top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10071 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Rima Melati Telah Pergi

    RIMA Melati lahir dengan nama Marjolien di Tondano, Sulawesi Utara, pada 22 Agustus 1939, dari pasangan Adriana Paula Adeline Kawilarang dan Martinus van Rest. Ibunya, perancang pakaian terkenal dan pengusaha butik serta salon kecantikan, dikenal dengan Non Kawilarang. Dia masih terhitung tante dari pendiri Kopassus, Kolonel Alex Kawilarang. Sejak kecil Marjolien ditinggalkan ayahnya.Ibunya kemudian menikah lagi dengan John Nicolaas Tambayong, sehingga namanya menjadi Marjolien Tambayong dengan panggilan akrab Lientje. Dari Tondano, Lientje dan ibunya hijrah ke Jakarta. Sejak muda, dia kerap tampil di panggung peragaan busana.Penampilannya yang trendi menghiasi majalah-majalah hiburan. Selain menjadi pragawati, Lientje juga penyanyi dalam kelompok vokal The Baby Dolls bersama Gabby Mambo, Indriati Iskak, dan Baby Huwae yang menyebut Lientje sebagai pionir memakai hotpants di Indonesia.

  • Pembuka Jalan Peragaan Busana di Indonesia

    CITAYAM Fashion Week (CFW) di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, masih ramai diperbincangkan. Selain karena hak kekayaan intelektual CFW sempat diklaim oleh selebritas Baim Wong dan Paula Verhoeven, fenomena ini juga telah menjalar ke berbagai daerah. Anak-anak muda memakai berbagai jenis busana berlenggok-lenggok catwalk di zebra cross. Peragaan busana pun kini tidak identik lagi dengan kalangan elite. Sejarah peragaan busana (fashion show) di Indonesia dimulai oleh Adriana Paula Adeline Kawilarang, pendiri butik dan salon kecantikan pertama di Indonesia. Dalam Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982 dijelaskan, Non Kawilarang lahir di Tondano pada 27 Oktober 1917. Dia anak kesembilan dari seorang mayor-sipil di Minahasa –setingkat regent (bupati) di Jawa. Sejak kecil dia telah menunjukkan ketertarikannya pada dunia mode, khususnya merancang pakaian. Sejak duduk di sekolah MULO (kini setara SMP), dia telah merancang dan menjahit pakaiannya sendiri. Pernikahan Adriana Paula Adeline dengan Martinus van Rest memperoleh anak perempuan bernama Marjoline. Dia kemudian menikah lagi dengan John Nicolaas Tambayong, sehingga putrinya bernama Marjoline Tambayong yang kemudian lebih dikenal dengan Rima Melati, aktris dan model ternama yang belum lama meninggal dunia.

  • Gatot Soebroto dalam Gelanggang Politik Militer

    TIGA bulan sebelum Peristiwa 17 Oktober 1952, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Kolonel A.H. Nasution bersama Kolonel Gatot Soebroto, Kolonel A.E. Kawilarang, dan Kolonel Bambang Sugeng, serta belasan perwira lain, berkumpul di kediaman Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP), Mayor Jenderal TNI T.B. Simatupang. Mereka membahas gejolak di tubuh militer berkaitan dengan tindakan Kolonel Bambang Supeno. Bambang Supeno menemui Presiden Sukarno secara langsung, tanpa mengindahkan alur komando, untuk menyampaikan pandangannya yang tidak sejalan dengan pimpinan militer. Tindakannya itu menuai pro dan kontra di kalangan perwira karena dianggap kurang tepat. “Tidak satupun dari AP (Angkatan Perang) yang pergi ke presiden yang tidak goobserved (diamani dengan jeli) oleh orang Seksi I yang ada di presidenan. Berhubung dengan tidak satu kali ini saja orang tersebut mempunyai cara yang sedemikian, maka berbahayalah sekali untuk di kemudian hari, kalau tidak lekas-lekas diambil tindakan. Bila tiap-tiap keputusan dari menteri pertahanan dan pimpinan Angkatan Perang dapat ditinjau dan dihalang-halangi... hal ini akhirnya akan onmogelijk maken (membuat mustahil) jalannya pekerjaan. Perbuatan dari perwira itu menimbulkan akibat yang bersifat merusak,” tulis A. H. Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid III: Masa Pancaroba I.

  • Jenderal Jenggot Gatot Soebroto Mengumpat Monyet

    GATOT Soebroto identik dengan jenggot lebat. Dalam berbagai potret, jenggot lebat sang jenderal kerap menjadi daya tarik. Pada zaman itu, tidak ada jenderal lain yang memelihara jenggot selebat punya Gatot. Kebanyakan jenderal tampil klimis dengan rambut cepak rapi sebagaimana ciri khas tentara. “Tidak ada tentara di Indonesia ini yang gue lihat sepanjang sejarah dari dulu sampai sekarang yang berewokan. Cuma Gatot Soebroto dan enggak ada yang berani melarang,” ujar Donatus Donny A. Sheyoputra, pengamat militer Universitas Pertahanan, kepada Historia.ID. Amelia Yani, putri Jenderal TNI Ahmad Yani, termasuk yang bergidik ngeri bila melihat jenggot lebat Gatot Soebroto. Yani dan Gatot adalah kolega di pucuk pimpinan Angkatan Darat (AD). Ketika Gatot menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) pada 1950-an, Yani menjadi bawahannya sebagai Asisten IV Kepala Staf AD (Kasad) yang saat itu dijabat Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Di luar hubungan atasan-bawahan, Yani dan Gatot bersahabat karib meskipun Gatot berusia jauh lebih tua.

  • Perempuan Pertama di Parlemen Bandung

    KETIKA tahun 1938 pemerintah kolonial akhirnya memberikan hak pilih perempuan pribumi untuk duduk di Dewan Kota, Emma Poeradiredja dan para perempuan aktivis lain senang. Meski hanya mendapat hak pilih pasif, mereka menyambut keputusan itu dengan suka-cita. “Beberapa nama kaum ibu termuat dalam daftar kandidat. Hasilnya boleh menyenangkan kaum ibu, empat orang perempuan Indonesia terpilih sebagai anggota Dewan Kota,” tulis Maria Ulfah dalam artikelnya “Soal Hak Pilih” yang dimuat di Majalah Istri Indonesia. Emma menjadi satu dari empat perempuan yang terpilih itu. Terpilihnya Emma bukan tanpa dasar. Perempuan yang lahir di Cilimus, Kuningan pada 13 Agustus 1902, itu sejak sekolah aktif di Jong Java dan Jong Islaminten Bond sebagai ketua cabang Bandung.

  • Perempuan Pertama di Parlemen Hindia Belanda

    CORNELIA Hendrika Razoux Schultz-Metzer menjadi perempuan pertama yang duduk di Dewan Rakyat Hindia Belanda (Volksraad). Ia mengisi kekosongan wakil perempuan yang tak pernah ada sejak parlemen Hindia Belanda itu didirikan tahun 1918. Sebelumnya, lembaga legislatif (meski wewenangnya terbatas) itu hanya diisi laki-laki. Cornelia berhasil menduduki kursi Dewan Rakyat pada 1935 melalui penunjukan dan memperoleh hak pilih pasif, yakni bisa dipilih tapi tak bisa memilih. Sepak terjang Cornelia dalam gerakan perempuan di Hindia-Belanda bermula dari pertemuannya dengan EGGR. Ellendt pendiri Perhimpunan Indo-Eropa (Indo-Europeesche Verbond, IEV) yang juga dicalonkan sebagai anggota Volksraad dari organisasinya. Ellendt juga salah satu pendiri Organisasi Perempuan Indo-Eropa (Indo-Europeesche Vrouwen-Organisatie, IEVO). Mereka bertemu dalam perjamuan di kediaman keluarga Razoux Schultz, suami Cornelia, beberapa saat setelah Cornelia pindah ke Hindia-Belanda dan tinggal di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara). Ellendt menceritakan rencananya untuk membentuk organisasi wanita yang sehaluan dengan perjuangan IEV dan khusus mewadahi perempuan Indo-Eropa. Rencana ini disambut baik oleh Cornelia. Selanjutnya, menurut artikel “De Eerste Vrouw in den Volksraad” di harian Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie, 15 Mei 1935, Cornelia memenuhi syarat yang dicari Ellendt. Ia menginginkan perempuan yang dekat dengan lingkaran IEV, memiliki keberanian untuk memimpin organisasi perempuan, dan bersimpati pada program IEV.

  • Palestina Bertahan di Tengah Genosida

    “SUMUD”, sebuah lema bahasa Arab yang menurut Francesca Albanese tak mudah diterjemahkan. Ia pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Pendudukan Palestina yang membuat sembilan laporan tentang penindasan, penjajahan, hingga genosida oleh Israel di Palestina. “Jika Palestina bisa diterjemahkan ke dalam satu kata, mungkin itu adalah ‘sumud’. Dan ini yang terpaksa harus dialami Palestina. Sumud bukan sekadar perlawanan. Sumud bukan semata kegigihan. Sumud adalah kemampuan untuk bertahan; tidak tercerabut, seperti yang kita lihat pada pepohonan. Itu simbol powerful dan jadi grammar dari kepribadian asli, bahwa merekalah pemilik sebuah tanah layaknya orang-orang pribumi,” kata Albanese dalam diskusi Amnesty International Indonesia, “Honoring Palestinian sumud in the Midst of Genocide”, di Jakarta, 21 Oktober 2026 malam. Apa yang terjadi di Jalur Gaza dan Tepi Barat sampai hari ini adalah sebuah harga mengerikan yang harus dihadapi Palestina gegara kolonialisme Inggris sejak 109 tahun lalu. Inggris merebut Palestina dari tangan Kesultanan Utsmaniyah pada 1917 dan menyatakannya sebagai rumah nasional kaum Yahudi lewat Deklarasi Balfour di tahun yang sama.

  • Park Chung Hee, Guru Gagal Jadi Diktator Korea Selatan

    KEMISKINAN adalah akar banyak masalah. Terlebih bila diperparah dengan gangguan dari luar macam Depresi Ekonomi Global sejak 1929. Orang-orang di berbagai pelosok dunia pun bisa merasakannya dampaknya meski tak sedikit pun paham apalagi terkait. Kondisi itulah yang dialami Park Chung Hee dan keluarganya yang miskin di Korea. Akibatnya, masa kanak-kanaknya terganggu. Sedari 1932-1937, Park Chung Hee bersekolah di Taegu Normal School, sebuah sekolah calon guru gratis dan bergengsi yang diimpikan banyak orangtua dan siswa. Namun dia sering dalam kondisi kurang makan hingga mengalami gangguan belajar hingga mempengaruhi prestasinya di sekolah. Lapar membuatnya mendapat rangking buncit untuk urusan akademik. Namun meski buruk dalam pelajaran sebagai calon guru, dalam pelatihan semi militer Park berada rangking agak atas. Begitu lulus dari Taegu pada awal 1937, Park mendapat rangking buncit. Meski begitu, Park tetap bisa memulai karier sebagai guru.

  • Park Chung Hee, Napoleon dari Korea Selatan

    KETIKA Syngmen Rhee (1875-1965) belum lama menduduki kursi presiden Republik Korea Selatan pada 1948, pemerintahannya “dihebohkan” dengan penangkapan seorang perwira muda di angkatan bersenjatanya. Nama perwira itu Mayor Park Chung Hee. Dia ditangkap karena dianggap terlibat dalam gerakan komunis. “Pada 11 Noveber 1948, Park ditangkap di Seoul oleh tim investigasi militer atas tuduhan terlibat dalam kegiatan komunis di ketentaraan, termasuk keterlibatan dalam pemberontakan militer Yosu-Sunchon pada tanggal 19 Oktober 1948,” tulis Hyung-A Kim dalam Korea's Development Under Park Chung Hee. Namun, Park beruntung karena tidak termasuk orang yang harus dihukum mati. Lalu, kendati dinonaktifkan, Park dibiarkan bekerja sebagai pegawai sipil di markas besar Angkatan Darat meski zonder (tanpa) gaji.

  • Park Chung Hee Ditembak Kepala Intelnya Sendiri

    SETELAH tentara Jepang kalah dalam Perang Dunia II, Korea memerdekakan diri meski akhirnya terpecah menjadi Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel). Negara-negara baru itu memperkuat diri antara lain dengan membangun militernya. Didirikannya sekolah kadet pertahanan yang belakangan menjadi Akademi Militer Korea merupakan salah satu upaya yang diambil Korsel. Di sekolah itu dua bekas guru masuk: Kim Jae Gyu dan Park Chung Hee. Kim Jae Gyu merupakan pemuda asal Gumi, Gyeongsang Utara, yang tak setahun jadi guru sekolah menengah. Daripada terus berceloteh di depan kelas, pria kelahiran 1924 ini lebih tertarik masuk sekolah militer pada 1946. Sementara, Park Chung Hee dulunya guru pada sebuah sekolah dasar di Mungyong, Provinsi Kyongsang Utara. Park, yang lebih tua enam tahun dari Kim, juga sebentar jadi guru dan kemudian masuk sekolah militer. Sebelum bersama-sama di akademi itu, Park sudah pernah belajar di Akademi Militer Manchukuo dan Akademi Militer Jepang di Tokyo.

  • Jagoan PKI Anti Peluru

    PADA 19 September 1948, PKI dan aliansinya yang menamakan diri Front Demokratik Rakyat (FDR) melakukan gerakan bersenjata di Madiun. Menurut Soe Hok Gie, perebutan kota tersebut berlangsung sejak jam 02.00. “Pagi-pagi pada 19 September, pemerintah RI ditumbangkan,” tulis Soe Hok Gie dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan. Sehari kemudian Kolonel Djoko Soedjono, salah satu tokoh FDR, menegaskan bahwa tindakan-tindakan di Madiun bukanlah suatu pemberontakan. Dia menyebut istilah gerakan itu sebagai bentuk koreksi dari para pemuda revolusiener. Namun pemerintah RI di bawah Sukarno-Hatta terlanjur menganggapnya sebagai suatu upaya kudeta.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page