top of page

Hasil pencarian

9721 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jabir Ibnu Hayyan, Alkemis Penemu Air Keras

    KASUS penyiraman air keras kepada Novel Baswedan kembali ramai diperbincangkan setelah tuntutan ringan diberikan kepada dua terdakwa. Jaksa penuntut umum beralasan, tuntutan satu tahun penjara diberikan karena pelaku tidak sengaja menyiram air keras ke wajah dan melukai bola mata Novel Baswedan. Air keras merupakan larutan asam kuat yang jika mengenai kulit akan menimbulkan efek panas, nyeri hebat, hingga luka bakar. Larutan asam kuat yang termasuk dalam golongan air keras, antara lain asam sulfat, asam klorida, asam fosfat, dan asam nitrat. Beberapa cairan asam tersebut ditemukan antara abad ke-8 dan 9 oleh seorang alkemis bernama Jabir Ibnu Hayyan. Jabir kemudian mengembangkan cairan asam untuk melarutkan emas dan kegunaan lainnya.

  • Bukan Raja Jawa Biasa

    DALAM sejarah Praja Mangkunegaran, tersebutlah raja-raja pembawa kejayaan. Mangkunegoro IV dikenal karena keberhasilannya mendirikan pabrik gula di Colomadu dan Tasik Madu yang menjadikan Mangkunegaran salah satu kerajaan terkaya di Nusantara. Sementara cucunya, Mangkunegoro VII, adalah raja yang gemar ilmu pengetahuan sehingga Mangkunegaran bersolek bak kerajaan modern. Di antara kedua raja tersebut, terselip periode kepemimpinan yang tidak banyak dibeberkan dalam penulisan sejarah Mangkunegaran.   Kekosongan historiografi itulah yang coba diisi oleh buku Mangkunegoro VI: Sang Reformis yang ditulis Mega Janis, Fachmi Ardi, Insan Praditya, dan Tika Ramadhini. Para penulis muda ini tergabung dalam komunitas sejarah History Inc. Buku karya mereka ini diklaim sebagai biografi pertama yang meneliti sosok Mangkunegoro VI.

  • Makam Firaun di Indonesia?

    SEKELOMPOK orang yang tergabung dalam Yayasan Turangga Seta mengklaim menemukan ratusan piramida yang tersembunyi di bawah bukit dan tersebar di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Dua di antaranya di Gunung Lalakon, Bandung; dan di Gunung Sadahurip, Garut, Jawa Barat. Menurut mereka, hasil uji geolistrik –pengujian untuk mengukur resistivitas suatu batuan– menangkap keberadaan sebuah struktur batuan tak alami yang mirip dengan bangunan piramida. Dalam struktur bangunan itu ada bentuk mirip lorong atau pintu. Penemuan tersebut dianggap sebagai bukti arkeologis bahwa Atlantis terletak di Indonesia.

  • Ketika Firaun Keliling Dunia

    TAK ada firaun yang lebih terkenal ketimbang Tuthankhamun. Relik-relik dari makamnya sering keliling dunia. Membangunkan imajinasi banyak orang akan sosok firaun muda ini. Tuthankhamun memerintah Mesir selama tahun 1332-1323 SM. Ia naik takhta saat berusia 9-10 tahun, menikahi saudari tirinya (Ankhesenamun) dan punya dua anak perempuan, kemudian meninggal dunia saat berusia 18-19 tahun. Menikahi saudari perempuan adalah kebiasaan di Mesir Kuno. Ibunda Tuthankamun adalah istri dan juga saudari perempuan sang ayahandanya, firaun Amenhotep IV.

  • Di Balik Kutukan Makam Firaun

    PADA 1923, makam Tutankhamun di Lembah Para Raja Mesir untuk pertama kali ditemukan dan digali. Penelitinya adalah ahli Mesir Kuno Howard Carter dengan dukungan dana dari seorang bangsawan Inggris, Lord Carnarvon. Kutukan menyeramkan seakan menjaga makam firaun yang kerap disebut Raja Tut itu. "Kematian akan datang dengan sangat cepat kepada dia yang mengganggu kedamaian raja," tulis kutukan itu. Di ruang makam penguasa Mesir pada sekira 1333 SM yang sempit itu, mereka menemukan beragam barang berharga. Di antaranya patung-patung emas, perhiasan indah, kotak-kotak dan perahu berhias. Ada juga bahan pangan seperti roti, daging, dan keranjang kacang buncis, dan kurma. Bahkan ada karangan bunga.

  • Mengintip Isi Dapur Firaun

    PENEMUAN arkeologi telah mengungkap banyak hal tentang Mesir Kuno. Kuil-kuil fantastis, makam-makam kuno yang mengesankan, piramida-piramida yang ajaib, yang masih mampu berdiri setelah 4.500 tahun berlalu. Namun, penemuan ini juga menunjukkan makanan apa yang dikonsumsi oleh penguasa dan masyarakatnya. Misalnya, relief dinding dan makam menggambarkan persiapan makanan, peralatan memasak, dan bahan-bahan makanan.  Sebagaimana dilansir  History , roti dan bir adalah makanan pokok masyarakat Mesir Kuno, di samping makanan yang dihasilkan oleh tanahnya seperti bawang merah, bawang putih, lentil (kacang-kacangan), daun bawang, lobak, selada, dan timun. Magda Mehdawy dan Amr Hussein dalam The Pharaoh’s Kitchen menyebutkan, sejak periode pra-dinasti, orang Mesir Kuno mengonsumsi berbagai roti yang terbuat dari biji-bijian yang berbeda. Biji-bijian utama yang dibudidayakan orang Mesir Kuno adalah gandum emmer. Emmer merupakan sumber nutrisi yang cukup seimbang, tinggi mineral dan serat dibandingkan biji-bijian lain yang sejenis.

  • Riwayat Para Firaun di Lembah Sungai Nil

    SEJARAH Mesir Kuno mengalir selama lebih dari 3.000 tahun. Dari penyatuan dua kekuatan Mesir di utara dan selatan pada sekira 3.100 SM hingga penaklukkan oleh Alexander Agung pada 332 SM Mesir Kuno tumbuh menjadi peradaban terkemuka di kawasan Mediterania.  Firaun adalah tokoh kunci dalam sejarah peradaban di lembah Sungai Nil itu. Menurut Jean Yoyotte, ahli egiptologi dari Prancis, dalam “Pharaonic Egypt: Society, Economy, and Culture” yang terbit dalam General History of Africa II: Ancient Civilizations of Africa , istilah “Firaun” berasal dari  per-ao . Istilah ini pada era Kerajaan Lama bermaksud merujuk pada “Rumah Besar” bagi sang pangeran, termasuk kediamannya dan para menterinya. Baru pada masa Kerajaan Baru (1570–1070  SM), istilah Firaun menjadi sebutan bagi raja.

  • Petugas Imigrasi Mesir Menahan Rombongan Agus Salim

    PESAWAT yang membawa rombongan Haji Agus Salim mendarat di Lapangan Udara Kairo pada 10 Agustus 1947. Kedatangan delegasi Indonesia ini dalam rangka memenuhi undangan Liga Arab sekaligus memperjuangkan pengakuan kemerdekaan Indonesia secara de jure . Haji Agus Salim bertindak sebagai pemimpin delegasi didampingi A.R. Baswedan (Menteri Muda Penerangan), dan Dr. Mr. Nazir St. Pamuncak (Pegawai Tinggi Kemenlu). Sementara itu, H.M. Rasyidi (sekjen Kementerian Agama) dan Mayor Jendral Abdul Kadir (perwira tinggi Kementerian Pertahanan) duluan tiba di Mesir pada 5 April. “Pada masa inilah Republik Indonesia mengirimkan misi persahabatan ke negara-negara Islam yang dipimpin oleh Haji Agus Salim pada tanggal 4 April 1947,” sebut Mukayat dalam Haji Agus Salim: Karya dan Pengabdiannya .

  • Raja Mesir dari Firaun sampai Farouk

    SALAH satu Firaun hadir dalam Al-Qur’an. Firaun ini digambarkan sebagai sosok tiran dan mendapat hukuman di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa AS dan pengikutnya. “Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” Begitu cerita Firaun disebut dalam QS. Al-Baqarah ayat 50. Firaun yang dimaksud dalam Al-Qur’an itu adalah Ramses II. Firaun atau Pharaoh dalam sejarah Mesir kuno tak hanya menjadi sebutan bagi Ramses II, tapi raja-raja Mesir lain selama ribuan tahun.

  • 24 Juli 1977: Rivalitas Sadat-Qadafi Akibatkan Mesir-Libya Perang Empat Hari

    HARI ini, 24 Juli 1977, 44 tahun silam. Presiden Mesir Anwar Sadat mengeluarkan pengumuman tak diduga. Dia menyatakan gencatan senjata dalam Perang Empat Hari yang melibatkan Mesir dan tetangganya, Libya. Perang Empat Hari Libya-Mesir merupakan akumulasi dari konflik politik kedua negara bertetangga itu yang terus meningkat setelah Perang Yom Kippur (Oktober 1973). Pemimpin Libya Moammar Qadafi merasa “dikhianati” Sadat lantaran tanpa pemberitahuan Sadat menggandeng Suriah melancarkan serangan terhadap Israel, musuh bersama bangsa Arab. Perang Yom Kippur menempatkan Qadafi, yang amat mengagumi Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser dan aktif menggalang persatuan Arab sejak kematian Nasser pada 1970, pada posisi yang tidak dianggap.

  • Para Firaun Perempuan Mesir Kuno

    FIRAUN identik dengan laki-laki. Namun, bukan berarti masyarakat Mesir Kuno menolak sama sekali perempuan menjadi penguasa.  “Mesir pada dasarnya adalah patriarki, [namun] ini tidak berarti bahwa tidak mungkin bagi wanita kerajaan untuk memegang posisi otoritas,”   tulis Carolyn Graves-Brown, kurator Egypt Centre, University of Wales Swansea,   dalam Dancing for Hathor, Women in Ancient Egypt. Sayangnya, perempuan tetap tak bisa lepas dari laki-laki ketika punya kesempatan memegang kendali pemerintahan. Menurut Kara Cooney, egiptolog dan arkeolog, dalam When Women Ruled the World: Six Queens of Egypt , perempuan naik ke singgasana hanya untuk memastikan laki-laki dalam urutan pewaris takhta berikutnya bisa masuk ke lingkaran kekuasaan.

bottom of page