top of page

Kesebelasan Brasil dan Hungaria Adu Jotos di Piala Dunia

Berbagi kekuatan dalam pertandingan perempat final Piala Dunia 1954, Brasil dan Hungaria bermain keras. Berujung tawuran.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 27 Jun 2020
  • 3 menit membaca

Hari ini, 27 Juni, 66 tahun silam. Di hadapan 40 ribu penonton yang memadati stadion Wankdorf, Bern, Swiss, wasit Arthur Ellis asal Inggris dengan percaya diri memasuki lapangan didampingi dua hakim garis dan diikuti dua tim yang akan saling berhadapan. Ellis bangga dipercaya memimpin pertandingan yang kemudian dijuluki “Battle of Berne” itu.  


“Kupikir itu akan menjadi pertandingan terhebat yang pernah aku lihat. Aku berada di puncak dunia,” ujarnya sebagaimana dikutip Guy Hodgson dalam “Footbal: Ellis a Knockout During the Battle of Berne”, dimuat di independent.co.uk.


Pertandingan yang dipimpin Ellis itu merupakan partai perempat final Piala Dunia 1954 antara Brasil melawan Hungaria. Tiga partai perempat final lainnya mempertemukan Austria kontra Swiss, Uruguay kontra Inggris, dan Jerman Barat kontra Yugoslavia.


Dalam partai yang dipimpin Ellis, Hungaria dijagokan karena performanya sedang berada di puncak. Dua tahun sebelumnya, negeri itu meraih medali emas cabang sepakbola di Olimpiade Helsinki.


“Tim luar biasa ini dipimpin Wakil Menteri Olahraga, Gustav Sebes, dan di bawahnya seorang pelatih, Gyula Mandi. Latihannya dilakukan bervariasi dan inventif, dan para pemain didorong untuk berlatih atletik, bahkan mendaki gunung. Tak perlu dikatakan ada penekanan besar pada pelatihan dengan bola –masih, luar biasa, hal yang langka di Inggris yang konservatif– dan 'situasi pertandingan' diciptakan kembali dalam latihan,” tulis Brian Gianville dalam The Story of the World Cup: The Essential Companion to South Africa 2010.


Para pendukung Hungaria jelas tak kecewa. Meski tanpa bintang Ferenc Puskas yang absen karena cedera, Hungaria langsung memimpin dua gol –lewat striker Nandor Hidegkuti dan Sandor Kocsis– ketika pertandingan belum mencapai 10 menit. Brasil memperkecil ketinggalan lewat titik putih yang dengan baik dieksekusi Djalma Santos. Hujan deras yang mengguyur stadion membuat lapangan licin dan bola sulit dikendalikan.


Bertahan hingga paruh pertama, skor 2-1 berubah ketika Mihaly Lantos menambah keunggulan Hungaria ketika babak kedua baru berjalan delapan menit. Tensi pertandingan makin tinggi di babak kedua.  Pelanggaran demi pelanggaran makin sering dilakukan kedua tim.


Perkelahian pun tak dapat dielakkan. Nilton Santos dan Josef Bozsik saling pukul setelah Bozsik tak terima ditekel keras Santos. Wasit Ellis langsung mengusir keduanya dengan kartu merah. Selang beberapa saat kemudian, giliran Djalma Santos mengejar Zoltan Czibor. Empat menit menjelang peluit akhir, giliran striker Brasil Humberto Tozzi yang diusir Ellis karena menendang bek Hungaria Gyula Lorant. Ellis tak peduli meski Tozzi berlutut meminta maaf.


Perkelahian baru berhenti ketika Ellis meniup peluit akhir di mana skor 4-2 untuk Hungaria. Namun, ternyata perkelahian berhenti hanya sementara. Puskas yang duduk di pinggir lapangan ogah ketinggalan sehingga ikut berkelahi meski masih cedera.


“Dia melemparkan botol ke wajah Pinheiro dan mengakibatkan luka yang perlu dijahit dengan cepat,” tulis Mark Ryan dalam Lowdown: A Short History of the World Cup.


Ulah Puskas memicu balas dendam dari tim Brasil. “Tim Brasil menyerbu ruang ganti Hongaria setelah pertandingan untuk melanjutkan pertarungan,” sambung Ryan. Upaya kiper Brasil Castilho menenangkan rekan-rekannya gagal. Botol dan sepatu bola dilemparkan tim Brasil kepada lawan mereka. Para anggota tim Hungaria pun banyak menjadi korban “Gustav Sebes (wakil menteri olahraga Hungaria, red.) pipinya terluka,” tulis Gianville.


“Mereka berperilaku seperti binatang. Itu memalukan,” kata Ellis.


Tawuran baru berhenti ketika Presiden Komite Piala Dunia Swiss Ernst Thommen turun ke ruang ganti untuk menengahi. Namun upaya itu telat, korban telah berjatuhan. Yang memprihatinkan, panitia tak bertindak tegas meski ada tawuran, bahkan sejak perkelahian antar-pemain kedua tim terjadi di saat pertandingan. Masing-masing ofisial tim pun menolak menghukum para pemainnya yang terlibat. Hebatnya, kata Ellis, badan pengatur sepakbola tidak melakukan apapun.


 “FIFA menutup mata. Terlalu banyak anggota komite takut kehilangan perjalanan ke tempat-tempat bagus. Itu pertandingan yang mengerikan,” kata Ellis yang kebanggaannya memimpin pertandingan seketika berubah begitu melihat hasilnya di luar dugaan.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
transparant.png
bottom of page