top of page

Bos Sawit Tewas di Siantar

Karel Catharinus, bos perkebunan Dolok Senoembah, dicegat gerombolan bersenjata di masa gencatan senjata Indonesia-Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Bekas perkebunan Dolok Sinoembah, tempat Karel Catharinus bekerja, di Sumatra Utara yang hancur akibat perang. (Nationaal Archief/Wikimedia Commons).

1 Nov 2024
3 menit membaca

Diperbarui: 7 Jan

PERANG mengubah banyak aspek kehidupan. Hal itulah yang dialami Karel, orang Belanda kelahiran Lumajang, Jawa Timur, 22 Maret 1910, saat Perang Dunia II pecah. Hal-hal mengerikan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, menjadi bagian dari hidupnya. Karel bernama lengkap Willem Gideon Catharinus. Dia putra dari Willem Christoffel Catharinus dan Elisabeth Pauline Hendrika Geraerds Thesingh. Ibunya adalah orang Belanda Lumajang. Namun, dalam kartu tawanan perangnya, Karel menyebut dia berasal dari Perlanaan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page