top of page

Interracial Marriages and Reversed Surnames in the Dutch East Indies

Interracial marriages had produced generations of mixed-blood children as well a unique tradition of naming children with reversed surnames.

loading_historia_white.gif
transparant.png

VOC Governor-General Jacob Mossel (in office 1750-1761). (Rijksmuseum).

21 Agu 2023
4 menit membaca

INTERRACIAL marriage was a common phenomenon during the Dutch colonial era. The large population of European men who came and lived in a number of areas of the archipelago from the 17th to 18th centuries was not directly proportional to the number of European women in the respective region. As a result, many of those European men chose to live with local women, who then gave birth to mixed-blood children, known as Eurasian or Mestizo.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page