top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mercu Buana Ditutup Karena Skandal Suap

    SUMATRA Utara, khususnya Kota Medan, banyak melahirkan jago-jago rumput hijau yang bermain di berbagai klub, mulai PSMS Medan yang dulu tampil di kompetisi amatir, Perserikatan, hingga Pardedetex dan Mercu Buana di kompetisi semiprofesional, Galatama (Liga Sepakbola Utama). Sebut saja Bambang Nurdiansyah dan Djadjang Nurdjaman (Djanur) yang sekarang membesut Persib Bandung di Liga 1 Indonesia. Keduanya pernah merumput di Mercu Buana yang bermarkas di Stadion Teladan, Medan. Djanur berseragam Mercu Buana dengan posisi winger (pemain sayap) selama tiga tahun (1982-1985). Mercu Buana didirikan oleh Probosutedjo, adik Presiden Soeharto. Klub ini dinamai sesuai perusahaan yang didirikannya, PT Mercu Buana. Mercu Buana bermarkas di Medan karena Probo pernah menjadi guru di sana pada 1950-an dan beristri orang Pematang Siantar. Kelak, Probo juga mendirikan universitas bernama Mercu Buana pada 1985.

  • Skandal PSPB

    KETIKA menghadiri rapat koordinasi penanggulangan atau pencegahan bahaya komunisme yang diselenggarakan Musyawarah Pimpinan Kecamatan Parengan, Tuban pada 19 Mei 2016, Ketua PGRI Kecamatan Parengan Drs. Karsono mengusulkan dua mata pelajaran yang telah dihilangkan dari bangku sekolah agar diajarkan kembali. Dua mata pelajaran itu adalah Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). “Perlu dihidupkan kembali pelajaran tersebut (PMP/PSPB), agar para siswa mengetahui kalau ajaran komunis itu berbahaya, karena telah melakukan pemberontakan kepada negara,” ujar Karsono sebagaimana diberitakan tubankab.go.id. PSPB merupakan mata pelajaran wajib yang diajarkan dari sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas semasa Orde Baru. Mata pelajaran tersebut dibuat Mendikbud Nugroho Notosusanto untuk merespon kemauan Presiden Soeharto menularkan nilai-nilai 45 kepada generasi muda, dan diberlakukan sebagai mata pelajaran lewat Kurikulum 1984.

  • HUT PKI dan Pengumuman Pilpres

    “KAMI semuanya teman-teman, jangan tidak percaya tanggal 22 itu juga ada beberapa informasi dari teman-teman saya jenderal bahwa ternyata tanggal 22 adalah hari ulang tahun PKI. Ini ada surat dari pemimpin PKI. Dan insya Allah kita semangat, dan berjuang sebelum tanggal 22 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno menjadi presiden dan wakil presiden…” Demikianlah perkataan Iwan Adi Sucipto Pattiwael dalam video yang viral di media sosial. Dalam video itu, dia juga melakukan provokasi yang membenturkan TNI dan Polri. Polisi telah menangkap dan menetapkannya sebagai tersangka. Iwan menyebut tanggal 22 Mei sebagai hari ulang tahun PKI. Dia hendak mengaitkannya dengan tanggal pengumuman hasil Pilpres. Namun, dia keliru karena hari ulang tahun PKI tanggal 23 Mei.

  • Compagnie Eric

    MAYOR Jenderal Engles, panglima militer Belanda di Jawa Barat, berang. Tentaranya tak jua dapat meringkus eks Kopral Johannes Cornelius Princen, bekas anak buahnya yang membelot. Menurut laporan Badan Intelijen Militer Belanda (NEFIS), Princen bergabung dengan Divisi Siliwangi. Dan sepulang long march dari Jawa Tengah, dia didapuk menjadi komandan Pasukan Istimewa Batalyon Kala Hitam pimpinan Mayor Kemal Idris dengan pangkat letnan. “Dia berada di bawah komando kompi Kapten Saptadji,” tulis Ronald Frisart dalam laporan berjudul “Speurtocht Door Vergeeld Papier Naar Poncke Princen” di koran Leidsch Dagblad, 11 September 1993.

  • Poncke Princen, Oposan Sepanjang Zaman

    JOHANNES Cornelius Princen lahir di Den Haag, Belanda, pada 21 November 1925. Sedari remaja dia bercita-cita menjadi rohaniawan. Karena itulah dia memasuki seminari di Weert. “Setelah beberapa saat merasakan suasana pendidikan calon rohaniawan, aku sadar bahwa tempatku bukan di sana,” ujar Princen. Keluar dari seminari pada 1943, dia terlibat dalam perjuangan melawan pasukan Jerman yang menjajah negerinya. Nahas, Princen tertangkap dan ditahan di berbagai kamp konsentrasi. Kala waktu senggang, dia membacakan buku Pastor Poncke karya J.H. Eekhout kepada kawan-kawannya sesama tahanan.

  • Priyayi dan Haji Lampung Bantu Belanda

    JENDERAL Mayor Johan Harmen Rudolf Kohler (1818-1873) dikenal sebagai jenderal Belanda yang tertembak mati pada 14 April 1873 di luar Masjid Raya Aceh. Aceh bukan satu-satunya musuh Belanda yang dihadapi Kohler. Belasan tahun sebelumnya, sedari 1856-1857, Kohler yang masih berpangkat Kapten juga ikut menghadapi perlawanan orang Lampung di bawah pimpinan Radin Inten II. Radin Inten II adalah penguasa daerah Negara Ratu. Dalam menghadapi Belanda, di kubu Radin Inten II terdapat Pangeran Singa Branta dan pemuka-pemuka masyarakat yang lain. Radin Inten II merupakan putra dari Radin Imba Kesuma sekaligus cucu dari Radin Inten I. Encyclopedie van Nederlandsch Indie II karya S de Graaf menyebut bahwa Radin Inten I punya darah Banten dan ibunya keturunan Dara Putih Lampung.

  • Kasus Crossdressing yang Menghebohkan Eropa

    SEJUMLAH orang berkumpul di kediaman Nyonya Cole di London pada Mei 1810. Orang-orang dari berbagai profesi itu –seorang profesor anatomi, dua ahli bedah, seorang pengacara, dan seorang jurnalis– bermaksud untuk memeriksa jasad Chevaliere d’Eon, teman sekamar Nyonya Cole yang telah tinggal bersamanya selama empat belas tahun. Hasil pemeriksaan sungguh mengejutkan. Sebab, d’Eon yang selama ini dikira wanita ternyata pria. Teka-teki mengenai jenis kelamin d’Eon telah menjadi perdebatan publik di Inggris dan Prancis sejak akhir abad ke-18. Pasalnya, sebelum tutup usia, dia kerap mengenakan pakaian wanita, padahal di masa mudanya ia berpakaian pria dan aktif dalam kegiatan militer Prancis. Chevalier d’Eon, yang bernama lengkap Charles Genevieve Louise Auguste André Thimothée d'Eon, lahir dari keluarga aristokrat di Tonerre, Prancis pada 5 Oktober 1728. Menurut Vern L. Bullough dan Bonnie Bullogh dalam Cross Dressing, Sex, and Gender, ketika berusia dua belas tahun, d’Eon dikirim ke Paris untuk menyelesaikan pendidikannya di College de Mazarin.

  • Maria Ullfah Defeating the Roosters

    MS. Soewarni Pringgodigdo, Chairwoman of Istri Sedar, hadn’t yet finished her speech when the sound of a rooster’s crowing was heard coming from the mouths of several men in a corner of the congress hall. “Cock-a-doodle-doo… cock-a-doodle-doo…” they said, mocking Soewarni. She immediately flew into a rage and announced her withdrawal from the women’s congress. The incident at the Second Indonesian Women’s Congress in Batavia, July 20–24, 1935, began with Ratna Sari, a representative of Permi (the Indonesian Muslim Association) from West Sumatra, who had previously delivered a speech on the status of women under Islamic marriage law. Maria Ullfah, later Minister of Social Affairs of Indonesia, considered the content of Ratna’s speech too orthodox. “(The speech) caused a stir, because Ratna Sari accepted and defended polygamy,” said Maria Ullfah in her lecture at the Kebangkitan Nasional Building in Jakarta on February 28, 1981. Soewarni, who was given the opportunity to respond, immediately expressed her disagreement. “I don’t accept that!” said Soewarni. “Men are just like roosters. All they do is go around collecting women!” Soewarni added. That remark was immediately met with the sound of a rooster crowing and snickering laughter from the male attendees. The congress was on the verge of breaking up. The participants split into two large, opposing groups.

  • Kudeta AURI

    MENTERI/Panglima Angkatan Udara (Menpangau) Laksamana Madya Omar Dani tak pernah menyangka pertemuannya di Jakarta dengan Duta Besar RI di Kamboja Budiardjo akan berujung pada berita buruk. “Menpangau Sri Muljono Herlambang telah ‘dikudeta’ oleh Komodor Udara Suyitno Sukirno, Komodor Udara Rusmin Nurjadin, dan Komodor Udara Leo Wattimena dengan bantuan panser dari Kostrad,” kata Budiardjo sebagaimana ditulis JMV Soeparno dan Benedicta Surodjo dalam Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku: Pledoi Omar Dani. Perebutan kekuasaan di tubuh AURI itu berawal dari kondisi buruk yang dialami matra tersebut pasca-G30S. Angkatan Darat (AD) yang diamini masyarakat menganggap bahwa AURI terlibat dalam peristiwa berdarah itu. Meski AURI sudah menjelaskan bahwa yang terlibat adalah oknum, bukan institusi, toh pandangan miring terhadap AURI justru kian kuat.

  • Kisah Pasukan Gabungan AURI-ALRI Menahan Gempuran Belanda

    GERIMIS memayungi Pantai Prigi, Trenggalek, Jawa Timur saat Opsir Muda Udara (OMU) III Hanandjoeddin, komandan Sub Sektor II Pantai Selatan, Detasemen Udara Prigi, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) tengah berjaga bersama pasukannya pada siang 19 Desember 1948. Namun tetiba bukan air hujan saja yang mengguyur tapi juga tembakan dari sebuah kapal penjelajah Belanda. Menurut Haril M. Andersen dalam biografi Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI, kapal penjelajah Belanda itu sebelumnya sudah mengacak-acak pertahanan pasukan “Kiblik” di pantai Pacitan. Saat siang itu memasuki sekira pukul 13.30, giliran Pantai Prigi yang disasarnya. “Pantai Pacitan dihujani tembakan dari arah laut pada pukul 11.00. Dua jam kemudian giliran Detasemen Udara Prigi mendapat serangan hebat. Kapal perang (cruiser) Angkatan Laut Belanda itu melepaskan tembakan membabi-buta ke arah pantai,” tulis Haril.

  • Pernyataan Bersama AD-AURI yang Tak Disetujui

    SETELAH Peristiwa G30S pecah, para anggota Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) terkena getahnya. Banyak personil AURI yang dilecehkan dan dihina. Perwira tinggi tak menjadi pengecualian. Laksamana Muda Udara Aburachmat mobilnya dengan sengaja ditabrak oleh jip pasukan RPKAD (kini Kopassus). “Pasukan karbol yang berdiri di pinggir jalan dalam sikap sempurna dan memberi hormat pada iring-iringan jenazah para jenderal korban G-30-S, mukanya diludahi oleh pasukan Angkatan Darat yang berada di atas panser,” kata mantan Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksmana Madya Omar Dani dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku yang ditulis Benedicta A. Surodjo dan JMV Soeparno. Perlakuan diskriminatif akibat berita bahwa AURI terlibat di dalam Peristiwa G30S itu juga diterima para keluarga mereka. “Mobil-mobil WARA ditabraki, Ibu-ibu AU di pasar diludahi dan lain-lain,” kata Omar Dani dalam kesaksiannya kepada JMV Soeparno M. Cholil yang dimuat di buku Menyingkap Kabut Halim 1965.

  • Benteng Pertahanan Zaman Kerajaan

    NAMBI dilantik sebagai patih amangkubhumi oleh Raden Wijaya ketika mendirikan Kerajaan Majapahit. Sang patih difitnah Mahapati tengah membangun benteng pertahanan dan menyiapkan pasukan untuk melawan Raja Jayanagara, putra Wijaya. Prabu Jayanagara yang percaya bualan itu pun pergi ke Lumajang. Nambi dan sanak saudaranya dibinasakan. Benteng di Pajarakan diduduki. Begitulah pemberontakan Nambi diberitakan dalam Nagarakrtagama, Serat Pararaton dan Kidung Sorandaka. Selain soal pemberontakan, kisah itu juga menggambarkan adanya benteng sebagai sistem pertahanan militer.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page