Hasil pencarian
Cari di situs ini
10078 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Parasite dan Seabad Perfilman Korea
RUMAH vertikal nan mewah itu begitu memukau Kim Ki-woo (diperankan Choi Woo-shik). Sampai ia gugup ketika memencet tombol bel. Namun pikiran untuk mengubah kehidupan keluarganya jadi lebih baik mengungguli perasaan inferior itu. Ia datang memperkenalkan diri sebagai guru les bahasa Inggris baru. Demikian intisari pembuka film Parasite yang diramu sineas Bong Joon-ho. Film thriller berbalut komedi yang begitu dark berdurasi 132 menit ini sejatinya diputar pertama kali di Festival Film Cannes ke-72 pada 21 Mei 2019. Namun, ia baru merambah bioskop-bioskop Indonesia mulai 21 Juni-15 Agustus 2019. Ceritanya sendiri berpusar pada keluarga Ki-woo yang hidupnya memprihatinkan. Sebuah peluang langsung mereka sambut untuk memperbaiki ekonomi keluarga meski dengan cara nista, penipuan.
- Korea Merajut Persatuan Lewat Olahraga
STADION Utama Gelora Bung Karno menjadi saksi bisu momen bersejarah Sabtu, 18 Agustus 2018, lalu. Bukan hanya soal upacara pembukaan Asian Games XVIII nan mengagumkan, namun juga momen bersatunya dua bangsa Korea –Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut). Dalam defile kontingen, para atlet kedua negara berjalan bersama sambil menyapa puluhan ribu hadirin. Mereka mengenakan busana santai bercorak putih-biru plus bendera unifikasi berwarna dasar putih bermotif Semenanjung Korea berwarna biru. Saat kontingen istimewa itu berlalu di tengah arena, seketika Wakil Perdana Menteri (PM) Korut Ri Yong-nam dan PM Korsel Lee Nak-yeon bangun dari kursi lantas bergandengan tangan sambil melambaikan tangan ke arah kontingen. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi ikut berdiri turut memberi hormat. Tak ketinggalan Presiden Joko Widodo ikut memberi tepuk tangan dan lambaian tangan.
- Lapangan Golf dan Perseteruan Korea
KETIKA dibuka dua tahun lalu, lapangan golf megah yang dibangun di atas Gunung Kumgang, zona demiliterisasi yang membatasi Korea Selatan dan Korea Utara, diharapkan bisa meredakan ketegangan di antara kedua negara. Pembangunan fasilitas rekreasi di gunung Kumgang dimulai pada 1998 oleh perusahaan Hyundai Asan. Banyak pihak menganggapnya sebagai “titik terang diplomasi antara Korea Utara dan Korea Selatan.” Hyundai kemudian memberikan hak kepada Emerson Pacific untuk membangun lapangan golf dan kompleks spa. Namun, lapangan golf itu ternyata tak bisa memenuhi tujuan pendiriannya. Perseteruan terus meruncing antara Korea Selatan dan Korea Utara. Lapangan golf itu pun nyaris tak dikunjungi.
- Berguru Tenis Meja hingga ke Korea Utara
BAK monster atau penyakit, Korea Utara (Korut) ditakuti, dibenci, dan dijauhi banyak negara hingga kini. Pemimpin negeri bersenjata nuklir itu, Kim Jong-un, bahkan kerap dijadikan bahan olok-olok di dunia maya. Namun, kesan miring Korut tak berlaku bagi mantan srikandi tenis meja Rossy Syechabubakar. Dia menyimpan banyak kesan positif terhadap negeri berpenduduk 25 juta itu. Mulai dari suasana ibukota Pyongyang hingga masa ketika dia mengikuti latihan pelatnas di sana. Rossy menjadi bagian dari tim tenis meja putri Indonesia SEA Games 1987 sampai 1995. Dalam persiapan untuk dua event itu, tim Indonesia berlatih ke Korea Utara. “Memang waktu itu (1980 sampai 1990-an) yang mendunia tenis mejanya adalah Cina. Tapi pengurus (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia/PTMSI) waktu itu, entah bagaimana, memanggil pelatih dari Korea Utara. Dia sebelumnya juga pencetak atlet-atlet juara dari Korea Utara,” kata Rossy kepada Historia. “Ya enak-enak enggak juga sih. Di sana itu gudangnya para pakar taktik dalam tenis meja.”
- Persepsi China tentang Korea Utara
NOVEMBER lalu, di tengah perseteruan Korea Utara dan Selatan, Wikileaks membocorkan pandangan pemerintah China terhadap Korea Utara (Korut), yang sejak Perang Dingin menjadi sekutunya. Wikileaks adalah situs nirlaba yang kerap mempublikasikan dokumen rahasia pemerintahan di seluruh dunia. Bocoran terbaru itu mengungkapkan bagaimana pemerintah China makin frustasi melihat langkah Korut dalam menghadapi perseteruannya dengan Korea Selatan (Korsel). “Pyongyang berkelakuan seperti anak kecil yang manja ketika mereka mencoba mendapatkan perhatian Washington dengan mengadakan ujicoba nuklir April 2009,” ujar He Yafei, wakil menteri luar negeri China, dalam salah satu dokumen yang merupakan kawat diplomatik rahasia Amerika Serikat, sebagaimana dikutip BBC.
- Korea Bersatu di Arena
LANGIT di atas Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) cerah Sabtu (18 Agustus 2018) malam itu, seolah tersenyum mengiringi gempita upacara pembukaan Asian Games XVIII. Banyak orang, termasuk media asing, mengagumi upacara pembukaan itu yang oleh beberapa pihak dianggap melebihi pembukaan Piala Dunia 2018, Olimpiade Musim Panas 2016 Rio de Janeiro, dan Olimpiade Musim Dingin 2018 Pyeongchang. Hal yang juga patut jadi perhatian lebih dalam adalah defile kontingen. Meski ada 45 negara yang terdaftar ikut, hanya 44 kontingen yang menyapa puluhan ribu penonton di stadion. Yang menarik, kontingen Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) melebur jadi satu rombongan dengan satu bendera: bendera Unifikasi Korea atau Korea Bersatu yang berwarna dasar putih dengan motif Semenanjung Korea berwarna biru di tengahnya. Bendera itu diusung pebasket putri Korsel Lim Yung-hui dan pesepakbola Korut Ju Kyong-chol. Ketika rombongan mereka melintas di tengah arena, Perdana Menteri (PM) Korut Ri Ryong-nam dan PM Korsel Lee Nak-yong langsung berdiri, bergandengan tangan serta melambaikan tangan kepada kontingen. Selain kontingen tuan rumah, kontingen Korea yang mendapat sambutan paling ramai.
- Medan Laga Korea Utara dalam Sepakbola
KIM Jong-un, pemimpin Korea Utara (Korut), merupakan seorang penikmat olahraga. Cucu pendiri Korut Kim Il-sung itu penggila basket NBA. Semasa kuliah di Swiss, dia juga sering ke Italia melihat laga-laga Serie A. Sejak beberapa tahun lalu berseliweran kabar ia menggemari beberapa klub asal Negeri Pizza seperti Juventus dan Inter Milan. Ketika timnas Korut lolos Piala Dunia 2010, jelas ia jadi pria paling bahagia sekaligus jadi sosok paling kecewa lantaran buruknya prestasi Jong Tae-se dkk. di Afrika Selatan. Bagaimana mula sepakbola di negeri yang tertutup dan misterius itu, minim sumber. Yang bisa dipastikan, sepakbola sebagai olahraga yang merakyat sudah jadi perhatian sejak rezim Kim Il-sung. Sebagai olahraga yang menarik massa, sepakbola selalu jadi alat politik penguatan ideologi komunisme kepada rakyatnya.
- Tiga Generasi Dinasti Kim
KOREA Utara, negeri yang tertutup dari pergaulan internasional pernah dilanda isu kematian pemimpin mereka, Kim Jong-un. Isu yang beredar menyebut Kim Jong-un meninggal dunia karena penyakit jantung. Kim Jong-un pun kemudian muncul dan beraktivitas seperti sedia kala. Kim Jong-un telah berkuasa selama hampir satu dekade. Ia merupakan generasi ketiga rezim keluarga Kim. Bermula dari kakeknya, Kim Il-sung yang mendirikan negara itu, kemudian ayahnya Kim Jong-il, hingga Kim Jong-un sendiri yang sebenarnya bukan putra mahkota. Bagaimana perjalanan tiga Kim bercokol di utara semenanjung Korea itu?
- Kimilsungia, Kim Il-sung dan Indonesia
APRIL 1965, Presiden Korea Utara, Kim Il-sung dan rombongannya yang melakukan kunjungan kenegaraan untuk memperingati dasawarsa Konferensi Asia-Afrika, diajak melihat-lihat Kebun Raya Bogor oleh Presiden Sukarno. Kim Il-sung terkesima oleh bunga anggrek berwarna ungu yang tampak asing baginya. Anggrek tersebut hasil penyilangan C.L. Bundt, botanis keturunan Jerman yang memiliki laboratorium penyilangan bunga di Makassar. Direktur Kebun Raya Bogor, Sudjana Kasan meminta Bundt untuk membantu persiapan menyambut Kim Il-sung. Bundt lalu mengusulkan untuk menunjukkan bunga hasil silangannya yang dinamai dengan nama anaknya, Dendrobium Clara Bunt, dan didaftarkan ke Royal Horticultural Society pada 1964. Sukarno berniat menghadiahkan bunga anggrek tersebut dan menamainya Kimilsungia, perpaduan nama Kim Il-sung dan Indonesia. Barangkali Sukarno tidak tahu kalau anggrek tersebut sudah punya nama, Dendrobium Clara Bunt. Awalnya Kim Il-sung menolak, namun Sukarno berhasil meyakinkannya. Sukarno juga berjanji akan menyempurnakan teknik budidaya anggrek dalam satu sampai dua tahun agar dapat dikembangbiakkan di Korea Utara.
- Kim Il-sung Menerima Gelar Doktor Honoris Causa dari UI
PRESIDEN Korea Utara Kim Il-sung berkunjung ke Indonesia pada April 1965 dalam rangka menghadiri peringatan dasawarsa Konferensi Asia Afrika. Presiden Sukarno mengajaknya ke Kebun Raya Bogor dan menghadiahinya bunga anggrek yang dinamai Kimilsungia. Selain itu, Sukarno juga meminta Universitas Indonesia (UI) untuk memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Kim Il-sung dalam bidang teknik. Nizam Yunus dalam biografi Soemantri Brodjonegoro, Teguh di Jalan Lurus menyebut bahwa Sukarno intensif menganugerahkan gelar doktor kehormatan dalam rangka membina poros Jakarta–Pnom Penh–Hanoi–Peking–Pyongyang dan solidaritas Nefos (New Emerging Forces) yaitu negara-negara baru merdeka.
- Jenderal Jepang Perebut Bandung Divonis Mati
ERETAN Wetan di bagian barat Kabupaten Indramayu menjadi daerah pendaratan penting pasukan Jepang sewaktu Perang Pasifik. Setelah mendarat, mereka tidak bergerak ke arah barat menuju Jakarta, melainkan terus merengsek ke selatan Jawa Barat dengan tujuan Bandung. Tentara Jepang bergerak cepat seperti sekutunya di Eropa, Jerman, yang menerapkan Perang Kilat (Blitzkrieg). Jepang setidaknya mengerahkan Divisi ke-2 dan Divisi ke-48 ditambah dua batalyon dari Divisi ke-38 dalam menduduki Jawa. Semua bagian dari operasi Tentara ke-16 Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia, ±1942-1998 menyebut, dua batalyon dari Divisi 38 itu dipimpin oleh Kolonel Shoji Toshishige (1890-1974). Pasukan Kolonel Shoji bergerak sangat cepat. Pada hari pertama pendaratan saja, 1 Maret 1942, pasukannya berhasil merebut Kota Subang dan Lapangan Udara Kalijati. Selain sebagai fasilitas penerbangan terbaik di Jawa kala itu, Kalijati amat dibutuhkan Jepang.
- Perjuangan Lasmidjah Berbuntut Pengusiran
BUS melaju dari Yogyakarta ke Trenggalek. Lasmidjah dan Sutono serta Parmin menumpang bus itu. Mereka bersandar di kursi untuk melepas lelah selepas menghadiri Konferensi Partindo tahun 1933. Setelah menempuh jarak hampir 300 km, mereka tiba di Trenggalek. Sejurus kemudian Lasmidjah melambaikan tangan, memanggil seorang pengemudi delman untuk mengantarnya ke rumah. Namun baru sampai halaman rumah, Lasmidjah dikejutkan oleh keberadaan anggota PID (Politieke Inlichtingen Dienst, Dinas Intelijen Politik) yang mengepung rumahnya. Lasmidjah dilarang masuk ke rumah dan langsung digiring ke kantor polisi. Runyam! Para polisi menginterogasi Lasmidjah tentang pertemuan politik di Yogyakarta. Wardi, ayah Lasmidjah, yang tak pernah tahu-menahu soal pergerakan, dipanggil bupati. “Anak tuan dokter mengganggu ketertiban umum. Ini sudah lama kami amati. Putri tuan harus segera pergi dari Trenggalek dalam 2x24 jam,” kata bupati.





















