Hasil pencarian
Cari di situs ini
10070 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Penemuan Mosaik Satir Yunani Kuno
JEJAK-JEJAK permukiman Yunani kuno kembali ditemukan. Kali ini, sebuah lantai mosaik yang diduga berasal dari sekitar pertengahan abad ke-4 SM atau Periode Yunani Klasik Akhir terkuak di situs arkeologi Eretria, kota pesisir Yunani yang terletak di Pulau Evia. Menurut pernyataan dari Kementerian Kebudayaan Yunani pada Sabtu, 3 Agustus 2024, lantai mosaik ini ditemukan secara tak sengaja selama pemasangan pipa air proyek pemerintah. Mosaik bulat berdiameter 1.13 meter menampilkan dua sosok pria yang merepresentasikan makhluk mitologi Yunani bernama satir. Satir berwujud setengah manusia dan setengah hewan, ditandai dengan adanya ekor, tanduk, dan telinga runcing. Lantai mosaik ini berada di reruntuhan bangunan yang dulunya adalah sebuah rumah mewah di Eretria kuno. Ia terbuat dari batu kerikil alami. Susunan batu berwarna putih membentuk badan dari kedua satir. Batu berwarna-warni digunakan untuk menampilkan fitur wajah, terutama rambut mereka yang kuning terang.
- Bunga dan Buah pada Zaman Kuno
HANOMAN, kera bermahkota dengan kain selutut mengobrak-abrik taman milik Rahwana yang ditumbuhi pohon asoka. Di taman itu pula Sinta dikurung setelah diculik dari suaminya, Rama. Potongan kisah Ramayana dalam relief Candi Panataran, Blitar itu, juga menggambarkan pemandangan alam. Asoka atau soka (Ixora Javanica) salah satu tanaman yang sering muncul dalam penggambaran alam Jawa Kuno, baik dalam relief maupun karya sastra kakawin. Hingga kini, bunga soka masih bisa ditemui. Ia memiliki bunga merah yang bergerombol, kayu kehitaman, dan berdaun lebat. Selain tanaman hias, dalam relief juga terdapat tanaman budidaya, seperti pohon aren (Arenga pinnata) pada relief di pendopo teras Candi Panataran. Seniman pahat menggambarkannya: batang lurus menjulang, daun berhelai-helai, dan buah menggerombol dan menggantung. Pada batangnya bambu tergantung untuk menampung tetesan nira. Minuman tuak dari air nira digemari hingga kini.
- Mengalihwahanakan Peristiwa 1998
KETIKA mantan Presiden Soeharto wafat pada 2008, redaksi majalah Tempo menyiapkan edisi khusus untuk mengulas kiprahnya. Edisi khusus ini dengan sampul cerita ikonik sekaligus kontroversial. Soeharto diilustrasikan duduk bersama keenam anaknya mirip peristiwa The Last Supper. “Setelah dia pergi,” demikian judul utama (headline) Tempo edisi 4–10 Februari 2008 itu. Salah satu wartawan Tempo, Leila S. Chudori kebagian menggarap tema pelanggaran HAM tahun 1998 di pengujung masa kekuasaan Soeharto. Leila juga membahas tentang aktivis mahasiswa yang menjadi korban rezim Orde Baru. Sebagian dari mereka mengalami penculikan, disiksa aparat, bahkan ada yang hilang atau tak diketahui keberadaannya.
- Hantu Jepang di Kaki Semeru
KESEPAKATAN Perjanjian Renville antara Republik Indonesia dengan Belanda pada awal 1948, mewajibkan pihak Indonesa untuk menyerahkan para zanryu nihon hei (serdadu Jepang yang tetap tinggal dan memilih berjuang untuk Indonesia) kepada Belanda. Namun, permintaan itu direspons setengah hati. Secara diam-diam, TNI justru berupaya melindungi para eks serdadu Jepang itu. “Walau bagaimana pun kehadiran para zanryu nihon hei sangat menguntungkan untuk Indonesia, baik secara politik maupun militer,” ungkap sejarawan asal Jepang, Aiko Kurasawa. Guna menghindari itu, pada Juli 1948, Kolonel Sungkono, Gubernur Militer Jawa Timur, memanggil Tatsuo Ichiki, seorang Jepang yang sangat dituakan oleh para zanryu nihon hei. Terlebih keberpihakannya kepada Indonesia sudah sejak 1945, ketika ia bergaul akrab dengan diplomat senior Indonesia Haji Agus Salim di Jakarta.
- Proyek Rutin Hantu PKI
ISU kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) tampaknya tak pernah absen mewarnai perpolitikan Indonesia. Setiap tahun, isu ini dipakai oleh berbagai kalangan untuk berbagai kepentingan. Dan jualan isu ini sejak Orde Baru hingga Reformasi masih saja laku. Yang masih hangat misalnya pada demonstrasi menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP). Demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Rabu (24/6/2020) itu diwarnai aksi pembakaran bendera PKI dan bendera Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai palu arit yang telah dilarang sejak 1966 itu disangkutpautkan dengan munculnya RUU HIP. Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam, menyebut bahwa fenomena ini berkaitan dengan pemilihan presiden 2024 nanti. Asvi menengarai pihak-pihak yang berkepentingan menghidupkan isu komunisme adalah bagian dari rezim Orde Baru. Mereka hendak menjadikan isu komunisme kembali menjadi musuh bersama.
- Ketika Hollywood Takut Hantu Komunis
SUATU sore di pengujung September 1947 yang panas di sebuah desa di Kern County, California, Amerika Serikat (AS). Christopher Trumbo dan saudara kandungnya, Nikola Trumbo, hendak "ngadem" di teras rumah-peternakan (ranch) mereka yang menghadap ke Gunung Pinos. Selagi asyik, tiba-tiba Chris diberitahu Niki –panggilan Nikola– yang tangannya mununjuk ke arah sebuah mobil di kejauhan yang tengah bergerak di jalan desa. Kedua bocah itu tak sabar untuk menunggu mobil itu lebih dekat. Maklum, saat itu mobil masih jarang terlihat di desa mereka. Mobil yang lama “menghilang” terhalang dinding Bukit Rattlesnake itu akhirnya terlihat kembali, bahkan mendatangi rumah mereka. Dari ruang kemudi mobil kemudian turun seorang pria. Dia menanyakan kakak-beradik tadi, kemudian diantar Chirst dan Niki ke dapur rumah untuk menemui si empunya rumah, Dalton Trumbo, novelis cum penulis skenario terpopuler Hollywood. Pria bermobil itu ternyata Wakil Marshal David E. Hayden. Dia datang ke rumah Dalton untuk mengantarkan surat panggilan pengadilan kepada Dalton. Dalton diminta memberi kesaksian dalam perkara yang dituduhkan House Un-American Activities Committee (HUAC), sebuah komite yang dibentuk badan legislatif AS, yakni penyusupan komunis ke dalam industri film AS Hollywood.
- Misteri Rumah Hantu di Gang Pecenongan
MALAM telah larut tetapi kereta kuda tak henti berdatangan menuju sebuah rumah di kawasan Gang Pecenongan, Batavia tahun 1868. Di masa lalu, ketika listrik belum ada di Batavia, banyak penduduk di wilayah ini yang menggunakan lampu berbahan bakar minyak untuk menerangi area rumah mereka. Menurut Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe, salah satu yang banyak digunakan adalah cenong –semacam lampu gantung yang namanya diambil dari kata Betawi. Konon nama Pecenongan diambil dari lampu gantung ini. Sementara itu, kereta-kereta kuda yang berdatangan ke wilayah Pacenongan memiliki tujuan yang sama, yakni rumah Tuan E, seorang pria Belanda yang disebut sebagai “penguasa gang Pecenongan”. Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 19 Agustus 1868, melaporkan bahwa penduduk Batavia tengah dihebohkan dengan munculnya sebuah rumor yang menyebut bahwa rumah Tuan E. berhantu.
- Makhluk Halus dalam Catatan Perjalanan Orang Belanda
MEMASUKI abad ke-19, Hindia Belanda, khususnya Pulau Jawa, telah menarik minat banyak pelancong asing. Mereka umumnya menulis catatan perjalanan yang berisi tentang kondisi geografis dan keindahan alam daerah-daerah yang dikunjunginya. Tak jarang mereka juga menulis tentang kuliner dan kebiasaan-kebiasaan unik masyarakat setempat. Menurut Achmad Sunjayadi, pengajar dan peneliti di Program Studi Belanda dan Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, catatan perjalanan tak hanya berguna bagi penulis sebagai sarana aktualisasi diri, tetapi juga berharga bagi orang lain, terutama berkaitan dengan informasi wilayah yang dikunjungi. “Catatan perjalanan merupakan salah satu sumber untuk mengetahui kondisi masyarakat dan memberikan gambaran wilayah di Hindia Belanda,” tulisnya dalam Pariwisata di Hindia-Belanda (1891–1942). Kebanyakan penulis catatan perjalanan berasal dari Eropa dan Amerika dengan beragam latar belakang pekerjaan, mulai dari pegawai sipil, perwira militer, peneliti (naturalis), hingga pemuka agama. Salah satunya Augusta de Wit, kontributor The Strait Times, surat kabar berbahasa Inggris di Singapura. Penulis perempuan asal Belanda itu berkunjung ke Jawa pada 1894.
- Jenis-jenis Makhluk Halus
CLIFFORD GEERTZ dikenal sebagai antropolog yang menerbitkan karya-karya penting tentang Jawa dan Bali. Pada 1950-an, dia melakukan penelitian di Mojokuto, nama samaran untuk Pare, Jawa Timur, yang menghasilkan karya paling terkenal, yaitu The Religion of Java (1960), diterjemahkan menjadi Abangan, Santri, Priayi dalam Masyarakat Jawa (1983). Dalam buku tersebut, Geertz mengklasifikasikan masyarakat muslim di Jawa ke dalam tiga macam, yaitu abangan, santri, dan priayi. Di samping itu, yang menarik dalam buku tersebut, Geertz juga menguraikan jenis-jenis makhluk halus yang diyakini masyarakat Jawa. Pertama, memedi yaitu makhluk halus yang menakut-nakuti. Antara lain jrangkong (berbentuk kerangka manusia); wedon (jenazah berkain kafan); banaspati (berjalan di atas kedua tangannya sambil mulutnya menyemburkan api; kepalanya terletak pada tempat alat kelaminnya).
- Khazanah Hantu Indonesia
MAJALAH Penjebar Semangat didirikan dr. Sutomo pada 1933. Majalah berbahasa Jawa ini awalnya menurunkan berita politik. Namun, lama-kelamaan tidak begitu laku. Akhirnya, membuka rubrik cerita hantu, “Alaming Lelembut.” Majalah lain yang memiliki cerita hantu adalah Joko Lodang dengan “Jagating Lelembut” dan Joyo Boyo dengan “Cerita Misteri.” “Cerita hantu di Panjebar Semangat muncul tahun 80-an ketika oplah mulai turun. Lama-lama jadi menu utama dan yang paling favorit. Hipotesis saya, kalau tidak ada cerita hantu, majalah ini tidak akan bertahan sampai sekarang,” kata Sunu Wasono, pengajar sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dalam bincang ilmiah “Tema Horor dalam Masyarakat” di FIB UI, Depok, Jawa Barat (3/10). Menurut Sunu, yang membuat disertasi tentang dongeng lelembut di Penyebar Semangat pada 2015, cerita hantu mencerminkan pandangan atau kepercayaan masyarakat karena bersinggungan dengan kehidupan dan kematian. Dalam konsep Jawa, secara garis besar ada dua jenis kematian. Kematian yang baik seperti mati karena sudah tua, mati di jalan Tuhan, mati saat melahirkan atau dilahirkan. Yang kedua adalah kematian karena sebab-sebab yang tidak lumrah, seperti mati bunuh diri atau kecelakaan.
- Usai Reformasi, Pocong Mendominasi
PENGAJAR sastra Prancis Universitas Indonesia Dr. Suma Riella Rusdiarti punya perhatian menarik terkait Reformasi. Menurutnya, Reformasi tak hanya menggulingkan kediktatoran Soeharto dan mengembalikan demokrasi di Indonesia, tapi juga menumbangkan dominasi tokoh-tokoh mistis macam Nyi Roro Kidul atau Nyi Blorong sebagai hantu utama di layar lebar. Peran mereka digantikan oleh pocong. “Film dulu berkitan dengan mitos. Makin ke sini berkitan dengan pocong. Hantu khas Indonesia hari ini adalah pocong. Dua puluh tahun yang lalu, hantu pocong belum jadi hantu utama. Sesudah Reformasi, hantu pocong jadi pemeran utama dan muncul di layar,” ujar Riella. Jenis hantu pocong, yakni hantu berbungkus kain putih, sebenarnya telah ada sejak lama. Naskah-naskah Jawa kuna menamakan hantu jenis itu wedon. “Pocong dan wedon sama. Itu tradisi lisan. Munculnya sejak kapan, agak sulit dilacak,” kata Suwardi Endraswara, dosen bahasa Jawa di Universitas Negeri Yogyakarta. Suwardi menambahkan, wedon termasuk dalam arwah yang belum sempurna (nglambrang) dan menjadi anak buah dari penguasa lelembut di suatu wilayah.
- Amirmachmud Larang PKI Ikut Pemilu
WALI Kota Solo Gibran Rakabuming Raka kesal. Pasalnya, dirinya diserang dengan “senjata” yang sama untuk menyerang ayahnya dulu ketika berjuang untuk menjadi presiden. Seperti ayahnya, Presiden Joko Widodo, Gibran dikait-kaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kekesalan Gibran pun dituangkannya dengan “nge-Twit” untuk merespon cuitan penyerangnya, @BudiSan42575425, itu. “Bilang ke korlap lu. Serangan2 seperti ini udah kalian lakukan di 2014 dan 2019. Sudah terbukti 2x kalah dan masyarakat tidak simpatik. Masa mau lu ulangin lagi pola seperti ini di 2024?” cuit Gibran lewat akun Twitter-nya, @gibran-tweet. Kendati PKI telah lama mati dan aturan pemilihan umum (umum) telah beberapakali berubah, isu PKI tetap digunakan sejumlah pihak hingga kini. PDIP, partai yang mengusung Presiden Joko Widodo, menjadi pihak yang apes lantaran paling sering jadi partai yang disasar serangan menggunakan “senjata” PKI jelang hingga bergulirnya tahun politik.





















