Hasil pencarian
Cari di situs ini
10071 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dasar NU Mendukung Bung Karno
KH Abdul Wahab Chasbullah, Rais Am NU, punya kedekatan khusus dengan Presiden Sukarno. Dia bisa masuk ke Istana tanpa protokoler. Dan Sukarno menikmati humor dan kelicinan politiknya. Terlebih, dia motor penggerak NU sebagai partai politik. “Sukarno senang ketika NU keluar dari Masyumi dan menjadi partai sendiri,” kata sejarawan Greg Fealy kepada Historia. NU kemudian menjadi pendukung Sukarno terkuat. Bahkan, kendati memprotes pidato Sukarno di Amuntai, Kalimantan Selatan, pada Februari 1953 yang menentang pembentukan negara Islam, NU berusaha menghindari kritik yang menyinggung pribadi presiden. Di awal berdiri sebagai partai, NU menjadi oposisi pemerintah. Ia menanggalkan sikap oposisinya setelah mendapat jatah menteri di Kabinet Ali Sastroamidjojo I.
- Lika-liku Pasal 33 UUD 1945
BERDIRI di hadapan segenap anggota parlemen, Presiden Prabowo Subianto meminta dukungan kala menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 di Rapat Paripurna DPR RI, Rabu (20/5/2026). Dengan menggebu-gebu, Presiden Prabowo mengklaim beberapa kebijakannya, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), adalah perintah Pasal 33 dan Pasal 34 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. “Makan Bergizi Gratis sekarang sudah dinikmati oleh 62,4 juta penerima setiap hari. Angka ini termasuk 6,3 juta balita, 2 juta ibu menyusui, dan 868 ribu ibu hamil menerima MBG setiap hari. Kita juga akan memberi MBG ke 500 ribu lansia yang tinggal sendiri, yang hidup sebatang kara dan yang membutuhkan makan bergizi. Karena apa? Itu adalah perintah Undang-Undang Dasar Pasal 33 dan Pasal 34, bahwa kaum miskin harus diurus oleh negara,” terang Prabowo. Pasal 33, kata Prabowo, adalah cetak biru perekonomian yang mesti dijalankan. Pasal tersebut muncul dari rumusan atas pengalaman para pendiri bangsa terkait pahitnya penjajahan bangsa Barat.
- Gempa Gagal Halangi Chile Jadi Tuan Rumah Piala Dunia
RAKYAT Chile bahagia. Kongres FIFA di Lisbon, Portugal pada 10 Juni 1956 memutuskan Chile menjadi tuan rumah Piala Dunia 1962. Dalam kongres itu, banyak delegasi meragukan kemampuan Chile yang dipimpin Carlos Dittborn, petinggi induk organisasi sepakbola Chile. Sebagai negara dunia ketiga, Chile tak hanya masih lamban dalam laju perekonomian tapi juga minim modal. “Faktanya, Chile masih miskin, belum berkembang, kekurangan teknologi komunikasi dan fasilitas olahraganya masih minim,” ungkap Fernando Fiore dalam The World Cup: The Ultimate Guide to the Greatest Sports Spectacle in the World. Dibandingkan Argentina sebagai pesaing kuat, infrastruktur olahraga Chile kalah jauh. Namun, Dittborn tetap optimis. “Karena kami tak memiliki apa-apa, kami akan melakukan segalanya,” ujar Dittborn kala meyakinkan para delegasi lain, sebagaimana dikutip David Goldblatt dalam The Ball is Round. Chile akhirnya menjadi pemenang dengan 32 suara mengalahkan Argentina yang kebagian 11 suara. Empat belas suara lainnya abstain.
- Habibie dan Sang Jenderal
ISTANA NEGARA, 22 Mei 1998. Pukul 3 sore, Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie menerima kedatangan Panglima Kostrad Letjen TNI Prabowo Subianto. Pagi harinya, Habibie telah menerima laporan dari Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto tentang pasukan Kostrad dari luar Jakarta yang bergerak di ibu kota. Sejumlah tanya menggelayut dalam benak Habibie jelang ketemu Prabowo. “Apakah perlu saya bertemu? Apa gunanya bertemu? Letjen Prabowo adalah menantu Presiden Soeharto. Pak Harto baru 24 jam meletakkan jabatannya... Mengapa Prabowo tanpa sepengetahuan Pangab telah membuat kebijakan menggerakan Kostrad?” kenang Habibie dalam otobiografi Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi. Prabowo dan keluarganya bukan orang baru bagi Habibie. Prabowo mengaggumi sosok Habibie sebagai cendekiawan yang ahli teknologi. Pun sebaliknya, sejak SMA Habibie telah menganggumi ayah Prabowo, Soemitro Djojohadikusumo yang pernah jadi Menteri Keuangan era Sukarno serta Menteri Perdagangan di masa Soeharto dalam Kabinet Pembangunan I (1968–1973).
- Menjinakkan Amukan Kelud
BELUM hilang dari ingatan. 13 Februari 2014, Kelud mengguncang Jawa untuk kesekian kalinya. Gunung api ini, yang terletak sekitar 27 km dari kota Kediri, Jawa Timur, meletus pada pukul 22.50. Letusannya terhitung besar dan destruktif, namun nyaris tak ada korban jiwa karena penduduk sudah diungsikan. Kelud sudah diawasi tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang telah menyiapkan langkah-langkah pencegahan sejak beberapa minggu sebelum meletus. Suara letusan bahkan terdengar sampai ke Purbalingga, Jawa Tengah, 300 km dari pusat letusan. Kota-kota di sekitarnya seperti Yogyakarta, Malang, dan Madiun lumpuh karena tertutup abu vulkanik. Ini bukan kali pertama Kelud meletus. Kelud yang memiliki ketinggian 1.713 m dari permukaan laut adalah gunung aktif bertipe stratovulkan, dengan ciri khas bentuk kerucut dan memiliki kantong magma. Jenis letusannya biasanya eksplosif. Ciri khas lainnya, keberadaan danau kawah yang biasanya memicu letusan ketika bersentuhan dengan kantong magma.
- Pertanda dari Gunung
PADA 21 dan 22 Mei 1901, Gunung Kelud meletus. Tak lama kemudian, 6 Juni 1901, Sukarno lahir. Bencana ini dianggap banyak orang yang percaya tahayul sebagai “penyambutan terhadap bayi Sukarno” yang kelak akan menjadi orang besar: tokoh pergerakan, proklamator, dan presiden pertama Republik Indonesia. Mengapa masyarakat Indonesia –khususnya Jawa dan Bali– menganggap gunung (meletus) sebagai pertanda? Dalam Wastu Citra, YB Mangunwijaya mencatat bahwa gunung dalam banyak kebudayaan selalu dihayati sebagai Tanah Tinggi, tempat yang paling dekat dengan Dunia Atas. Para dewata selalu dibayangkan hidup dalam wilayah puncak-puncak gunung: Olympia (Yunani), Haraberezaiti (Iran), Gerizim (Palestina), dan Meru (India, Jawa, Bali); bahkan sampai membuat gunung buatan seperti bangunan zigurat (Mesopotamia), pagoda (Birma, Thailand), atau stupa (India, Jawa).
- Naskah Ajaran Islam Awal di Jawa
SEBUAH naskah berisi ajaran Islam awal yang diajarkan kepada penduduk Nusantara tersimpan selama lebih kurang tiga abad di perpustakaan umum Marquis Cristino, Ferrara, Italia. Naskah kuna tersebut ditulis dalam aksara Jawa Kuna di atas lontar yang berjumlah 23 lembar, masing-masing berukuran 40 x 3.5 cm. Sebelum menjadi milik perpustakaan Marquis Cristino, naskah itu merupakan koleksi seseorang yang tak tertulis datanya. “Ketika buku ini ditulis, orang Islam di Jawa masih minoritas. Ini dapat dirujuk pada keterangan musafir Portugis, Tome Pires, yang mengunjungi Sedayu, tempat ditemukannya buku itu pada tahun 1515,” kata Abdul Hadi WM, guru besar Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, dalam seminar “Islam Indonesia dan Kebudayaan” yang dihelat di Universitas Paramadina, Jakarta, (19/6).
- Kitab Lelaki Sejati
SETELAH mendapatkan izin dari Maharaja Suksma Wisesa, Gatholoco meninggalkan kerajaan Jajar untuk berpetualang. Ayahnya memperingatkan putra satu-satunya untuk berhati-hati terhadap lawan yang akan ia hadapi, Perjitawati, yang tinggal di gua Terusan. Gatholoco hidup dengan madat, minum, dan berjudi, didampingi panakawannya, Dermagandhul. Gatholoco bertemu dengan tiga guru pesantren yang sedang mengajarkan ilmu agama kepada murid-muridnya. Para kiai ini meremehkan penampilan Gatholoco, si buruk rupa. Ketika tahu namanya, semua tertawa, menganggap nama itu jorok, haram. Gatholoco lalu menerangkan arti namanya: gatho kepala dan loco alat untuk menggosok. “Itulah laki-laki sejati.” Perdebatan pun terjadi. Dari soal nama merembet masalah ilmu, sifat keilahian, Islam, alam semesta, dan sebagainya. Akhirnya, Gatholoco memenangi perdebatan. Gatholoco adalah tokoh dalam Suluk Gatholoco, khazanah sastra Jawa yang kontroversial karena dinilai anti-Islam. “Serat Gatholoco ini adalah sebuah bentuk sastra peralihan dari masa Majapahit ke masa Islam. Suasana kala itu menggambarkan betapa banyak orang mengagungkan syariat,” ujar Damardjati Supadjar, guru besar Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
- Merle Ricklefs, Kiai Cabolek, dan Kepekaan Filologis
ADA dua peristiwa pada bulan Desember yang membuat saya terkesan. Sayangnya bukan kesan gembira, melainkan kehilangan. Pertama adalah wafatnya Pangeran Samber Nyawa alias Mangkunegara I pada 23 Desember 1795. Setelah bertahun-tahun berjuang menggedor hegemoni kolonial, Sang Pangeran menduduki takhta selama 40 tahun. Selama itu pula, ia tetap melakukan perlawanan untuk membela kedaulatan bangsa Jawa. Riwayat sang pangeran ditulis oleh sejarawan Merle Calvin Ricklefs dalam bukunya, Soul Catcher: Java’s Fiery Prince Mangkunagara I, 1726–1795. Peristiwa kedua, meminjam kata-kata Peter Carey, adalah wafatnya seorang sejarawan Jawa yang paling cemerlang pasca-Perang Dunia. Sejarawan yang mengabdikan seluruh umurnya untuk meneliti Indonesia pada era pra-kemerdekaan hingga era modern. Ia adalah, sosok yang telah disebutkan di muka, Profesor Merle Calvin Ricklefs. Ia wafat pada 29 Desember 2019. Tanggal kematiannya selisih enam hari dari Pangeran Samber Nyawa, sosok komandan militer Jawa yang telah ia tulis dalam keadaan sakit keras. Peter Carey, junior yang kemudian menjadi kolega Merle mempunyai kesan yang mendalam terhadap sosok kelahiran Fort Dogde, Iowa, 17 Juli 1943 itu. Carey mendampingi proses penerbitan mahakarya pamungkas Merle, buku yang telah disebutkan di muka, tentang seorang pangeran Jawa yang tangkas dan pemberani, yang menghabiskan hampir seluruh masa mudanya di medan pertempuran.
- Waktu Punya Tupolev, Angkatan Udara Indonesia Kuat
DEBAT calon presiden (capres) ketiga yang dihelat Komisi Pemilihan Umum telah dilaksanakan Minggu (7/1/24) malam. Terjadi perdebatan sengit terutama antara capres 01 Anies Baswedan dan capres 02 Prabowo Soebianto yang kini masih menjabat sebagai menteri pertahanan. Dalam debat dengan tema pertahanan, keamanan, hubungan internasional, dan geopolitik itu Anis beberapa kali “menyerang” Prabowo dengan menyinggung soal kebijakan Menhan Prabowo yang berencana membeli pesawat tempur Mirage 2000 bekas. Serangan itupun mendapat “tangkisan” dari Prabowo. Salah satu “tangkisan” yang dilakukan Prabowo antara lain dengan menyinggung penggunaan alutsista bekas yang merupakan praktik lumrah dalam sejarah Indonesia. “Bung Karno waktu menghadapi Irian Barat, seluruh alatnya bekas. Bung Karno seluruh pesawat terbang, kapal selam, cruiser, destroyer semuanya bekas. Dalam alat perang, saya katakan, bukan baru dan bekas tapi usianya. Kalau pesawat, flying hours,” kata Prabowo.
- Masa Lalu Kancut
SEJARAWAN Henk Schulte Nordholt dalam pengantarnya untuk buku Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan menulis bahwa pakaian memiliki arti penting dalam konteks sosial apabila kita membayangkan bagaimana jadinya kalau orang berjalan telanjang di jalanan atau ruangan? Tentu mereka, demikian Henk, “Akan segera kehilangan penampilan akrab mereka dan dengan demikian akan kehilangan sebagian besar identitas mereka.” Dengan kata lain, lanjut Henk, “Pakaian adalah kulit sosial dan kebudayaan.” Lantas bagaimana dengan pakaian dalam pria? Dalam sebuah adegan film Si Pitung (1977) garapan sutradara Alam Rengga Surawijaya, Scott Heine (Hamid Arif) kepala polisi musuh bebuyutan si Pitung tampak tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya setelah mendengar seseorang menggedor pintu rumahnya. Dia tak mengenakan baju kecuali selembar celana sepanjang lutut yang kerap disebut kolor. Maklum, Scott baru saja berasyik masyuk dengan nyainya ketika suara gedoran itu mengganggu konsentrasinya.
- Kisah Suharti dan Nakasone
PADA 1944, ketika berusia 15 tahun, Suharti diambil paksa dari desanya di Kediri, Jawa Timur. Bayan dan jogoboyo, keduanya staf lurah, datang ke rumah memintanya bekerja untuk Jepang. Ayahnya menolak dengan alasan anaknya buta huruf dan tak bisa bekerja. Namun, dua perangkat desa itu mendesak: “Ini perintah Jepang.” Siapa yang bisa menolak keinginan Jepang. Di desa, cerita tentang kekejaman Kenpeitai sering terdengar. Dengan berat hati, ayahnya melepas kepergian Suharti. Suharti dan rombongannya diberangkatkan dengan truk militer Jepang ke Surabaya. Setelah menunggu dua hari, kapal Nichimaru berlabuh dan mengangkut mereka ke Borneo (Kalimantan). Tiba di sana, kapal Nichimaru hanya menurunkan 14 orang, termasuk Suharti. “Sisanya, 36 orang, melanjutkan perjalanan yang tidak saya ketahui tujuannya,” ujar Suharti.





















