- 22 Sep 2023
- 6 menit membaca
Diperbarui: 18 Apr
HARI masih pagi. Hujan baru saja mengguyur Jalan Duren Tiga Selatan. Lalu lintas belum begitu ramai. Suasana di sebuah rumah lawas bernomor 36 juga terasa sepi. Dua tukang bangunan sibuk merenovasi ruang tamu. Seorang pembantu sibuk di dapur.
Asni Joesoef Isak, pemilik rumah, dan anaknya, Desantara Joesoef, kemudian keluar menuju ruang tengah. Asni membeli rumah ini dari penduduk setempat pada 1976. Bangunannya masih setengah jadi. Namun dia butuh tempat tinggal. Rumahnya di Jalan Sisingamangaraja diambil paksa tentara. Dia pun membeli rumah itu. “Harga rumah ini tujuh juta kalau nggak salah,” ujarnya.
Dengan bantuan kakak iparnya, Asni melanjutkan pembangunan rumah itu. Beberapa material yang bisa diambil dari rumah di Sisingamangaraja dipakai. Terutama teralis besi di jendela ruang makan. “Saya sayang betul karena si bapak yang desain,” ujar Asni.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















