top of page

Behind the Sacred Veil of the Missionary

Nommensen's arrival to the Land of Batak wasn't just to preach the gospel, but to spread the belief in the supremacy of the white race.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Batakmission complex in Pea Raja, Tarutung, 1910. (KITLV).

19 Agu 2024
9 menit membaca

Diperbarui: 5 Jun 2025

INGWER Ludwig Nommensen was 27 years old when the ship Pertinax set sail from Amsterdam to Padang, Indonesia, on Christmas Eve, December 24, 1861. After 142 days on the ocean, Nommensen set foot in the colony of the Dutch East Indies on May 16, 1862. From Padang, Nommensen settled briefly in Barus, then continued his mission inland. He carried out a sacred task: preaching the gospel to the Land of Batak.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page