top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mata Uang Zaman Kuno

    JUAL beli bukan hal baru bagi masyarakat Hindu-Buddha awal. Wli, istilah Jawa Kuno, untuk beli ditemukan dalam prasasti dari 878 M. Begitu juga istilah Sansekerta, wyaya, ditemukan pada tahun yang sama dalam prasasti lain. “Ini mengindikasikan memang sudah ada transaksi jual beli pada masa itu. Namun, belum diketahui dengan pasti apakah memang semua transaksi menggunakan mata uang,” tulis arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa. Prasasti dari akhir abad 9 M hingga awal 10 M mengindikasikan mata uang perak dan emas telah umum digunakan. Jumlahnya terbatas dilihat dari nilai mata uang emas dan perak yang berharga besar. Maksudnya, untuk pembelian barang berharga tinggi, misalnya seekor kerbau kira-kira 39,569 gram emas atau mas 1 su. Jika dengan perak seberat 212,301 gram atau dha 5 ma 8. Sementara kambing, harganya pirak 4 ma.

  • Hiburan Masyarakat Jawa Kuno

    DI JAWA, seni pertunjukan jalanan sudah ada sejak abad 9. Kesenian itu dipertontonkan di kerumunan pasar dan di keramaian jalanan. Begitu pula dengan pertunjukan wayang yang semula digelar saat penetapan sima (tanah bebas pajak), kemudian hadir dalam pesta perkawinan rakyat. Arkeolog Puslit Arkenas Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa menjelaskan, dalam prasasti dikenal juga pertunjukkan keliling. Para pemainnya disebut menmen. Candi Borobudur, melalui reliefnya memperlihatkan suasana bagaimana tarian pinggir jalan dilakukan sebagaimana pengamen jalanan di masa kini. Mereka mendapatkan penghasilan dari para penonton. Berikut ini keterangan dari prasasti, naskah kesusastraan, dan relief di candi, mengenai hiburan masyarakat Jawa Kuno.

  • Begal di Jawa Kuno

    KEN ANGROK barangkali perampok paling melegenda di Jawa. Sepak terjangnya tidak saja membuat resah masyarakat di wilayah timur Gunung Kawi, tapi juga membuat penguasa di Tumapel hingga Daha kerepotan mengejarnya. Ternyata, banyak aksi bandit yang tercatat dalam berbagai sumber jauh sebelum Ken Angrok lahir pada abad 12 M. Dalam banyak kasus, penguasa tak tinggal diam dengan mengamankan jalan yang menghubungkan antardesa untuk distribusi barang dagangan. Prasasti Mantyasih dari 907 M menceritakan penduduk Desa Kuning ketakutan yang diperkirakan di lokasi itu sering terjadi pembegalan atau perampokan. Lima orang patih pun ditugaskan menjaga keamanan jalan.

  • Siapa Van der Parra, Pemilik Rumah Kuno di Depok?

    SEBAGIAN besar atapnya rubuh. Beberapa temboknya juga hilang. Tanaman rambat menutupi sebagian tembok yang masih berdiri. Rumput liar tumbuh tak terurus. Rumah kolonial itu lebih mirip rumah hantu. Namun, jendela-jendela kacanya yang besar menunjukkan rumah itu bukan milik orang biasa. Kini, rumah di Cimanggis itu diperbincangkan karena akan dirobohkan untuk membangun Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Wakil Presiden Jusuf Kalla justru menilai tak ada yang perlu dibanggakan dengannya, karena rumah itu bekas hunian istri kedua gubernur jenderal VOC yang korup. Ratu Farah Diba, ketua Depok Heritage Community, menyayangkan pernyataan ketua Yayasan UIII itu. “Jangan menilai tinggalan sejarah dari kehidupan pemiliknya. Namun, dari segi peninggalan bersejarahnya,” kata Farah kepada Historia, Selasa (16/2).

  • Dreamsea, Pusat Data Naskah Kuno Se-Asia Tenggara

    MENGANTISIPASI kondisi naskah-naskah kuno se-Asia Tenggara yang minim perhatian, Centre for the Study of Manuscript Cultures (CSMC) Universitas Hamburg, Jerman bekerjasama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (PPIM UIN) Syarif Hidayatullah (Syahid) meluncurkan program bertajuk Dreamsea pada Rabu (24/2/17) siang di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Program itu didanai lembaga amal Arcadia. Dreamsea merupakan program digitalisasi naskah-naskah kuno se-Asia Tenggara yang digagas pada Desember 2017. Proses digitalisasi akan berjalan mulai Juni 2018 hingga 2022. Selama enam bulan pertama sejak Desember 2017, tim Dreamsea mempersiapkan protokol pendigitalan naskah kuno. “Target secara keseluruhan 240 ribu gambar karena kalau menyebut manuskrip, satu manuskrip bisa jadi 50 halaman, jadi ini gambar. Cara pengumpulan lewat Jaringan Masyarakat Pernaskahan Nusantara, untuk di Indonesia khususnya. Kemudian, di Asia Tenggara kita menggunakan jaringan asosiasi-asosiasi sejarah. Di Filipina, misalnya, Philippine Historical Association,” kata Prof. Dr. Oman Fathurahman, salah satu penggagas Dreamsea dari PPIM UIN Syahid, kepada Historia.

  • Hukuman bagi Penjahat pada Zaman Kuno

    SEORANG penjahat dengan pisau menyerang tiga orang. Seorang terjatuh, dua menghindar. Pada adegan lain, seorang perempuan sambil menggendong anak diganggu empat orang. Seorang penyerang terjatuh sambil mengelak dari pukulan tongkat. Dua penjahat lainnya menunjuk ke arah perempuan. Di bagian lain, dua orang berkelahi. Seorang memegang pedang. Di bagian lain juga ada adegan perkelahian tapi tanpa senjata. Itulah beberapa kasus kejahatan di Jawa Kuno yang terbaca dalam Relief Karmawibhangga di Candi Borobudur. Menurut arkeolog UGM Slamet Pinardi dalam “Upaya pencegahan Kejahatan dalam Jaman Mataram Kuno” termuat di Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV, selain mengajarkan hukum sebab akibat, relief itu juga dapat dianggap sebagai upaya mengurangi dan mencegah kejahatan pada masanya.

  • Sumber Hukum Masa Jawa Kuno

    RAKYAT Desa Balingawan makin melarat. Mereka sering menanggung denda atas kejahatan yang tak mereka ketahui. Tak jarang warga menemukan darah berceceran. Sesekali sesosok mayat tergeletak begitu saja di tegalan Gurubhakti pada pagi hari. Namun, tak diketahui siapa pelakunya. Malangnya, tegalan itu masuk wilayah desa mereka. Warga pun mesti membayar denda atas rāh kasawur (darah berceceran) dan wankay kabunan (mayat yang terkena embun). Mereka lalu memohon pada Rakryān Kanuruhan melalui tiga patih Desa Balingawan. Permohonan itu dikabulkan. Tegalan Gurubhakti ditetapkan sebagai sima. Warga desa tak lagi takut. Jalanan aman. Demikian yang diberitakan Prasasti Balingawan yang dikeluarkan tahun 891 M. Epigraf Boechari dalam "Perbanditan di Dalam Masyarakat Jawa Kuno" termuat di Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti mengatakan apa yang terjadi pada warga Balingawan itu terjelaskan lewat naskah Hindu Sārasamuccaya. Penduduk Balingawan harus bayar denda karena lalai atas terjadinya pembunuhan di malam hari. Sampai-sampai pembunuhan itu tak diketahui siapa pun sehingga mayatnya terkena embun di pagi hari.

  • Rekam Jejak Rupiah Terhadap Kurs Dollar

    Pasang-surut nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS yang mencerminkan kondisi perekonomian tiap-tiap presiden yang menjabat.

  • Penegak Hukum Masa Jawa Kuno

    DI DALAM istana, Raja Wilwatikta makin tekun dalam aktivitasnya. Di pengadilan, dia tak memihak dan sangat hati-hati. Dia ikuti semua aturan dalam kitab Agama. Sang raja tak memihak karena diberi kekayaan. Dia adil kepada semua orang. “Perbuatan baik diupayakan untuk mengetahui masa yang akan datang dan sebagainya, sesungguhnya beliau penjelmaan dewa,” catat Mpu Prapanca dalam karya monumentalnya, Nagarakrtagama. Dari sana diketahui Raja Hayam Wuruk menjalankan pengadilan tak sembarangan. Dalam kitab itu pula dijelaskan, sang prabu mengangkat keponakannya, Wikramawardana, sebagai wakil raja dalam menjalankan pengadilan. Istilahnya dalam bahasa Jawa Kuno adalah paningkah cri narendradhipa.

  • Cara Berpakaian Orang Jawa Kuno

    TAK kalah menawan dengan Putri Indumati, ina dan uwa-nya, bersolek mengenakan baju merah. Keduanya belum terlalu tua. Rambut mereka bergelombang, diselingi warna kelabu. Lalu para dayang belia datang bagaikan dewi, mengenakan kemben kain wulang emas. Selendang emas murni yang mereka sampirkan pada bahu tampak berkilauan seperti sayap untuk terbang. Mereka masih keturunan bangsawan sahabat raja. Mereka tengah menghadiri sayembara memperebutkan Putri Indumati. Suasana itu diungkapkan oleh Mpu Monaguna, pujangga dari Kadiri pada abad ke-13 M lewat karyanya Kakawin Sumanasāntaka. Dari gambaran singkat itu terbayang bagaimana pakaian orang-orang pada masa lalu. Selain dari karya sastra, informasi itu juga muncul dalam relief candi dan prasasti.

  • Pelawak Zaman Kuno

    PEMAIN widu bernyanyi bersama. Tangkil hyang mendongeng. Pirus dan menmen menceritakan lelucon cabul. Pemain wayang wong disambut tawa dan sorak sorai. Penampilan mereka di panggung luar biasa. Warga desa yang menonton bersuka ria, tertawa terpingkal-pingkal, dan berteriak. Pertunjukan di sebuah pesta pernikahan itu dilukiskan Mpu Monaguna, pujangga dari Kadiri pada abad ke-13 M dalam Kakawin Sumanasāntaka. Teks itu menggambarkan keberadaan pelawan sejak masa lalu. Dan lawakan cabul rupanya menjadi daya tarik penonton. Menurut arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa keberadaan pelawak juga disebut dalam beberapa prasasti. Mereka dikenal dengan men-men sebagai pemain pertunjukkan keliling dan ijo-ijo sebagai pemain lawak.

  • Tekanan Jepang pada Media

    BEGITU Jepang menguasai Indonesia, suratkabar berbahasa Belanda tak terbit lagi. Kantor berita Belanda Aneta kosong ditinggalkan karyawannya. Hanya suratkabar berbahasa Melayu dan bahasa daerah yang masih boleh terbit, seperti harian Pemandangan, Tjahaja Timoer, dan Berita Oemoem. Namun demikian, Jepang melakukan pengawasan ketat. Isi berita harus sesuai dengan sudut pandang mereka. Untuk bisa meliput, para wartawan dan insan media diberi tanda khusus di lengan berupa tulisan beraksara kanji Shimbun Hito atau Shimbun Jin (orang pers). “Tanda ini memberi kebebasan bergerak dan bahkan boleh lewat dengan aman kalau harus melewati pos-pos piket di gardu monyet,” kenang wartawan senior BM Diah dalam biografinya BM Diah, Wartawan Serba Bisa.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page