Hasil pencarian
9750 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Neraka Hitler di Stalingrad
SUATU tempat di barat Rusia, 129 tahun pasca-invasi Napoleon Bonaparte ke negeri itu. Suasana tak begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Serdadu Tentara Merah di pos perbatasan tetap berjaga seperti biasa hingga sesuatu yang ganjil terjadi sekitar pukul 03.30 tanggal 22 Juni 1941. “Beberapa saat sebelum subuh 22 Juni 1941, serdadu patroli dan pos jaga terluar front barat Uni Soviet mencatat ada sesuatu yang janggal terjadi di langit. Bintang-bintang aneh terlihat di kejauhan, melintasi wilayah-wilayah Polandia yang telah direbut Nazi, menerangi garis langit sebelah barat,” tulis Sergei Smirnov dalam Heroes of Brest Fortress. Para serdadu jaga Rusia itu tak menyangka bahwa “bintang aneh” yang mereka lihat adalah cahaya dari pesawat-pesawat Jerman. Meski banyak mendapat penentangan, termasuk dari Jenderal Gerd von Rundstedt, Jerman melancarkan Operasi Barbarossa. “Dunia akan menahan nafas,” kata Hitler.
- Membidik Nyawa Panglima Perang Asia Timur Raya
HARI sudah menjelang senja ketika Letnan Mitsuyoshi Hamasuna memimpin satu peleton pasukan patroli masuk ke rimba di utara Buin, Pulau Bougainville, Papua Nugini pada 19 April 1943. Begitu tiba di lokasi pesawat jatuh yang sejak pagi ia lacak, perwira muda dari Angkatan Darat (AD) ke-17 Jepang itu terperangah. Tak disangkanya itu pesawat Jepang. Sehari sebelumnya, 18 April, ia memang melihat sebuah kepulan asap dari posnya. Tapi ia mengira ada pesawat Amerika Serikat yang jatuh hingga kemudian membawa 12 anak buahnya untuk melacaknya ke dalam hutan. Rupanya, pesawat jatuh yang ditemukan Hamasuna adalah pesawat pembom medium Mitsubishi G4M “Betty”. Pesawat bernomor registrasi 323 itu milik kesatuan Kōkūtai 705 (Grup Udara 705) AL Jepang. Yang lebih mengagetkannya adalah, jasad yang ada di dalamnya adalah panglima tertinggi Angkatan Laut (AL) Jepang Laksamana Isoroku Yamamoto beserta jasad para bawahan sang panglima: Laksamana Pertama Rokorou Takata, Letkol Kurio Toiban, dan Letkol Noburu Fukusaki.
- Perdana Menteri Israel: Pemimpin Muslim Palestina Ada di Balik Holocaust, Bukan Hitler
PERDANA Menteri Israel Benyamin Netanyahu membuat pernyataan kontroversial. Dalam pidatonya di hadapan peserta kongres zionisme sedunia di Yerusalem, Selasa, 20 Oktober 2015 dia mengatakan Adolf Hitler bukan orang yang memerintahkan pembunuhan massal warga Yahudi di Eropa. “Hitler hanya ingin mengusir warga Yahudi dari Jerman,” kata Netanyahu dalam pidatonya. Rencana Hitler itu disampaikan kepada Husseini saat mereka bertemu pada 25 November 1941, di Berlin, Jerman. Namun ide tersebut, demikian kata Netanyahu, ditentang oleh Mufti Agung Palestina Mohammad Amin al-Husseini, pemimpin tertinggi muslim di Palestina pada 1921-1948.
- Empat Prasasti Tarumanagara (Bagian II)
TANPA mengenal hari dan waktu, perlintasan Bulan-Bulan di Kota Bekasi senantiasa ramai dengan pengendara dan warga dari dan menuju Stasiun Bekasi. Tak jauh di arah timur, tiga jembatan rangka bajanya di atas Kali Bekasi juga dilintasi berbagai macam keretaapi. Kali Bekasi jadi saksi bisu sibuknya masyarakat lintas peradaban. Di sanalah satu dari sedikit “warisan” peradaban Tarumanagara berada, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Tugu. Dalam prasasti itu, nama tua Kali Bekasi adalah Sungai Candrabhaga. Kali Bekasi yang membentang sekitar 35 kilometer panjangnya, bermula dari tempuran Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas di kawasan antara Bojong Kulur (Kabupaten Bogor) dan Jatiasih (Kota Bekasi). Sedangkan titik akhirnya di saluran inspeksi Cikarang Bekasi Laut (CBL) –yang dibangun sekitar 1970-an– di sekitar kawasan Babelan, Kabupaten Bekasi. Di masa Tarumanagara, Sungai Candrabhaga yang digali pada era Raja Purnawarman (memerintah 395-434 Masehi) dari daerah pedalaman langsung ke laut.
- Rumor Doppelgänger Hitler (Bagian I)
HARI-hari terakhir Perang Dunia II di Eropa diliputi berbagai cerita yang memicu munculnya teori konspirasi. Salah satu yang mencuri perhatian adalah rumor tentang kembaran Adolf Hitler, diktator Jerman pemimpin Nazi. Rumor mengenai doppelgänger atau kembaran Hitler berkembang luas ketika pasukan Soviet merangsek masuk ke wilayah Berlin. Setelah memenangkan pertempuran, mereka berusaha mencari keberadaan Hitler sebagai legitimasi atas keberhasilan mengakhiri Perang Dunia II. Pencarian pemimpin Nazi itu membawa Soviet ke taman Kantor Kanselir Reich pada 2 Mei 1945. Robert J. Hutchinson dalam What Really Happened: The Death of Hitler menyebut Letnan Kolonel Ivan Klimenko, tentara Soviet dari unit kontraintelijen SMERSH (akronim Rusia untuk Kematian bagi Para Mata-mata), tiba di taman Kantor Kanselir Reich pada awal Mei. Dia dibantu seorang warga Jerman, melihat jenazah propagandis Nazi Joseph Goebbels dan istrinya, Magda, yang hangus terbakar namun masih dapat dikenali dengan jelas, tergeletak di dekat pintu masuk. Di lain tempat, pasukan Soviet menemukan jenazah anak-anak Goebbels di Vorbunker. “Fotografer Soviet mengambil foto-foto detail jenazah-jenazah tersebut di taman Kantor Kanselir Reich, lalu para tentara membawa jenazah-jenazah itu ke Penjara Plotzensee yang terletak di dekat sana, tempat pasukan Soviet mendirikan pos komando. Pasukan Soviet baru saja menangkap Hans-Erich Voss, seorang petinggi Nazi yang meninggalkan bunker... Pasukan Soviet segera mengetahui bahwa Voss merupakan bagian dari staf Laksamana Dönitz sehingga mereka membawanya kembali ke Fuhrerbunker untuk mencari jenazah Hitler,” tulis Hutchinson. Saat berjalan melalui area taman, Voss melihat jenazah seorang pria dengan kumis pendek mirip Hitler. Jenazah tersebut memiliki luka di bagian kepala akibat tembakan di dahi. Voss kemudian memberikan informasi kepada pasukan Soviet bahwa jenazah pria itu mungkin mantan pemimpinnya. Namun, dia tidak bisa memastikan apakah penilaiannya itu benar. Jawaban Voss yang kurang meyakinkan membuat Klimenko kembali ke penjara untuk menanyakan keberadaan Hitler kepada perwira Jerman. Beberapa di antaranya dibawa ke area bunker. “Sebagian besar dari mereka membantah bahwa pria yang tewas itu adalah Hitler. Namun, foto jenazah tersebut –yang diduga sebagai jenazah Gustav Weler, doppelgänger Hitler– ditayangkan dalam film berita yang dirilis oleh Soviet. Oleh karena itu, selama beberapa hari, ada laporan berita bahwa Soviet telah menemukan jenazah Hitler,” tulis Hutchinson. Klimenko mengira jenazah pria yang ditembak di dahi itu adalah Hitler, sehingga ketika seorang prajurit Soviet memberitahunya bahwa dia menemukan jenazah pria dan wanita yang terbakar parah dan terkubur di area dekat pintu keluar Fuhrerbunker, tak jauh dari jenazah Joseph Goebbels dan Magda, Klimenko memerintahkan anak buahnya itu menguburkan kembali jenazah tersebut. Pemimpin Soviet Josef Stalin berambisi untuk mengetahui keberadaan Hitler, hidup atau mati. Sehingga, Klimenko dan para pejabat militer Soviet menugaskan anak buahnya untuk mencari dan mengidentifikasi orang atau jenazah yang diyakini sebagai Hitler. Klimenko menghubungi mantan atase pers Soviet di Kedutaan Besar Berlin, Andrei Smirnov, yang pernah mengenal Hitler secara pribadi. Dia dibawa ke bunker untuk memeriksa mayat yang ditembak di dahi. Beberapa jenderal berkumpul di sekitar mayat tersebut, yang kini dipindahkan ke sisa-sisa bangunan Reich Chancellery yang hancur akibat bom. Setelah melihat jenazah tersebut, Smirnov bersikeras bahwa jenazah tersebut bukan Hitler. Pernyataan itu semakin menguatkan pandangan bahwa Hitler memiliki doppelgänger atau sosok pengganti untuk menyesatkan lawannya. Sosok pengganti atau doppelgänger dianggap umum khususnya berkaitan dengan keamanan seorang pemimpin negara. Menurut Arthur H. Mitchell dalam Hitler’s Mountain: The Fuhrer, Obersalzberg and the American Occupation of Berchtesgaden , perwira Britania Raya Bernard Montgomery dan Dwight Eisenhower , mantan presiden Amerika Serikat yang pernah menjadi komandan tertinggi pasukan Sekutu di Eropa Barat dalam Perang Dunia II, memanfaatkan sosok yang mirip dengan mereka untuk kepentingan keamanan dan propaganda. “Sebelum D-Day, Letnan Clifton James menyamar sebagai Monty (julukan Montgomery, red .), dan dengan proses seremoni yang telah ditentukan, terbang dari Inggris ke Gibraltar, lalu ke Aljir. Hal ini dilakukan untuk memberi kesan bahwa Sekutu sedang mempersiapkan invasi ke Prancis Selatan. Selama Pertempuran Bulge pada Desember 1944, dengan beredarnya rumor bahwa pasukan pembunuh Nazi sedang memburu Eisenhower , Letnan Kolonel Baldwin B. Smith mengambil alih identitas Ike (panggilan Eisenhower, red. ) selama beberapa hari,” tulis Mitchell. Taktik dan strategi untuk menyesatkan musuh di masa perang membuat spekulasi doppelgänger Hitler bermunculan di koran-koran Amerika Serikat dan Inggris. Mereka berpandangan bahwa Führer menggunakan sosok pengganti untuk menghindari penangkapan atau kematian. Kabar mengenai doppelgänger Hitler tak hanya muncul ketika pasukan Soviet mencari jenazahnya. Jauh sebelum itu, pernah ada surat kabar yang memberitakan tentang penggunaan body double atau sosok yang mirip dengan Hitler untuk menyesatkan informasi dan mata-mata musuh, meski kebenarannya diragukan dan berujung menjadi teori konspirasi.*
- Onthel Sepeda Cinta
GALIH dan Ratna adalah dua sejoli. Sepeda onthel menjadi saksi cinta mereka yang terlarang. Sayangnya, cinta Galih dan Ratna berakhir duka. Galih menikah dengan Marlina, saudara kembar Ratna. Kisah asmara itu hanyalah fiksi, terekam dengan apik dalam film Gita Cinta dari SMA , adaptasi dari novel Eddy D. Iskandar. Pada 26 Juni 2011, Ratna lain justru berbahagia. Ratna Sri Handayani dan Dimas Sapto Romadhon, keduanya pecinta sepeda onthel, menikah. Pernikahan mereka dirayakan dengan cara unik: diarak keliling kota oleh ratusan onthelis dari klub Vheesink Ontel Club (VOC), yang bermarkas di Jakarta Barat. Sepeda Onthel memang lagi naik daun. Meski tua, ia tetap dicinta. Berbagai perkumpulan pun bermunculan di berbagai daerah. Karena animo itu, Bentara Budaya Yogyakarta mengadakan pameran onthel bertajuk “Pameran Pit Onthel 2010-Indische Fietsen” pada 22-30 Juni lalu. Buku ini merupakan pengembangan dari katalog yang disusun untuk pameran tersebut.
- Pengembaraan Sosrokartono, Seorang Pangeran Jawa
KOMPLEKS Departemen Luar Negeri di wilayah Cidodol, Kebayoran Lama, lengang. Hanya beberapa satpam berkeliling. Di ujung sebuah gang, sebuah rumah tampak asri. Pagarnya bercat hijau. Halamannya semarak dengan anggrek dan kuping gajah. Pemiliknya, Sukadiah Pringgohardjoso, mengenakan baju tenun dengan motif Dayak berwarna coklat muda. Rambutnya disanggul rapi. Terkesan anggun. Sukadiah pernah menjadi duta besar Indonesia untuk Denmark; duta besar perempuan pertama di masa pemerintahan Soeharto. “Kabarnya dulu Pak Joop Ave yang mengusulkan perlunya mengangkat seorang duta besar wanita. Obrolan informal konon terjadi di Tapos, Bogor,” ujarnya. Di hari tuanya, Sukadiah menjadi pembina Yayasan Sosial Budaya Sosrokartono. Pandangan dan pendengarannya mulai menurun di usianya ke-86. Dia didampingi asistennya, Supamiyoto. “Di luar sana banyak perkumpulan dan paguyuban mengatasnamakan Sosrokartono, namun kami mengikuti aturan pemerintah mengenai organisasi kemasyarakatan,” ujarnya.
- The Unfaltering Dream of Nuclear
THE sky hanging above the Center for Science and Technology Research (Puspiptek) in Serpong, South Tangerang, was getting dimmer. Under the light drizzle, I walked toward Building 31 which houses the G.A. Siwabessy (RSG-GAS) Multipurpose Reactor. To enter the building, I had to go through two strict screening checkpoints. If the visitor is interested in viewing the reactor core and the Main Control Room (RKU) on the second floor, they have to pass another inspection. The RKU is in the shape of an irregular pentagon where a large panel is installed on each of the three walls. Several young operators are observing the indicators shown on the panels and monitor screens. Through the glass of the RKU room, I could see the ground floor of the reactor core and the nuclear reactor that have been operating since 1987.
- Asa di Balik Nuklir Indonesia
PAGI hari di hari pertama bulan Maret 1954. Di Kepulauan Marshall, Pasifik, langit begitu cerah. Anak-anak berlarian gembira lalu berenang. Seorang pemuda asyik memetik kelapa. Nelayan paruh baya setia di perahunya menunggu peruntungan dari datangnya ikan. Namun, keindahan itu berubah seketika. Langit kelam. Cahaya memberkas lalu membesar dan menjalar cepat. Dentuman membahana. Gumpalan debu membentuk cendawan. “Amerika Serikat baru saja menguji bom hidrogen yang ratusan kali lebih kuat daripada senjata apapun yang pernah ada sebelumnya,” tulis Richard Alan Schwartz dalam The 1950s . “Kekuatan ledakannya setara lebih dari lima juta ton TNT.” Castle Bravo, bom hidrogen (termonuklir) milik AS itu, meledak sekira pukul 06.45 di Pulau Bikini, Kepulauan Marshall. Kawah berdiameter lebih dari 100 meter langsung memenuhi pulau tempat uji coba. Hijau pepohonan lenyap berganti hamparan kegersangan. Penduduk sekitar terkontaminasi zat radioaktif. Laut dan udara dalam jarak bermil-mil tercemar. Sejumlah negara melayangkan protes.
- Nuklir yang Tak Pernah Padam
LANGIT kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong Tangerang Selatan mulai temaram. Di tengah gerimis, saya melangkahkan kaki menuju Gedung 31 yang menaungi Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS). Saya harus melewati dua pos pengecekan ( screening ) cukup ketat untuk masuk gedung. Pengecekan lanjutan dilalui jika ingin menengok teras reaktor dan Ruang Kendali Utama (RKU) di lantai dua. RKU berbentuk pentagon (segilima) tak beraturan. Tiga bidang dindingnya melekat tiga panel besar. Beberapa operator muda mengamati indikator di panel dan layar-layar monitor. Lewat kaca di dinding RKU, saya melihat ke lantai dasar teras reaktor dan reaktor nuklir yang mulai beroperasi pada 1987 itu. RSG-GAS adalah reaktor untuk penelitian yang tak menghasilkan listrik. Dayanya hanya 30 megawatt (MW). Sementara reaktor untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) bisa mencapai 1400 MW. Kendati demikian prinsip kerjanya hampir sama.
- Bung Karno dan Revolusi Teknologi Nuklir (Bagian II)
GURUN Lop Nur di kawasan Xinjiang, China yang tenang mendadak bergetar hebat hari itu, 16 Oktober 1964. Sekira pukul 3 petang, bom atom “Miss Qiu” dari Project 596 yang dipasang di atas menara buatan setinggi 102 meter meletup dahsyat. Kekuatannya yang 22 kiloton TNT lebih besar dari dua bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945 hingga menciptakan “awan jamur” setinggi 909 meter di atas permukaan laut. “China meledakkan bom atom pada pukul 15.00 pada 16 Oktober 1964 dan oleh karenanya jadi uji coba (senjata) nuklir pertama yang sukses. Ini jadi pencapaian besar bagi China dalam memperkuat pertahanan nasionalnya dan dalam menentang kebijakan serta ancaman nuklir imperialis Amerika Serikat,” bunyi pernyataan pemerintah China dalam buku Break The Nuclear Monopoly, Eliminate Nuclear Weapons. “Miss Qiu” merupakan alat uji ledak nuklir fisi uranium-235 yang digarap tim peneliti pimpinan fisikawan Deng Jiaxian dalam program “Dua Bom, Satu Satelit”. Kesuksesan China sebagai negara Asia pertama yang memiliki bom atom di awal era perlombaan senjata nuklir itu turut jadi perhatian Presiden Sukarno.
- Bung Karno dan Revolusi Teknologi Nuklir (Bagian I)
PROYEK penulisan ulang sejarah nasional Indonesia gagasan Kementerian Kebudayaan RI masih menyisakan sejumlah persoalan. Salah satunya disuarakan anggota Komisi X DPR RI Puti Guntur Soekarno yang mempertanyakan sejarah mengenai masa pemerintahan Presiden Sukarno. Dalam kerangka rancangan jilid ke-8, sejarah Indonesia di era Bung Karno disajikan dengan tajuk “Masa Bergejolak dan Ancaman Integrasi”. Memang tidak dipungkiri bahwa di masa pasca-perang kemerdekaan, Indonesia beberapa kali direcoki oleh konflik di beberapa wilayah. Namun, menurut Puti Guntur, di masa Bung Karno itu pula titik awal Indonesia punya beberapa prestasi yang diakui dunia internasional. “Kita harus secara jujur dan jernih melihat bahwa di dalam masa pemerintahan Sukarno, di sinilah juga masa di mana kita membangun jati diri dan identitas kita sebagai suatu bangsa. Di masa ini pun dengan negara yang masih baru merdeka kita punya capaian-capaian, di mana Indonesia dapat dilihat oleh dunia sebagai negara yang sangat memperjuangkan pembukaan UUD 1945 kita, tidak adanya penjajahan di atas dunia. Di mana Konferensi Asia-Afrika, lalu kemudian adanya Gerakan Non-Blok, gedung yang kita pakai di sini dikatakan sebagai salah satu proyek mercusuar Bung Karno, ini adalah gedung di mana representasi Indonesia bisa berdiri dengan tidak terkooptasi hegemoni arus Rusia dan Amerika (Serikat) ketika itu,” tegas cucu Bung Karno itu dalam rapat kerja Komisi X DPR RI dengan Kemenbud, 26 Mei 2025, yang ditayangkan akun Youtube TVR Parlemen .




















