top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Partai Pohon Kelapa

    SIAPA tak kenal Sutomo alias Bung Tomo? Dia dikenang dengan aksi heroiknya dalam Pertempuran Surabaya, 10 November 1945. Setelah Indonesia merdeka, dia tertarik mendirikan partai politik. Maka, pada 20 Mei 1950, berdirilah Partai Rakyat Indonesia (PRI). Kantor pusatnya di Jalan Gondangdia Lama 18 Jakarta. Menurut Sulistina Soetomo, istri Bung Tomo, PRI adalah perubahan wajah dari Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), yang didirikan dan dipimpin Bung Tomo selama masa revolusi. “Inilah satu-satunya partai di saat itu yang berlandaskan Pancasila. Lambangnya adalah pohon kelapa,” ujarnya dalam Bung Tomo Suamiku. Sejarawan AB Lapian menyebut, PRI didirikan karena adanya pertentangan di antara berbagai kepercayaan agama, aliran golongan, dan gejala-gejala lain yang membahayakan keselamatan rakyat dan negara.

  • Hikayat Pohon Hujan

    DI halaman tengah kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, terdapat pohon trembesi tua yang rimbun dan konon angker. Padahal tanaman ini punya sebutan lain yang puitis: pohon hujan. Kisah pohon ini bisa ditarik ke masa ratusan tahun lalu ketika bangunan istana menjadi pusat pemerintahan sekaligus kediaman resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Tak diketahui kapan dan siapa yang menanam pohon itu di sana. Yang pasti, keberadaan pohon trembesi itu mempercantik halaman Istana. Tak heran jika area di sekitarnya kerap dipakai untuk beragam acara. Koran De Nieuwsgier edisi 18 Agustus 1952 mencatat kesuksesan pesta penutup perayaan 17 Agustus di Istana. Ini tak lain, “berkat sejumlah penampilan luar biasa di panggung yang telah disiapkan di bawah pohon hujan besar di taman istana –latar belakang yang menyenangkan bagi para penari Bali dan Jawa, penijak Minangkabau, penyanyi Batak, dan pemain seruling Sangihe yang menghibur para tamu, yang berjumlah sekitar 2.000 orang.”

  • Jalan Panjang Menghapuskan Perbudakan

    5 JULI 1781, kapal Ann berlayar lamban ke utara dari Port Morant, kota pelabuhan yang panas penghasil rum dan pisang di pantai tenggara Jamaika. Di atas kapal, seorang bayi lahir dari pasangan Benjamin Raffles dan Ann Lyde. Bayi itu diberi nama Thomas Stamford Bingley Raffles pada upacara pembaptisan di atas kapal. Benjamin Raffles, ayah Raffles, adalah kapten kapal Ann milik Hibberts & Co. of Glasgow, perusahaan perdagangan budak di Glasgow, Inggris. Kapal Ann adalah bagian dari konvoi 200 kapal yang sedang dalam perjalanan ke Inggris dan Amerika Utara setelah singgah di Karibia, pusat perdagangan budak yang menguntungkan. Stamford Raffles, yang lahir di atas kapal budak, kemudian justru jadi orang yang getol memperjuangkan penghapusan perbudakan. Dan ia berusaha merealisasikannya ketika berkuasa di Jawa.

  • Denting Alunan Gamelan Raffles

    DENTING gamelan mengalun dari kediaman Letnan Gubernur Hindia Belanda Sir Thomas Stamford Raffles di kawasan Buitenzorg (Bogor). Gamelan itu dimainkan sepuluh pribumi, dari siang hingga pukul sepuluh malam. William Buller Fagg dalam The Raffles Gamelan: A Historical Note, menduga gamelan itu milik penguasa salah satu kerajaan di Jawa. Anggapan Fagg dipertegas John Bastin dalam “The Java Journal of Dr Joseph Arnold,” JMBRAS Vol. 46 No.1, 1973, bahwa kedua gamelan itu milik keraton Yogyakarta yang dijarah sebagai rampasan perang oleh pasukan Inggris di bawah Mayjen Robert Rollo Gillespie pada 20 Juni 1812. Penjarahan itu dimuat suratkabar pemerintah Inggris di Hindia Belanda, Java Government Gazette, 4 Juli 1812. Raffles kemudian membeli gamelan itu lewat sebuah agen. Joseph Arnold, pendamping risetnya saat menemukan bunga Rafflesia arnoldii, menaksir harga seperangkat gamelan kala itu berkisar 1.000-1.600 dollar Spanyol.

  • Raffles dan Dua Abad The History of Java

    THOMAS Stamford Raffles adalah pengingat yang jempolan. Dia tekun mendengarkan cerita-cerita dari beberapa kolega seperti Bupati Yogyakarta, Tan Jin Sing, dan Bupati Semarang Surohadimenggolo, tentang tempat-tempat eksotis di Jawa. Bukan itu saja, dia pun rajin mengumpulkan tulisan-tulisan terdahulu mengenai segala hal yang berhubungan dengan Jawa, terutama dari sisi budayanya. Dari situ, dia pun doyan jalan-jalan. Maka tak heran, setahun setelah purnatugas di Hindia Belanda, dia menerbitkan karya besarnya, The History of Java pada 1817. Buku itu dibaca banyak orang Eropa dan mengundang hasrat beberapa pelancong untuk berkunjung ke Jawa. Beberapa lokasi eksotis yang pernah dicatat dalam The History of Java, hari ini pun menjadi destinasi pariwisata yang ramai. “Menurut saya, Raffles sebagai orang yang mengeksploitasi daerah-daerah yang kini menjadi tujuan pariwisata. Dalam pandangan pariwisata sekarang, Raffles disebut perintis. Dia memperkenalkan daerah-daerah yang menarik untuk dikunjungi. The History of Java menjadi rujukan penjelajah yang datang ke Hindia Belanda seperti Ida Laura Reyer Pfeiffer dari Austria. Raffles lebih menyukai daerah-daerah, jika memakai kacamata pariwisata hari ini, adalah wisata budaya. Dia menulis banyak mengenai candi-candi,” terang Ahmad Sunjayadi, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dalam diskusi “Raffles dan Kita: 200th The History of Java” di Balai Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) Jalan Veteran, Jakarta Pusat, 6 Maret 2017.

  • Candi Singhasari dalam Catatan Thomas Stamford Raffles

    EMPAT arca Candi Singhasari yakni Durga, Mahakala, Nandishvara, dan Ganesha, termasuk dalam benda-benda bersejarah dari Indonesia yang dikembalikan oleh Belanda. Tak hanya proses pengembalian yang menjadi perhatian masyarakat, sejarah mengenai Candi Singhasari serta perjalanan arca-arca tersebut sampai di negeri Belanda juga menjadi sorotan. Nicolaus Engelhard, pejabat administrasi kolonial Belanda yang tertarik terhadap benda-benda antik, disebut sebagai orang pertama yang mengunjungi Candi Singhasari pada awal abad ke-19. Ia juga memerintahkan pemindahan sejumlah arca dari candi tersebut ke kediamannya di Semarang. Enam arca peninggalan kerajaan Singhasari itu kemudian dikirimkan secara berkala ke Belanda pada 1819 dan 1827. Eksplorasi Candi Singhasari tak hanya dilakukan Engelhard. Beberapa tahun setelah kunjungannya ke kompleks candi tersebut, Thomas Stamford Raffles juga menyelidiki situs ini pada 1815. Dalam bukunya The History of Java, Raffles menulis bahwa situs ini berdiri tidak jauh dari pintu masuk hutan jati, yang jaraknya sekitar empat mil dari Lawang dan berada di sebelah kanan jalan raya menuju Malang. Kondisi candi, yang kemudian dikenal dengan nama candi menara, pada awal abad ke-19 menarik perhatian sang letnan gubernur jenderal.

  • Batik dalam Catatan Thomas Stamford Raffles

    HARI Batik Nasional diperingati setiap 2 Oktober. Tanggal ini diambil dari penetapan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan budaya tak benda oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) pada 2 Oktober 2009. Sebelumnya, pada 4 September 2008 batik telah masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia, yang ditetapkan oleh badan PBB bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan itu. Mengutip laman Kemdikbud, batik dianggap memenuhi tiga dari lima domain berdasarkan Konvensi Internasional Perlindungan Warisan Budaya Takbenda Manusia tahun 2003. Tiga poin itu di antaranya tradisi dan ekspresi lisan, kebiasaan sosial dan adat istiadat masyarakat, ritus dan perayaan-perayaan, serta kemahiran kerajinan tradisional. Setelah dilakukan pengujian tertutup di Paris pada 11–14 Mei 2009, melalui sidang Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage UNESCO, batik resmi menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia ketiga setelah keris dan wayang. Keindahan batik turut menarik perhatian Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Inggris di Jawa (menjabat 1811–1816). Pria kelahiran Jamaika, 6 Juli 1781 itu dikenal memiliki ketertarikan dan rasa ingin tahu yang besar terhadap keadaan penduduk, adat istiadat, geografi hingga keanekaragaman flora dan fauna di wilayah koloni. Oleh karena itu, selama bertugas di Jawa, ia menulis catatan yang kemudian dibukukan berjudul The History of Java.

  • Mula Adu Penalti

    MITOS Jerman jagonya adu penalti rupanya hanya bertahan setengah abad. Kemarin, cap jago penalti itu luntur kala Jerman gugur oleh Paraguay lewat adu penalti di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Sebelumnya, Jerman selalu jadi momok di berbagai turnamen seperti Piala Eropa dan Piala Dunia jika sudah urusan adu penalti. Terakhir kali Jerman menangis dalam adu penalti terjadi 50 tahun lalu di final Piala Eropa 1976, tempat bintang legendaris Cekoslovakia Antonín Panenka pertamakali memperkenalkan “Tendangan Panenka”. Anggapan bahwa adu penalti hanya bergantung pada keberuntungan, tidak berlaku buat Jerman. Tim berjuluk Der Panzer itu punya antitesisnya yang bernama mentalitas. Jerman hampir selalu memberi pengalaman pahit buat Inggris jika berurusan dengan adu penalti. Di Piala Dunia 1990, The Three Lions tersingkir lewat adu penalti (3-4) di semifinal. Pun mimpi Inggris merebut mahkota Eropa saat jadi tuan rumah Piala Eropa 1996, juga buyar usai kalah adu penalti (5-6) di semifinal.

  • Dua Musim Cinta Maria

    SITI Soendari, sahabat kental Maria sejak muda, tak pernah bisa memahami bagaimana perasaan Maria terhadap pria. Dalam soal hubungannya dengan pria, Maria lebih suka memendam dalam-dalam perasaannya. Berbeda dengan Soendari yang kerap mengharu biru dalam urusan cinta, Maria lebih banyak memfokuskan perhatian pada studinya. “Tak pernah saya melihat dia menangis, tak pernah kita tukar-menukar kisah-kisah pengalaman pribadi, sebagaimana layaknya antara dua pemudi yang begitu akrab pergaulannya,” ungkap Soendari kepada Gadis Rasid mengenai Maria. Seperti diakuinya kepada Gadis Rasid, selama kuliah di negeri Belanda, Maria merasa belum siap untuk menangani masalah-masalah cinta. “Maka sekembalinya di Indonesia perhatian pada kaum pria mulai terbuka,” tulis Gadis Rasid. Di antara sekian banyak kawan seperjuangannya dan pengagum Maria Ullfah ada tiga orang yang paling akrab dengannya dan mempunyai minat lebih dari sekadar persahabatan sesama pejuang. Mereka adalah Adnan Kapau Gani, Hindromartono, dan Santoso Wirodihardjo. Adnan Kapau Gani, kata Maria, “Seorang pemuda ganteng, yang pernah jadi bintang film, adalah orang yang paling flamboyan.” Kepada Gadis Rasid, Maria melanjutkan gambarannya tentang Gani, “Tingkah lakunya agak ugal-ugalan, dan sikapnya terus terang, tanpa basa-basi.” Dia begitu yakin akan berhasil merebut hati Maria, sehingga pada suatu hari dia datang ke Kuningan untuk berlebaran dengan keluarga Bupati Mohammad Achmad. Secara halus Maria menjelaskan tentang perasaannya yang biasa saja kepada Gani. Pada zaman revolusi, Gani menjabat sebagai Gubernur Militer Sumatra Selatan, Menteri Ekonomi Kabinet Sjahrir III, dan Wakil Perdana Menteri Kabinet Amir Sjarifuddin.

  • Pameran Surat-surat Pribadi Pendiri Bangsa

    PUTRI proklamator Bung Hatta, Meutia Hatta, mengatakan bahwa sebelum meninggal ayahnya sempat menulis dua surat wasiat. Satu surat ditujukan kepada keluarganya, berisi permintaan agar dia tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. “Saya ingin dikuburkan di kuburan rakyat biasa yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya,” kata Hatta dalam surat wasiatnya yang dibacakan Meutia ketika memberi sambutan dalam pembukaan Pameran “Surat Pendiri Bangsa” di Museum Nasional, 10 November 2018. Surat wasiat kedua ditujukan kepada Guntur Sukarnoputra, putra sulung Presiden Sukarno. Surat wasiat kedua bukan mengungkapkan hubungan pribadi kedua proklamator tapi mengenai fakta sejarah yang saat itu ditutup-tutupi oleh rezim Orde Baru bahwa Bung Karno bukan penggagas Pancasila. “Bung Karno merupakan penggali Pancasila,” kata Hatta dalam suratnya seperti ditirukan Meutia.

  • Di Sekitar Nasionalisasi Bank Sentral

    HAL-hal bersifat seremonial dan risalah-risalah di akhir perundingan panjang Konferensi Meja Bundar (KMB) sudah disinggung banyak riset dan buku. Namun perihal alotnya negosiasi di sejumlah komisi, masih sangat jarang. Terlebih di komisi yang merundingkan bidang ekonomi dan moneter. Agus Setiawan dkk. dalam buku Konferensi Meja Bundar: Jalan Menuju Terbentuknya Bank Sentral Republik Indonesia mencoba menelusuri detailnya. Saat menghadapi negosiasi KMB yang berlangsung dari 23 Agustus-2 November 1949 hingga akhirnya diratifikasi pada 27 Desember 1949 oleh delegasi Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Belanda, delegasi Indonesia yang diketuai Moh. Hatta mengikutsertakan sembilan tokoh. Mereka memiliki misi di masing-masing bidang: Mr (meester in de rechten) Mohammad Roem, Prof. Dr. Soepomo, Dr. Johannes Leimena, Mr. Ali Sastroamidjojo, Mr. Soejono Hadinoto, Mr. Abdul Karim Pringgodigdo, Dr. Moewardi, Kolonel T.B. Simatupang, dan Dr. Sumitro Djojohadikusumo.

  • Pandemi Tuntut Pemaknaan Ulang Nasionalisme

    NASIONALISME bukanlah gagasan yang statis. Sepanjang sejarah, nasionalisme mengalami berbagai perubahan dan perkembangan makna. Dari satu gagasan abstrak yang dibayang-bayangkan para tokoh pergerakan, nasionalisme kini menuntut pemaknaan baru untuk menjawab tanda-tanda zaman yaitu pandemi. Ide tentang nasionalisme Indonesia muncul pada dekade 1920-an. Kala itu, orang Indonesia mulai memiliki kesadaran sebagai sebuah bangsa. Kesamaan nasib, musuh, bahasa, dan cita-cita kemudian menumbuhkan gerakan perjuangan kemerdekaan yang bersifat nasional, bukan lagi kedaerahan. Dari gerakan-gerakan nasional itu, ide untuk bersatu dalam sebuah negara muncul. Tonggaknya, Indonesia memproklamasikan diri pada 17 Agustus 1945.

bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
bg-gray.jpg
Setelah menghancurkan Gerwani pasca peristiwa G30S 1965, rezim Orde Baru menggunakan istilah kuntilanak untuk membatasi gerakan perempuan progresif.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto berani dan suka berkelahi, yang berakibat dikeluarkan dari sekolah. Di balik sikap kerasnya, dia baik hati ibarat seharum tanjung tetapi sekeras baja.
bottom of page