top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kontestasi Narasi Historis di Balik Patung Edward Colston

    SEMENJAK patung Edward Colston di Bristol, Inggris digulingkan oleh massa Black Lives Matter pada 7 Juni 2020, perdebatan tentang patut-tidaknya seorang pedagang budak diabadikan dalam monumen kota kembali mengemuka. Kesangsian akan kedermawanan Colston di Bristol sudah muncul sejak 1920-an, namun terus diabaikan. Baru pada 1990-an ketika sejarawan University of West England Profesor Madge Dresser berbicara tentang sosok Colston dan keterlibatannya dalam perdagangan budak, perdebatan kembali memanas. “Kalau orang kulit putih melihat patung Edward Colston dengan rasa hormat, orang-orang kulit hitam di Inggris, saya menduga melihatnya sebagai masa lalu yang menyakitkan,” kata sejarawan UGM Budiawan pada Historia.

  • Lenong Menembus Lorong Zaman

    SAMBIL membawa kaleng kerupuk, Beny (diperankan Benyamin Sueb) buru-buru keluar rumah. Dia bingung. Mimin (Aminah Cendrakasih), gadis tetangga yang “bertamu”, datang sambil membawa sapu dan marah-marah. “Biar lu lelaki, gue kaga takut,” kata Mimin. “Sabar...sabar! I kan lagi latian lenong,” timpal Beny sambil senyum. “Gue kaga peduli. Lo mau jungkir balik, kek, bukan urusan gue. Lo udeh bikin brengsek begini.” “Kita kan bertetangga, udah pantesnya saling tolong-menolong. Betul nggak?” “Iye kalo tetangga bener. Ini tetangga sarap, kaga punya otak, sedeng.” Adegan pertengkaran pemuda Benny dan gadis Mimin yang bertetangga itu merupakan cuplikan film Raja Lenong (1975) yang dibintangi antara lain oleh Benyamin Sueb, Aminah Cendrakasih, Hamid Arif, dan Wolly Sutinah (Mak Wok). Film besutan Syamsul Fuad itu mengisahkan kehidupan Beny yang berprofesi sebagai pemain lenong kerap harus menelan pahit-getir kehidupan lantaran pandangan miring masyarakat terhadap profesi itu.

  • Evie Poetiray dan Dukungan Kemerdekaan Indonesia di Belanda

    RIBUAN orang berkumpul di Market Hall Amsterdam, Belanda pada 2 Februari 1946. Selain orang Indonesia, tak sedikit juga penduduk Belanda yang ambil bagian dalam aksi mendukung kemerdekaan Indonesia. Setelah kemenangan Sekutu pada Perang Dunia II, Belanda melihat peluang untuk kembali menguasai Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Hal ini tentu ditentang oleh orang-orang Indonesia yang kini memiliki hak untuk menentukan sendiri nasib bangsanya. Perlawanan terhadap Belanda tak hanya terjadi di Indonesia, orang-orang Indonesia di luar negeri juga bersuara dan melakukan aksi untuk mempertahankan kemerdekaan. Salah satunya adalah G.E. (Evie) Poetiray. Wanita kelahiran Surabaya, 3 Juli 1918 itu aktif dalam berbagai kegiatan untuk mendukung kemerdekaan Indonesia di Belanda. Menurut Jan A.B. Jongeneel dalam Ontmoeting van protestantse christenen met andere godsdiensten en geloven (1917-2017), dalam pertemuan massal yang diselenggarakan di Market Halls Amsterdam pada 1946, Evie menyampaikan pidato, di mana dia mengajukan sebuah pertanyaan penting tak hanya kepada orang-orang yang hadir di acara tersebut, tetapi juga kepada rakyat Belanda, parlemen Belanda, dan pemerintah Belanda. “Rakyat Belanda, apakah kalian bersedia untuk mengakui hak menentukan nasib sendiri rakyat Indonesia 100%?”

  • Sengketa Lama di Laut Mediterania

    SENGKETA mengenai Gibraltar antara Spanyol dan Inggris, yang pernah terjadi tiga abad lalu, kembali mencuat. Pemicunya adalah pembangunan terumbu karang buatan oleh Gibraltar –wilayah di barat laut Laut Mediterania yang jadi bagian dari Inggris– di lepas pantai dengan menggunakan puluhan blok beton pada Juni lalu. Sebagaimana dilansir bbc.co.uk (14/8), Ignacio Ibanez, direktur jenderal urusan luar negeri Spanyol, mengatakan perselisihan itu tak akan berakhir sampai terumbu karang buatan itu menghilang dari perairan Gibraltar. Pemerintah Spanyol menganggap terumbu karang buatan itu berada di kawasan konservasi yang akan akan berdampak pada ekosistem dan tangkapan ikan nelayan. Sebagai balasannya, Spanyol memperketat pengawasan perbatasannya dengan Gibraltar namun dengan dalih Gibraltar gagal mengendalikan penyelundupan. Inggris bereaksi, menganggap kebijakan Spanyol itu melanggar aturan Uni Eropa. Isu ini kemudian berubah menjadi badai internasional.

  • Satu Episode Pertempuran Laut

    PADA 2 Maret 1946, pasukan Gadjah Merah Belanda dari Brigade X dan XI mendarat di Pantai Sanur. Tidak kurang dari 150 truk dan jip dengan peralatan militer yang lengkap dan modern bergerak menuju dan menduduki Denpasar. Dari Denpasar mereka menyebar ke seluruh Bali. Tujuh dari delapan raja Bali yang tadinya menyokong Republik berpaling. Untuk merebut kembali wilayah itu, pihak Republik mengirim sepasukan anak muda dari Jawa: Pasukan M, dipimpin Kapten Markadi. Anggota pasukan itu umumnya para pelajar dari Malang. Sebagian lagi anak-anak Bali. Umur mereka rata-rata belasan tahun. Markadi, sang komandan, berusia 19 tahun. Dia kelahiran 9 April 1927. Sebelum menyeberang ke Bali, Pasukan M mendapat kursus kilat dari TRI Laut.

  • Meneliti Laut Hindia Belanda

    SEJAK masa Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC), penelitian laut sudah dilakukan, kendati terbatas pada eksplorasi rute komersial. Di masa setelahnya penelitian kelautan terus berkembang, terutama mengenai hidrografi (pemetaan laut) dan bilogi kelautan. Salah satunya melalui Ekspedisi Snellius. Pada 1925, Kapten J.L.H Luymes, hidrografer Angkatan Laut Belanda, mengusulkan kepada Perkumpulan Geografi Kerajaan Belanda (KNAG), sebuah lembaga swasta, agar melakukan ekspedisi penelitian laut dalam di bagian timur Nusantara. Tujuan utamanya untuk penelitian geologi, biologi, dan meteorologi. “Ekspedisi ini juga untuk menegaskan bahwa Hindia Belanda bukan hanya negara tropis yang paling baik pemerintahannya, namun yang terdepan secara ilmiah,” ujar Luymes, dikutip Hendrik M. van Aken, “Dutch Oceanographic Research in Indonesia in Colonial Times,” dalam jurnal Oceanography Volume 18.

  • Hikayat Sidi Mara, Bajak Laut Pantai Barat Sumatra

    SUMATRA Barat terlebih pantai barat Sumatra terus memanas pasca Belanda mematahkan perlawanan kaum Paderi tahun 1837. Teror dan kegaduhan bermunculan sehingga Belanda mengeluarkan kebijakan rust en orde untuk mengontrol ketertiban dan keamanan. Kegaduhan muncul dari orang dan kelompok yang selama ini banyak membantu kaum Paderi dalam menghadapi Belanda. Pihak kolonial melabeli mereka bajak laut dan perampok. Mereka dianggap pemicu terjadinya amuk massal dan pembakaran gudang yang dikuasai Belanda. Bajak laut yang cukup disegani adalah Sidi Mara dengan 20 orang anak buah. Namanya sering disebut dalam catatan militer Belanda pada abad 19. “Nama Sidi Mara sering disebut dalam beberapa tulisan para petinggi militer Belanda yang pernah bertugas di Minangkabau,” sebut filolog Suryadi beberapa waktu lalu.

  • Hiu Taklukkan Angkatan Laut Amerika Serikat

    Loel Dean Cox ingat betul suasana ketika kapal tempatnya bertugas, USS Indianapolis (CA-35), dihantam torpedo kapal selam Jepang pada dini hari 30 Juli 1945. “Ada air, puing, api, semuanya terlempar ke atas dan kami berada 81 kaki dari garis air,” ujarnya, sebagaimana dilansir dailymail.co.uk. Ketika pria yang waktu itu masih berusia 19 tahun tersebut langsung berlutut tak lama kemudian, torpedo kedua kembali menghantam kapal yang sedang membawa misi khusus itu. USS Indianapolis, yang berada di perjalanan antara Guam-Leyte, Filipina, langsung terbelah dua. Sinyal SOS yang dikirim USS Indianapolis ke markas Angkatan Laut Amerika Serikat sebelum kapal itu tenggelam tak mendapat respons. Angkatan Laut, yang amat ceroboh lantaran gagal mendeteksi masih aktifnya kapal selam Jepang di perairan itu dan sengaja melepas USS Indianapolis tanpa pengawalan, menganggap sinyal itu merupakan jebakan Jepang.

  • Hantu Laut Bertemu Hantu Laut

    FEBRUARI 2017, masyarakat Pulau Nongsa, Kepulauan Riau, dikejutkan oleh “kapal hantu”. Kapal tanker berbendera Malaysia yang sudah berkarat terdampar tanpa satu pun awak di dalamnya. Kapal bernama MT Pisces itu lantas diamankan petugas PLP (Penjagaan Laut dan Pantai) Tanjung Uban, lantaran posisinya membahayakan pipa gas bawah laut dan jalur pelayaran. Saat dicek petugas PLP dengan KN Rantos P210, keadaan kapal seperti ditinggalkan nakhoda dan anak buah kapal. Terdamparnya kapal itu menjadi misteri bagi masyarakat setempat. Sebagaimana misteri di lepas pantai yang sama dan dialami empat prajurit komando (prako) KKO TNI AL (kini Marinir) kala berpatroli pada masa konfrontasi dengan Malaysia tahun 1960-an.

  • Pengabdian Orang Laut

    PENGUASA Melayu pada masa lalu mendapat bantuan dari Suku Orang Laut untuk menguasai pelabuhan dan mengamankan wilayahnya. Tanpa bantuan mereka, Orang Melayu terisolir. Orang laut banyak beraktivitas dalam perdagangan. Mereka juga menjadi prajurit bagi kerajaan-kerajaan Melayu. “Dinamika perdagangan kerajaan Melayu muncul atas bantuan armada perahu Orang Laut. Pihak kerajaan akan terisolir di pantai dan pelabuhan tanpa bisa bergerak dan beraktivitas tanpa bantuan Orang Laut,” kata Didik pradjoko, pengajar departemen sejarah FIB UI.

  • Yos Sudarso dan KRI Matjan Tutul Terkubur di Laut Lepas

    BEGITU melihat gelagat akan dikepung, Kolonel Laut Sudomo memerintahkan ketiga KRI untuk putar haluan menuju arah 239 derajat dan bergerak kembali ke pangkalan. Serentak semua KRI cikar kanan. Namun, ada yang aneh dengan KRI Matjan Tutul. Alih-alih mengikuti terus gerakan kedua kapal lainnya, KRI Matjan Tutul malah memutar dengan kekuatan penuh, melewati sisi kanan KRI Matjan Kumbang dan langsung mengambil haluan 329 derajat, melaju ke arah posisi Hr.Ms. Eversten. Eversten langsung bereaksi. Dengan garang, fregat milik Belanda itu memuntahkan peluru meriam 12 cm ke posisi Matjan Tutul. Bersamaan itu dari KRI Matjan Tutul, bergema suara khas Komodor Yos Sudarso: “Kobarkan semangat pertempuran!” Jelas sudah, Yos Sudarso sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Laut RI sudah mengambil alih komando dari Kapten Wiratno, komandan KRI Matjan Tutul. Tembakan Eversten langsung menghantam meriam 40 mm Bofors yang terletak di buritan KRI Matjan Tutul. Meriam itu pun langsung tumbang. Hantaman kedua mengenai tiang radar hingga tumbang ke laut. Peluru meriam musuh ketiga mengenai dapur (tengah) sehingga kapal menjadi pecah mengeluarkan api dan asap hitam menutupi kapal dari depan sampai ke belakang. Peluruh musuh yang keempat mengenai mesin diesel (listrik) dan mematikan semua aliran listrik. Peluru musuh kelima menghancurkan anjungan dan alat komunikasi (PHB).

  • Kursk, Kisah Getir di Laut Barents

    DI PAGI yang cerah 12 Agustus 2000, ia lepas jangkar di Pangkalan Angkatan Laut (AL) Rusia Vidyayevo, Murmansk. Lambaian tangan sejumlah bocah yang kagum akan keperkasaannya melepas kepergiannya menuju Laut Barents. Tapi siapa sangka, penampakannya pagi itu sebelum menyelam akan jadi penampakan terakhir Kapal Selam Nuklir K-141 Kursk. Letnan Mikhail Averin (Matthias Schoenaerts) dengan antusias melakoni tugasnya sebagai kepala unit turbin di kompartemen tujuh di buritan. Kapal selam canggih yang baru berusia enam tahun itu bakal jadi salah satu bintang dalam latihan bersama Armada Utara Rusia untuk kali pertama dalam 10 tahun terakhir. Tetapi belum juga sepenuhnya bergabung bersama sekira 30 kapal perang Rusia lain, bencana sudah menghantui Kursk. Berulangkali dua rekan sekaligus sahabat Averin di ruang torpedo, Anton Markov (August Diehl) dan Pavel Sonin (Matthias Schweighöfer), memberi peringatan kepada Kapten Shirokov (Martin Brambach) soal masalah teknis di sistem torpedo dummy yang akan dipakai latihan, namun justru diabaikan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page