Hasil pencarian
Cari di situs ini
10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sejarah Gempa Bumi dan Tsunami di Bulukumba
UNIT Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Polres Bulukumba, Sulawesi Selatan, menangkap IA (15 tahun) yang menyebarkan video hoax tentang gempa Bulukumba, pada Senin malam (8/10). Sebelumnya, pada Minggu (7/10) memang terjadi gempa dengan magnitudo 4,8 di wilayah Bulukumba. Merespons video yang beredar di berbagai media sosial tersebut, Sutopo Purwo Nugroho melalui akun twitter-nya (@Sutopo_PN), menjelaskan bahwa “beredar banyak hoax dampak gempa 5,2 SR di Palu dan 4,8 SR di Bulukumba. Kedua gempa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dan kerusakan rumah, jalan dan bangunan lain. Video ini adalah dampak gempa 7,4 SR di Donggala pada 28/9/2018. Jangan ikut menyebarkan hoax.” Dalam sejarah, Bulukumba pernah diguncang gempa yang mengakibatkan tsunami besar.
- Gempa Bumi Terbesar di Indonesia
GEMPA bumi dengan magnitudo 6,3 mengguncang Situbondo pada Kamis (11/10) pukul 01.44 WIB. Tiga orang meninggal dunia. Gempa susulan tercatat sudah 14 kali. Sebelumnya, gempa dan tsunami menerjang Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, yang menelan korban jiwa lebih dari 2.000 orang. Sedangkan gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menewaskan 563 orang. Indonesia memang rawan gempa dan tsunami. Bahkan, menurut United States Geological Survey (USGS), dari 20 gempa bumi terbesar di dunia sejak tahun 1900, lima di antaranya terjadi di Indonesia. Gempa bumi magnitudo 9,1 di Samudra Hindia (26 Desember 2004), gempa bumi magnitudo 8,6 di lepas pantai barat Sumatra (11 April 2012), gempa bumi magnitudo 8,6 di Nias (28 Maret 2005), gempa bumi magnitudo 8,5 di Laut Banda (1 Februari 1938), dan gempa bumi magnitudo 8,5 di Bengkulu, Sumatra Selatan (12 September 2007).
- Gempa Merusak Keraton Bupati dan Masjid Agung Cianjur
GEMPA tektonik M,56 mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Selasa, 21 November 2022. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendata hingga 23 November 2022 korban meninggal dunia 271 orang, luka-luka 2.043 orang, dan mengungsi 61.908 orang. Sementara kerugian materil sebanyak 56.320 rumah mengalami kerusakan dengan rincian: 22.241 rumah rusak berat, 11.641 rumah rusak sedang, dan 22.090 rumah rusak ringan. Fasilitas umum lainnya yang terdampak antara lain 31 sekolah, 124 tempat ibadah, tiga fasilitas kesehatan, dan 13 gedung perkantoran. Sejarah mencatat, gempa yang merusak Cianjur telah terjadi sejak tahun 1834 dan 1844. Bahkan, gempa akibat letusan Gunung Gede pada 1864 menyebabkan ibu kota Keresidenan Priangan dipindahkan dari Cianjur ke Bandung. Sekitar 15 tahun kemudian, gempa kembali terjadi di Cianjur.
- Lampu Pijar Bikin Penduduk Batavia Gempar
HALTE TransJakarta Bundaran Hotel Indonesia tampak ramai oleh pengunjung. Sebagian di antaranya bergegas menaiki tangga ke area anjungan atau sky deck view di lantai dua untuk berswafoto dengan latar pemandangan Monumen Selamat Datang. Semakin malam area itu kian ramai. Mereka menikmati pemandangan malam yang diterangi lampu dan videotron di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga M.H. Thamrin. Seiring berkembangnya zaman, lampu tak hanya berfungsi sebagai penerangan di kala malam, tetapi juga menambah nilai estetika terhadap suatu objek maupun kota. Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Batas-batas Pembaratan menyebut penerangan dengan gas mulai diperkenalkan di wilayah Hindia Belanda sejak 1860-an, sedangkan listrik mulai muncul menjelang akhir abad ke-19. Sementara itu, menurut sejarawan Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni, lampu mulai menerangi kawasan Batavia saat menteri jajahan Belanda memberikan konsensi pertama pada 19 November 1859 untuk memasang sistem lampu gas umum di Batavia dan sekitarnya. Seiring dengan dibangunnya pembangkit tenaga listrik tahun 1897, elektrifikasi di Hindia Belanda pun dimulai. Perusahaan Bataviasche Electriciteit Maatschappij ditugaskan untuk melayani penerangan serta memenuhi kebutuhan energi modern di wilayah Batavia.
- Lima Gempa Terdahsyat di Turki
TURKI dirundung duka. Negeri yang sebagian berada di Benua Eropa dan sebagian Asia itu diguncang gempa bumi berkekuatan 7,8 Magnitudo pada Senin (6/2/2023) sekira pukul 4 pagi waktu setempat. Gempa melanda Provinsi Kahramanmaraş dan Gaziantep, tepatnya 23 kilometer dekat kota Nurdagi di kedalaman 24,1 kilometer. Karena lokasinya yang juga dekat perbatasan dengan negara lain, sejumlah kota di Suriah, Lebanon, dan Israel pun terkena dampaknya. Tak hanya memporak-porandakan aneka bangunan, gempa juga menimbulkan korban jiwa. Mengutip The Guardian, Senin (6/2/2023), jumlah korban tewas per pukul 18.01 WIB sudah mencapai lebih dari 1.200 jiwa. Di berbagai kota di wilayah selatan Turki, termasuk Diyarbakır, jumlah korban tewas tercatat 912 jiwa dan sementara 5.383 lainnya terluka. Di Suriah, dari kota Aleppo hingga Hama, korban jiwanya sudah mencapai 320 orang. :ebih dari seribu lainnya terluka.
- Empat Bangunan Bersejarah Turki yang Dihancurkan Gempa
EMPAT hari berlalu, gempa yang mengguncang Turki dan Suriah pada Senin (6/2/2023) kini sudah menelan korban lebih dari 70 ribu jiwa tewas dan terluka. Cuaca musim dingin yang buruk mempersulit upaya penyelamatan. Kemungkinan besar jumlah korban masih akan bertambah. Gempa berskala XI Mercalli atau berkekuatan 7,8 magnitudo yang titiknya berada di kedalaman 17,9 kilometer di Provinsi Gaziantep itu jadi bencana gempa terbesar di Turki pada era modern sejak gempa di Erzincan tahun 1999. Mengutip The Guardian, Kamis (9/2/2023), per hari ini pukul 17.52 WIB, korban tewas di Turki sudah mencapai angka 14.014 dan korban luka lebih dari 63 ribu orang. Sedangkan di Suriah korban tewas mencapai 3.162 jiwa dan 3.750 lainnya terluka. Total, sudah lebih dari 17.176 jiwa yang melayang di dua negara itu, termasuk di dalamnya dua warga negara Indonesia (WNI). “KBRI Ankara mengevakuasi 123 orang. Dalam rombongan tersebut juga terdapat dua warga negara Malaysia dan 1 warga Myanmar. Tercatat 1 WNI dan anaknya yang berusia 1 tahun meninggal dunia di Kahramanmaras. KBRI Ankara telah pula menyampaikan berupa bantuan bahan makanan melalui Bulan Sabit Merah Turki,” kata Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI dalam pernyataan pers di laman resminya, Rabu (8/2/2023).
- Habis Gempa Terbitlah Genosida
RERUNTUHAN bangunan masih berserakan di berbagai sudut kota pelabuhan Yokohama, Prefektur Kanagawa, Jepang pada 2 September 1923 malam. Sejumlah kebakaran yang melanda juga belum lama padam. Tetapi bukannya memberikan bantuan bagi mereka yang terdampak gempa Kantō sehari sebelumnya, para aparat Kepolisian Kanagawa justru memprovokasi warga untuk “menghalalkan darah” minoritas Korea. Sehari sebelumnya, 1 September 1923 siang, gempa Kantō menghantam kota-kota pesisir timur Jepang. Gempa tektonik berkekuatan 7,9 magnitudo yang berpusat di kedalaman 23 kilometer Pulau Izu Ōshima di Teluk Sagami itu terjadi akibat benturan Lempeng Filipina dan Lempeng Okhotsk. Gempa yang berlangsung selama 4 menit 48 detik itu meluluhlantakkan Tokyo, Yokohama, hingga kota-kota lain di Prefektur Chiba, Prefektur Shizuoka, dan Prefektur Kamakura, hingga menyebabkan serangkaian kebakaran besar. Tak berhenti sampai di situ, terjangan tsunami setinggi 10 meter yang mengikutinya juga menghantam pesisir Teluk Sagami hingga Semenanjung Bōsō dan Izu.
- Enam Gempa Paling Mematikan di Negeri Tirai Bambu
GEMPA dahsyat mengguncang wilayah barat China di perbatasan dengan Kirgistan pada Selasa (23/1/2024) sekira pukul 2 pagi waktu setempat. Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 itu berpusat di kedalaman 13 kilometer dan berada di 140 kilometer sebelah barat Aksu, Provinsi Otonomi Xinjiang Uygur. “Kemungkinan besar menyebabkan kerusakan signifikan dan bencananya berpotensi menyebar,” ungkap laporan badan survei geologi Amerika Serikat, USGS, dikutip The Guardian, Selasa (23/1/2024). Gempa yang guncangannya terasa sampai Almaty (ibukota Kazahkstan) dan New Delhi (ibukota India) itu dilaporkan kantor berita pemerintah, Xinhua, merobohkan 47 rumah dan 78 bangunan rumah lain rusak berat, serta sejumlah infrastruktur pertanian kolaps. Untuk sementara, tercatat enam korban luka akibat runtuhnya bangunan rumah mereka.
- Commander Arian dan Kemerdekaan Perempuan
SUATU subuh pada Januari 2018. Setelah membuka matanya, Arian Afrîn bangkit dan berjalan pincang menuju wastafel di luar kamar rawatnya untuk cuci muka dan sikat gigi. Setelahnya, ia mengecek ponselnya untuk mencari kabar tentang kawan-kawan seperjuangannya di garis depan. Seiring mentari mulai menyapa para penghuni kamp medis di sebuah wilayah utara Suriah yang dirahasiakan lokasinya itu, seorang dokter lantas memeriksa kepulihan Arian. Dia mengalami lima luka tembak: di pinggul kiri, perut, lengan kanan, dan dua di dadanya. “Saya merindukan kawan-kawan. Di sini sudah seperti hidup di lingkungan sipil, di mana saya justru merasa takut akan maut. Di (garis depan) sana saya tak pernah takut mati,” kata Arian dalam permulaan dokumenter bertajuk Commander Arian: A Story of Women, War and Freedom.
- Ibu Hebring dan Golden Girls
JIKA era milenial diramaikan dengan istilah tagline, seperti “Ashiaap!” yang dipopulerkan youtuber Atta Halilintar, era 1990-an juga dimeriahkan oleh banyak julukan yang melekat pada selebritis. “Hebring”, salah satu julukan paling populer itu. Siapa lagi yang mempopulerkannya kalau bukan aktris senior Connie Sutedja. Saking populernya, julukan “Bu Hebring” sampai melekat pada figur Connie hingga saat ini. “Sebetulnya julukan itu anugerah ya, sama sekali enggak terganggu kalau banyak yang panggil Ibu Hebring. Saya dapat banyak iklan dari situ. Jadi karakternya (di iklan) harus hebring. Juga sering diajak ikut launching produk-produk ya, sebagai Ibu Hebring,” tutur Connie saat ditemui Historia di kediamannya di Cilandak, Jakarta Selatan.
- Petualangan Gereget Pria Berusia 100 Tahun
SUATU pagi di panti jompo di Malmköping, Swedia. Allan Karlsson (diperankan Robert Gustafsson) menatap kosong ke luar jendela kamarnya. Ia masih meratapi Molotov, kucing kesayangannya yang mati diterkam rubah. Balas dendam Allan dengan memasang jebakan dinamit yang menewaskan rubah itu tetap tak membuatnya tenang. Di hari itu, Allan genap berusia 100 tahun. Tubuhnya memang renta namun nyatanya semangat hidupnya masih bergejolak sebagaimana pengalamannya di masa muda. Maka ketika mengintip seorang bocah yang main petasan di halaman gereja di seberang panti, Allan membuat keputusan besar terakhir dalam hidupnya. Dengan hati-hati, Allan mendekatkan sebuah kursi sebagai pijakan kaki. Lantas ia memanjatnya dan keluar dari jendela panti. Staf panti yang sibuk menyiapkan pesta ulangtahun pun syok mendapati Allan hilang dari kamarnya.
- Heroisme di Tengah Kehancuran dalam Godzilla Minus One
NYARIS seisi kota Tokyo rata dengan tanah pasca-Pemboman Tokyo pada 9 Maret 1945. Tak ayal Letda Kōichi Shikishima (diperankan Ryunosuke Kamiki), penyintas perang dan veteran pilot kamikaze Angkatan Laut Jepang, hanya bisa bertahan hidup di sebuah bedeng sepulangnya dari palagan Perang Dunia II. Tak hanya hidupnya yang memprihatinkan, Kōichi juga masih terbelenggu beban masa lalu. Tragedi di Pulau Odo di hari terakhir perang terus menghantuinya. Tetapi bukan militer Amerika Serikat yang membantai dia dan beberapa teknisi pesawat di pangkalan Pulau Odo, melainkan sesosok kaiju alias monster raksasa, godzilla. Kengerian di Pulau Odo itu jadi pembuka film epik Godzilla Minus One garapan sineas Takashi Yamazaki. Film yang dikemas dengan efek visual nan apik ini menghadirkan latar belakang yang khusus terkait masa-masa kelam Jepang untuk merayakan 70 tahun waralaba Godzilla.





















