Hasil pencarian
Cari di situs ini
10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Membuat Roti, Kemampuan Dasar dalam Sejarah Manusia
MENGOLAH makanan, dalam hal ini roti, merupakan teknik mendasar dalam sejarah manusia.Ini mungkin sama tuanya dengan kemampuan berburu dan mengumpulkan makanan. Begitu menemukan berbagai biji-bijian, mereka menggilingnya menjadi tepung dan membuat roti. “Kami mengira nenek moyang kita adalah petani dulu dan tukang roti kedua,” kata Amaia Arranz-Otaegui, ahli arkeobotani dari University of Copenhagen, sebagaimana dikutip laman National Public Radio (NPR). Sebagaimana ditulis laman History, roti dalam berbagai bentuknya, merupakan makanan yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Tak hanya sumber karbohidrat yang penting, roti juga mudah dibawa. “Ini menjelaskan mengapa roti menjadi bagian integral dari makanan kita selama ribuan tahun,” tulisnya.
- Ada Trump di Sudut Ring Mike Tyson
GRAND Ballroom Plaza Hotel, New York, 11 Juli 32 tahun silam (1988) penuh sesak oleh para jurnalis olahraga dan bisnis. Keriuhan mengemuka seiring dua sosok yang dinanti naik ke podium. Para fotografer bertubi-tubi membidik dua obyek foto utama mereka: Donald Trump dan Mike Tyson. Ajang menghebohkan itu merupakan konferensi pers bahwa Trump mulai hari itu jadi penasihat keuangan petinju kelas berat yang tengah naik daun berjuluk “Leher Beton” itu. Trump bakal jadi “pekerjanya” Tyson dalam manajemen yang belum lama didirikannya, Mike Tyson Enterprise. Senyum Tyson dan Trump tak henti mengembang ketika hendak mengumumkannya. Trump, yang saat itu tengah naik daun sebagai miliuner real estate, dan anggota dewan penasihat lainnya di dalam manajemen akan membawa Tyson ke masa depan yang lebih cerah.
- Pertama Kali Manusia Memakai Narkoba
KETERGANTUNGAN manusia modern pada narkoba dan alkohol memunculkan dugaan mungkin mabuk-mabukan adalah tradisi kuno, bahkan sejak masa prasejarah. Dua hal itu bahkan mungkin mendorong tumbuhnya suatu peradaban. “Minum dapat membantu orang bersosialisasi, mengubah perspektif, mendorong kreativitas, dan kafein membuat kita produktif,” catat laman Phys. Kemungkinan lain bisa jadi zat psikoaktif dikembangkan sebagai respons terhadap penyakit peradaban. Masyarakat besar menciptakan masalah besar, seperti perang, wabah penyakit, ketidaksetaraan dalam kekayaan dan kekuasaan.
- Svante Pääbo dan Jalan Panjang Menjawab Asal-Usul Manusia
BANYAKNYA pertanyaan tentang asal-usul manusia modern yang istilah ilmiahnya Homo sapiens acap jadi perdebatan para ahli saat membicarakan evolusi manusia. Salah satu pertanyaan itu sukses dijawab pakar genetika asal Swedia, Dr. Svante Pääbo, dan timnya di Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Leipzig, Jerman. Hasil riset panjang Pääbo itu menjadi pemenang Nobel 2022 dalam bidang fisiologi dan kesehatan. Homo sapiens, menilik hipotesa “Out of Africa”, disebutkan –dengan penanggalan karbon– sudah eksis antara 300-200 ribu tahun lampau di bagian timur Benua Afrika dan kemudian menyebar ke seantero bumi lewat empat gelombang migrasi antara 30-40 ribu tahun lalu. Homo sapiens menyebar dan bertahan seiring pergantian zaman sementara manusia-manusia yang lebih dulu seperti Homo heidelbergensis, Homo erectus, Homo neanderthalensis, Homo floresiensis, dan Homo denisova perlahan punah. Riset Pääbo kemudian memberi jawaban dan pembuktian bahwa ternyata, Homosapiens tidaklah hidup sendirian seiring migrasi mereka. Homo sapiens pernah hidup berdampingan dan bahkan kawin dengan manusia Neanderthal, manusia purba yang selama ini dianggap sub-spesies manusia dan punya hubungan paling dekat dengan manusia modern.
- DNA dan Keragaman Manusia
PERNYATAAN seorang milenial yang tengah go-international, Agnes Monica alias Agnez Mo, bikin geger. Dia menyatakan tak punya darah Indonesia dalam sebuah wawancara. Kendati esensi pernyataannya tidak salah, cara penyampaian Agnes akhirnya disalahpersepsikan. Sejarawan Bonnie Triyana menyatakan, secara biologis tidak ada yang namanya gen maupun DNA orang Indonesia. Indonesia adalah konsep nation-state dari sebuah wilayah yang pernah jadi jalur perlintasan empat gelombang migrasi nenek moyang manusia dari Afrika. Secara ilmiah, gelombang migrasi itu dijabarkan dalam teori “Out of Africa”. Maka, menilik hasil dari proyek tes DNA yang digarap Historia.ID bersama Kemendikbud RI dalam Pameran Asal Usul Orang Indonesia, sebanyak 16 relawan yang dites punya sebaran asal-usul gen dan DNA yang beragam. Nah, apa itu DNA? Apa bedanya dengan genetika, ras, atau etnis?
- Menanti Manusia Jawa Kembali dari Belanda
UPAYA-upaya mengembalikan warisan Nusantara yang masih tersimpan di Belanda kembali digencarkan. Berpegang pada nota kesepahaman antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud, kini Kemendikbud Ristek) RI dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Sains Belanda pada 2017, pemerintah RI mengajukan repatriasi terhadap delapan benda bersejarah untuk dipulangkan. Pengajuannya didasarkan pada surat dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Ristek tertanggal 1 Juli 2022 kepada Menteri Muda urusan Kebudayaan dan Media (Staatsecretaries voor Cultur en Media) Gunay Uslu. Kedelapan benda yang dimaksud saat ini masih tersimpan di empat museum berbeda di Belanda: Nationaal Museum van Wereldculturen, Naturalis Museum, Museum Bronbeek, dan Rijksmusem. Gayung bersambut. Seiring kunjungan Menteri Uslu ke Magelang, Jawa Tengah pada 14-15 September 2022, pemerintah Belanda menyanggupi permintaan itu. Komite bersama terkait riset benda-bendanya pun dibentuk.
- Suami Istri Pejuang Kemanusiaan
NAMA Darmini Harsono Diran terasa asing bagi orang Indonesia. Salah satu alasannya karena wanita yang dikenal sebagai seorang internasionalis itu telah lama tinggal di Belanda. Lantas siapa Ibu Darmini? Tak banyak informasi yang dapat ditemukan mengenai latar belakang Darmini. Namun yang pasti ia merupakan sosok yang gigih dalam menyuarakan dan memperjuangkan hak-hak rakyat tertindas. Lahir di masa kolonial Belanda, semangat perjuangan seorang putri Pakubuwono ini telah muncul sejak belia. Surat kabar Belanda, Trouw, 21 Maret 2002, melaporkan pada 1940-an, Darmini turut ambil bagian dalam melawan tentara Belanda di Jawa. Bersama kawan-kawan seperjuangan, ia membantu para petani di desa-desa yang dibom untuk mengorganisir diri mereka sendiri.
- Manusia Pertama di Jawa Mungkin bukan dari Afrika
PENEMUAN fosil di Bumiayu dan Sangiran pada 2019 menggoyahkan teori manusia pertama di Jawa berasal dari Afrika. Di Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan fosil tulang Homo erectus berusia 1,8 juta tahun. Sedangkan di Sangiran, Kecamatan Sragen, Jawa Tengah, peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) menemukan fragmen tulang manusia berusia 1,7 juta tahun. Padahal, teori Out of Africa menyebut Homo erectus pertama kali keluar dari Afrika pada 1,8 juta tahun lalu.
- Kabut Asap di Masa Lalu
KEPUNGAN kabut asap yang membelenggu pulau Sumatera dan Kalimantan beberapa bulan terakhir bukanlah hal baru. Bukan dimulai 20 tahun silam. Ratusan tahun lalu, asap pekat sudah sering membumbung, pernah dicatat para pejabat kolonial dan pengelana. “Kepulan asap menjulang selama 1 atau 2 bulan sampai seluruh hutan habis dibumihanguskan,” kisah William Marsden dalam History of Sumatra yang pertama kali terbit tahun 1783. Marsden pernah bertugas sebagai pegawai sipil di East India Company (Kongsi Dagang Inggris) yang berpusat di Bengkulu pada 1771 hingga 1779. Selama itu, dia berkelana meneliti etnografi dan kebiasaan suku-suku bangsa yang ada di pulau Sumatera.
- Serba Serbi Gerhana Matahari di Padang 1901
PAGI, 9 Maret 2016, Nusantara merona ketika matahari menampakan korona di ufuk timur. Gerhana Matahari Total (GMT) terpancar di 12 daerah, tidak terkecuali Sumatera Barat. Mentawai menjadi daratan pertama yang dilintasi GMT. Pelbagai ritual dan pesta pun digelar. Kendati demikian, Mentawai atau pun Padang tidak begitu menarik bagi para astronom mengamati dan menganalisa GMT yang menyembur pagi ini, Rabu (9/3). Mereka lebih memilih wilayah Timur Indonesia. “Sepengetahuan saya nggak ada astronom ke Mentawai. Mungkin karena matahari terlalu rendah,” ujar astronom Avivah Yamani kemarin.
- Gempa Tujuh Hari Tujuh Malam
SENIN pagi, 28 Juni 1926. Padang Panjang sedang berada pada denyut paling sibuknya. Hari itu hari pekan, ketika masyarakat dari Batipuh, X Koto, Agam, hingga Tanah Datar berbondong-bondong memenuhi Pasar Serikat Padang Panjang Batipuh X Koto. Di kota berhawa sejuk yang terjepit di antara Gunung Marapi dan Singgalang itu, aktivitas niaga berlangsung seperti biasa. Pedagang menata dagangan, pembeli menawar harga, sementara percakapan dan senda gurau mengalir dari kedai-kedai kopi di sekitar pasar. Sebagai simpul jalur kereta api dan pusat perdagangan di Dataran Tinggi Padang (Padangsche Bovenlanden), Padang Panjang kala itu merupakan salah satu kota paling hidup dan kosmopolitan di pedalaman Sumatra's Westkust. Tatkala jarum jam menunjuk angka 10 lewat 4 menit 28 detik, bumi Padang Panjang tiba-tiba mengentak keras. Kemudian datang gempa kedua pukul 12 lewat 56 menit 47 detik siang yang berkekuatan lebih besar.
- Gempa dan Tsunami di Sulawesi Tengah Tahun 1938
GEMPA dengan magnitudo 7,4 mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 28 September 2018, pukul 17:02 WIB. Tsunami setinggi 1,5–2 meter menerjang Palu dan Donggala. Ratusan gempa susulan terus terjadi. Gempa disebabkan oleh patahan Palu-Koro. Pada 30 September 2018, BNPB menyampaikan data korban meninggal sebanyak 832 jiwa. Korban kemungkinan akan terus bertambah. Dalam sejarah, tsunami pertama terjadi pada 1927. Gelombang setinggi 15 meter menerjang kota, menewaskan 15 orang dan 50 orang terluka. Setelah itu, gempa dan tsunami kembali terjadi pada 1938 dan 1968.





















