Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Banyumas is one of Central Java’s rice-producing regions. However, floods and malaria caused famine in the area. This issue caught the attention of a member of the House of Representatives.
Percobaan bom nuklir-hidrogen oleh Amerika Serikat di Kepualaun Eniwetok di Pasifik merisaukan seorang anggota DPR. Mendorong pemerintah galang sikap penolakan di pentas internasional.
Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, milisi Serbia memandu orang-orang kaya untuk “Sarajevo Safari”. Ibu hamil jadi yang termahal untuk diburu via senapan.
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
After failing to dissolve Parliament in 1952, A.H. Nasution supported the dissolution of the House of Representatives formed after the 1955 elections in 1959.
Presiden Sukarno jadi sasaran pembunuhan. Dua anggota DPR mempertanyakan kenapa alat-alat negara kecolongan. Alih-alih mendapatkan jawaban, seorang anggota DPR justru ditahan tentara.
Kisah lembaga yang dibentuk untuk mewakili suara pribumi. Berisikan orang-orang terpilih yang dianggap bisa membawa perubahan bagi orang-orang Hindia Belanda.