Hasil pencarian
Cari di situs ini
10066 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sukarno Marah Ajudan Salah Cerita Sejarah
BRIGADIR Polisi M. TAMIM tak pernah lupa situasi pasca-diberlakukannya gencatan senjata antara pasukan Indonesia dan Belanda selepas Agresi Militer Belanda II. Perang pengaruh masih begitu kuat di berbagai tempat. Dalam suasana seperti itu, Tamim ditawari menjadi anggota polisi Belanda. Tentu saja Tamim menolak mentah-mentah tawaran itu. “Kalau tidak, obsesinya yang ingin mengabdi kepada keluarga Bung Karno dan dekat dengan Bung Karno akan menguap sia-sia,” tulis Kadjat Adra’i, teman dekat Guntur Sukarnoputra sekaligus wartawan yang pernah mewawancara Tamim, dalam bukunya Suka-Duka Fatmawati Sukarno: Seperti Diceritakan Kepada Kadjat Adra’i. Bagi Tamim, Presiden Sukarno dan keluarganya bukan merupakan orang asing. Ayah Tamim, Nur’ain, merupakan supir di Istana Bogor. Nur’ain tinggal di dalam perumahan karyawan istana yang terletak di kompleks istana. Di sinilah Tamim dilahirkan pada 1926 dan bertumbuh bareng-bareng anak-anak pegawai yang lain.
- Kencan Ajudan Presiden Sukarno
SUDAH menjadi rahasia umum jika Presiden Sukarno merupakan pengagum perempuan cantik. Hal itu dikatakan bukan saja oleh kawan-kawan dekatnya, namun juga diakui Bung Karno sendiri. “Bukan suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi perempuan cantik”, ungkapnya seperti dikutip Cindy Adams dalam Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia. Kendati demikian, Bung Karno tidak mau menyimpan kebiasaannya itu untuk diri sendiri. Kepada orang-orang terdekatnya, dia pun kerap mendorong untuk mencari pasangan yang cantik dan menarik. Salah satu “korban” Bung Karno adalah ajudannya: Mayor KKo Bambang Widjanarko. Demikian diceritakan oleh Bambang Widjanarko dalam otobiografinya, Sewindu Dekat Bung Karno.
- Ajudan bukan Ajudan Pribadi
MUHAMMAD Akbar Pera Baharudin ditangkap polisi karena kasus penipuan. Ia dikenal sebagai selebgram ajudan pribadi. Kini, ajudan hanya nama jabatan, biasanya di pemerintahan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ajudan adalah perwira yang diperbantukan kepada raja, presiden, atau perwira tinggi, biasanya diberi tugas mengurus segala keperluan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Di dalam militer, ajudan jenderal atau presiden pangkatnya macam-macam. Dulu, Presiden Sukarno punya ajudan Mayor Mohamad Sabur (belakangan brigadir jenderal) dan Kolonel Bambang Widjanarko. Jenderal TNI A.H. Nasution pernah punya ajudan Letnan Satu Pierre Andreas Tendean.
- Muljono Dukung PKI
SEKITAR September 1967, beberapa anggota regu tembak berlatih. Mereka akan melaksanakan tugas mengeksekusi beberapa terpidana mati: bekas Letnan Kolonel (Letkol) Untung, Letnan Ngadimo, Mayor Sujono, dan Mayor Muljono Surjowedojo. Mereka dianggap bersalah dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S). Untung, Ngadimo, dan Sujono terlibat dalam G30S di Jakarta, yang menewaskan Men/Pangad Letnan Jenderal Ahmad Yani dkk. pada dini hari 1 Oktober 1965. Sementara, Mayor Mulyono adalah pelaku di balik tewasnya Danrem Yogyakarta Kolonel Katamso dan wakilnya, Letkol Sugijono, pada hari yang sama namun beda jam. Sehari-harinya, Mayor Mulyono menjabat sebagai perwira staf V Korem 72. Namun, Mayor Muljono tak anti politik. Dia punya banyak sekutu nonmiliter di Yogyakarta.
- Setia Sampai Sati
TATKALA seorang bangsawan atau pemimpin tertinggi meregang jiwa, selir dan para pelayan yang paling setia bersumpah: “Dalam kematian kami akan ikut denganmu.” Lalu upacara kremasi pun digelar. Bangunan tinggi dari kayu didirikan. Tumpukan kayu bakar diletakkan. Peti mati dimasukkan saat api mulai membesar. Ketika api berkobar-kobar, selir bersama dua atau tiga pelayan yang telah bersumpah mulai naik ke atas bangunan, menari dan berkeliling, menunggu waktu yang tepat, lalu melemparkan diri ke kobaran api dan terbakar bersama junjungan mereka. Deskripsi tersebut dicatat Ma Huan, penerjemah dalam ekspedisi Cheng Ho ke Jawa antara 1413 dan 1415. Ma Huan mengunjungi Majapahit dan menyaksikan upacara kremasi tersebut.
- Sudiro dari Sulawesi ke Jakarta
SEBUAH pesan diterima Sudiro pada 1953. Isinya panggilan agar gubernur Sulawesi tersebut menemui Menteri Dalam Negeri Mr. Hazairin. Dalam pertemuan di kantor menteri, Sudiro diminta memilih, menjadi gubernur Kalimantan atau kepala daerah Jakarta Raya. “Terserah saja pada pemerintah,” jawab Sudiro. Pemerintah memutuskan Sudiro menjadi kepala daerah Jakarta Raya. Dia akan menduduki posisi wali kota menggantikan Sjamsuridzal. Soebagijo I.N. mencatat dalam Sudiro, Pejuang Tanpa Henti, mengacu pada keterangan resmi Menteri Dalam Negeri Mr. Hazairin, terhitung sejak 9 November 1953 Wali Kota Jakarta Raya Sjamsuridzal digantikan oleh Sudiro. Sjamsuridzal sendiri akan ditempatkan di Kementerian Dalam Negeri.
- Dangdut Rasa Pantura
SUASANA pesta pernikahan di desa Kanci, Cirebon, mulai semarak. Di atas panggug, Kiki Afita (21 tahun) menyanyikan lagu “Kawin Batin” karya Dadang Anesa dengan logat Cirebon yang khas. Kiki terlihat enerjik, melangkah ke setiap sudut panggung, mengajak penonton bergoyang. Tepakan kendang, alat musik tradisional Sunda, menghentak cepat. Suling, gitar, saksofon, dan organ ikut mengiringi. Warga berdesakan di depan panggung. Karena lokasi hajatan berada di tengah lingkungan perumahan yang sempit, sebagian dari mereka menaiki pagar. Beberapa anak kecil memperhatikan biduan bergoyang sambil duduk di pojok depan panggung. Sementara di belakang panggung, menunggu giliran menyanyi, lima biduan mengecek riasan wajah atau memainkan telepon seluler. Sesekali bibir mereka bergerak sesuai lirik lagu yang didendangkan Kiki. Hiburan musik berlangsung siang dan malam. Setelah istirahat jam empat sore, pementasan dilanjutkan dari jam delapan sampai tengah malam. “Tergantung permintaan yang punya hajat,” ujar Kiki kepada Historia.
- Sukarno Sahabat Pangeran Kamboja
TIM nasional sepakbola Indonesia U-22 akhirnya berhasil merebut medali emas SEA Games 2023 usai mengalahkan timnas Thailand di final, 5-2. Dalam pertandingan dramatis yang panjang itu, timnas Indonesia tak hanya didukung suporter tanah air tapi juga negara tetangga seperti Vietnam dan tuan rumah Kamboja. Salah satu warga Kamboja yang mendukung langsung di stadion adalah Visal yang merupakan pemilik sebuah warung kopi. "Saya penuhi janji saya. Saya datang bersama putri saya. Kamboja untuk Indonesia!" kata Visal, dikutip bola.com, 16 Mei 2023. Persahabatan rakyat Kamboja dan Indonesia telah terjalin lama. Pemimpin kedua negara, Pangeran Norodom Sihanouk dan Presiden Sukarno, bahkan telah bersahabat sejak 1950-an.
- Ketua PSI Meninggal di Sukamiskin
RAJA Bolaang Uki, Hasan Iskandar van Gobel, suatu hari dapat satu permohonan bahwa ketua atau presiden Partai Sarekat Islam (PSI) –yang pada 1929 berganti nama menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)– ingin berpidato di hadapan ribuan rakyat Bolaang Uki. Maka sang raja langsung memanggil ketua PSI itu. Sebuah pembicaraan pun terjadi. “Katakan saja padaku apa yang ingin kamu jelaskan kepada rakyat. Saya akan memberi tahu mereka tentang hal ini. Ketika kamu berbicara, orang-orangku yang bodoh mengira kamu adalah rajanya. Untuk menghindari kesalahpahaman seperti itu, saya tidak bisa mengizinkan Anda menyapa orang-orang di sini dan saya juga melarang Anda mendirikan cabang PSI di sini. Di sini kita tidak memerlukan partai agama. Dalam hal ini saya juga bisa memimpin rakyat saya,” kata raja kepada presiden PSI Bolang Mongondow yang bernama Adampe Dolot. Raja Hasan merupakan penganut Islam, sama seperti Adampe Dolot. Menurut De Indische Courant, 19 Januari 1940, raja rajin pergi ke masjid. Raja Hasan menurut pihak Belanda tidak menginginkan adanya perpecahan rakyat di wilayahnya. Tentu saja penolakan itu mengecewakan Adampe Dolot. Lelaki yang kiprahnya telah dicatat koran berbahasa Belanda tahun 1940 dan 1928 ini sepak terjang politiknya tidak kaleng-kaleng. Sejak era 1920-an, Adampe telah aktif di Sarekat Islam.
- Menyepak Bola sampai Kanada
SEBAGAIMANA Amerika Serikat (AS) dan Australia, orang-orang Kanada juga menyebut sepakbola dengan soccer. Dibanding dua tetangga kawasannya, AS dan Meksiko, Kanada yang paling “anak bawang” di level Piala Dunia. Tahun ini jadi keikutsertaan Kanada yang ketiga kali di Piala Dunia kendati berstatus tuan rumah bersama dengan AS dan Meksiko. Sebagai co-host, timnas Kanada besutan Jesse Marsch itu terundi di Grup B bersama Swiss, Qatar, serta Bosnia-Herzegovina. Di partai pembuka grup yang dihelat di Toronto Stadium pada 12 Juni 2026 lalu, Kanada nyaris kehilangan muka ketika dua host lainnya, AS dan Meksiko, sama-sama mengemas kemenangan. Menjamu Bosnia-Herzegovina, tim “Daun Mapel” itu tertinggal lebih dulu hingga akhirnya bisa menyamakan skor, 1-1, berkat gol yang ditorehkan pemain pengganti, Cyle Larin. Skor bertahan sampai akhir laga dan meskipun gagal menang, hasil imbang dan perolehan 1 poin itu begitu historis buat Kanada. Sebab sejak tampil di Piala Dunia 1986 dan 2022, Kanada tak pernah sekalipun menang atau setidaknya mengumpulkan sebutir poin pun.
- Detik-detik Terakhir Sukarno
SEPI, sunyi, dan terasing. Perasaan itulah yang dialami Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia menjelang akhir hayatnya. Prahara politik menjatuhkannya dari gelanggang kekuasaan. Setelah dilengserkan, Bung Karno memasuki masa karantina politik alias jadi tahanan rumah. Pada Mei 1967, pihak berwenang memutuskan bahwa Sukarno tidak lagi diperkenankan menetap di Jakarta. Sukarno hanya diizinkan tinggal di salah satu paviliun Istana Bogor. Namun, semuanya tidak lagi sama. Anak-anak Sukarno mengenang periode ini sebagai masa kepahitan dalam keluarga mereka. “Bapak sangat kesepian. Padahal Bapak seorang pribadi yang suka keramaian, suka dikelilingi kawan dan sahabat untuk berbicara tentang banyak hal. Pengasingan atas diri Bapak merupakan beban mental dalam dirinya,” kata Rachmawati Sukarnaputri, putri ketiga Sukarno, dalam Bapakku Ibuku: Dua Manusia yang Kucinta dan Kukagumi.
- Sukarno Sakit Ginjal
PRESIDEN Sukarno akan berkunjung ke Wina, Austria. Perjalanan ini bukan kunjungan kenegaraan, tetapi untuk alasan kesehatan. Bung Karno ke Austria dalam rangka menjalani pengobatan. Keberangkatan Sukarno dan rombongan dijadwalkan pada Kamis, 19 Oktober 1961. “Presiden sudah sejak beberapa waktu menderita penyakit kencing batu dan para dokter ahli memandang perlu Presiden pergi ke luar negeri selekas mungkin untuk keperluan diagnostik dan terapi,” demikian rilis berita Antara, 16 Oktober 1961. Menurut keterangan Menteri Sekretaris Negara Mr. Mohammad Ichsan, dalam periode 7 Januari 1959 sampai Juni 1961, Presiden Sukarno telah mengencingkan sembilan buah batu. Tim dokter kepresidenan berulang kali mendesak Sukarno untuk berobat di luar negeri di sela-sela kunjungan kenegaraan.





















