Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Percobaan bom nuklir-hidrogen oleh Amerika Serikat di Kepualaun Eniwetok di Pasifik merisaukan seorang anggota DPR. Mendorong pemerintah galang sikap penolakan di pentas internasional.
Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, milisi Serbia memandu orang-orang kaya untuk “Sarajevo Safari”. Ibu hamil jadi yang termahal untuk diburu via senapan.
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
Merintis karier sebagai seorang diplomat, Artati Marzuki Sudirdjo kemudian dipercaya memegang beragam jabatan. Presiden Sukarno menjadikannya menteri pendidikan.
Perempuan pejuang yang tak banyak disebut buku sejarah. Stigma komunis dan kedekatannya dengan Sukarno membuatnya tak bisa pulang ke tanah air pasca 1965.
Meski pendiri Bhayangkari dan istri Kepala Kepolisian Negara, Lena Mokoginta Soekanto enggan menjadi ketua Bhayangkari. Ia tak ingin organisasi istri Polri dijalankan dengan watak feodalisme.
Lebih dari seabad usia Hari Perempuan Internasional. Indonesia turut memeriahkannya pada era presiden Sukarno dan kembali ‘sepi’ di masa presiden Soeharto.