top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kecelakaan Pesawat Garuda di Mumbai India

    PADA 28 Mei 1968 pesawat Garuda jenis Convair CV-990 dengan registrasi PK-GJA jatuh di dekat Bandara Mumbai, India. Seluruh penumpang 29 orang (15 penumpang dan 14 awak) tewas. Beberapa warga desa di Bilalpada terkena puing-puing pesawat. Bahkan salah satunya meninggal. Pesawat itu terbang dari Jakarta, menuju Amsterdam, Belanda, dengan transit di Mumbai, Karachi, Kairo, dan Roma. “Pesawat itu jatuh dalam posisi hampir vertikal, sekitar 4,5 menit setelah lepas landas,” demikian data aviation-safety.net. Salah satu korban adalah Ir. Paula Putuhena, istri Menteri Kesehatan G.A. Siwabessy. Mereka menikah pada 3 Desember 1958. Paula lulus dari jurusan kimia Institut Teknologi Bandung. Dia pindah dari Departemen Pertanian ke BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) yang dipimpin oleh Siwabessy.

  • Eksekusi Mati dengan Banteng Penghukum yang Tak Kenal Ampun

    HUKUMAN mati bukan hal baru dalam sejarah peradaban manusia. Gambaran proses eksekusi mati dengan keji dapat ditelusuri melalui beragam artefak. Di antaranya empat lukisan gua di Cingle de la Mola Remigia, kawasan pantai timur Spanyol, dari tahun 6500 SM. Lukisan-lukisan tersebut digambarkan oleh seorang ahli sebagai “pembunuhan tergorganisir”. Salah satunya menunjukkan seorang pria terbaring, tangan dan kakinya terikat, dan tubuhnya penuh anak panah. Dalam gambar tersebut juga terlihat tujuh belas orang tampak mengangkat busur mereka. Sejak zaman kuno hingga era modern, berbagai metode penyiksaan diterapkan untuk mengeksekusi orang-orang bersalah atau pelaku kejahatan. Dalam banyak kasus, hukuman mati tak hanya dijatuhkan kepada pelaku pembunuhan. Menurut Joseph A. Melusky dalam “Old (and Gruesome) Methods of Execution”, termuat di Capital Punishment: An Encyclopedia of History, Politics, Culture, and the Law, hukuman mati di Roma kerap diberikan kepada mereka yang melakukan pencemaran nama baik, membuat maupun menyanyikan lagu-lagu yang menghina, membakar setumpuk jagung di dekat rumah, melakukan sumpah palsu, membuat keributan di malam hari di kota, hingga melakukan pencurian budak.

  • Dua Saudara Kembar Jadi Marinir di Surabaya

    SETELAH Negeri Belanda dibebaskan tentara Sekutu dari pendudukan tentara Jerman-Nazi, rakyat Belanda lega. Mereka terbebas dari lima tahun pendudukan tentara Jerman. Hal itu dialami juga oleh Gerrit dan Jacob Bruinsma, putra pria Belanda bernama Hendrik Bruinsma. Keduanya bahkan bisa “berkelana” ke tempat yang ribuan mil jauhnya dari negeri mereka. Gerrit dan Jacob adalah sepasang anak kembar. Mereka sama-sama lahir di Hoensbroek pada hari yang sama, 23 Maret 1927. “Tapi, aku sepuluh menit lebih tua, kan!” kata Jacob Bruinsma di koran De Limburgsch Dagblad tanggal 6 September 1947 dan Helmond Courant tanggal 13 September 1947. Keduanya bersekolah bersama-sama di sekolah dasar di Treebeek. Gerrit dan Jacob juga sama-sama menyelesaikan sekolah menengah pertama di zaman Perang Eropa. Di masa pendudukan Jerman, Gerrit dan Jacob bekerja di pertambangan Emma.

  • 28 Mei 1738: Joseph-Ignace Guillotin Lahir

    28 MEI 1738, Joseph-Ignace Guillotin lahir di Saintes, Prancis. Namanya menjadi eponim untuk alat pemenggal kepala yang digunakan saat eksekusi mati, guillotine. Meskipun menggunakan namanya, Guillotin bukanlah penemu dari mesin jagal tersebut. Guillotin membangun reputasi sebagai dokter yang terkemuka di Prancis. Aktivitasnya dalam politik membawanya terpilih sebagai anggota Majelis Nasional. Sebagai anggota Majelis, dia mengajukan rancangan undang-undang (RUU0 untuk reformasi medis pada 1791. Antara lain berisi penyetaraan dokter dan ahli bedah, pembentukan kampus kedokteran nasional, standarisasi profesi, serta penyatuan teori dan klinik. Pergolakan politik Revolusi Prancis dan jatuhnya monarki membuat Majelis Nasional tak sempat mengesahkannya. Gagasan dalam RUU ini akhirnya menjadi fondasi hukum kedokteran modern Prancis lewat undang-undang baru pada Maret 1803.

  • Dinamika Majalah Sastra di Indonesia (Bagian II)

    CHAIRIL ANWAR terkenal sebagai penyair yang suka keluyuran. Kebiasaan ini terjadi pula saat ia mengasuh majalah sastra Gema Suasana. Chairil menerbitkan majalah itu bersama sastrawan Asrul Sani dan Rivai Apin pada Januari 1948. Mereka berkantor di Jl. Gunung Sahari 84, Jakarta Pusat. Setahun kemudian, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Begitu pula Gema Suasana tak berumur panjang. “Generasinya Chairil Anwar ini sebetulnya satu generasi sastrawan yang tidak punya majalah sastra,” kata kritikus sastra Zen Hae. “Pada saat itu, Indonesia baru merdeka dan belum ada majalah sastra yang muncul secara kuat.” Sastrawan generasi Chairil Anwar disebut Angkatan 45. Selain Chairil, sastrawan Angkatan 45 antara lain Asrul Sani, Rivai Apin, H.B. Jassin, Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, Mochtar Lubis, N.H. Dini, Ramadhan K.H, Ali Akbar Navis, Utuy Tatang Sontani, Achdiat Kartamihardja, dan lainnya. Meski sudah terpapar semangat nasionalisme, karya sastrawan Angkatan 45 masih merujuk ke Barat.

  • Restoran Tip Top, Paris Rasa Medan

    DI seberang mansion Tjong A Fie, kediaman taipan tersohor dan terkaya di kota Medan zaman kolonial, sebuah gedung restoran berarsitektur Belanda berdiri kokoh. Bangku-bangku rotan disusun melingkar dan berjejal rapi di terasnya. Di atas gedung terpampang tulisan “Tip Top”. “Tip Top itu dari bahasa Inggris, yang bermakna prima atau sempurna,” ujar Didrikus Kelana (46) atau akrab disapa Kus, pewaris sekaligus pengelola generasi ketiga Restoran Tip Top, kepada Historia. “Bangunan restoran ini masih asli, sejak 1934 sampai sekarang. Dulu bangunan ini dipakai sama kongsi dagang Cina.” Restoran Tip Top berlokasi di Jalan Ahmad Yani, jalan tertua di Medan. Ia masuk dalam kawasan Kesawan. Sejak dulu hingga sekarang, ia dikenal sebagai pecinan dan menjadi kawasan yang ramai dan sibuk.

  • Paris Palsu di Masa Perang Dunia I

    SEBELUM Perang Dunia I pecah, orang-orang Prancis begitu terpesona dengan pesawat terbang. Menyaksikan burung besi saling melintasi langit Paris menjadi hiburan yang begitu diminati para penduduk saat itu. Namun, perang menyadarkan orang Prancis bahwa pesawat terbang tak hanya memberi kesenangan dan hiburan tetapi juga dapat menyebabkan kematian serta kehancuran. Sebab, ketika perang tengah berkecamuk, pesawat-pesawat Jerman terbang di atas negara itu untuk melancarkan serangan udara yang menyebabkan kehancuran pusat-pusat bisnis dan area permukiman di wilayah Prancis. Serangan udara yang dilancarkan Jerman membuat pihak Prancis harus memutar otak untuk mencegah kerusakan dan kematian yang lebih besar di antara penduduk sipil. Salah satu gagasan yang muncul adalah membuat sebuah kota palsu sebagai kamuflase untuk mengelabui musuh.

  • Sukarno dan Baduy

    PRESIDEN Joko Widodo menyampaikan pidato kenegaraan dalam sidang tahunan MPR RI dan sidang bersama DPR dan DPD RI pada 16 Agustus 2021. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Jokowi memakai pakaian adat. Kali ini pakaian adat suku Baduy atau Kanekes yang terletak di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Dari empat tugas hidup masyarakat Baduy, salah satunya berkaitan dengan pemerintah, yaitu ngasuh ratu ngajayak menak (mengasuh penguasa dan mengemong para pembesar negara). "Oleh karena itu, mereka tabu melawan atau memberontak kepada pemerintah 'yang harus diasuh dan dibimbingnya'. Keyakinan terhadap tugas tersebut tidak pernah luntur ataupun berubah sekalipun terjadi pergantian pemerintahan," tulis Toto Sucipto dan Julianus Limbeng dalam Studi Tentang Religi Masyarakat Baduy di Desa Kanekes Provinsi Banten.

  • Miris, Nasib Bandara Internasional Pertama di Indonesia

    BANDAR Udara (Bandara) Kemayoran, Jakarta, resmi berdiri pada 8 Juli 1940. Inilah bandara pertama untuk pelayanan penerbangan internasional di Indonesia. Selama beroperasi, bandara ini sangat terkenal. Komik Tin-Tin karangan Herge, seniman asal Belgia, yang terkenal itu menyebut Bandara Kemayoran dalam seri Flight 714 to Sydney. Seri ini menceritakan perjalanan Tin-Tin, tokoh utama komik, dari London menuju Sydney untuk mengikuti kongres Astronotika Internasional. Dia pergi bersama Kapten Haddock, Profesor Calculus, dan anjingnya Snowy. Mereka transit di Bandara Kemayoran, lalu beralih maskapai. Dari Qantas Boeing 707 penerbangan 714 ke pesawat pribadi milik miliuner Lazslo Carriedas. Mereka berpetualang ke Pulau Bompa, wilayah Sondonesia. Tin-Tin adalah komik laris pada masanya dan terjual di hampir 50 negara. Dengan demikian nama bandara yang pernah menggelar acara ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina, tersebut semakin dikenal luas.

  • Begal Dulu Begal Sekarang

    PRABU Jayabaya, raja Kediri, telah meramalkan bahwa begal pada ndhugal, rampok padha keplok-keplok. Ramalan tersebut ditafsirkan oleh Sindung Marwoto dalam Ramalan Prabu Jayabaya: Mengungkap Tanda-tanda Zaman sebagai berikut: "Pencopet, perampok, perompak, maling dan sejenisnya semakin kurang ajar. Dia melakukan aksinya dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Ia menjarah-rayah harta orang lain dengan semena-mena. Ia bersorak-sorai karena menjarah dan merampok semakin mudah dan hasilnya semakin banyak, risiko perbuatan mereka semakin kecil. Kalau toh tertangkap dan masuk penjara, mereka dengan sangat mudah menyuap pejabat hukum untuk melepaskan.” Begal (bahasa Jawa) merupakan istilah klasik dalam dunia perbanditan di Jawa. Begal, menurut sejarawan Wasino dalam Kapitalisme Bumiputera, merupakan pencurian oleh penjahat dengan cara menghadang korban di tengah jalan.

  • Kisah Penipu Ulung yang Mencoba Menjual Menara Eiffel

    MENARA Eiffel merupakan bangunan bersejarah terkenal yang menjadi ikon Paris. Menara Eiffel didirikan sebagai bagian dari Exposition Universelle 1889, sebuah pameran dunia yang bertepatan dengan peringatan seratus tahun Revolusi Prancis. Monumen besar yang dirancang oleh Gustave Eiffel ini memiliki sebuah ruangan di puncak menara yang berfungsi sebagai ruang kantor. Di tempat itulah Eiffel menjamu dan menghibur para tamu, salah satu tokoh terkenal yang pernah berkunjung ke sana adalah Thomas Edison. Sejak awal berdirinya Menara Eiffel, bangunan yang pernah didapuk sebagai bangunan tertinggi di dunia pada akhir abad ke-19 hingga awal abad 20 itu sukses menarik perhatian banyak orang. Tak hanya memuji, ada pula yang mengkritik bangunan ini.

  • Ujung Perseteruan Sukarno dengan Presiden Prancis

    PRESIDEN Sukarno pernah punya pengalaman tidak mengenakan dengan Charles de Gaulle. Beredar rumor bahwa Presiden Prancis itu benci kepada Bung Karno. Dengan alasan tertentu, de Gaulle cenderung bersikap sinis terhadap Sukarno. “Suatu kali saya mengetahui bahwa de Gaulle tidak senang kepada saya,” ujar Sukarno kepada penulis otobiografinya Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Charles André Joseph Marie de Gaulle merupakan Presiden Prancis yang memerintah pada periode 1959-1969. Menurut Sigit Aris Prasetyo dalam Dunia dalam Genggaman Bung Karno, antipati de Gaulle bermula karena Sukarno dianggap merecoki kepentingan Prancis di wilayah jajahan. Seperti diketahui, Sukarno begitu aktif menyokong perjuangan koloni Prancis untuk merdeka dari penjahahan, macam Aljazair di Afrika atau Vietnam, Laos, dan Kamboja di Indocina. Selain itu, Gaulle mencap Sukarno sebagai pemimpin Asia yang doyan perempuan cantik. Istilah Prancisnya, “Le Grand Seducteur” atau sang perayu agung.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page