Hasil pencarian
Search this site
10003 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bogor Historical Walk, Menjawab Keingintahuan Khalayak
LANGIT di atas Bogor berwarna biru cerah pagi itu. Bayangan bulan separuh terlukis sebagai sisa-sisa malam yang tertinggal. Di mulut Jalan Suryakancana, persis dekat Vihara Dhanagun, orang-orang berpakaian merah berkumpul. Dari menit ke menit, jam ke jam, jumlahnya semakin bertambah hingga puncaknya mencapai 40-an orang. “Ayo kawan-kawan, ibu-ibu-bapak-bapak, jam 9 teng kita akan langsung berangkat ya,” ujar Ramadhian Fadillah (36), seorang lelaki berkacamata. Iyan (panggilan akrab Ramadhian Fadillah) merupakan salah satu pemandu dari Bogor Historical Walk (BHW). Itu adalah nama sebuah komunitas non profit yang memiliki misi mengenalkan sejarah dan keanekaragaman budaya di Kota Bogor. Didirikan pada 2019, BHW pada awalnya hanya kumpulan anak-anak muda yang memiliki minat yang sama: mempelajari sejarah Bogor.
- Dari Vila Buitenzorg ke Istana Bogor
KAESANG Pangarep, putra Presiden Joko Widodo, iseng membeli pakaian ke akun yang diduga melakukan penipuan. Kaesang memberikan alamat pengiriman ke Istana Kepresidenan Bogor. Warganet pun menanggapinya sehingga Istana Bogor menjadi trending topic. Kaesang meminta maaf sambil beralasan kalau dikirim ke rumah pribadi, tidak ada orang karena tidak ada yang menempati. “Maaf pak saya baru tau kalo saya gak boleh kirim paketan ke Istana Bogor. Lain kali saya marahin ibu saya karena beliau sering kirim kerupuk dari Solo ke Istana Bogor,” cuit Kaesang (@kaesangp, 7/9/2020). Istana Bogor merupakan salah satu dari enam istana kepresidenan. Sejarahnya bermula ketika Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff (menjabat 1743–1750) merasa gerah dengan panasnya Batavia. Ia jalan-jalan ke Bogor dan terpana oleh kawasan sejuk yang mengingatkan pada tempat kelahirannya.
- A Gardener who Revived the Bogor Botanical Garden
SINCE its establishment in 1817, the Bogor Botanical Garden was envisioned as the center of scientific activity in the Dutch East Indies. This dream was realized, and even surpassed, in the 1890s. At that time, the Bogor Botanical Garden was considered one of the main centers of scientific activity in the tropics. It became an icon of Java. However, in the early days of its history, the Botanical Garden faced difficult times. In the mid-1820s, the colonial government experienced financial difficulties, partly due to the Java War, and was forced to make budget savings. This highly impacted the Botanical Garden. In Science Cultivating Practice, A History of Agricultural Science in The Netherlands and Its Colonies 1864-1986, a dissertation at Wageningen University in the Netherlands in 2001, Harro Maat noted that in August 1826, the operational financing of the Botanical Garden was cut, and the position of director was abolished. The management of the Botanical Garden was then merged with the governor-general's palace office. The Botanical Garden became just an ordinary yard near the palace.
- Kisah Tukang Kebun Istana Bogor
SEJAK didirikan pada 1817, Kebun Raya Bogor diimpikan sebagai pusat kegiatan ilmiah di Hindia Belanda. Harapan itu terwujud, bahkan terlampaui, pada 1890-an. Kala itu Kebun Raya dianggap sebagai salah satu pusat kegiatan ilmiah utama di kawasan tropis. Ia menjadi ikon Pulau Jawa. Namun sejatinya, di awal-awal perjalanan sejarahnya, Kebun Raya sempat menghadapi masa-masa sulit. Pada pertengahan 1820-an, pemerintah kolonial mengalami kesulitan finansial –salah satunya karena Perang Jawa– dan terpaksa melakukan penghematan anggaran. Hal ini berdampak pada Kebun Raya. Dalam Science Cultivating Practice, A History of Agricultural Science in The Netherlands and Its Colonies 1864-1986, disertasi di Wageningen University Belanda tahun 2001, Harro Maat mencatat, pada Agustus 1826, pembiayaan operasional Kebun Raya dipotong dan jabatan direktur dihapuskan. Pengelolaan Kebun Raya kemudian dijadikan satu dengan kantor istana gubernur jenderal. Kebun Raya pun hanya menjadi suatu pekarangan biasa di sekitar istana.
- Kudeta di Bogor
23 DESEMBER, sebuah kudeta terjadi di Bogor. Pejabat pemerintah dan militer setempat disandera. Sebuah pemerintahan baru dibentuk dan nyaris diakui pemerintah pusat. Namun, kudeta atau daulat itu hanya bertahan dua hari. Aksi itu dipimpin oleh Ki Narija. Tak banyak catatan mengenai dirinya. Menurut Edi Sudrajat dalam Bogor Masa Revolusi 1945–1950 Jilid I, sejak lama Ki Narija terkenal sebagai kiai “ahli hikmah”, yang biasa mengajarkan doa-doa tertentu (amalan-amalan) dan latihan batin agar orang berani berkelahi dan kebal bacok. Ki Narija juga dikenal sebagai “bapak rakyat” yang memiliki pengaruh di Dramaga dan Ciomas, dua daerah yang masuk wilayah Keresidenan Bogor. Pada awal kemerdekaan, dia mendirikan Laskar Hitam yang beranggotakan lebih dari 5.000 orang.
- Alkisah Harun dari Baghdad
SYAHDAN pada suatu hari, Khalifah Muhammad Al-Mahdi bin Mansur pergi haji ke Mekkah. Di tengah perjalanan, Mahdi, ditemani seorang pengawal, meninggalkan perkemahan untuk berburu kijang. Tak terasa, khalifah dan pengawalnya tersesat jauh dari perkemahannya dan kehabisan bekal. Namun beruntung mereka bertemu seorang Arab miskin. Kepada orang Arab tersebut khalifah bertanya apakah dia punya makanan. Orang itu menjawab kalau dia punya roti, mentega dan minyak zaitun. “Apakah kau mau minum anggur,” kata sang khalifah. “Mau,” kata orang itu. Sambil menyantap makanan, khalifah menuangkan anggur ke dalam gelas orang Arab tadi.
- Chris John Antara Tinju dan Wushu
MARIA Rosa Christiani, putri mantan bintang tinju Indonesia Chris John, mengikuti jejak kesuksesan ayahnya mengecap prestasi. Maria mengalungi medali emas nomor taolu kelas A (senior) di Jatim Open Wushu Championship pada Minggu (18/9/2022) lalu. Kejuaraan Jatim Open itu jadi pembuka dari rangkaian agenda Kejurnas Wushu, 16-22 September 2022. Ajang tersebut sebagai persiapan Indonesia menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Wushu Junior, 2-11 Desember 2022. Sebelumnya, putri pertama Chris John, Maria Luna Ferisha, juga menggeluti wushu. Atlet putri yang akrab disapa Fey itu tercatat pernah menyabet medali perak di nomor taichi pada Kejurnas Wushu 2019.
- Perang Kongsi Dagang
RAHASIA besar orang Portugis bocor. Jan Huygen van Linschoten, seorang pegawai berkebangsaan Belanda di maskapai dagang Portugis, menyebar informasi tentang rute pelayaran, kekuatan dan arah angin, pelabuhan, dan koloni Portugis. Semua tersua dalam dua buku Jan Huygen: Travel Journal of the Navigation by the Portuguese and Orients terbit pada 1595 dan Itenario terbit pada 1596. Buku Jan Huygen van Linchosten membuka peluang pedagang Belanda menuju Kepulauan Rempah. Selama bertahun-tahun, pedagang Belanda kalah bersaing dari pedagang Portugis dan Spanyol dalam perburuan rempah. Salah satu penyebabnya mereka kurang pengetahuan navigasi. Pelayaran awal orang Belanda menuju kepulauan rempah biasanya melalui jalur Lautan Utara. Tujuannya agar mereka tak bertemu dengan orang Portugis dan Inggris. Tapi hasil pelayaran mereka mengecewakan. Dari buku Jan Huygen, mereka sadar harus berlayar melalui rute selatan di sepanjang Afrika Selatan (Tanjung Harapan). Ini berarti mereka bakal bertemu Portugis.
- Pelarian Berdarah di Kamp Cowra
KETENANGAN malam di Kamp Tawanan Perang Cowra, New South Wales, Australia, seketika pecah saat pukul 2 dini hari 5 Agustus 1944 terdengar teriakan lantang “Banzai!”. Kegaduhannya disusul bunyi terompet yang menggiring lebih dari 1.000 tawanan serdadu Jepang yang berusaha menembus tiga lapis kawat berduri. Ketika itu mayoritas prajurit dan perwira Batalyon Garnisun ke-22 Angkatan Darat (AD) Australia sedang tertidur pulas. Hanya menyisakan beberapa gelintir prajurit yang piket jaga malam. Di antaranya Prajurit Dua (Prada) Benjamin Gower Hardy dan Prada Ralph Jones di salah satu pos penjagaan. “Sekitar pukul dua dini hari, sejumlah tawanan perang Jepang berlarian menuju gerbang kamp. Lalu terdengar pula bunyi terompet militer Jepang. Massa tawanan yang meneriakkan ‘Banzai!’ merangsek ke sisi utara, barat, dan selatan menembus pagar kawat berduri dengan bantuan selimut,” tulis jurnalis perang cum sejarawan militer Gavin Long dalam The Final Campaigns.
- Ki Padmasusastra, Sang Penyelamat Sastra Jawa
NAMA Ki Padmasusastra memang kurang populer dalam jagat sastra. Padahal, perannya bukan “kaleng-kaleng”. Tanpa sumbangsihnya, bisa jadi sastra Jawa hanya tinggal sejarah. Sastra Jawa sudah ada sejak masa Jawa Kuno, sekitar tahun 700 Masehi, ketika periode animisme dan dinamisme. Eksistensinya berlanjut pada saat Islam menyebar sekitar abad ke-15, yang sekaligus menandai dimulainya periode Sastra Jawa Baru. Ketika Mataram terpecah oleh Perjanjian Giyanti, perkembangan sastra Jawa surut. Produksi karya-karya sastra dilakukan hanya dengan menerjemahkan kitab-kitab sastra Jawa Kuno ke bahasa Jawa baru. Tiga tokoh yang berpengaruh pada periode ini adalah Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita.
- Kamerad Semaoen Muhibah ke Soviet
GEDUNG kantor Sarekat Islam (SI) cabang Semarang hari itu, 23 Mei 1920, ramai oleh kehadiran para pemimpin dan kader-kader –“faksi” Eropa maupun bumiputera– Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV). Mereka menggelar kongres ketujuh. Salah satu agenda utamanya adalah mengubah nama organisasi dan salah seorang yang paling semangat untuknya adalah Semaoen. ISDV sempat mengalami perpecahan antara kubu kanan dan kubu kiri. Kubu kanan pada akhirnya mendeklarasikan Indische Sociaal-Democratische Partij (ISDP), langsung bernaung di bawah Sociaal-Democratische Arbeidspartij (SDAP) di negeri Belanda. “Nama tersebut tidak hanya sangat mirip dengan nama organisasi sosialis revolusioner, tapi juga sangat tidak mungkin membedakan keduanya dalam bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia tersebut tidak mengenal bunyi ‘v’, tetapi hanya ‘p’. Para anggota ISDV dipermalukan dengan dirujuknya nama moderat ini,” tulis Ruth Thomas McVey dalam The Rise of Indonesian Communism.




















