top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Ali Sadikin Mau Gebuk Sudomo

    KENDATI sama-sama berasal dari Angkatan Laut (AL), hubungan antara Ali Sadikin dan Sudomo bisa dibilang fluktuatif. Keduanya adalah pribadi yang berbeda tipikal. Ali Sadikin kritis terhadap pemerintah Orde Baru. Sementara Sudomo membungkam mereka yang menentang rezim. Ketika Ali Sadikin vokal mengkritik pemerintah lewat Petisi 50, Sudomo yang kala itu jadi panglima Kopkamtib melakukan pencekalan (cegah-tangkal). Untuk membawa istrinya berobat ke negeri Belanda, Ali Sadikin kesulitan akibat dicekal. Perintah cekal itu berasal dari Sudomo. Padahal, Sudomo masih terhitung juniornya Ali Sadikin. “Pencekalan itu sebenarnya inisiatif saya, bukan karena diminta Pak Harto. Dengan Bang Ali saya tidak ada masalah, kawan baik. Kita kan tinggal berdekatan, bertetangga, ” kata Sudomo dalam Warnasari, edisi Oktober 1997 mengutip harian Terbit. Namun soal relasi pribadi, Sudomo mengatakan, “Kalau ia ulang tahun saya datang, peluk-pelukan. Pokoknya saya menghormatinya, karena ia kan atasan saya.”

  • Ali Sadikin Menutup Jakarta

    MENJELANG lebaran, warga Jakarta kembali memenuhi ruang publik. Sempat viral ketika warga turun beramai-ramai menyaksikan drama penutupan sebuah waralaba makanan cepat saji di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Belakangan ini, warga bahkan tumpah ke beberapa pusat perbelanjaan yang kembali dibuka. Salah satunya, Pasar Tanah Abang yang merupakan sentra tekstil di ibu kota. Padahal, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk meminimalisasi penyebaran virus Covid-19 masih berlaku. Ketidakpatuhan ini membuat tenaga medis yang berjuang di garda depan seakan percuma. Di masa pandemi seperti sekarang, berkumpul di keramaian kian memperbesar potensi penyebaran dan penularan virus. Buntut kekecewaan mereka kemudian memunculkan gerakan “Indonesia? Terserah!” #sukasukakaliansaja. Bila menengok kembali ke rumah sejarah, warga Jakarta memang sulit untuk dikendalikan. Perkara serupa juga pernah dialami Ali Sadikin, gubernur terbaik yang pernah memimpin kota Jakarta. Bang Ali –demikian Ali Sadikin disapa– menjabat pada periode 1966–1977.

  • Setengah Abad Papua Bersama Indonesia

    PADA 28 April 2013, di Kota Oxford, dibuka kantor Organisasi Papua Merdeka (OPM). Tak ayal pemerintah melalui Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa memanggil Duta Besar Inggris di Jakarta untuk meminta klarifikasi. Peristiwa ini, sekali lagi, seakan jadi bukti nyata bahwa perjuangan rakyat Papua untuk menuntut kemerdekaan terus berlanjut di berbagai tempat. Tanggal pembukaan kantor OPM agaknya sengaja berdekatan dengan tanggal 1 Mei 2013, mengambil momen yang oleh sebagian faksi politik di Papua saat ini diperingati sebagai “50 Tahun Aneksasi Papua”. Pada 1 Mei 1963 Otoritas Pemerintahan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNTEA) menyerahkan Irian Barat kepada pemerintah Indonesia sesuai amanat Perjanjian New York. Upacara penyerahan berlangsung di di Kota Baru, Papua Barat. Pemerintah Indonesia diwakili Sudjarwo Tjondronegoro. Sekretaris Jenderal PBB U Than mengirimkan utusannya, CV Nawasimhan.

  • Samaun Bakri, Utusan dan Kepercayaan Sukarno

    SETELAH bebas dari pengasingannya di Bengkulu, Sukarno bersama istrinya, Inggir Garnasih, tiba di Jakarta pada 9 Juli 1942. Dia meninggalkan kekasihnya: Fatmawati. Dia lalu mengirimkan pesan atau bingkisan untuk Fatmawati melalui utusannya: Samaun Bakri. Samaun bersama Abdul Karim Oey dan dr. Djamil mengurus pernikahan Fatmawati dengan Sukarno yang diwakilkan teman dekatnya, opseter (pengawas) Sarjono, pada 1 Juni 1943. Samaun kemudian membawa Fatmawati dan orangtuanya ke Jakarta. “Rombongan kami terdiri dari ayah, ibu, saudara Samaun Bakri (utusan Bung Karno), paman ibuku Moh. Kancil (penjahit pakaian Bung Karno waktu di Bengkulu) dan aku sendiri,” kata Fatmawati dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno Volume 1.

  • Banjir Darah di Puri Smarapura

    SATU dari 472 artefak asal Indonesia yang direpatriasi dari Belanda tahun ini adalah keris pusaka Klungkung. Meski belum bisa dipastikan secara detail siapa pemiliknya, keris yang bilahnya berbahan nikel dan gagangnya bertabur batu permata serta berlapis emas itu sangat kental menggambarkan keris milik seorang bangsawan Kerajaan Klungkung yang dijarah Belanda dari Puri Smarapura semasa Puputan Klungkung 1908. “Yang kembali [tahun] ini 472 objek dari empat koleksi berbeda. [Salah satunya] keris dari Klungkung. Tahun 1908 Belanda menyerbu Klungkung, terjadi puputan. Ini kerisnya dibawa ke sana [Belanda],” ujar Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid dalam siniar bertajuk “Belanda Kembalikan Ratusan Benda Pusaka tapi Tak Ada Ganti Rugi Korban Westerling” di akun Youtube Akbar Faizal Uncensored, 17 Juli 2023. Sebagaimana jarahan Belanda yang lain, keris yang disimpan Belanda selama 115 tahun itupun “berlumuran darah”. Ia jadi saksi bisu Puputan Klungkung yang menewaskan ribuan nyawa, termasuk penguasa Kerajaan Klungkung Dewa Agung Jambe II.

  • Dulu Pernah Ada Kereta Api di Makassar

    BEBERAPA tahun silam, kereta api rute Makassar–Parepare beroperasi. Banyak orang berpikir, ini adalah jalur kereta api pertama di Sulawesi Selatan. Padahal, di zaman kolonial Hindia Belanda sudah ada layanan kereta api antara Makassar dengan daerah-daerah sekitarnya. Layanan kereta api antara Makassar dengan Takalar dibuka pada 1 Juli 1923. “Jalan rel tersebut yang panjangnya 47 km menghubungkan kota Ujungpandang (dulu namanya Makasar) dengan Takalar,” kata buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia Volume 1. Pembangunan jalur kereta api itu sudah menjadi pembicaraan sejak tahun 1918 dan 1919. De Locomotief, 28 November 1918, memberitakan, Volksraad (Dewan Rakyat) membicarakan anggaran belanja Modal untuk Kereta Api dan Trem Negara yang ditambah 600.000 gulden untuk pembangunan jalur Takalar-Maros sehingga pos ini menjadi 1.000.000 gulden. Het Vaderland, 12 April 1919, menyebut pembangunan jalur kereta api penghubung Takalar-Makassar-Maros adalah hal penting.

  • Kisah Jack, Primata yang Jadi Petugas Sinyal Kereta

    CAPE Government Railways, operator kereta api milik pemerintah di Cape Colony, Afrika Selatan, membuka jalur pertama dari Cape Town ke Port Elizabeth pada akhir tahun 1800-an. James Edwin Wide direkrut sebagai petugas kereta api. Bertugas di kota pedalaman Uitenhage, Wide dijuluki “Jumper” karena keahliannya melompat dari satu kereta ke kereta lain yang sedang melaju. Nahas, pada suatu hari saat tengah bertugas sebagai penjaga kereta, Wide mengalami kecelakaan. Doroty L. Cheney dan Robert M. Seyfarth menulis dalam Baboon Metaphysics, ketika Wide terjatuh, sebuah kereta api yang tengah melintas melindasnya dan menyebabkan kedua kaki penjaga kereta itu harus diamputasi di bagian lutut. “Dalam upaya putus asa untuk mempertahankan pekerjaannya, Jumper membuat sepasang kaki palsu dengan mengikatkan potongan kayu ke bagian bawah tubuhnya. Ia juga membuat semacam kereta dorong yang membuatnya lebih mudah bergerak,” tulis Cheney dan Seyfarth.

  • Kasus Perampokan Kereta Api Terbesar

    MALAM telah larut saat rangkaian kereta api yang mengangkut berbagai barang dan paket bernilai tinggi melintas menuju London pada awal Agustus 1963. Mulanya tak ada hal aneh yang terjadi di sepanjang perjalanan kereta api yang berangkat dari Glasgow, Skotlandia, tersebut. Namun, ketika kereta melintasi kawasan Buckinghamshire di Sears Crossing, dekat desa Ledburn, terjadi aksi perampokan yang di kemudian dikenal dengan The Great Train Robbery. Sejumlah nama yang disebut sebagai pelaku aksi perampokan itu, di antaranya Bruce Reynolds, pria jangkung dan berambut cokelat berusia 32 tahun yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pedagang barang antik; Ronald Christopher “Buster” Edwards, mantan petinju bertubuh kekar yang mengelola sebuah klub malam; Charlie Wilson, pria berusia 31 tahun yang mengelola sebuah toko bahan makanan; serta Gordon Goody, seorang pria muda yang pernah ikut ambil bagian dalam Perang Dunia II. Dalam majalah Life, 8 April 1966, dikisahkan Goody memiliki kebiasaan buruk yang berseberangan dengan citranya sebagai seorang pahlawan perang. “Jika Goody mencuri £200.000 malam ini, dia akan mencuri £20 besok hanya untuk iseng. Ketenangan, pengalaman, dan keberaniannya membuat partisipasinya dalam aksi perampokan ini menjadi wajib,” tulis Life.

  • Sejarah Kereta Malam di Indonesia

    BESARNYA minat masyarakat menggunakan kereta api untuk mudik ke kampung halaman atau melakukan perjalanan jarak jauh, tak hanya terjadi di masa kini. Sejak zaman kolonial Belanda, kereta telah menjadi moda transportasi andalan masyarakat. Masyarakat sudah dapat memanfaatkan transportasi kereta dari Batavia ke Surabaya pada akhir abad ke-19. “Mereka tidak lagi menggunakan kapal dari Batavia ke Semarang atau Surabaya,” tulis Achmad Sunjayadi dalam Pariwisata di Hindia Belanda (1891–1942). Saat itu kereta dari Batavia tidak langsung menuju Surabaya. Perjalanan berhenti di Maos, Cilacap, dan penumpang menginap semalam. Perjalanan dilanjutkan keesokan harinya. Hal ini karenakereta hanya beroperasi dari pagi hingga sore.

  • David Maarschalk dan Perusahaan Kereta Api Negara

    MATAHARI belum lama terbit namun aktivitas di Stasiun Bogor telah sibuk oleh penumpang yang hilir mudik menunggu Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line menuju Depok, Jakarta, hingga Bekasi. Kereta api kini tak terpisahkan dari aktivitas masyarakat khususnya di perkotaan. Moda transportasi ini menjadi andalan untuk bekerja, sekolah, hingga jalan-jalan. Perkembangan kereta api di Indonesia berlangsung sejak zaman kolonial Belanda. Kereta api muncul untuk mengatasi sejumlah persoalan, salah satunya distribusi hasil perkebunan yang menjadi andalan perekonomian pemerintah kolonial. Pembicaraan mengenai pembangunan jalur kereta api pertama kali muncul tahun 1840-an. Insinyur militer Kolonel J.H.R Van der Wijk yang pertama kali mengusulkan pembangunan jalur kereta api di Pulau Jawa.

  • Strategi Kooperasi Serikat Buruh Kereta Api

    BURUH kereta api di Hindia Belanda mogok kerja besar-besaran selama hampir tiga bulan. Dari Mei sampai Agustus 1923. Lebih dari 10 ribu buruh kereta api rendahan (penjaga palang kereta, tukang wessel, pengawas rel, juru api, tukang rem, dan kuli plat) milik negara dan swasta turut serta dalam pemogokan. Sebagian besar buruh rendahan kereta api berwadah di dalam VSTP (Vereeniging van Spoor en Tramweg Personeel/Serikat Kerja Buruh Kereta Api dan Trem Listrik). Tuntutan buruh kereta api bertumpu pada kesejahteraan. Tetapi perusahaan kereta api negara dan swasta enggan memenuhi tuntutan tersebut. Mereka memecat buruh demi meredakan mogok kerja. Tindakan perusahaan kereta api beroleh sokongan dari pemerintah kolonial. Pengejaran dan penangkapan menimpa sejumlah tokoh VSTP. Pemerintah kolonial lalu membatasi aktivitas VSTP melalui sejumlah aturan.

  • Matahari Terbit di Kereta Rel Listrik

    PERNAHKAH Anda melihat masinis Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek menunjuk-nunjuk sesuatu sembari berkata sendiri ketika kereta berjalan atau berhenti? Ini cara masinis KRL menjaga konsentrasinya selama bekerja. Istilahnya "tunjuk" dan "sebut". Adopsi dari cara kerja masinis KRL di Jepang. Di sana cara kerja ini telah berjalan lebih dari 100 tahun. Jepang mempunyai pengaruh besar dalam layanan KRL Jabodetabek. Cobalah anda tengok pakaian masinis KRL dan Petugas Pelayanan Kereta (PPK) di Indonesia. Dari topi, kemeja, sampai sarung tangan. Benar-benar menyerupai pakaian masinis dan PPK di Jepang. Tapi cara kerja dan pakaian masinis hanya sebilangan kecil dari pengaruh tersebut. Pengaruh besar Jepang terletak pada rencana perbaikan dan pengembangan KRL Jabodetabek. Akarnya tertanam pada dekade 1970-an. Masa ini layanan KRL di bawah Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) sedang terpuruk.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page