Hasil pencarian
Search this site
10003 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Rasuna Said Pertanyakan Korupsi
KASUS korupsi yang melibatkan pegawai pemerintah mencuat awal 1950-an. Pembentukan kementerian khusus untuk menata birokrasi dan memberantas korupsi dianggap belum cukup. Usulan untuk memberantas korupsi pun muncul. Dari hukuman mati hingga penyitaan aset. Masalah ini menjadi keprihatinan Hajjah Rangkayo Rasuna Said, politisi perempuan asal Agam, Sumatra Barat. Pemberantasan korupsi dan pembenahan birokrasi memang menjadi salah satu program Kabinet Ali Sastroamidjojo (1 Agustus 1953-24 Juli 1955). Bahkan, demi maksud itu, pemerintah membentuk Kementerian Kesejahteraan Negara. Menurut Keterangan Pemerintah atas Program Kabinet Ali Sastroamidjojo di DPRS Jakarta (1953), Menteri Kesejahteraan Negara bersifat kontroleerend dan aktiveerend dengan tidak menggangu dan mengurangi penyelenggaraan tugas kementerian lain. Namun, bagi sebagian anggota parlemen termasuk Rasuna Said, pemberantasan korupsi tidak boleh hanya menjadi janji politik.
- Rasuna Said, Perempuan Minang yang Ditakuti Belanda
SEPERTINYA tidaklah berlebihan jika menyebut Sumatera sebagai ranah pergerakan Indonesia. Pulau terbesar ke-6 di dunia itu tercatat telah melahirkan begitu banyak tokoh pejuang. Sebut saja Mohammad Hatta, Sisingamangaraja, Agus Salim, Tan Malaka, Mohammad Natsir, Sutan Sjahrir, Cut Nyak Dien, dan masih banyak lagi. Tanah yang dihuni oleh beragam suku itu memang tidak pernah kehabisan orang-orang besar. Dari sana jugalah peristiwa-peristiwa penting tercipta. Nama Tjoet Nyak Dhien tercatat di dalam sejarah bangsa ini sebagai salah satu pejuang besar dari kalangan perempuan. Namun Cut Nyak Dien bukan satu-satunya pejuang perempuan dari Sumatera. Tersebutlah Rasuna Said, perempuan Minang yang kini namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di Jakarta. Hajjah Rangkayo Rasuna Said lahir pada 14 September 1910 di Desa Panyinggahan, Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Ia berasal dari keluarga terpandang di Maninjau. Ayahnya, Haji Muhammad Said, merupakan salah seorang tokoh pergerakan di Sumatera Barat. Haji Said juga dikenal sebagai seorang pengusaha sukses.
- Rasuna Said versus Pemerintah Hindia Belanda
SEJAK pertengahan abad ke-19 hingga permulaan abad ke-20, perlawanan rakyat Sumatera terhadap kolonialisme semakin masif dilakukan. Mereka semakin gencar menyuarakan ketidaksenangannya terhadap cara-cara para pejabat Hindia Belanda menjalankan pemerintahan. Ketidakadilan yang diperlihatkan pemerintah Hindia Belanda telah menyulut kemarahan rakyat di sepanjang Sumatera. Seperti Perang Padri di Sumatera Barat, Perang Aceh, Perlawanan di Sumatera Utara, hingga Pemberontakan Pajak. Api perjuangan pun sejak saat itu tidak pernah mampu lagi dipadamkan. Mengikuti jejak para pendahulunya, Haji Rangkyo Rasuna Said berusaha tetap menjaga gelora perlawanan di Ranah Minang. Ia sedikitpun tidak berkompromi dengan segala bentuk kolonialisme pemerintah Hindia Belanda di tanah kelahirannya itu. Meski cara-cara yang ia lakukan kerap kali membawa malapetaka kepadanya.
- Bintang Mahaputera untuk D.N. Aidit
MELALUI akun twitter-nya (10/8), Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Moh. Mahfud MD mengumumkan bahwa dalam rangka HUT ke-75 Republik Indonesia, Presiden Joko Widodo akan memberikan bintang tanda jasa kepada beberapa tokoh dalam berbagai bidang. Di antaranya Fahri Hamzah dan Fadli Zon yang akan mendapat Bintang Mahaputera Nararya. Beragam tanggapan bermunculan, di antaranya mempertanyakan apa jasa Fahri Hamzah dan Fadli Zon sehingga mendapat penghargaan Bintang Mahaputera. Terlebih, kedua politikus itu kerap melontarkan kritik kepada pemerintah. Mahfud menjelaskan bahwa pemberian Bintang Mahaputera kepada Fadli Zon dan Fahri Hamzah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Mantan ketua/wakil ketua lembaga negara, mantan menteri dan yang setingkat, mendapat bintang jasa seperti itu jika selesai tugas dalam satu periode jabatan.
- Sersan Zon Memburu Panglima Polim
SEKITAR akhir tahun 1902, sultan Aceh dan Panglima Polim sedang bersembunyi di daerah Gayo. Kala itu Aceh dan sekitarnya adalah Daerah Operasi Militer (DOM) daripada tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) yang ingin segera mengakhiri Perang Aceh (Atjeh Oorlog) nan berkepanjangan itu. Keinginan untuk segera mengakhiri itu membuat pasukan Marsose (pasukan anti-gerilya Belanda nan elit dan kejam) di bawah Pembantu Letnan Hans Christoffel sering dikerahkan ke Gayo untuk berpatroli. Selain pasukan Christoffel, pasukan dari Kapten Colijn juga diperintah berpatroli di sana. “Kapten Colijn dapat mengetahui dalam bulan Juni tempat persembunyian Panglima Polim. Maka dikejarnyalah panglima itu ke tempatnya itu,” kata L.F. van Gent dalam buku Nederland-Ambon.
- Hans Christofel Jagal dari Swiss
SEBELUM tahun 1886, Hans Christofel bukan siapa-siapa. Dia hanya pemuda dari sebuah dusun di Swiss. Sedari kecil, seperti umumnya bocah, dalam sebuah permainan Hans sangat ingin menjadi kapten dalam permainan itu. Petualangan ke dunia lain adalah gejolak masa mudanya. Setelah usianya 20 tahun, Hans pernah luntang-lantung di Jerman. Suatu hari di bulan Februari 1886, Hans berada di Hamburg dan tinggal beberapa hari di sana. Di kota itu terdapat konsulat Kerajaan Belanda. Hans menyambanginya untuk mencari peluang berpetualang ke luar Eropa. Kerajaan Belanda punya koloni jauh yang harus ditertibkannya, namanya Hindia Belanda. Daerah koloni itu bahkan sedang butuh serdadu dari Eropa juga. Hans tertarik sehingga melupakan ajakan kawan-kawannya untuk berpetualang ke Amerika.
- Semaoen Merahkan Sarekat Islam
RAPAT akbar Sarekat Islam (SI) berlangsung di taman kota Semarang pada hari minggu pertama Mei 1917. Sejak pagi, ribuan kader SI cabang Semarang datang berbondong-bondong. Mereka hendak memilih ketua umum dengan dua kandidat: Mohammad Joesoef sebagai petahana dan pemuda Semaoen, aktivis di kalangan buruh. Joesoef memulai kampanyenya dengan berceramah tentang asal-usul gerakan kebangsaan Hindia dan secara khusus gerakan SI. Dia menekankan komitmennya terhadap SI tak pernah berkurang. Namun, dia menolak dicalonkan kembali. Seorang kepala warga, yang mengatasnamakan anggota, mendesak Joesoef tetap maju. Beberapa anggota lain berpendapat untuk memilih ketua baru dan mencalonkan Semaoen sebagai kandidat. Pertemuan menjadi keributan. Sorak-sorai dan teriakan begitu keras dan memekakkan telinga. Ratusan orang menyerukan Joesoef, yang lain menyerukan Semaoen. Joesoef tetap pada pendirian menolak dicalonkan. Protes Semaoen agar Joesoef tetap menjabat sebagai ketua tak diindahkan. Namun, sebagian besar anggota tidak menyetujui Joesoef.
- Semaoen Melawan dengan Tulisan
DI usia yang sangat muda, Semaoen muncul sebagai pemimpin pergerakan dari generasi baru. Keterlibatannya dalam pergerakan tak dapat dilepaskan dari pengalamannya menyaksikan berbagai ketimpangan yang dialami rakyat kecil pada masa kolonial Belanda. Mulanya, ketika bekerja sebagai juru tulis di jawatan kereta api, Semaoen terlibat dalam aktivitas serikat buruh kereta api. Dia menjadi anggota Serikat Pekerja Kereta Api dan Trem (VSTP). Pertemuannya dengan Henk Sneevliet membuat pemuda kelahiran 1899 itu ikut ambil bagian dalam kegiatan ISDV, organisasi yang didirikan sosialis Belanda tersebut. Nama Semaoen semakin dikenal luas lewat aktivitasnya sebagai wartawan. Pada 1916, dia meninggalkan pekerjaannya di jawatan kereta api dan pindah ke Semarang untuk memusatkan perhatian sebagai propagandis. Semaoen bekerja sebagai editor Si Tetap, surat kabar berbahasa Melayu yang menjadi corong VSTP.
- Awal Mula Sikat Gigi Plastik di Indonesia
SETIAP 12 September diperingati Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional. Sementara dunia memperingatinya setiap 20 Maret. Peringatan ini sebagai gerakan untuk menyadarkan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Untuk itu harus rajin menyikat gigi. Sikat gigi dan pasta gigi mudah didapatkan. Tersedia di warung, toko, dan supermarket. Mereknya beragam; biasanya merek sikat dan pasta gigi sama. Sebut saja merek yang terkenal Pepsodent, Formula, dan Oral-B. Sikat gigi seperti sikat gigi modern pertama kali dibuat di China pada 1498. Pegangannya terbuat dari kayu atau tulang dan bulunya menggunakan bulu babi. Sikat ini juga digunakan untuk menjaga kulit putih mutiara agar tetap berkilau dan sehat.
- Peristiwa Tanjung Priok: Darah Pun Mengalir di Utara Jakarta
ZULKARNAIN masih ingat peristiwa berdarah pada 12 September 1984. Sebagai anak umur sembilan tahun, dirinya merasa aneh dan takut ketika kawasan Jalan Yos Soedarso dipenuhi truk-truk tentara dan mobil-mobil pemadam kebakaran malam itu. Bau anyir darah serasa menusuk hidung bersanding dengan bunyi teriakan para serdadu dan polisi mengusir orang-orang untuk menghindari kawasan tersebut. “Kebetulan saya dan bapak habis beli sepatu dan lewat daerah itu ketika mau pulang ke Cilincing,” ujar lelaki berdarah Sumbawa itu. Nasib Zulkarnain dan bapaknya tentu saja jauh lebih bagus dibanding Wasjan bin Sukarna (saat kejadian berlangsung berumur 32 tahun). Pengemudi mesin pengangkut barang di Pelabuhan Tanjung Priok itu tengah menunggu angkutan umum untuk pulang kala dia melihat munculnya keruman massa yang tengah berlari. Seiring kemunculan mereka, tetiba terdengar rentetan senjata.
- Sisi Lain Der Kaiser Franz Beckenbauer
FRANZ Beckenbauer menyandang julukan Der Kaiser alias “Sang Kaisar” yang diberikan fans dan media bukan tanpa alasan. Di pentas sepakbola dunia, Beckenbauer jadi sosok pertama yang memenangi trofi Piala Dunia sebagai pemain tim nasional (timnas) dan pelatih. Oleh karenanya, banyak yang merasa kehilangan saat tersiar kabar duka Beckenbauer mangkat di usia 78 tahun pada Minggu (7/1/2024). Sebelum tutup usia, Beckenbauer bergelut dengan masalah kesehatan jantungnya. Ia sempat menjalani operasi jantung dan operasi penggantian pinggul. “Dengan kesedihan mendalam kami menginformasikan bahwa suami saya dan ayah kami Franz Beckenbauer beristirahat dalam damai kemarin hari Minggu, ditemani keluarganya. Kami mengharapkan masa duka yang tenang dan tanpa banyak pertanyaan,” bunyi pernyataan keluarga kepada Deutsche Presse-Agentur, dikutip Eurosport, Senin (8/1/2024).
- Di Radio, Aku Dengar...
DIDI Sumarsidi tampak asyik dengan radio Philips seri Kompas di ruang tamu rumahnya di kawasan Sayidan, Yogyakarta. Dia mendengarkan siaran berita berbahasa Inggris yang dipancarkan stasiun radio Malaysia sembari sesekali menyeruput teh hangat. Dia lalu putar tuning. Terdengar suara kresek-kresek sebelum akhirnya mengudara suara penyiar membawakan berita berbahasa Mandarin. Didi menyimak siaran itu. Saban hari Didi bermain-main dengan radio kuno. Biasanya sore atau malam hari. Di ruang tamu atau ruang tengah. “Buat orang seusia saya, ini namanya bernostalgia,” ujar Didi Sumarsidi, berusia 64 tahun, yang menjabat ketua komunitas pecinta radio kuno Padmaditya. Philips seri Kompas adalah satu dari dua koleksi radio kesayangannya. Satu lagi radio Philips seri Gatotkaca yang dilengkapi gramofon untuk menyetel piringan hitam. “Kondisinya prima. Suaranya bagus. Ini yang paling sering saya nyalakan,” katanya. “Keduanya produksi tahun 1950.”





















