan. Sejak kemunculannya di awal 2020, banyak pernyataan mereka yang dianggap oleh sejumlah pihak tidak selaras dengan realitas. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun angkat bicara soal kelompok yang menggegerkan publik dari daerahnya tersebut. Dilansir KompasTV, Kang Emil menyebut kalau masih ada saja orang-orang yang menjual romantisme sejarah demi eksistensinya. Ia juga merasa prihatin karena banyak yang mempercayainya. "Banyak orang stres ya di Republik ini, menciptakan ilusi-ilusi. Jangan percaya terhadap hal-hal yang tidak masuk ke dalam logika akal sehat," ucap Kang Emil. Para akademisi pun secara tegas membantah berbagai klaim petinggi Sunda Empire, Rangga Sasana. Dalam program televisi Indonesia Lawyers Club, 20 Januari 2020, Sunda Empire semakin berani angkat bicara. Dengan percaya diri, mereka menyebut bahwa pusat pemerintahan dunia ada di Bandung. Bahkan organisasi dunia, seperti PBB dan NATO, lahir di Kota Kembang itu.
- Ujung Galuh dan Ujung di Surabaya
DI HADAPAN para kadet Koninklijk Instituut Marine (KIM/Institut Angkatan Laut Kerajaan Belanda) di Surabaya yang baru dilantik, hari itu Gubernur Jawa Timur Charles Olke van der Plas memberi sambutan. Pidatonya berisi hal yang menggugah, mengaitkan kondisi politik yang sedang “sakit” dengan sejarah Surabaya yang masyhur. “Dapat dipastikan bahwa di pangkalan angkatan laut inilah, Oedjoeng Galoeh (Ujung Galuh) kuno yang dulunya merupakan pangkalan angkatan laut kekuatan maritim itu, yang armadanya enam abad lalu menguasai seluruh Kepulauan Nusantara, Malaka, pesisir Indo-Cina, dan Filipina,” terang van der Plas seperti diberitakan Bataviasch Nieuwsblad tanggal 7 Agustus 1940. Kala itu KIM Surabaya yang baru seumur jagung, baru saja meluluskan para siswanya. Hal tersebut amat membantu militer Hindia Belanda. Sebab, KIM Den Helder di Belanda sudah tak bisa mencetak perwira Angkatan Laut lagi lantaran Belanda sudah diduduki Jerman Nazi. Terlebih, para kadet yang baru dilantik itu juga berisi orang-orang pribumi seperti Nasis Djajadiningrat, Adjiwibowo, dan Sidik Muliono.
- Ketika Islam Masuk ke Galuh
Ketika Pakuan Pajajaran (terletak sekitar Bogor sekarang) jatuh akibat proses Islamisasi Kesultanan Banten pada 1579, keseimbangan kekuatan politik di wilayah Tatar Sunda menjadi goyah. Hilangnya pemerintahan di Pakuan Pajajaran berarti hilang pula pengaruh Hindu-Buddha di Jawa bagian barat. Islam pun menjadi kekuatan tunggal di tanah Pasundan. Imbas kejatuhan itu, para penguasa Sunda yang sebelumnya ada di bawah naungan Pakuan Pajajaran kembali terpecah. Mereka mulai membangun pemerintahan di tempat asalnya masing-masing, dengan harapan dapat kembali menghidupkan kekuatan Sunda seperti sedia kala. Seperti yang dilakukan Prabu Cipta Sanghyang di Galuh (1528-1595), putra Prabu Haur Kuning. Menurut sejarawan Nina H. Lubis dalam Sejarah Kota-Kota Lama di Jawa Barat, ketika Kesultanan Banten berhasil mengislamkan Pakuan Pajajaran, Kesultanan Cirebon juga bergerak masuk ke wilayah Galuh. Islam pun akhirnya berkembang di sana. Namun, itu hanya sebatas kekuasaan di Kawali karena Prabu Cipta Sanghyang sempat memindahkan kekuasaannya ke Cimaragas, Ciamis, sehingga Galuh mampu menghindari arus Islamisasi dari para ulama Cirebon.
- Galuh, Kekuatan di Timur Tatar Sunda
PADA abad ke-7, Kerajaan Tarumanegara (abad ke-4 sampai abad ke-7), salah satu kerajaan Hindu-Buddha tertua di Nusantara, resmi kehilangan kuasa atas Tatar Sunda. Tarumanegara masa pemerintahan Raja Tarusbawa (669-670 M) tidak lagi dapat meredam konflik di dalam kerajaannya yang semakin meluas. Rakyat pun dilanda kecemasan. Namun keadaan tersebut tidak benar-benar buruk. Bagi kerajaan-kerajaan vasal (taklukan) Tarumanegara, konflik itu merupakan kesempatan untuk memerdekakan wilayahnya. Seperti yang dilakukan penguasa Kendan, Wretikendayun, pada abad ke-7. Upaya pemisahan diri itu berhasil ia lakukan tanpa menimbulkan konflik dengan penguasa Tarumanegara. Begitu Tarumanegara hancur sepenuhnya, Wretikendayun menolak ikut ambil bagian dalam pembangunan kerajaan baru pengganti Tarumanegara. Bersama para pengikutnya, Wretikendayun mendirikan kerajaan baru. Karena daerah Kendan tidak memadai untuk pendirian pusat pemerintahan, ia pun memindahkan pemerintahannya ke daerah Karangkamulyan, (Ciamis sekarang). Pada 669, berdirilah kerajaan Galuh sebagai lanjutan dari pemerintahan Kendan, dengan raja pertamanya Wretikendayun.
- Bukti Sejarah Kerajaan Galuh
BUDAYAWAN Betawi Ridwan Saidi kembali membuat geger. Setelah sebelumnya menyebut Sriwijaya fiktif, kali ini giliran kerajaan di Jawa Barat yang disasar. Dalam video unggahan kanal YouTube “Macan Idealis”, Babe, panggilan akrab Ridwan Saidi, menyebut jika di Ciamis tidak ada kerajaan. Menurutnya daerah Ciamis tidak memiliki indikator eksistensi adanya kerajaan, yakni indikator ekonomi. Babe mempertanyakan sumber penghasilan Ciamis untuk pembiayaan kerajaannya, mengingat daerah itu tidak memiliki pelabuhan dagang. Ia juga meragukan sumber-sumber tentang Ciamis yang sudah ditemukan, seperti bekas bangunan dan punden berundak. Hal tersebut, kata Babe, perlu diteliti karena bisa jadi itu bekas bangunan biasa atau hanya Kabuyutan (tempat berkumpul) saja. “Sunda-Galuh saya kira agak keliru penamaan itu, karena Galuh artinya ‘brutal’,” ucapnya. Ucapan Babe itu mendapat tanggapan yang beragam. Kalangan masyarakat Sunda, khususnya warga Ciamis, merasa pernyataan itu keliru. Ridwan Saidi dianggap telah menyebarkan informasi yang salah tentang sejarah. Mereka meminta Babe menarik ucapannya dan segera meminta maaf kepada masyarakat Ciamis.
- Penobatan Raja pada Masa Hindu-Buddha
SAMA halnya dengan masa kini, penobatan seorang penguasa pada masa kerajaan-kerajaan di Nusantara menjadi suatu hal yang penting bahkan bukan sekadar seremonial. Pada dasarnya, sulit menemukan data tekstual, baik prasasti maupun karya sastra yang secara khusus memberitakan penobatan seorang raja atau pejabat. “Beda dengan proses penetapan sima, banyak sekali mendapatkan infonya,” ujar Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang kepada Historia.ID. Padahal, tradisi notulensi sudah ada sejak masa Hindu-Buddha. Salah satunya dikenal dengan sebutan citralekha, yaitu orang yang bertugas mencatat perintah raja. Dalam relief Candi Panataran pun diabadikan gambar murid yang mencatat ajaran dari seorang guru.
- Rupa Istana Raja-raja Hindu-Buddha
TAK banyak yang tersisa dari istana-istana pada era kerajaan Hindu-Buddha. Alih-alih membangun istana dengan batu seperti bangunan keagamaan yang megah, para penguasa memilih bahan yang mudah hancur. Meski begitu, keterangan soal rupa istana bisa diperoleh dari berita Cina, karya sastra, dan data arkeologi. Keterangan tertua soal ibukota kerajaan di Jawa disebut dalam berita Cina dari masa Dinasti Tang (681-906). Kota di Jawa itu dikelilingi tembok yang terbuat dari papan kayu. Di dalamnya terdapat rumah-rumah besar berlantai dua beratap daun kelapa. Bangunan-bangunan itu dibuat dengan bahan yang mudah hancur ketimbang bangunan keagamaan yang umumnya terbuat dari batu. Tidak disebutkan adanya bangunan batu untuk istana raja.
- Susuk di Zaman Hindu Buddha
BELUM lama ini jagat media sosial Indonesia kembali dibuat ramai dengan sebuah kisah berbau mistik dari salah seorang pengguna Instagram (@tasyabira). Unggahan yang dimuat ulang akun Twitter @yozerxx itu berisi hasil pemindaian x-ray seorang pasien yang memperlihatkan susuk dengan jumlah yang amat banyak. Pemilik akun @tasyabira diketahui tengah mengerjakan studi kasus tentang kepemilikan susuk seorang pasien berusia 55 tahun yang terdeteksi alat pemindai kesehatan. Dia mendapati di dalam tubuh pasien itu bertebaran ratusan jarum kecil di bagian perut, serta tiga buah di bagian mulut dan gigi. Menurutnya, susuk jarang menimbulkan komplikasi sehingga terkadang tidak terdeteksi di mesin pemindai kesehatan. Kalaupun terlihat, itu terjadi secara kebetulan. Dan biasanya ketika diambil foto x-ray kembali, letak susuk itu akan berubah. Susuk umumnya terbuat dari bahan emas atau tembaga, jadi bisa terlihat di mesin x-ray.
- Pertukaran Pelajar antara Sriwijaya dan Nalanda
SEBELAS abad lalu, Sriwijaya dan Nalanda membangun hubungan diplomasi budaya yang saling menguntungkan. Nalanda dikenal sebagai universitas kuno dan kota kuno di India. Ia pernah menjadi pusat pendidikan agama Buddha dari tahun 427-1197 M di bawah Kerajaan Pala. “Di masanya ada hubungan langsung antara Sriwijaya dan Nalanda. Penting untuk diketahui, bahwa sebelum zaman modern, bangsa Indonesia sudah terhubung dalam hal yang sangat penting, yaitu pikiran,” kata Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dalam sambutannya di seminar “Reviving the Sriwijaya-Nalanda Civilization Trail,” di Gedung Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Selasa, 8 Agustus 2017. Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengatakan bahwa hubungan Sriwijaya-Nalanda lewat pendidikan, khususnya pertukaran pelajar, terbukti ampuh membangun hubungan antarbangsa. “Karena pada akhirnya hubungan people to people penting meningkatkan hubungan antar dua negara,” katanya dalam pidato sebagai pembicara kunci.
- Inilah Akta Kelahiran Sriwijaya
TANGGAL 11 paro terang bulan Waisakha, bertepatan 23 April 682, Dapunta Hyang naik perahu dari pusat pemerintahannya, suatu tempat di tepi sungai, menuju sebuah kuil Buddha untuk merayakan Waisak. Dia berdoa untuk keberhasilan ekspedisi yang akan dilakoninya. Usai upacara, dia kembali ke pusat pemerintahannya untuk bersiap perang. Sebulan kemudian, tanggal 5 paro bulan terang Jyestha (19 Mei 682), Dapunta Hyang kembali naik perahu dari daerah Minanga. Kali ini, dia bersama 20 ribu-an tentara dengan membawa 200 peti perbekalan. Armada perang ini akan merebut daerah bernama Mukha --p-. “Boechari mulanya melokalisasikannya di daerah Batanghari, kemudian melokalisasikannya kembali di daerah Delta Upan sekarang. Di daerah itu ada sebuah kampung yang bernama Upang, letaknya 45 km sebelah timur Palembang,” tulis Bambang Budi Utomo dalam Pengaruh Kebudayaan India dalam Bentuk Arca di Sumatra.
- Suku Laut Sriwijaya
ENAM manekin berambut gondrong, berikat kepala putih, bertelanjang dada hanya memakai kain penutup daerah vital, dan menyandang sebuah tombak. Mereka berdiri dalam sebuah replika rumah kayu: hunian suku laut. Siapakah suku laut itu? Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, pernah meneliti suku laut yang replikanya ditampilkan dalam pameran “Kedatuan Sriwijaya” di Museum Nasional selama November 2017. Suku laut berdiam di pantai timur Sumatra. Mereka sudah berabad-abad lampau mendiami daerah rawa-rawa ini. “Merekalah para diaspora Austronesia, para penutur bahasa Austronesia. Mereka dari daerah Sambas, Kalimantan, yang kemudian menyeberang ke pantai timur Sumatra. Mereka mendiami daerah rawa ini. Mereka makan dari makanan yang hidup di air seperti ikan dan burung. Merekalah yang bisa disebut sebagai suku laut,” kata Bambang kepada Historia.ID.
- Sriwijaya Tak Berkuasa hingga Thailand
PELAJARAN sejarah menyebutkan, Sriwijaya merupakan kerajaan maritim besar yang pernah ada di Nusantara. Wilayahnya membentang luas hingga Malaysia dan Thailand. Namun, menurut Bambang Budi Utomo, peneliti dari Pusat Penilitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), wilayah Sriwijaya hanya sepanjang Selat Malaka hingga pantai timur Sumatera. Hal itu dibuktikan dari temuan Prasasti Karangjati, Kedukan Bukit, dan Telaga Batu. Ketiganya menunjukkan wilayah inti kekuasaan Sriwijaya. Prasasti Kedukan Bukit (605 Saka) di kaki Bukit Siguntang, misalnya, berisi tentang perjalanan Raja Dapunta Hyang dari Koying untuk menemukan tempat baru sampai membangun kota di Kaki Bukit Siguntang, Palembang.





















