Diperbarui: 29 Sep
JAMAAH salat Jumat di Masjid Besar Semarang mendadak gaduh. Menjelang khotbah Jumat, mereka mendengar kabar gembira dari pengurus masjid bahwa Sukarno-Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sekira pukul 10.00 di Jakarta. Usai Jumatan, kabar itu meluas ke seantero Semarang.
Pemuda dan pegawai menyambut proklamasi dengan membentuk badan-badan perjuangan untuk melucuti senjata tentara Jepang. Pelucutan senjata berjalan lancar sepanjang September 1945. Lantas kabar berembus di kalangan tentara Jepang bahwa para pejuang bakal membunuh mereka.
Tentara Jepang mulai menolak pelucutan senjata dan melawan. Tindakan mereka menyulut kemarahan pejuang Semarang. Pertempuran pun pecah pada 14 Oktober 1945. “Diperkirakan sejumlah 2000 orang Indonesia tewas dalam pertempuran enam hari itu, di samping mungkin 500 orang Jepang,” tulis Benedict Anderson dalam Revolusi Pemoeda.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















