Hasil pencarian
Cari di situs ini
10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Cara Sinshe Melawan Flu Spanyol
PANDEMI Covid-19 belum berakhir. Keberadaannya masih mengancam hidup warga dunia. Tercatat sudah lebih dari 100 juta orang terjangkit, dengan angka kematian mencapai dua juta jiwa, di seluruh dunia. Indonesia sendiri menempati urutan teratas negara dengan kasus positif terbesar di Asia Tenggara. Dalam sehari, lonjakan kasus di negara kepulauan ini bisa mencapai ribuan kasus, yang tersebar di seluruh wilayah. Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah dalam mencegah kenaikan kasus Covid-19 di Tanah Air. Mulai dari pemberlakuan jam malam, pembatasan kegiatan, anjuran untuk tetap tinggal di rumah, hingga edukasi tentang pentingnya penggunaan masker. Terbaru, pemerintah telah menyiapkan vaksin, yang rencananya akan diberikan kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Vaksin produksi Sinovac tersebut telah melalui uji klinis, dan memperoleh izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta fatwa halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Presiden RI Joko Widodo menjadi orang pertama yang menerima vaksin itu. Diberitakan laman Presiden Republik Indonesia, presiden bersama sejumlah penerima awal vaksin lainnya menerima suntikan dosis vaksin Covid-19 di Istana Merdeka, Jakarta (13/01/2021).
- Hoax Masa Pandemi Flu Spanyol
PADA 1918, flu spanyol mewabah di kota-kota besar di Jawa. Sebanyak 1,5 juta jiwa menjadi korban keganasan virus asal daratan Eropa tersebut. Lambatnya respon pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi gelombang awal pandemi Flu Spanyol menjadi sebab jumlah korban begitu tinggi. Pemerintah saat itu hampir tidak memiliki strategi pencegahan awal. Mereka bahkan menganggap enteng virus itu dengan menyamakannya dengan flu biasa. Setelah mendapati angka kematian yang semakin tinggi, pemerintah mulai bergerak menangani penyebaran virus. Berbagai upaya pun mereka lakukan. Langkah awal adalah dengan membentuk Influenza Commissie pada 16 November 1918. Komisi ini bertugas menginvestigasi akar penyebaran dan gejala flu spanyol. Kebijakan yang dihasilkan di antaranya imbauan untuk mengenakan masker hingga pendistribusian obat anti-influenza. Selain pemerintah, masyarakat juga berusaha sekuat tenaga mencari jalan terbaik untuk menanggulangi wabah. Mereka bahkan rela melakukan segala cara agar terbebas dari penyakit tersebut, mulai dari metode medik sampai cara klenik. Cara terakhir itu lazim dilakukan kalangan bumiputera dan Tionghoa.
- Cara Bumiputera Menghalau Flu Spanyol
KEBINGUNGAN melanda masyarakat ketika Flu Spanyol berkecamuk di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Hampir setiap hari mereka menyaksikan orang-orang di sekitarnya terpapar virus jenis influenza tersebut. Hal itu tentu mendatangkan gelombang kepanikan di masyarakat, utamanya kalangan bumiputra dan Tionghoa yang memiliki akses kesehatan terbatas. Ditambah lagi tidak sigapnya pemerintah kolonial dalam merespons persebaran penyakit membuat keresahan semakin meluas. Menurut sejarawan Ravando Lie dalam Dialog Sejarah “Riwayat Pandemi dari Masa ke Masa” yang disiarkan di Youtube Historia.ID, Kamis, 24 September 2020, sikap pemerintah kolonial yang menganggap enteng virus Flu Spanyol menjadi penyebab angka kematian begitu tinggi di Hindia Belanda. Demi mencegah korban semakin banyak, kalangan bumiputra dan Tionghoa melakukan upaya pencegahan penyakit dengan segala cara yang mereka yakini sendiri. Meski dalam prakteknya, seperti disebutkan Arie Rukmantara, dkk dalam Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda, tersiar kabar tidak masuk akal yang juga ikut meresahkan.
- Kain Kafan, Peti Mati dan Flu Spanyol
PANDEMI Flu Spanyol pada 1918 masih tercatat sebagai salah satu bencana kesehatan terburuk di masa Hindia Belanda. Angka kematian akibat virus asal Eropa itu diperkirakan mencapai 1,5 juta jiwa, bahkan lebih. Hampir setiap hari pemerintah Hindia Belanda, juga media massa melaporkan adanya korban jiwa akibat penyakit itu. Tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tapi juga seluruh daerah di Hindia Belanda. Tingginya angka kematian tersebut berbanding lurus dengan maraknya permintaan untuk mengurusi jenazah. Berbagai surat kabar memberitakan bahwa banyak tempat pemakaman yang mendadak penuh. Mereka juga kekurangan tukang gali untuk menguburkan jenazah. Akibatnya ada begitu banyak jenazah korban Flu Spanyol tidak bisa langsung dimakamkan. Bahkan para perempuan harus turun langsung menggotong dan menguburkan jenazah anggota kelarganya. Masa-masa itu ditandai dengan kelangkaan kain kafan. Orang-orang mulai berebut membeli kain kafan. Menurut Arie Rukmantara, dkk dalam Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda, akibat keadaan yang tidak terkendali itu, para pedagang kain kafan terpaksa menutup tokonya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka sampai enggan berjualan karena takut kepada para pembeli yang bersikap kasar saat membeli kain kafan di tokonya.
- Setan Influenza Menyerang Hindia Belanda
SAAT ini, Indonesia sedang menghadapi gelombang kedua pandemi Covid-19. Kondisi tersebut ditandai dengan munculnya berbagai virus baru, meningkatnya jumlah orang yang terkena virus Corona, serta adanya angka kematian yang masih tinggi. Indonesia pun tercatat sebagai negara dengan kasus harian tertinggi di Asia Tenggara. Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan puncak gelombang pertama kasus Covid-19 di Indonesia terjadi pada Januari 2021 dengan kasus mingguan menyentuh angka 89.902 kasus. Sementara pada pekan terakhir bulan Juni 2021 angkanya jauh lebih tinggi, mencapai 125.396 kasus. “Hal ini menandakan second wave atau gelombang kedua kenaikan kasus Covid di Indonesia,” ujar Wiku, sebagaimana dilansir laman Tempo. Dalam sejarah, kasus serupa juga pernah terjadi di Indonesia pada permulaan abad ke-20. Kala itu, Hindia-Belanda harus menghadapi dua gelombang penyebaran virus Flu Spanyol yang merenggut nyawa lebih dari satu juta jiwa. Gelombang pertama terjadi antara bulan Juli hingga September 1918. Sedangkan gelombang kedua berlangsung antar November hingga Desember 1918. Di beberapa wilayah bahkan masih mewabah sampai pertengahan 1919.
- Flu dan Penyakit Menular Zaman Kuno
PADA zaman dahulu kala sepasukan suku tengah dalam misi pengepungan di kampung suku lawannya. Mereka telah siap menyerang sampai suatu ketika dari dalam sebuah rumah di kampung itu terdengar suara bersin yang sangat kencang. Pasukan yang akan menyerang kampung itu pun terkejut. Mereka lari ketakutan. Misi penyerangan itu pun batal seketika. Begitulah Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang bercerita. Ia mengingat pernah mendengarnya sewaktu kecil. Katanya, cerita yang tak jelas asal usul dan kebenarannya itu sempat berkembang seperti cerita rakyat. “Saya justru mendengar itu dari almarhum kakek di Jawa. Padahal kisah semacam ini bisa dipahami kalau terjadi di Kalimantan misalnya, ini kan perang antarsuku atau kampung,” kata Dwi kepada Historia.ID.
- Singa Itu Bernama Kasman Singodimedjo
BANYAK pemimpin pergerakan memiliki sikap tegas. Namun jika sikap itu dikaitkan dengan nama, mungkin baru Kasman Singodimejo saja yang memilikinya. Singodimejo sendiri berarti “singa di meja”. Ada begitu banyak anekdot tentang Kasman yang membuktikan betapa sikap berani memang melekat pada dirinya. Dalam biografinya, Hidup itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun, ada sejumlah kawan yang mengisahkan pengalamannya menyaksikan langsung singa dalam diri Kasman terbangun. Umumnya terjadi karena keadaan memaksa Kasman bertindak keras. Satu kisah diceritakan oleh Mohammad Natsir. Suatu waktu, Kasman bertandang ke Ternate. Seusai menyampaikan pidato, ia sesegera mungkin harus menyeberangi laut menuju Bitung, Sulawesi Utara. Ada acara penting yang mesti dihadiri. Namun, begitu sampai di pinggir laut, cuaca mulai berubah, ombak pun semakin meninggi. Dari pengalaman para nelayan di sana, sangat tidak mungkin untuk melaut saat kondisi demikian. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan kapan ia dapat memulai perjalanan lautnya itu.
- Buku Terbuka Bernama Kasman Singodimedjo
PRESIDEN Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh pada Kamis, 8 November 2018. Salah satu tokoh tersebut bernama Kasman Singodimedjo. Pemerintah menilai Kasman telah berjasa dan berkorban demi kepentingan bangsa dan negara. Kasman lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 25 Februari 1904. Dia anak pertama dari tujuh bersaudara. Tiga meninggal sejak kecil, empat mampu bertahan hidup hingga dewasa. Ayahnya berlatar belakang pegawai negeri dan sempat berdinas di Bali serta Lampung Tengah, lalu memutuskan hidup sebagai modin desa (petugas agama). Ibu Kasman seorang perempuan desa biasa dan buta huruf latin. Kasman pernah memperoleh pendidikan dasar di sekolah Kristen swasta di Batavia bersama seorang adik perempuannya. Adiknya lebih dulu masuk ke sana dan berada di tingkat ketiga, sedangkan Kasman masih berada di tingkat pertama. Kasman mengikuti ujian khusus untuk berada di tingkat yang sama dengan adiknya. Dia melewati ujian itu, tetapi tetap merasa malu.
- Buku Harian yang Hilang
DARI sebuah lemari, Thea Susetia Kusumo mengambil sebuah buku tebal bersampul coklat muda. Buku itu diperlihatkan kepada Historia.ID kala bertamu ke kediaman sederhanya di Perumahan Dosen Universitas Negeri Surabaya. Di atas meja kayu tua bertaplak putih sederhana motif renda kembang, buku yang sampulnya mulai lapuk itu diletakkan Thea. Di sampul buku itu tertulis: Gatoet Koesoemohadi’s Dagboek: 12-06-1947 – 20-07-1948. Bersama beberapa foto, buku harian milik suami Thea, Gatut Kusumo Hadi, itu salah satu warisan suami paling berharga. Keseharian Gatut di masa revolusi fisik diabadikan dalam buku itu.
- Repotnya Membawa Buku Bung Hatta
SELAMA sembilan bulan Mohammad Hatta meringkuk di Penjara Glodok. Dia menjadi pesakitan karena tulisan-tulisannya dalam majalah Daulat Ra’jat yang menyulut propaganda Indonesia merdeka. Tidak cukup di Penjara Glodok, pemerintah Hindia Belanda kemudian berniat mengasingkan Hatta ke Boven Digul, Papua. Hatta sendiri tidak peduli di manapun raganya berada. Yang bikin Hatta gundah adalah bagaimana cara membawa buku-bukunya ikut dalam pengasingan. Karena dengan buku, Hatta merasa bebas. Pikirannya bisa tetap sehat dengan melahap berbagai buku pengetahuan. Begitulah kiranya Hatta punya kecintaan terhadap literasi. Masalahnya, buku Hatta itu banyak sekali. “Dalam peti buku yang berukuran ¼ meter kubik satu, jumlahnya 16 buah. Jadi semuanya 4 m3. Mengepak semua buku itu akan memakan waktu paling sedikit 3 hari,” ujar Hatta dalam Memoir.
- Rak Buku dalam Kepala Bung Karno
SEJAK bersekolah di Hogere Burger School Surabaya dan mondok di rumah HOS Tjokroaminoto, Bung Karno mulai gemar membaca. Ia banyak mengoleksi buku terutama yang terkait pemikiran-pemikiran besar dunia. Buku adalah salah satu harta karun yang ditinggalkan Bung Karno ketika lengser dan harus meninggalkan istana. Bung Karno menata sendiri buku-bukunya di Istana Negara. Ia juga hafal di mana sebuah buku ia letakkan. Padahal, sekira 20 ribu buku dikoleksi Bung Karno di Istana Negara. Menurut Megawati Sukarnoputri dalam Pembukaan Pameran Daring & Dialog Sejarah “Bung Karno dan Buku-Bukunya” di kanal Youtube Historia.ID, Selasa, 24 November 2020, Bung Karno memiliki photographic memory (ingatan visual) yang kuat terutama pada buku-buku koleksinya.
- Buku dan Perjalanan Intelektual Sukarno
KENDATI sebagai anak bangsawan rendahan masih mendapatkan diskriminasi, Sukarno tetap beruntung karena sejak kecil berkesempatan mendapat pendidikan formal. Hal ini berperan penting dalam perkembangan intelektualnya. Dari sekolah pula Sukarno mulai mendapat akses terhadap buku. Sosok Sukarno tentu tidak semata dibentuk oleh pendidikan dan buku. Pengalaman pribadi, pertemuan dengan berbagai ide, pengalaman organisasi, serta situasi politik lokal maupun global juga ikut membentuknya. Namun, buku menjadi teman baik dalam petualangan intelektualitasnya. Menurut Rhoma Dwi Aria Yuliatri dalam pembukaan Pameran dan Dialog Sejarah “Bung Karno dan Buku-bukunya ” di Facebook dan Youtube Historia.ID, Selasa, 24 November 2020, di luar perpustakaan sekolah, Sukarno juga mendapat bacaan dari perpustakaan teosofi di mana ayahnya bergabung. Dengan meminjam kartu anggota ayahnya, ia bebas membaca buku apa saja.





















