top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Klenik di Balik Final Italia vs Brasil

    ROBERTO Baggio dikenal sebagai salah satu pesepakbola terbaik Italia dan dunia. Namun, dalam perjalanan kariernya, dia takkan pernah melupakan momen pahit saat gagal mengeksekusi si kulit bundar pada babak adu penalti di final Piala Dunia 1994 kontra Brasil. Tembakannya dari titik putih melayang ke langit Pasadena, Amerika Serikat, sekaligus membuat Gli Azzurri (julukan timnas Italia) gigit jari. Skor akhir tos-tosan 3-2. Brasil menjadi juara Piala Dunia untuk keempat kalinya. Padahal, menilik track record-nya, Baggio tergolong spesialis penendang penalti. “Rekor penaltinya 108 gol dari 122 tendangan (penalti). Rata-rata kesuksesannya 88 persen –masih menjadi rekor pesepakbola Italia,” tulis Ben Lyttleton dalam Twelve Yards: The Art and Psychology of the Perfect Penalty Kick.

  • Para Menteri Hobi Fotografi

    ADA pemandangan unik dalam gelaran KTT G20 yang berlangsung di Bali kemarin. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono tampak membaur dengan kalangan wartawan. Sambil menenteng kamera, Basuki beraksi seperti layaknya jurnalis foto sungguhan. Menteri Basuki terlihat memotret aktivitas Presiden Joko Widodo saat persemian dan pembibitan pohon mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai. Jauh dari lazimnya kesan seorang menteri, Basuki mengenakan topi secara terbalik. Bersama rombongan wartawan, Basuki ikut sibuk mengeker mata lensa guna mengabadikan momentum. Sesekali ia berbincang dengan pemimpin negara anggota G20, seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri India Shri Narendra. Penampilan sang menteri cukup mencuri perhatian. Basuki memang dikenal punya hobi fotografi. Selain fotografi, ia juga berbakat di bidang musik, yakni sebagai penggebuk drum. Menteri yang punya keahlian bermusik mengingatkan kita pula pada Njoto, menteri negara pada penghujung masa kepemimpinan Presiden Sukarno. Njoto terampil memainkan alat musik gesek berupa biola dan selo.

  • Kisah di Balik Foto Eksekusi Pejuang Indonesia

    BERITA dan foto di harian de Volkskrant edisi Jumat 16 Oktober tentang eksekusi di Indonesia pada zaman perang kemerdekaan dulu, diteruskan oleh televisi dan radio Belanda yang lebih lanjut mengupas foto-foto itu. Memang hanya foto dan slides yang ditemukan di Verzetsmuseum (Museum Perlawanan) Gouda, penjelasan lain tidak ada. Kepada NPO-Radio 1, radio publik Belanda, sejarawan Louis Zweers, spesialis foto-foto dekolonisasi Indonesia, menyatakan penemuan terakhir itu tidak menyertakan konteksnya. Itu berarti, demikian Zweers, tidak ada informasi mengenai di mana, kapan, siapa dan apa yang sebenarnya terjadi. Padahal informasi semacam itu, termasuk siapa yang berada di belakang kamera, esensial bagi foto-foto sejarah. Memang, segera setelah foto tersebar, termasuk di media sosial, publik langsung bereaksi dengan melontarkan pelbagai pertanyaan, seperti siapa saja korban eksekusi itu? Di mana dan kapan eskekusi ini terjadi? Mengapa bagian bawah tubuh korban tidak berpakaian dan hanya ditutupi jerami atau rumput? Tidak semua pertanyaan dikupas oleh televisi dan radio Belanda.

  • Ditemukan Lagi: Foto Eksekusi Pejuang Indonesia oleh Tentara Belanda

    FOTO-foto yang memuat kekejaman tentara Belanda semasa agresi militernya di Indonesia kembali ditemukan di Belanda. Pada Jumat, 16 Oktober kemarin harian terkemuka Belanda de Volkskrant memuat berita penemuan tersebut. Secara keseluruhan terdapat 179 foto dan slides yang sebelumnja tidak pernah diumumkan di manapun juga. Pada salah satu foto terlihat jenazah enam pria Indonesia yang telah dieksekusi. Gambar-gambar itu ditemukan di dalam sebuah kamar penyimpan barang berharga yang terletak dalam sebuah bangunan bekas bank di Gouda (Belanda tengah). Bangunan tersebut sekarang merupakan gedung Museum Perlawanan di propinsi Zuid-Holland (Holland selatan). Joost Lamboo yang bertanggung jawab bagi gambar-gambar koleksi museum, menegaskan, “Semua foto ini langsung mengingatkan saya pada foto-foto eksekusi yang pernah diumumkan oleh harian de Volkskrant pada bulan Juli 2012. Pria-pria yang dieksekusi berdiri di pinggir sebuah lubang dangkal. Foto-foto ini dibuat dari jarak yang sanget dekat dan itu luar biasa. Dua dari enam pria itu sebenarnya gampang sekali diidentifikasi siapa mereka.”

  • Gereja Belanda Kutuk Tentara Belanda

    PADA 19 Februari 1949, Tentara Kerajaan Belanda masuk ke Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Malang, Jawa Timur, yang mayoritas masyarakatnya beragama Kristen Protestan. Mereka terperangkap oleh tembakan mitraliur dan tekidanto (mortir Jepang) dari pasukan KCKS (Kesatuan Comando Kawi Selatan) yang dipimpin Letkol J.F. Warrouw. Mereka kehilangan lebih dari 12 orang. “Karena sangat marah, mereka mengambil 12 pasien yang dirawat di rumah sakit kecil di desa Peniwen. Kedua belas pasien yang semuanya sipil orang sipil itu dijajar di tembok Rumah Sakit dan semuanya ditembak mati,” kata Hario Kecik dalam Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia. Saat itu, Hario Kecik yang bernama asli Soehario K. Padmodiwirio berpangkat mayor dan menjabat Kepala Staf Security KCKS. Wim Banu, saksi hidup yang saat itu berusia 14 tahun, mengatakan bahwa Rumah Sakit Panti Husodo itu menempati bangunan Sekolah Rakyat sejak 1947. Ayahnya pernah mengajar di sekolah itu yang terletak di seberang rumahnya.

  • Alex Kawilarang Selalu Dikira Tentara Belanda

    KALAPA Nunggal, Cianjur, 1947. Hari menjelang siang, ketika seorang penduduk secara tergopoh-gopoh datang ke pos TNI setempat. Kepada Prajurit Satibi, ia lantas melaporkan bahwa di ujung desa dua serdadu Belanda tengah menuju ke arah mereka. Dilapori demikian, tentu Satibi panik. Ia lantas memberitahukan kawan-kawan satu seksinya untuk bersiap di titik-titik strategis. “Kami tidak menyangka tentara Belanda bisa menemukan posisi kami yang ada di pelosok terpencil,” kenang Satibi (90 tahun) kepada Historia. Setengah jam telah berlalu, namun dua tentara Belanda itu tak juga menampakan batang hidung mereka. Namun baru saja pasukan kecil itu akan beranjak, tiba-tiba di persimpangan jalan muncul dua lelaki berpakaian khaki. Mereka lantas kembali ke posisi semula dan siap akan menembak, jika lelaki itu tak segera berteriak, “Heh kalian itu kenapa? Di sini saya Kawilarang, komandan TNI!” ujarnya.

  • Penyergapan Tentara Belanda di Tanah Karo

    KOTA Binjai pada 13 Juli 1949 tampak lengang. Prajurit I.J.C Hermans masih ingat hari itu cuaca cerah dan kelihatannya begitu aman, damai dan tenteram. Namun, menjelang petang, keadaan di markas militer Belanda mendadak berubah penuh hiruk-pikuk. “Seorang prajurit dalam keadaan terengah-terengah melapor pada komandan setempat di Binjai. Sang komandan melihat dengan keheranan seorang asing yang tiba-tiba muncul di hadapannya, berpakaian hanya bercelana dalam saja,” kenang Hermans dalam “Ups and Downs in Kompani Doea” termuat dalam kumpulan tulisan, Gedenkboek 5–11 RI. Prajurit yang cuma mengenakan sempak itu bernama Jan van Thoor, anggota kolone perbekalan Belanda yang hendak menuju Desa Telagah di Langkat Hulu. Dia salah satu korban pengadangan di Bukit Gelugur, Rumah Galuh dekat kampung Keriahen, Tanah Karo.

  • Barisan Wanita Pelatjoer, Penyebar Bakteri di Markas Tentara Belanda

    SATYA Graha masih ingat bagaimana pada 1946-1947, perang telah membuat Yogyakarta begitu kumuh. Seiring membanjirnya para pengungsi, kota itu menjadi kawasan yang rawan tindak kejahatan. Para maling berkeliaran bukan saja di malam hari juga di siang hari bolong. Namun yang paling memusingkan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Yogyakarta pun menjadi wilayah teraktif dalam soal transaksi seks. “Praktek pelacuran marak di berbagai sudut kota hingga Yogyakarta saat itu terancam serangan penyakit kelamin,” kenang jurnalis tua yang pernah menghabiskan masa remajanya di Kota Gudeg tersebut. Situasi itu pula yang dikeluhkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX di hadapan Mayor Jenderal Moestopo. Kepada penasehat khusus militer Presiden Sukarno itu, Sri Sultan meminta solusi supaya kota yang dipimpinnya kembali aman dan tentram.

  • Teror Sampar Ditakuti Tentara Belanda

    PADA 1933-1934 wabah penyakit pes merajela di Priangan. Sekitar 15.000 orang Priangan tewas akibat penyakit yang diakibatkan oleh bakteri bernama Yersinia pestis tersebut. Hingga 1939, penyakit pes tetap menjadi hantu yang menakutkan di Jawa. Garut termasuk kawasan yang menyumbangkan korban agak besar. Dalam catatan Adrianus Bonnebaker dalam Over Pest, selama setahun wabah sampar merajalela, ratusan warga Garut telah meregang nyawa akibatnya. Tragedi itu menimbulkan trauma yang mendalam hingga puluhan tahun kemudian. “Zaman itu jika ada tikus dalam jumlah belasan saja terlihat mati di jalanan, ketakutan kami akan wabah penyakit pes muncul kembali,” kenang Ucun (92 tahun), warga asal Cigadog, Garut.

  • Disepelekan Tentara Belanda

    PADA 1946, Kapten Soegih Arto diperintahkan pergi ke pos militer Belanda. Yang memberi perintah ialah Kolonel Hidayat Martaatmadja, wakil panglima Divisi Siliwangi. Hidayat menugaskan Soegih Arto mengantarkan surat tentang persiapan pertemuan antara Tentara Repoeblik Indonesia (TRI) dengan militer Belanda terkait batas demarkasi. “Pada waktu itu saya menjadi komandan batalyon di Ciparay, Bandung Selatan,” tutur Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Purn.) Soegih Arto. Menurut pihak Belanda, Soegih Arto hanya boleh membawa 10 pengawal bersenjata. Tempat pertemuan ditentukan dekat jembatan Citarum, Dayeuhkolot. Di sana, Soegih Arto akan bertemu dengan seorang kapten Belanda.

  • Tentara Belanda Terpukul di Barutunggul

    JALUR menuju Perkebunan Rancaupas itu dikenal orang-orang Ciwidey sebagai Tikungan Punceuling Barutunggul. Di sisi kirinya, nampak dataran tinggi dipenuhi pepohonan, sementara di sisi kanan jurang dalam terlihat menganga. Jarang orang yang tahu, jika 74 tahun yang lalu di tempat tersebut pernah terjadi banjir darah. “Kurang lebih satu peleton tentara Belanda habis kami sikat,” ungkap Uweb (98) kepada saya pada 2019. Uweb merupakan sisa-sisa saksi hidup peristiwa itu. Selama Perang Kemerdekaan (1946-1949) dia adalah salah satu prajurit Batalyon ke-26 yang lebih dikenal sebagai Pasukan Siluman Merah. Di lingkungan Divisi Siliwangi, Pasukan Siluman Merah merupakan bagian dari Brigade II Guntur.

  • Kekejaman Tentara Jepang di Sulawesi

    BARU saja berhasil mengamankan kekuasaan dari tangan Belanda, rakyat Sulawesi harus menerima kenyataan bahwa tanah airnya kembali dikuasai imperialisme asing. Kali ini upaya penjajahan datang dari negara Asia Timur yakni Jepang. Sebagai kekuatan militer baru, dengan daya tempur terbesar di Asia, Jepang menebar teror yang amat menakutkan kepada rakyat Sulawesi. Pasukan militer Jepang pertama kali menginjakkan kakinya di Sulawesi pada Januari 1942. Wilayah Minahasa, Sulawesi Utara, menjadi salah satu lokasi pendaratan paling awal tentara Jepang di pulau terbesar ke-4 di Indonesia tersebut. Mereka langsung menduduki tiga tempat utama, yakni pangkalan udara Kalawiran, pantai utara dan selatan Kota Manado, dan negeri Kema. Diceritakan A. Sigarlaki, dkk. dalam Sejarah Daerah Sulawesi Utara, perlawanan sempat dilakukan rakyat begitu Jepang tiba di Minahasa. Di bawah pimpinan A.B. Andu, J. E. Tatengkeng, dan tokoh lainnya, rakyat memberikan serangan-serangan ke kubu militer Jepang. Tetapi perlawanan itu dengan mudah ditumpas pasukan tempur Jepang yang persenjataannya lebih lengkap. Pusat kekuatan rakyat di Tomohon dan Tondano pun akhirnya dapat dikuasai.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page