Hasil pencarian
Search this site
9981 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bung Hatta dan Refleksi Sebelas Bulan Usia Indonesia
SEMENTARA kini pemerintah dan rakyat Indonesia merayakan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan RI sekali dalam setahun setiap tanggal 17 Agustus, maka tidak demikian di tahun pertama eksistensi Indonesia. Peringatan HUT kemerdekaan RI dilakukan beberapa kali di masa antara 17 Agustus 1945–17 Agustus 1946 itu, baik di level nasional maupun lokal. Salah satu yang menarik adalah peringatan HUT ke-11 bulan RI pada 17 Juli 1946. Sebelas bulan bukan waktu yang singkat untuk sebuah negara baru yang kelahirannya ditentang bahkan hendak dihentikan oleh bekas penjajahnya dengan berbagai macam cara. Ini adalah momentum krusial sebelum memasuki periode yang penting secara psikologis sebulan berikutnya, yakni peringatan HUT ke-1 RI. Tanggal 17 Juli 1946 itu saat yang penting untuk merenungkan pencapaian yang telah diraih berikut kegagalannya dalam sebelas bulan terakhir, serta memperkuat sentimen kebangsaan dan memompa semangat juang rakyat agar Indonesia sampai pada satu tahun eksistensinya. Yang juga vital adalah menegaskan pada dunia bahwa RI masih ada, kendati Belanda dan Inggris mengklaim punya otoritas di Indonesia. Tepat sekali bila refleksi sebelas bulan eksistensi RI dilakukan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta. Lahir dari keluarga muslim taat di Minangkabau, menempuh pendidikan di Batavia dan Negeri Belanda, hingga akhirnya ambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan selama dua dekade dengan segala untung perasaiannya, Hatta memiliki visi kebangsaan yang dilandasi kepedulian sosial, ilmu pengetahuan dan semangat kosmopolitanisme. Satu hal lagi yang kentara dari Hatta, ia sangat optimis dengan masa depan Indonesia kendati negara baru itu masih tertatih-tatih bahkan untuk mendapatkan pengakuan dari dunia.
- Kabar Angin Tan Malaka di Palestina
SORE 25 Agustus 1945 itu, seorang asisten rumah tangga di kediaman Ahmad Subardjo di Cikini, Jakarta menginformasikan kepada sang tuan bahwa ada seorang tamu. Dari perawakannya, Subardjo sepintas mengira itu bekas kawannya semasa di Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda, Iskaq Tjokroadisoerjo. Tapi ternyata bukan. Yang datang Tan Malaka. “Wah, kau Tan Malaka,” seru Subardjo menyambut sang tamu, sebagaimana dikisahkan Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. Subardjo tak asing dengan Tan. Ia pertamakali bertemu dan mengenal Tan saat kuliah dan aktif di PI semasa di Belanda. Dalam pertemuan di rumah Subardjo tadi, Tan mengakui dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara, Jilid 3: Terbuang di Rumah Sendiri, bahwa Subardjo yang pertamakali menyebut nama aslinya. Sebab, bertahun-tahun Tan memakai banyak nama samaran.
- Cerita Sebongkah Ubin di Museum Multatuli
DERETAN buku tentang kisah hidup dan karya Eduard Douwes Dekker alias Multatuli tertata rapi dalam kotak kaca di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Banten. Di antara buku-buku berbahasa Belanda itu terselip sebongkah ubin berwarna abu-abu. Benda berbentuk segi enam tersebut diambil dari bekas rumah Asisten Residen Lebak yang pernah menjadi tempat tinggal Douwes Dekker ketika bertugas di Rangkasbitung pada abad ke-19. “Ubin itu sesungguhnya sepasang. Saya menemukannya di area bekas rumah Multatuli ketika mengambil rekaman video di Lebak tahun 1987. Saat kembali ke Belanda, saya bawa serta ubin itu dan disimpan di sana. Tidak ada yang tahu kalau ubin tersebut berasal dari bekas kediaman Multatuli,” kata Arjan Onderdenwijngaard, penulis buku Lebak Kota Multatuli, dalam pemutaran film serta peluncuran dan diskusi bukunya di Erasmus Huis, Jakarta, Kamis (13/8/2026) malam. Dua ubin itu berwarna abu-abu tua dan abu-abu muda. Arjan menemukan ubin itu dekat kontainer sampah puing-puing bangunan. Tak hanya mengambil ubin, dia juga membawa serta bingkai ubinnya. Setelah menyimpan ubin itu kurang lebih 25 tahun, Arjan menghibahkannya ke Multatuli Huis di Belanda.
- Tentara Melarat
BAGI Kolonel Pnb. (Purn.) Pramono Adam, seberapa pun beratnya tugas yang diemban, ia mesti dijalankan dan diselesaikan. “Kita senang aja,” ujarnya kepada Historia.ID. Tanggungjawab itu selalu menjadi prinsipnya selama menjadi perwira Angkatan Udara, termasuk ketika dia di-BKO ke Kodam Mulawarman dalam rangka Dwikora, 1963-1965. Dia, kala itu berpangkat letnan, mesti bolak-balik menerbangkan helikopter angkut sedang Mi-4 melintasi hutan “perawan” Kalimantan tanpa dilengkapi flight guidance, peralatan navigasi dan komunikasi. Justru dari penugasan di “kegelapan” itu dia banyak belajar. “Kita memperhatikan sifat hutan, ada yang berbunga begini, ada tanah longsor, ada macam. Itulah alat bagi kami navigasi. Nggak ada yang nunjukan pada kita. Jadi mengikuti jejak di darat. Istilahnya dead reckoning,” sambung lelaki berusia 83 tahun yang biasa disapa Pram itu.
- Ngeri-ngeri Sedap di Long Bawang
INGATANNYA masih sangat kuat ketika mengenang pengalamannya di pedalaman Kalimantan. Di teras rumahnya, Komplek Perumahan Lanud Atang Senjaya, Semplak, Bogor, Kolonel (Purn.) Pramono Adam masih menggebu kala berbagi segudang kisah penugasannya bolak-balik mengantar Pangdam IX/Mulawarman Brigjen Soemitro dari markasnya di Balikpapan hingga Long Bawang di perbatasan RI-Malaysia era konfrontasi (1963-1965). Ia kala itu masih berpangkat letnan penerbang dari Wing Operasi 004 Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang di-BKO-kan di Kodam IX/Mulawarman. Sejak 1963, AURI menempatkan beberapa helikopter angkut dari Wing Operasi 004 yang berbasis di Lanud Atang Sendjaja (ATS), termasuk heli angkut berat Mil Mi-6 dan heli angkut medium Mil Mi-4, untuk menyokong mobile udara. Dengan heli Mi-4 itulah Pram, sapaan karib Pramono, kerap mengantar Soemitro untuk menginspeksi perbatasan medio Maret-April 1965. “Kalau lewat jalur darat (Soemitro) enggak sampai-sampai. Pernah beliau ngomong, ‘kita bersyukur (ada heli). Saya sudah dua bulan enggak sampai-sampai, akhirnya pulang lagi.’ Kalau ada banjir dia harus menunggu, pernah menunggunya sampai sebulan sampai airnya asat,” kata Pram kepada Historia.ID.
- Bukan Bawang Putih Biasa
BAWANG putih (Allium sativum) sudah dimanfaatkan sejak ribuan tahun silam. Tidak hanya sebagai bumbu masak, tapi juga obat mujarab. Sebagai makanan, menurut Jethro Kloss dalam Back to Eden, bawang putih telah lama tertulis dalam berbagai catatan sejarah. Dia memperkirakan bawang putih berasal dari Asia Tengah, kemudian dibudidayakan di banyak negara, dan juga tumbuh di Italia dan Eropa Selatan. Sementara itu, menurut Trina Clikner dalam A Miscellany of Garlic: From Paying Off Pyramids and Scaring Away, bawang putih sudah digunakan sebagai obat herbal di berbagai belahan dunia sejak 3000 tahun SM. Menurut Iyam Siti Syamsiah dan Tajudin dalam Khasiat dan Manfaat Bawang Putih, Hipocrates mengungkapkan bahwa pada zaman Babilonia dan Yunani, bawang putih biasa digunakan sebagai obat perangsang (prespiran) untuk menyembuhkan sembelit dan pelancar air seni. Dengan alasan kesehatan, para prajurit Yunani dan Roma pun juga gemar mengkonsumsinya.
- Diculik Kelompok Anti Rock and Roll
JUS Soema Di Pradja masih ingat kemana harus meminjam flm saat malam minggu tiba. “Saya pergi ke rumah Tante Iet, pinjam film untuk ditonton rame-rame,” kata Jus. Toh meminjamkan film bukan perkara sulit bagi Maria. Dia Ketua Panitia Sensor Film. Setiap film yang akan diputar di bioskop lewat tangannya terlebih dahulu. Bukan hanya Jus yang punya kenangan nonton gratis berkat Maria Ullfah. Abbi Djajadiningrat, kemenakan Maria, pun punya pengalaman sama. “Dulu saya suka diajak nonton ke Studio 5 yang gedungnya dulu di antara Jalan Sunda dengan Jalan Agus Salim,” ujar Abbi. Maria menjabat Ketua Panitia Sensor Film sejak 1950 sampai 1961. Film di saat itu adalah hiburan bergengsi bagi sebagian kalangan. Beberapa agen perusahaan flm asing pun berkantor di Indonesia, salah satunya dan yang paling terkenal adalah American Motion Picture Association in Indonesia (AMPAI). Bill Palmer, direktur perusahaan itu kenal Maria dan dekat dengan kalangan PSI.
- Tajir Melintir Sultan Langkat
KETIKA Istana Kesultanan Langkat dijarah dalam peristiwa revolusi sosial, banyak harta benda kesultanan ludes digondol para begundal. Konon, sejumlah pentolan laskar yang menyerbu istana menggasak tiga kaleng sigaret cap “555” berisi penuh berlian sebesar kemiri. Setelah mendapatkan harta rampasan itu, mereka tak kembali ke pasukannya. Ada yang kabur ke Penang, Malaya, dan Jawa. Kesultanan Langkat tersohor sebagai kesultanan Melayu terkaya di pantai timur Sumatra. Puncak kejayaannya berlangsung pada masa Sultan Abdul Aziz Jalil Rahmad Shah yang memerintah antara 1893–1927. Di bawah Sultan Abdul Azis, Kesultanan Langkat mencapai kemakmuran sekaligus pusat pendidikan agama Islam di Sumatra Utara. Sejarawan Universitas Negeri Medan, Ichwan Azhari menyebut Sultan Abdul Aziz berperan dalam menguatkan hubungan politik Kesultanan Langkat, mendirikan perguruan Jam’iyah Mahmudiyah’, membangun Masjid Azizi, membuka sekolah umum, memberikan beasiswa keluar negeri untuk rakyat, memberikan fasilitas kesehatan gratis dan pembangunan rumah sakit.
- Sharon Stone dalam Bayang-bayang Simbol Seks
FOUNDATION memang bisa sedikit menutupi kerut-kerut di wajahnya. Namun, tulang pipinya yang begitu menonjol menunjukkan usianya sudah tak lagi muda, 62 tahun. Begitulah Sharon Stone kini, yang masih tetap cantik dan ceria. Lama menghilang dari dunia entertainment, Sharon masih dilekati citra sebagai simbol seks. Itu diakuinya ketika berbincang secara daring di program “Mola Living Live” yang dipandu aktor Reza Rahadian dan sineas Rayya Makarim di Mola TV, Sabtu, 7 November 2020. Sharon tak kuasa menghindari citra tersebut meski sekarang tampak kurang nyaman dengannya. Itu diperlihatkannya ketika menjawab pertanyaan Rayya, bagaimana sulitnya mendapat peran lain yang tidak mendefinisikan dia sebagai simbol seks dan berapa lama imej itu mengikuti kariernya.
- Sengkarut Drama Emma dalam Empat Musim
AIR muka Nona Emma Woodhouse (diperankan Anya Taylor-Joy) begitu tenang pada suatu hari di musim gugur. Ia duduk dengan tubuh tegap sempurna di kursi terdepan sebuah gereja di Highbury, Inggris, di sisi ayahnya, Tuan Henry Woodhouse (Bill Nighy). Namun, batinnya tengah dirundung mendung. Pasalnya, pengasuhnya sedari kecil, Nona Taylor (Gemma Whelan), akan menjalani pemberkatan pernikahan di altar gereja dengan Tuan Weston (Rupert Graves). Untung kesedihan Emma yang ditinggal Nona Taylor tak berlangsung lama. Di musim yang sama, gadis jelita, pintar, dan kaya itu mendapat teman sekaligus pengasuh baru, Nona Harriet Smith (Mia Goth). Kepada Harrietlah Emma berbagi kesah dan keceriaan tentang kehidupan sosial dan asmara kalangan elit lingkungannya karena ibunya sudah meninggal sejak Emma masih kecil.
- Konsekuensi dari Kesimpulan Tim Peneliti Belanda
AKHIR tahun 2021 tim riset Belanda tentang sejarah kekerasan yang terjadi pada masa revolusi Indonesia telah menyelesaikan tugasnya. Tim yang beranggotakan para sejarawan profesional dari empat lembaga riset di Belanda itu menghasilkan 14 buku. Buku-buku itu baru saja dirilis dan minggu ini tim peneliti mengumumkan kesimpulan penelitian itu dalam sebuah siaran pers. Penelitian yang mengundang kontroversi di dalam masyarakat dan akademisi di Belanda maupun di Indonesia ini menyimpulkan bahwa selama periode revolusi kemerdekaan, yang dalam perspektif Belanda disebut sebagai periode “Bersiap” itu, telah terjadi kekerasan masif yang dilakukan oleh militer Belanda terhadap rakyat sipil Indonesia. Di lain pihak kekerasan juga dialami oleh kelompok masyarakat Belanda khususnya Indo-Eropa, etnis Tionghoa, dan elite Indonesia yang dianggap pro-Belanda. Sebenarnya tidak ada hal yang baru yang dihasilkan dari riset ini karena kesimpulan serupa sudah dikemukakan oleh para sejarawan yang telah melakukan penelitian tentang topik yang sama sebelumnya. Sekalipun demikian, kesimpulan tim Belanda ini memiliki implikasi yang berbeda karena penelitian ini merupakan state-sponsorship dan mengatasnamakan negara. Sementara itu penelitian-penelitian sebelumnya lebih bersifat individual.
- Kisah Djokosujono dan Simatupang yang Terpisah
SEHARUSNYA Shodancho Djokosujono berada di Madiun. Sebab, ia bagian dari Daidan (Batalyon) tentara sukarela Pembela Tanah Air (Peta) di Madiun, daerah asalnya. Namun, pada 14 Agustus 1945 Djokosujono malah berada di Jakarta. Ia tinggal di rumah Sukarni di Jalan Fort de Kock (kini Jalan Minangkabau). Tiga hari kemudian, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Djokosujono, kata T.B. Simatupang dalam Laporan Dari Banaran, adalah tipe pemuda yang sekitar tahun 1930 telah tertarik oleh pidato-pidato dan kursus-kursus dari Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan pemimpin gerakan-gerakan nasional lain, kemudian ia menjadi kader gerakan nasional itu. Simatupang menganggap Djokosujono telah menjadikan sebagian yang dipelajarinya dari Marxisme dan lain-lain sebagai dogma. Simatupang mengakui rasa setiakawan Djokosujono cukup tinggi. Sebagai pejuang, musuh Djokosujono tentu saja Belanda yang ingin berkuasa lagi di Indonesia. Selain Belanda, kaum borjuis kapitalis, golongan ningrat dan priayi juga termasuk daftar musuh yang harus dienyahkan dalam kemerdekaan.





















