top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pengarang Tante Girang

    NAMA Motinggo Boesje dikenal sebagai pengarang novel populer bernuansa erotis. Sepanjang dekade 1960–1970-an, karya-karyanya acapkali mengusung cerita panas percintaan, adegan ranjang, dan fantasi liar. Salah satunya adalah Tante Marjati, jilid pertama dari trilogi roman, yang mulanya cerita bersambung di majalah Varia pada 1967, kemudian diterbitkan Lokadjaja sebagai novel. Motinggo disebut pengarang novel yang mempopulerkan istilah tante girang. “Motinggo mengajukan klaim bahwa istilah ‘tante girang’ yang begitu fenomenal pada 1960–1970-an berasal darinya. Istilah itu, bersama ‘oom senang’, merebak bersama menjamurnya klab malam, sebagai penanda Jakarta yang baru, bersama dengan terbukanya Indonesia bagi investasi modal asing pada Orde Baru,” kata sastrawan Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar esai Motinggo Boesje di panajournal. Tante girang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai wanita setengah baya yang suka bersenang-senang dengan pemuda. Seiring dengan kemuculan Tante Marjati karya Motinggo, fenomena tante girang mulai tren di Indonesia pada paruh kedua 1960. Istilah ini khususnya akrab bagi warga kota besar seperti Jakarta.

  • Taman Siswa (Dulu) Mendidik Bangsa

    SETELAH kembali dari Negeri Belanda untuk menjalani pembuangan sekitar enam tahun karena artikelnya, “Als ik eens Nederlander was” (Seandainya aku seorang Belanda), Raden Mas Suwardi Surjaningrat menempuh cara lain dalam melanjutkan perjuangannya. Bukan lagi lewat tulisan seperti ketika bersama Indisch Partij dan De Express, kali ini dia berjuang dengan memakai sekolahan alias lewat pendidikan. Di kota asalnya, Yogyakarta, dia mendirikan Institut Pendidikan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Taman Siswa menjadi wadah pertama dalam penanaman budaya bangsa kendati sistem yang dianutnya sistem Barat. Suwardi menggagas Patrap Triloka terkait bagaimana sikap seharusnya seorang guru kepada muridnya. Seorang guru harus memberi teladan (ing ngarsa sung tulada), seorang guru harus membangun kemauan dan inisiatif (ing madya mangun karsa), dan seorang guru harus mendorong siswanya ke arah kemajuan (tut wuri handayani). Poin terakhir diadopsi pemerintah Republik Indonesia setelah Indonesia merdeka hingga dijadikan jargon dunia pendidikan Indonesia. “Menurut KHD (Ki Hajar Dewantara, red.) pendidikan yang mengena kepada bangsa Timur adalah pendidikan yang humanis, kerakyatan, dan kebangsaan. Tiga hal inilah dasar jiwa KHD untuk mendidik bangsa dan mengarahkannya kepada politik pembebasan atau kemerdekaan,” tulis Museum Kebangkitan Nasional dalam Ki Hajar Dewantara, “Pemikiran dan Perjuangannya”.

  • Taman Siswa Wadah Menjadi Manusia

    BUTET Kartaredjasa, si raja monolog, ternyata mengidolakan Ki Hadjar Dewantara. Menurut Butet, Ki Hadjar sukses memberi sentuhan kemanusiaan di Taman Siswa, satu hal yang dilupakan institusi pendidikan di Indonesia dewasa ini. Ki Hajar Dewantara –nama mudanya Soewardi Soerjaningrat– terlahir dari lingkungan ningrat Paku Alaman di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Di usia 23 tahun, bersama Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, dia mendirikan Indische Partij, yang membuatnya masuk penjara. Gagal di politik praktis, Ki Hajar merintis Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa pada Juli 1922. Sekolahnya meluas, kendati pemerintah Hindia Belanda mencapnya sebagai “sekolah liar”.

  • Kisah Cinta Ki dan Nyi Hajar Dewantara

    JUNI 1913, Sutartinah beroleh kabar tak sedap soal tunangannya, Suwardi Suryaningrat –kelak dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Pemerintah kolonial Hindia Belanda mengancam akan menangkap Suwardi karena menulis artikel berjudul “Als Ik Een Nederlander was” (Andaikan Aku Seorang Belanda) di buletin resmi Komite Boemi Poetra. Komite ini diketuai Tjipto Mangunkusumo, Suwardi sebagai sekretaris, dan Abdoel Moeis serta Wignjodisastro sebagai anggota. Dalam artikelnya, Suwardi mengkritik rencana peringatan seabad kemerdekaan Belanda dari Prancis dengan biaya dari rakyat jajahan Hindia Belanda. Buletin itu dicekal dan komite dilarang menerbitkan apapun. Tak terima, Tjipto menulis artikel di surat kabar De Express, 20 Juli 1913, berjudul “Kracht of Vreez” (Ketakutan atau Kekuatan). Intinya, dia menganggap sikap represi terhadap Komite Boemi Poetra adalah bentuk ketakutan pemerintah.

  • Soeharto Lulus SD dan Ki Hajar Tak Pernah SMA

    “SOEHARTO gak lulus SD. Megawati gak lulus kuliah. Ki Hajar Dewantara tidak kuliah, lulusan SMA, jadi Bapak Pendidikan Republik Indonesia,” kata influencer Pandji Pragiwaksono ketika memberi contoh orang-orang sukes di Indonesia. Ucapan Pandji dalam kanal Youtube Kemal Palevi itu lalu dikutip. Begitu juga potongan audionya, dijadikan video motivasi di Instagram. Meski maksudnya baik, sayangnya ada yang tidak pas dari apa yang dikatakan Pandji itu. Di zaman Soeharto bocah, ada beberapa jenis sekolah dasar. Paling elite adalah Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar tujuh tahun berbahasa Belanda untuk anak Eropa tapi menerima segelintir anak bangsawan tinggi bumiputra juga. Di bawah ELS ada Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang agak elite bagi golongan non-Eropa. Sekolah dasar tujuh tahun berbahasa Belanda ini untuk anak bumiputra. HIS muncul sejak 1914. Sekolah dengan lama pelajaran seperti HIS ini ada variannya. Untuk anak Tionghoa ada Hollands Chinesche School (HCS) dan anak-anak Jawa ada Hollandsche Javansche School (HJS). Selain sekolah-sekolah dasar elite tadi, sejak lama sudah ada Volkschool (Sekolah Rakyat) yang lama belajarnya hanya tiga tahun. Ijazah Volkschool tak bisa disamakan dengan ijazah HIS. Jika ingin ijazahnya setara, seorang lulusan Volkschool harus bersekolah lagi di Schakelschool (sekolah sambungan), yang lama belajarnya 5 lima tahun. Setelah lulus Schakelschool, barulah ijazahnya sama seperti lulusan HIS. Ada juga lulusan sekolah dasar lima tahun, yang biasa dianggap Standard School, lalu belajar juga di Schakelschool.

  • Ki Hajar dan Sekolah Liar

    TANGGAL lahir Ki Hajar Dewantara, 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 316 tanggal 16 Desember 1959. Penetapan tersebut dilandasi oleh jasa-jasanya yang telah memberikan garis-garis tegas dalam pendidikan nasional, baik konsepsi maupun praktik. “Pada tahun 1932 beliau telah berjuang dengan menentang ordonansi sekolah liar serta berlakunya sistem pajak rumah tangga Taman Siswa dan menentang diskriminasi tunjangan anak di sekolah pemerintahan dan sekolah swasta,” tulis A.B. Lapian dalam Terminologi sejarah, 1945-1950 & 1950-1959. Ki Hajar mendirikan sekolah Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta karena gelisah akan pendidikan di Hindia Belanda yang diskriminatif. Hanya anak-anak priyayi yang boleh sekolah. Dia mencoba mempeluas akses pendidikan bagi semua kalangan. Taman Siswa, dan semua sekolah partikelir (swasta) yang tidak diakui oleh lembaga resmi pemerintah manapun, dianggap sekolah liar.

  • Babu-babu Laut Indonesia di Perang Dunia II

    SAMUDERA Atlantik masih berkecamuk oleh Perang Dunia II ketika Djojoh ikut berlayar di kapal motor MS Madoera pada 1943. MS Madoera bukan kapal perang. Pun Djojoh bukan tentara. Dia hanyalah seoerang babu. Sebuah kapal besar sudah pasti memiliki banyak pekerja selain kelasi, masinis, mualim, dan nakhodanya. Ada segolongan pekerja kapal yang kurang dibicarakan dalam sejarah, yakni pekerja kasar atau kuli. Pekerjaan mereka seperti angkut-angkut barang, memasak, mencuci, dan membersihkan kapal. Mereka biasa disebut sebagai babu laut. Namun di zaman Hindia Belanda, mereka disebut bedinde. “Istilah bedinde dipinjam dari bahasa Belanda bediende yang sejatinya berarti pengabdi. Kata tersebut digunakan untuk menyebut pembantu rumah tangga laki-laki atau perempuan yang melayani keperluan majikannya. Terdapat julukan khusus untuk bedinde laki-laki, yaitu jongos. Sama halnya dengan pembantu perempuan yang dijuluki babu,” tulis Olivier Johannes Raap dalam Potret Pendoedoek di Djawa Tempo Doeloe.

  • Pengasuh Anak di Masa Kolonial

    FOTO dari masa kolonial itu menampilkan sesosok perempuan bumiputera sedang berdiri sambil menggendong bayi kulit putih. Dia mengenakan kain jarik dan kebaya tapi tanpa alas kaki. Bayi kulit putih dalam gendongannya tersenyum ke arah kamera. Bayi itu digendong menggunakan kain jarik sambil dipayungi. “Dari arsip foto, banyak bukti bahwa anak Belanda diasuh oleh babunya,” ujar peneliti sejarah Galuh Ambar Sasi kepada Historia.ID. Di era kolonial memang banyak orang Belanda memasrahkan anak mereka untuk diasuh orang lain, semisal diasuh oleh babu mereka. Orang-orang yang lahir di Hindia-Belanda, tulis Jean Gelman Taylor dalam Kehidupan Sosial di Batavia, biasanya tak mampu atau terlalu malas untuk mengasuh dan membesarkan anak sendiri. Segera setelah anaknya lahir, orangtua Belanda memberikan anak itu kepada pengasuh kulit hitam atau pada salahsatu budak-budak perempuannya untuk diasuh.

  • Kisah Babu Datem dan Upaya Melindungi Pekerja Hindia di Belanda

    DI DEN HAAG, Belanda, mayat seorang pembantu rumah tangga asal Hindia bernama Datem berusia 17 tahun, yang meninggalkan pekerjaannya beberapa minggu lalu, dievakuasi dari kanal dekat Javabrug. Demikian laporan surat kabar Het Nieuws van den Dag: Kleine Courant, 16 Oktober 1902. Datem merupakan satu dari banyak orang Hindia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Belanda. Kemungkinan besar ia ikut majikannya yang bersama keluarganya kembali ke Belanda usai tinggal di Hindia Belanda. Sebelum ditemukan tewas, surat-surat kabar Belanda melaporkan berita kehilangan Datem. Dagblad van Zuidholland en’s Gravenhage, 7 Oktober 1902, memberitakan pihak kepolisian diminta untuk mencari dan membawa Datem kembali kepada majikannya. Wanita muda itu dilaporkan telah meninggalkan pekerjaannya sejak 1 Oktober 1902. Sebelum meninggalkan kediaman majikan pada malam hari, ia sempat meninggalkan catatan yang berisi ia akan bunuh diri.

  • Kisah Pinah, Babu Bumiputra Bikin Gempar Belanda

    PINAH hanya bisa pasrah. Tak bisa baca tulis, tak punya uang, dan tak punya kenalan, famili, atau teman di negeri Belanda membuatnya tak punya pilihan selain tetap tinggal bersama majikannya yang buas. Sebagai babu (pembantu rumah tangga) yang didatangkan langsung dari Jawa, gadis berusia sepuluh tahun itu harus siap sedia 24 jam. Majikannya memperlakukannya dengan kasar. Dia hanya mendapat roti kering dan air dingin meski musim dingin. Sandangan pun hanya kebaya dan sarung yang dibawa dari kampung halaman. Berita Pinah yang malang sampai ke banyak telinga. Beberapa orang bersimpati meminta izin untuk merawatnya, namun majikannya malah marah. Alasannya, dia mengeluarkan banyak uang untuk mendatangkan Pinah. Oleh karena itu, Pinah harus merasakan dirinya sebagai budak. Pinah salah satu dari ratusan bumiputra yang menjadi babu di negeri Belanda. Banyak dari mereka dibawa oleh majikan yang pulang atau sekadar liburan. Keintiman dan kepercayaan di antara keluarga majikan dan babunya yang membuat para majikan lebih memilih membawa babu mereka ketimbang mencari babu baru yang belum mereka kenal. “Di mata anak-anak Eropa, pengabdian baboe untuk mereka adalah tak terbatas,” tulis Frances Gouda dalam Dutch Culture Overseas.

  • Riwayat Tempat Penitipan Anak

    DAYCARE atau Tempat Penitipan Anak (TPA) ramai tumbuh di antero kota-kota besar Indonesia belakangan ini. Para orangtua menitipkan anak balita mereka di TPA sejak pagi hingga jelang sore pada hari-hari tertentu. Mereka ambil keputusan ini lantaran rutinitas kerja dan tak ada sanak keluarga di sekitar rumah. Mereka sudi membayar sekian rupiah supaya bisa memperoleh layanan terbaik dari TPA untuk anak-anak mereka. Sejarah TPA berakar di Prancis pada 1840-an. “Berkelindan dengan peningkatan jumlah perempuan pekerja pabrik pada pertengahan abad ke-19,” tulis Dorena Caroli dalam Day Nurseries & Childcare in Europe 1800-1930. Orang Prancis menyebut TPA sebagai crèches. Banyak anak balita mati terlalu dini dan tumbuh telantar lantaran kurang perawatan dari orangtua. Sekelompok perempuan perawat di Prancis berupaya mengubah keadaan tersebut. Para orangtua bukan tak ingin merawat dan membesarkan anak balita mereka. Mereka tergencet kemiskinan akut di kota.

  • Novelis Tante Girang

    KETIKA dijebloskan ke penjara karena berkelahi dengan serdadu Belanda berpangkat sersan, Tomi tinggal satu sel dengan seorang pembunuh sangar. “Samber Nyawa,” kata si pembunuh memperkenalkan diri. Dalam kamar sel, mereka sempat bergulat, adu jotos unjuk kekuatan siapa yang paling jagoan. Baku hantam itu diakhiri dengan perbincangan tentang diri masing-masing. Namun, baru sebentar bercengkerama, Samber Nyawa permisi undur diri meninggalkan Tomi. “Besok aku akan dikirim ke Nusakambangan,” kata Samber Nyawa. Tomi kembali dilanda sepi. Sendirian dalam selnya. Tiba-tiba, dia teringat sosok Tante Marjati. “Tante itu begitu montok, seperti seekor kijang, tegap, dan ketat bila bernafas, dan diingatnya berapa kali Tante Marjati menggigit bahunya bila puncaknya akan meletup, meronta-ronta seperti orang kesurupan dalam genggamannya yang kekar, dan, oh...” Begitulah Motinggo Boesje dengan lihai memainkan kata-kata dalam kisah Tante Marjati yang menjurus dan merangsang pembaca. Ia berkisah tentang Tomi, Narti teman sebaya Tomi, dan Tante Marjati, serta hubungan intim yang terjalin di antara mereka. Latarnya mengambil seting di masa revolusi kemerdekaan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page