top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Wayang Wahyu Melakonkan Kisah Injil

    SUATU malam, Oktober 1957, M.M. Atmowiyono, guru di Sekolah Guru Bantu II Surakarta, mementaskan wayang di gedung Himpunan Budaya Surakarta. Dia melakonkan Dawud Mendapat Wahyu Keraton, yang diambil dari Perjanjian Lama. Seorang penonton, Bruder Timotheus L. Wignjosoebroto FIC, kepala SD Pangudi Luhur Purbayan Surakarta, tergerak untuk menjadikan wayang sebagai sarana menyampaikan wahyu atau firman Tuhan. Dia mendiskusikannya dengan banyak orang, termasuk Atmowiyono. Timotheus membentuk tim untuk merumuskan bentuk wayang wahyu, yang kemudian dilukis oleh Roosradi, kepala inspeksi pendidikan jasmani Kota Sala.

  • Wayang Penerang

    KEMERDEKAAN dipertahankan tidak hanya oleh pejuang dengan senapan tapi juga oleh seniman. Mereka menggunakan karya seni –lukis, sastra, teater, dan musik– sebagai media perjuangan. Beragam karya seni pun lahir selama masa revolusi yang mengekspresian perjuangan melawan Belanda. Kesenian yang paling merakyat sehingga efektif untuk menyampaikan pesan perjuangan adalah wayang. Oleh karena itu, Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) dalam Kongres Pemuda II pada 8–9 Juni 1946 di Yogyakarta, memutuskan akan ambil bagian dalam penerangan kepada rakyat yang sebagian besar masih buta huruf. Tujuannya agar rakyat mengerti akan perjuangan kemerdekaan. “Salah satu sarana penerangan yang akan dipakai ialah wayang modern (karton) yang pada waktu itu disebut Wayang Merdeka,” tulis Tashadi, dkk. dalam Partisipasi Seniman dalam Perjuangan Kemerdekaan di Jawa Timur.

  • Gan Kam, Tionghoa Penyelamat Wayang Orang Jawa

    ALUNAN gending karawitan terdengar merdu dari sebuah gedung di Jalan Kebangkitan Nasional, Solo. Di dalam gedung itu, sekelompok pemain wayang orang Sriwedari tampil dengan berbagai lakon. Meskipun kembang kempis di tengah arus globalisasi, Wayang Orang Sriwedari pernah menjadi kelompok wayang orang komersial yang amat populer. Wayang wong (wayang orang) telah lama ada di Solo. Menurut KPH Kusumadilaga, “penciptanya” ialah Kadipaten Mangkunegaran. “Mangkunegaran I (1755-1795) menciptakan pertunjukan wayang wong dengan cerita wayang purwa,” tulis KPH Kusumadilaga dalam Serat Sastramiruda yang terbit sekitar tahun 1850. Perkembangan wayang orang di sana merosot akibat Kadipaten Mangkunegaran mengalami defisit keuangan. Pementasan wayang orang tidak lagi dilakukan karena dianggap pemborosan. Para abdi dalem, yang terdiri dari abdi dalem langenpraja (kesenian) dan abdi dalem wayang wong, diberhentikan.

  • Wayang Potehi Terawat di Gudo

    BUNYI gembreng, salah satu alat musik Tionghoa, bersahutan dengan instrumen musik Tionghoa lain. Sabtu, 21 Januari 2023 itu, Mall Ciputra Jakarta menghelat acara perayaan Imlek di lantai dasarnya. Para pengunjung antusias berkumpul menyaksikan pertunjukan itu. Orang-orang dewasa mengabadikan momen tersebut dengan ponsel pintar. Anak-anak terlihat kagum mengamati boneka wayang dengan ukuran kecil bergerak-gerak. Mereka sedang menyaksikan pertunjukan wayang potehi dengan judul cerita (lakon) Sie Kong Hwa Tong. Pertunjukan tersebut dibawakan oleh sanggar wayang potehi Fu He An, Jombang, Jawa Timur.

  • Orang Eropa Asli Berkulit Gelap

    KEINGINTAHUAN yang besar akan asal usul manusia Eropa, telah mejadi alasan kuat Bryan Clifford Sykes untuk memperdalam ilmu genetika manusia. Profesor di Oxford University, Inggris, ini memiliki peran yang amat penting dalam mengungkap gambaran nenek moyang bangsa Eropa yang sejatinya berkulit gelap. Amat jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Dalam bukunya, The Seven Daughters of Eve: The Science That Reveals Our Genetic Ancestry, Bryan menjabarkan penelitiannya tentang Cheddar Man, sosok manusia modern permulaan yang hidup di Inggris. Manusia dari 10.000 tahun lalu inilah yang mewariskan gennya kepada 10 persen populasi masyarakat Eropa sekarang. “Tidak mudah melihat sosok yang hanya menyisakan tulang-belulangnya saja. Tetapi saya mulai dapat membayangkan struktur tubuh dan kulitnya dari konstuksi tengkorak yang ada ini,” tulis Bryan.

  • Menguliti Muasal Pertunjukan Wayang Kulit

    GUNUNGAN muncul menari-nari dalam layar. Pertanda pagelaran akan dimulai. Gamelan gaya baru mengiringi. Para sinden bernyanyi dalam bahasa Indonesia. Begitupula sang narator yang bagaikan dalang membuka kisah pewayangan. Munculah Kertanegara, raja terakhir Singhasari dalam layar. Dalam wujud wayang, ia bermakutha dan mengenakan praba. Suara-suara terdengar tengah merapal mantra. Di belakang Kertanegara tergambar stupa. Ini penggambaran Kertanegara sedang melakukan ritual dalam ajaran Buddha Tantrayana. Seketika langit serupa merah darah. Pasukan Jaran Goyang dari Kadiri menggempur Singhasari, membakar, dan membunuh yang dilewatinya.

  • Si Kulit Bundar di Arab Saudi

    KEJUTAN besar dalam sejarah Piala Dunia tercipta pada hari ketiga Piala Dunia 2022 di Qatar. Di laga perdana Grup C, Argentina sebagai salah satu tim favorit juara mesti menelan pil getir. Di Lusail Iconic Stadium, Selasa (22/11/2022) siang waktu setempat, Argentina kalah 1-2 dari Arab Saudi yang dianggap kontestan penggembira semata. Dalam pertandingan yang dipimpin wasit Slavko Vinčić asal Slovenia itu, “Tim Tango” (julukan Timnas Argentina) unggul lebih dulu lewat penalti sang “megabintang” Lionel Messi saat laga baru bergulir 10 menit. Tetapi tiga menit usai babak kedua dimainkan, striker Saudi Saleh al-Shehri sukses menyamakan skor, 1-1, usai lepas dari penjagaan bek Argentina Cristian Romero. Lantas kala Messi cs. berupaya mencari keunggulan lagi, mereka justru kecolongan di menit ke-53. Kapten kedua “Tim Elang Hijau” (sebutan Timnas Saudi) Salem al-Dawsari melepaskan tembakan spekulatif ke sudut gawang Argentina yang dikawal Emiliano Martínez.

  • Mula Dokter Masuk Bisnis Kecantikan

    MELIHAT kulit temannya halus, Helen Kristin Dewi Siregar menanyakan temannya cara merawat kulit. Dia kemudian ikut-ikutan merawat kulit di klinik kecantikan. “Awalnya rutin sebulan dua kali, facial atau peeling. Kalau sudah enam bulan nggak perlu. Pakai krim saja, tapi tiap dua bulan kontrol, “ kata Helen. Melakukan perawatan kulit di klinik kecantikan sudah dilakukan Helen sejak akhir 2016. Ketika kulitnya sedang berjerawat¸ Helen menjalani perawatan laser. Perawatan ini ditangani langsung oleh dokter kulit di klinik langganan Helen di Kemanggisan, Jakarta Barat. Apa yang Helen lakukan tak dilakukan oleh orang-orang di tahun 1950-an. Kala itu klinik kecantikan belum ada. Pilihan untuk merawat kulit terbatas pada ramuan tradisional, produk-produk kosmetik, dan salon kecantikan.

  • Masalah Kulit Sepanjang Masa

    KALA remaja, Retno Iswari Tranggono pernah mengalami jerawatan. Dia mengobatinya menggunakan beras. Sebelum digunakan, beras itu terlebih dulu direndam semalaman. Setelah lunak, beras itu dia remas hingga menjadi tepung. Tepung itu lalu dicampur bunga melati, disaring, dan dibentuk bulat. “Kalau mau dipakai, ambil bedaknya satu buah, dikasih air, terus dipakai,” kata Retno sebagaimana ditulis Jean Couteau dalam The Entrepreneur Behind the Science of Beauty. Tahun 1950-an itu obat jerawat belum banyak beredar. Kalaupun ada, obat itu tidak ampuh. Untuk menghilangkan jerawat, Retno sampai menjadi vegetarian lima tahun. Tapi kedua cara tadi rupanya tak manjur. Jerawat terus tumbuh di wajah Retno hingga dia masuk kuliah di FK UI tahun 1958. Dia bahkan dijuluki “Janda Bopeng” oleh Asih Wiyasti, putri Perdana Menteri Wilopo yang merupakan seniornya di kampus.

  • Dokter Kulit Dokter Kere?

    SYARIEF WASITAATMADJA, pakar kesehatan kulit, tak pernah lupa profesi dokter kulit hampir tak dikenal masyarakat sampai menjelang tahun 1980-an. “Dulu orang-orang inginnya ahli bedah, ahli penyakit dalam, dokter anak, dan ahli kebidanan. Yang favorit empat ini,” ujarnya kepada Historia. Ketidakpopuleran itu disebabkan oleh fokus objek penanganan. Dokter-dokter spesialis kulit yang ada ketika awal Indonesia merdeka kebanyakan mendalami penyakit kulit kronis. Profesi itu dekat dengan penyakit kulit semacam kusta, sifilis, dan herpes. Dokter JB Sitanala, salah seorang pendiri Palang Merah Indonesia (PMI), misalnya, mendalami penyakit kusta. Dokter Kodiat lain lagi, dia fokus pada penyakit frambusia. Ketika Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoksi) –dulu bernama Persatuan Ahli Dermato-Venereologica Indonesia– didirikan tahun 1965, jumlah anggotanya hanya 42 orang. Buntut dari ketidakpopuleran itu, profesi dokter kulit menjadi profesi yang kering alias minim mendatangkan keuntungan materi. Bahkan menurut Retno Iswari Tranggono dalam biografinya yang ditulis Jean Couteau, The Entrepreneur Behind The Science of Beauty, sebutan lain dokter kulit adalah dokter kere.

  • Riwayat Tubagus Angke

    SETELAH Fatahillah atau Pangeran Jayakarta I tiada, kekuasaannya dilanjutkan oleh Tubagus Angke. Tubagus dikenal sebagai gelar bangsawan Kesultanan Banten. Nama tersebut telah lama menjadi bagian dari lanskap Jakarta. Di sekitar kawasan Angke, terdapat Jalan Tubagus Angke –dahulunya bernama Bacherachtsgracht– yang merujuk kepada nama Sang Pangeran Jayakarta II. Kawasan Angke memiliki sejarah yang panjang. Setelah peristiwa pembantaian Tionghoa oleh VOC pada 1740, masyarakat Hokkian menyebut Kali Angke sebagai angke yang berarti “kali merah” atau “kali berdarah”. Hal ini merujuk pada banyaknya korban dalam peristiwa tersebut. Namun, nama Kali Angke telah dikenal jauh sebelum tragedi itu. Pada 22 Desember 1619, ketika Sultan Banten mengerahkan sekitar 4.000 prajurit menyusuri Kali Angke (Rivier van Angkee) menuju Jayakarta untuk menyerang loji Inggris, nama sungai tersebut telah digunakan.

  • Kisah Adjie dan Prajuritnya

    DI kalangan prajurit-prajurit Siliwangi, nama Mayor Jenderal TNI Ibrahim Adjie adalah legenda. Selain sosoknya yang kharismatik, eks panglima Komando Daerah Militer III Siliwangi (1960-1966) itu juga dikenal sebagai seorang jenderal yang egaliter dan dekat dengan para anak buahnya. Begitu dekatnya, hingga Adjie tak segan-segan turun langsung ke lapangan bahkan ke palagan sekalipun. “Waktu Operasi Pagar Betis pada awal 1960-an, ayah saya tak jarang menyertai langsung para prajurit yang tengah menghadapi gerilyawan Darul Islam pimpinan Kartosoewirjo di hutan-hutan Jawa Barat,” ujar Kiki Adjie kepada Historia. Menurut salah satu putra dari Ibrahim Adjie tersebut, kendati seorang panglima, Ibrahim tak pernah berlaku sok berwibawa. Alih-alih jaim, ia justru sangat berbaur dan berusaha “tak berjarak” dengan para prajuritnya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page