top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10071 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sikap PKI Atas Papua

    WAJAH D.N Aidit, Ketua Central Comite (CC) PKI nongol di televisi Uni Soviet. Saat itu, dia diwawancarai oleh Georgi Afrin, eks koresponden TASS (Kantor Berita Uni Soviet) di Jakarta. Kepada Afrin, Aidit menerangkan tugas-tugas pokok PKI yang sedang digencarkan. “Mempersatukan dan memobilisasi rakyat Indonesia guna membebaskan wilayah negerinya yang masih dijajah oleh kaum kolonialis Belanda, yaitu Irian Barat,” kata Aidit kepada Afrin, dikutip Harian Rakjat, 24 Oktober 1961. Wawancara itu terjadi di sela Kongres ke-12 Partai Komunis Uni Soviet. Aidit hadir sebagai ketua delegasi PKI. Momentum itu memantik perhatian dunia, khususnya bagi negara-negara berideologi kiri. Pernyataan Aidit jadi agenda partai komunis sedunia guna memperjuangkan antikolonialisme dan penghapusan feodalisme.

  • Romusha dan Revolusi Indonesia di Singapura

    KAPAL Belanda S.S. Tjisedane yang mengangkut 807 eks romusha mendekat pelabuhan Tanjung Priok. Di atas kapal, Kriamadja, lelaki asal Purbalingga (Jawa Tengah) berusia 34 tahun, bercerita bagaimana ia bisa terlantar di Singapura. Pada 1942, Kriamadja menerima pesan dari lurah untuk segera melapor kepadanya. Tak ada alasan yang diberikan sama sekali. Setelah melapor, dia tidak diizinkan pulang. Keesokan harinya, dia diangkut ke Singapura oleh Jepang. Empat hari setelah tiba di sana, dia dikirim ke Siam dan dipekerjakan di Jalur Kereta Api Maut, jalur rel sepanjang sekitar 415 km yang menghubungkan Ban Pong (Thailand) dan Thanbyuzayat (Burma/Myanmar). Selama Perang Dunia II, militer Jepang memobilisasi jutaan rakyat di Jawa untuk dijadikan romusha. Ribuan di antaranya dikirim ke berbagai kawasan di Asia Tenggara melalui Singapura, kota pelabuhan utama di Selat Malaka sekaligus pusat imperialisme Jepang dan Inggris di Asia Tenggara —untuk kemudian disebar ke Malaysia, Thailand, hingga Burma. Mereka dipaksa membangun infrastruktur militer seperti pangkalan, lapangan udara, benteng, dan jalur kereta api demi kepentingan perang Jepang. Para romusha ditempatkan dalam kondisi yang tidak manusiawi. Menghadapi jam kerja yang ekstrem, siksaan fisik, kelaparan, dan wabah penyakit.

  • Azab Pemburu Cut Meutia

    TEUKU Raja Sabi sedang memancing ditemani seorang pengawal pada suatu hari. Si pengawal berdiri tidak jauh di dekatnya. Teuku ditemani pengawal karena ibunya, Cut Meutia, sedang tidak bisa menemaninya. Waktu itu, Cut Meutia baru sebulan menjanda setelah kematian Pang Nangroe, ayah tiri Raja Sabi. Ini adalah kedua kalinya Cut Meutia menjanda karena tentara Belanda. Di tengah keasyikan memancing tadi, Teuku Raja dan pengawalnya dikejutkan sebuah suara. Suara itu bukan panggilan orangtua yang menyuruh anaknya pulang, tapi suara peringatan bahaya. “'Kaphé datang!” bunyi peringatan yang diteriakkan dari sebuah pos jaga orang-orang Aceh untuk menandakan tentara Belanda mendekati mereka. Tak lama kemudian, suara tembakan terdengar. Raja Sabi langsung dipeluk pengawalnya lalu dibawa pergi lebih jauh ke dalam hutan menghindari bahaya. Sementara, sang ibu Cut Meutia terbunuh dalam perlawanannya.

  • Gaya PKI Memikat Rakyat

    SEBELUM menjadi partai terlarang, PKI mengusung citra sebagai partai rakyat. Penabalan ini bukan bualan belaka. Di berbagai daerah, PKI cekatan menangkap kegelisahan masyarakat. Program partai berlambang palu arit ini secara umum ditujukan untuk meninggikan harkat hidup wong cilik. Mulai dari upah kerja yang layak, pembagian tanah, jaminan kesehatan, pendidikan, hingga rekreasi. “Meski kebijakannya sentralistik, pendekatan PKI di daerah amat disesuaikan dengan kondisi masyarakat,” kata pengamat politik Arbi Sanit, yang menulis buku Badai Revolusi: Sketsa Politik Kekuatan PKI di Jawa Tengah & Jawa Timur, kepada Historia.ID. Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang jadi basis utama, PKI tampil penuh totalitas. Biaya besar tidak segan digelontorkan untuk mendanai kegiatan. Dengan garis komando terpadu mulai dari Central Comite (CC) hingga tingkat resort (desa), program PKI tidak kesulitan peminat.

  • Nasib Getir Anak-anak Palestina

    SEIRING genosida terus terjadi di Palestina, anak-anak tak luput dari kekejian zionis Israel. Di Jalur Gaza, puluhan ribu anak meregang nyawa akibat pembataian dan di Tepi Barat ribuan anak mendekam di penjara dengan kondisi memilukan. Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese, melihatnya buah dari sistem apartheid Israel yang didasarkan superioritas ras. Hal itu juga jadi bagian dari “propaganda” bahwa Israel adalah negara paling demokratis di Timur Tengah. “Ketika saya mendokumentasilan (laporan), pertama-tama Israel dikatakan sebagai model dari demokrasi. Di Eropa mereka mengatakan, (Israel) satu-satunya negara demokratis di Timur Tengah. Apa artinya? Itu ada sebuah model karena didasarkan pada keunggulan ras. Itu sangat terintegrasi ke dalam sistem dan apartheid ini tidak akan bertahan jika bukan karena keterlibatan banyak dari negara-negara Barat secara kasat mata,” kata Albanese dalam diskusi “Honoring Palestinian Sumud in the Midst of Genocide” yang digelar Amnesty International Indonesia di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (21/10/2026) malam.

  • Soegoro Atmoprasodjo Memperkenalkan Nasionalisme Indonesia di Papua

    MARCUS Kaisiepo, siswa Sekolah Pamong Praja di Kota Nica (sekarang Kampung Harapan di Jayapura), mendengar berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia dari radio. Dia bersama pelajar lain mendiskusikan Proklamasi itu. Silas Papare meminta Marcus memberitahu J.P.K. van Eechoud, residen Papua dan pendiri Sekolah Pamong Praja bahwa orang Papua tidak menghendaki apa pun dengan adanya Proklamasi itu. Tentu saja Van Eechoud senang karena dia lebih berupaya membangun identitas kepapuaan ketimbang turut mengikuti irama nasionalisme Indonesia. Namun, dia blunder dengan merekrut Soegoro Atmoprasodjo sebagai pengajar dan direktur asrama Sekolah Pamong Praja yang menghimpun para pemuda lokal untuk menjadi pegawai pemerintah Belanda. Beberapa di antaranya kemudian menjadi tokoh lokal terdidik dan elite pertama Papua, seperti Frans Kaisiepo, Nicolaas Jouwe, Marthen Indey, Corinus Krey, Silas Papare, Baldus Mofu, O. Manupapami, dan Herman Wajoi. “Soegoro sangat dipercaya oleh Van Eechoud dan dianggap loyal kepada Belanda sehingga diangkat menjadi direktur pertama Sekolah Pamong Praja di Hollandia,” tulis Bernarda Meteray dalam Nasionalisme Ganda Orang Papua. Namun, Soegoro memanfaatkan kedudukannya itu untuk menyemai nasionalisme Indonesia. Tindakannya menentang pemerintah Belanda membuat kecewa Van Eechoud yang selama ini telah menganggapnya sebagai anak emas.

  • Jalan Panjang Sofia

    USAI diberlakukannya Perjanjian Renville pada Januari 1948, Bandung yang ada dalam kontrol Negara Pasundan, situasinya agak tenang. Kondisi seperti itu membuat penduduknya bisa melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari, termasuk Sofia yang fokus mengelola restoran kecil milik sang mertua. Menjelang keluar dari dinas ketentaraan, Sofia sejatinya pernah dekat dengan seorang anggota FP Yogyakarta yang tengah ditugaskan di palagan Karawang-Bekasi. Namanya Wagino Dachrin Mochtar. Namun, karena Sofia belum bisa lepas dari bayangan kematian Edi dan kondisi revolusi yang serba tak menentu, hubungan itu pun tak berlanjut. “Tak ada pikiran untuk menikah lagi saat itu,” ungkap Sofia kepada jurnalis Yoyo Dasrio.

  • Serangan Udara Amerika yang Tergesa-gesa

    PADA 4 Desember 1983, ada yang tak biasa di langit Bikfaya, 15 mil timur Beirut, Lebanon pada pagi. Dari rumahnya, Joe Cherabie melihat langit lebih terang dan berisik dari biasanya. Situasi mencekam. “Langit penuh dengan asap bola api dan tembakan anti-pesawat. Saya bisa mendengar bom meledak di kejauhan,” ujarnya sebagaimana dimuat The New York Times, 5 Desember 1983. Apa yang dilihat Joe merupakan pertempuran udara antara pesawat-pesawat AL Amerika Serikat (AS) melawan senjata-senjata anti-pesawat yang ditembakkan milisi-milisi Muslim yang didukung militer Syria. Pertempuran dibuka oleh AS sebagai pembalasan atas serangan bom terhadap barak marinir AS di Bandara Internasional Beirut pada 23 Oktober 1983.

  • Sersan Mayor Bernama Sofia

    DI GARUT, Otang (88) masih ingat peristiwa itu. Sekira tahun 1947, sebuah pertunjukan drama berjudul Nantikan Aku di Seberang Jembatan Emas karya Mayor Mohamad Rivai, seorang perwira Divisi Siliwangi, telah digelar. Rakyat pun menyambut secara antusias drama yang dimainkan oleh para prajurit tersebut. Itu terbukti dengan adanya permintaan waktu pertunjukan: dari hanya dua hari menjadi empat hari. “Orang berbondong-bondong datang ke lapangan Talun (yang menjadi tempat pertunjukan itu diadakan) hanya untuk cari hiburan di tengah perang,”ungkap eks anggota lasykar BPRI (Barisan Pemberontak Rakjat Indonesia) Bandung itu. Salah satu pemain drama yang memukau dan menjadi buah bibir para penonton adalah seorang prajurit perempuan. Namanya Sersan Sofia, istri dari Kapten Edi Endang, seorang perwira di lingkungan Divisi Siliwangi wilayah Garut. Dalam pertunjukan tersebut, Sofia berperan sebagai ibu dari seorang pejuang.

  • Kuntilanak dan Pontianak

    JAUH sebelum Suzzanna dikenal karena aktingnya sebagai kuntilanak dalam film-film horornya, kota Pontianak sudah lama diidentikkan dengan kuntilanak. Pontianak bahkan dianggap sebagai nama lain dari kuntilanak. Kuntilanak adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia. Hantu semacam ini tak hanya dipercaya di Kalimantan Barat ataupun Jawa, di Thailand pun juga. Di Pontianak, kisah tentang kaitan kuntilanak dan nama kota itu dimulai oleh cerita rakyat (folklore) yang mengisahkan tentang Sultan Syarif Abdurahman bin Husin Alkadrie (1729-1807) sang pendiri Kesultanan Pontianak. Dalam cerita rakyat dikisahkan, Sultan Syarif Abdurrachman suatu ketika hendak membuka sebuah negeri di Kalimantan Barat. Ketika dia memulai pendirian daerah itu, konon pontianak (kuntilanak) datang untuk mengganggunya.

  • Mengapa PKI Berjaya?

    MENJELANG Kongres Nasional ke-VI, PKI menggiatkan program amal kepada rakyat. Wongso, buruh tani DesaTombol, Klaten, Jawa Tengah, menyambut kongres dengan antusias. Resort (organisasi tingkat desa) PKI setempat saat itu sedangmengadakan kerja bakti di desanya. “Saya ini sehidup semati dengan Palu Arit. Waktu pemilihan (1955) yang lalu, saya dengan penuh keyakinanmencoblos Palu Arit,” kata Wongso.“Pekarangan ini,” lanjutnya, “merupakan hasil perjuangan PKI. Orang-orang PKI di daerah saya adalah orang yangselalu memikirkan nasib rakyat,” ujar Wongso dilansir Harian Rakjat, 10 Agustus 1959. Hasil amal rakyat cukup membanggakan. Dari kegiatan sosial itu, Bintang Merah, Nomor Spesial Jilid I, (1960),mewartakan fasilitas umum yang telah dibangun: jalan raya, selokan, rumah, sekolah, bendungan, jembatan, kakusumum, pemakaman umum, pemberantasan hama tikus, dan kursus Pemberantasan Buta Huruf (PBH). Selain itu, ataspermintaan rakyat setempat telah dibangun berbagai fasilitas publik lainnya mulai dari balai rakyat, lapanganolahraga, hingga masjid dan gereja.

  • Jejak Reshuffle Kabinet Era Soeharto

    UNTUK kedelapan kalinya dalam jangka dua tahun menjabat, Presiden Prabowo Subianto menggunakan hak prerogatifnya dengan me-reshuffle Kabinet Merah Putih. Kamis (15/10/2026) ini, Presiden Prabowo melantik sembilan pejabat anyar di Istana Negara, Jakarta. Di antaranya Jenderal Maruli Simanjuntak sebagai wakil panglima TNI, Letjen Kristomei Sianturi menempati posisi kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Marsekal Yusuf Jauhari dan Jenderal Richard Tampubolon masing-masing menjabat wakil menteri pertahanan, dan Maulana Bungaran dilantik jadi wakil menteri imigrasi dan pemasyarakatan. Sebelumnya, tahun lalu empat kali terjadi reshuffle: 19 Februari 2025, 8 September 2025, 17 September 2025, dan 8 Oktober 2025. Empat lagi tahun ini: 27 April 2026, 14 September 2026, 1 Oktober 2026, dan 15 Oktober 2026. Salah satu akibatnya, baru Kabinet Merah Putih yang dalam dua tahun masa berkuasanya punya tiga menteri keuangan: Sri Mulyani (sampai 8 September 2025), kemudian Purbaya Yudhi Sadewa (sampai 14 September 2026), dan Suahasil Nazara yang menjabat dari 14 September 2026 hingga hari ini. “Hattrick” lain diukir Badan Gizi Nasional. Lembaga anyar yang mengurusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan bakal jadi lembaga dengan anggaran tertinggi tahun 2027 itu juga sudah punya tiga kepala. Dari Dadan Hindayana, Nanik Sudaryati Deyang (2 Juni 2026-22 Juli 2026), hingga Sudaryono.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page