Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Serikat Buruh Nasionalis, Antara Perjuangan Kelas dan Kepentingan Nasional
PBB gagal mengesahkan suatu resolusi agar Belanda merundingkan masalah Irian Barat dengan Indonesia. Akibatnya meledak gerakan anti-Belanda, di antaranya pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda. Serikat buruh pertama yang melakukan aksi pengambilalihan adalah KBKI (Konsentrasi Buruh Kerakyatan Indonesia). Pada 3 Desember 1957, sekelompok pimpinan KBKI memaksa masuk ke ruangan manajer di kantor pusat KPM (Perusahaan Pelayaran Belanda) di Jalan Merdeka Timur Jakarta, dan menyatakan mengambilalih KPM. “Menghadapi situasi demikian, pihak manajemen mengemukakan bahwa mereka harus membicarakannya terlebih dahulu dengan pemerintah, dan dijawab oleh pimpinan mereka, ‘kami dan kaum buruh adalah pemerintah!’” tulis Bondan Kanumoyoso dalam Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia.
- Dua Buku S.K. Trimurti Menguak Buruh
SELAMA menjadi menteri perburuhan, juga pengurus Partai Buruh Indonesia, S.K. Trimurti kerap mengunjungi kaum buruh. Melihat kurangnya pemahaman teori perjuangan buruh, dia menulis sebuah buku kecil berjudul A.B.C. Perdjuangan Buruh. Pada 11 Mei 1975, Trimurti berceramah tentang sejarah buruh dalam acara yang dihelat Yayasan Idayu bekerja sama dengan Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta dan Museum Kebangkitan Nasional. “Saya berpikir, bahwa ceramah-ceramah yang diadakan di gedung ini, semuanya akan diarahkan kepada memperlengkap penulisan sejarah,” tulis Trimurti dalam pengantar ceramahnya. Kedua karya ini mengisi kelangkaan informasi dalam penulisan sejarah buruh di Indonesia.
- Peter Carey: Tak Ada Bantuan Turki untuk Diponegoro
PANGERAN Diponegoro memiliki beberapa nama dalam hidupnya. Lahir di Keraton Yogyakarta pada 11 November 1785, ia diberi nama Raden Mas Mustahar. Menginjak dewasa, berusia dua puluh tahun, ia menyandang nama Raden Ontowiryo. Ketika berziarah ke Pantai Selatan, Diponegoro menyandang nama Syekh Ngabdurahim. Berasal dari bahasa Arab, Syekh 'Abd al-Rahim, nama ini mungkin disarankan oleh penasihatnya di bidang agama, barangkali oleh Syekh al-Ansari di Tegalrejo. Diponegoro kemudian mengubah nama Ngabdurahim menjadi Ngabdulkamit. Menurut sejarawan Peter Carey, penulis biografi Diponegoro, Kuasa Ramalan, perubahan nama dari Ngabdurahim ke Ngabdulkamit mempunyai makna penting. Ngabdulkamit adalah nama yang disandang oleh Diponegoro selama Perang Jawa dan yang disenyawakan dalam gelarnya sebagai raja, yakni Sultan Erucokro.
- Dedikasi Peter Carey Meneliti Pangeran Diponegoro
AWALNYA, Peter Carey hendak menjadikan Herman Willem Daendels –gubernur jenderal Hindia Belanda (1808-1811)– sebagai penelitian tesis doktoralnya di Cornell University. Tema itu berubah ketika Peter menyaksikan sketsa dalam bab tulisan sejarawan Belanda terkemuka H.J. de Graaf mengenai Perang Jawa. Sekilas pandang membuat Peter terpana. “Ada semacam panggilan. Semacam kontak batin,” kata Peter Carey kepada Historia.id saat berbicang di sela-sela peluncuran bukunya, Urip iku Urib: Untaian Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey di Perpustakaan Nasional, lima tahun silam. Sketsa menampilkan sesosok pangeran yang menunggang kuda. Di kepalanya melekat surban. Tubuhnya dibalut pakaian perang sabil. Di balik kegagahan sang pangeran, terselip wajah muram sedikit membungkuk. Itulah potret tentang Pangeran Diponegoro dalam sketsa karya Mayor Francois de Stuers.
- Peter Carey dan Takdir Menemukan Diponegoro
PETER Carey barangkali satu-satunya indonesianis yang totalitas meneliti kehidupan Pangeran Diponegoro. Karya monumentalnya KuasaRamalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 (2011)menjadi rujukan otoritatif bagi siapa saja yang ingin mengetahui sosok paling epik dalam Perang Jawa itu. Siapa nyana, persinggungan Peter Carey dengan Diponegoro justru hanya berawal dari sekilas pandang. Tak pernah terpikirkan sebelumnya. “Saya terpana oleh sosok Diponegoro yang agak misterius. Saya ingin mendalami sosok itu sebab saya tak bisa lihat wajahnya,” kata Peter Carey kepada Historia di sela-sela acara peluncuran buku Urip iku Urub: Untaian Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, 30 Januari 2019. Bermula dari sketsa Diponegoro karya Mayor Francois de Stuers yang termuat dalam bab tulisan sejarawan Belanda terkemuka H.J. de Graaf mengenai Perang Jawa. Sketsa itulah yang disaksikan Peter sekira tahun 1969 saat menempuh studi doktoral kajian Asia Tenggara di Cornell University. Terinsipirasi dengan cara demikian, Peter lantas menjatuhkan pilihan untuk meneliti riwayat hidup Diponegoro sebagai topik disertasinya. Sayang, profesornya di Cornell kurang mengapresiasi.
- Seteru Dua Menteri Soeharto
TRI Utami Satriastuti atau Tuti, menantu Menteri Urusan Peranan Wanita (UPW) Lasijah Soetanto, masih ingat ketika suatu hari mertuanya berselisih dengan Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Sudomo. Lasijah tak setuju dengan pengiriman tenaga kerja wanita (TKW, kini disebut Pekerja Migran Indonesia) ke luar negeri yang jadi program Sudomo. “Ibu ribut dengan Pak Domo. Ibu tidak setuju pengiriman TKW. Pak Domo memberi penghargaan, ya diterima di depan orang-orang tapi lalu disobek sama ibu dan dibuang. Penolakan ibu tegas,” kata Tuti kepada Historia.ID. Sejak 1970, pemerintah mengirim tenaga kerja secara besar-besaran ke Malaysia, Hongkong, Filipina, dan Arab Saudi. Tingginya permintaan membuat pemerintah meresponnya dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 4 tahun 1970. PP ini mengatur pengiriman tenaga kerja melalui program Antar Kerja Antar Daerah dan Antar Kerja Antar Negara.
- Menteri Peranan Wanita Pertama
DUSWANTO Harimurti masih ingat ketika suatu hari di tahun 1978 diminta orangtuanya mengantarkan ke kediaman Presiden Soeharto. Dia tak tahu ibunya, Lasijah Soetanto, punya urusan apa sehingga diundang Ibu Negara Tien Soeharto. Alih-alih ingin mengetahuinya atau sekadar ingin tahu isi kediaman presiden, Duswanto pilih menunggu di mobil ketimbang ikut masuk. Tak ada kejanggalan sedikit pun yang dia dapati sampai kedua orangtuanya keluar dari rumah presiden. Pun ketika mereka dalam perjalanan pulang. Tak ada sedikit pun cerita dari orang tuanya. Keanehan justru muncul di rumah mereka, rangkaian bunga berjajar menutupi pagar rumah. “Tahu-tahu sudah ada pos di depan rumah, ada ajudan, ada polisi untuk berjaga,” kata Duswanto, putra kedua Lasijah, kepada Historia.ID. Duswanto baru belakangan tahu undangan ibu negara dimaksudkan untuk menanting Lasijah menduduki jabatan baru dalam Kabinet Pembangunan III yang sedang dibentuk Presiden Soeharto.
- Ada Karena Desakan PBB
USAI melengserkan Sukarno, Soeharto langsung membenahi ekonomi Indonesia yang hampir bangkrut dengan membentuk tim ekonomi. Tim itu keliling ke negara-negara maju untuk mencari bantuan finansial. Demi dana bantuan, Indonesia mesti menerima persyaratan yang diberikan calon-calon pendonor. Salah satu hasil dari pemenuhan persyaratan itu, Indonesia punya Kementerian Urusan Peranan Wanita (UPW). “UPW pembentukannya karena PBB punya program Dekade Perempuan. Jadi semua negara anggota PBB harus punya kementerian perempuan,” kata Wardah Hafidz, aktivis sosial perkotaan, kepada Historia.ID. Dekade Perempuan bermula dari munculnya konsep perempuan dalam pembangunan (Woman in Development, WID) yang mulai dikenalkan pada 1970-an di Amerika Serikat (AS). Pemerintah AS lalu membuat Undang-Undang tentang Bantuan Luar Negeri (The Percy Amandement to the 1973 Foreign Assistance) yang di dalamnya memuat syarat adanya peningkatan peran perempuan dalam pembangunan negara penerima bantuan.
- Pencak Silat Warisan Mataram Menembus Zaman
BERBEDA dari kebanyakan pencak silat di Nusantara yang kondang dengan beragam ritual klenik dan mistik, Merpati Putih (MP) tidak punya itu. Sejak didirikan pada 1960-an, MP bebas dari bermacam ritual klenik atau ritual keagamaan tertentu. Alhasil, hingga zaman kekinian pun MP bisa dipelajari semua golongan. Bukan semata orang Indonesia, banyak orang luar pun mempelajarinya. MP dikenal dunia lewat aksi-aksi pemecahan rekor dari dua keunggulan ilmunya: pematahan benda keras dan ilmu getaran. Di Asian Games 2018, MP berkontribusi bagi kontingen Indonesia maupun Thailand baik lewat pelatih maupun atlet yang mempersembahkan medali.
- Preserving Indonesia's Flora and Fauna
One night, as they were about to enter their bedroom, Benjamin Galstaun and his wife, Henriette Esche, were stunned. Their bed was in complete mess with its kapok in disarray, burying Nora, the little tiger. The couple eventually spread a mattress on the floor and slept with Nora. Denta, the little elephant, did something else. Wanting to imitate his master's behavior, he sat on a rattan chair and... it broke! Meanwhile, Dora, an ape, destroyed all the kitchen cabinets. The antics of the little animals did not deter Galstaun. He still let the little animals roam the house before they grew up and were put in cages.
- Menjaga Flora dan Fauna Indonesia
SUATU malam, ketika hendak masuk kamar, Benjamin Galstaun dan istrinya, Henriette Esche, kaget. Kasur berantakan, dengan kapuk awut-awutan, dan di sana pula Nora, si macan kecil, membenamkan diri. Pasangan itu akhirnya menggelar tikar di lantai dan tidur bersama Nora. Lain lagi ulah Denta, si gajah kecil. Ingin meniru polah majikannya, ia menduduki kursi rotan dan... jebol! Sementara Dora, seekor kera, memporak-porandakan seluruh isi lemari dapur. Ulah para binatang kecil itu tak membuat Galstaun kapok. Dia tetap membiarkan satwa-satwa kecil berkeliaran di rumah sebelum tumbuh besar dan dimasukkan ke kandang.
- Ziarah Sejarah ke Petamburan (3-Habis)
DARI makam Johan Kepler Panggabean, kita berjalan terus ke pengujung belakang TPU Petamburan, terdapat blok makam Tionghoa. Di salah satu deretan, tersua makam Tan Tjeng Bok. Meski tak megah, keterangan pada nisannya menarik perhatian. Di bagian atas nisan, terukir tanda salib yang diapit dua sosok malaikat. Bagian selanjutnya menjelaskan siapa sosok yang dimakamkan. “Aktor Tiga Zaman. Telah Pulang ke Rumah Bapak di Surga. Lahir 04 Juni 1900. Wafat 15 Februari 1985. Tan Tjeng Bok (Pak Item),” demikian keterangan pada nisan. Tan Tjeng Bok adalah pelaku seni terkemuka Indonesia lintas zaman. Selain sebagai aktor film, dia dikenal sebagai seniman keroncong, pemain sandiwara, hingga pelawak. Seperti tersua pada nisannya, masa aktif Tan Tjeng Bok berkesenian meliputi tiga zaman.




















