Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Asal-Usul Gen Asia Selatan Riri Riza
RIRI Riza, sineas beken Indonesia, menghabiskan masa kecilnya selama sembilan tahun di Ujung Pandang (kini Makassar). Setelah itu, dia ikut orangtuanya ke Jakarta. Dia mengalami masa-masa rendah diri di awal menjadi anak baru di sekolah dasar di Jakarta pada 1979. “Saya sendiri punya perasaan inferior tentang asal-usul saya,” kata Riri Riza. Riri merasa tidak nyaman bercerita kepada teman-temannya tentang daerah asalnya. “Saya merasa ada semacam superioritas dari orang Jawa dibandingkan dari kami yang berasal dari Indonesia Timur,” tuturnya.
- Mengurai Nenek Moyang Ayu Utami Via DNA
JUSTINA Ayu Utami. Meski lahir dari orangtua asal Jawa, ia lahir dan tumbuh di lingkungan yang dominan orang Sunda. Maka perempuan kelahiran Bogor, 21 November 1968 itu pun kadang ia tak luput dari perundungan. “Sebagai orang Jawa, ya pernah sih saya di-bully. Karena saya tinggalnya di Bogor, kan daerah (orang) Sunda ya. Biasa pulang sekolah lewat di satu komplek perumahan yang dominan orang Sunda, suka dikatain: Jawa lu! Jawa kowek,” kata Ayu mengenang. Namun, Ayu jarang memasukkan perundungan itu ke dalam hati. Baginya, perundungan yang diterimanya tak separah yang diterima banyak temannya dari etnis Tionghoa maupun Arab.
- Seperti Grace, Solihin Punya Gen Afghanistan
SOLIHIN, seorang pedagang gorengan di Tanah Abang, Jakarta Pusat, tak menyangka punya gen yang sama dengan Grace Natalie, Ketua Umum DPP Partai Solidaritas Indonesia. Solihin memiliki 0,05% DNA Afghanistani, sedangkan Grace mempunyai 0,01% DNA Afghanistani. Solihin adalah salah satu responden Proyek DNA Historia. Laki-laki berusia 52 tahun ini merantau ke Jakarta sejak tahun 1989. Kampungnya berada di Randu Dongkal, Pemalang, Jawa Tengah. Setahu Solihin, jejak leluhurnya yang bisa ia ketahui berasal dari kampung yang sama. “Kalau kakek dan nenek dari Pemalang, Randu Dongkal. Waktu saya kecil nenek buyut sudah meninggal, jadi (kalau buyut) kurang tahu,” sebutnya.
- Grace Natalie Ternyata Punya Gen Afghanistan
GRACE Natalie, mantan jurnalis dan pembaca berita di sejumlah stasiun televisi, mengenang hari pertamanya bekerja sebagai jurnalis. Dia memperoleh perlakuan rasis dari sesama jurnalis. Saat itu dia berada di Cikeas, menunggu Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pernyataan kepada pers setelah terpilih menjadi Presiden Indonesia 2004—2009. Grace berwajah oriental. Kulitnya terang. Seorang jurnalis lelaki memperhatikan ini. Dia mendekati Grace dan berbincang sekadarnya. Lalu pernyataan mengganggu keluar dari jurnalis lelaki itu. “Ngapain Lojadi wartawan? Kenapa gakbuka toko aja?” kata jurnalis lelaki, sebagaimana cerita Grace kepada Historia. Ucapan jurnalis lelaki itu berbekas sangat dalam. “Teringat sampai sekarang,” kata Grace. Ucapan itu termasuk stereotip terhadap orang-orang keturunan Tionghoa. Stereotip berarti penilaian orang hanya berpijak pada keyakinan subjektifnya, yaitu pengalamannya semata.
- Pernah Diolok Onta, Gen Arab Najwa Hanya 3,4 Persen
KENANGAN itu muncul di ingatannya. Nana, sapaan akrab jurnalis Najwa Shihab, kembali teringat candaan teman-teman semasa kanak-kanaknya dulu. Onta, begitulah mereka memanggil Nana yang memang memiliki wajah dan darah Arab. Alih-alih tersinggung dengan olokan itu, putri cendekiawan muslim Quraish Shihab ini, menanggapinya biasa, malah mewajarkannya. “Itu yang kemudian saya rasakan berbeda dengan sekarang. Dulu rasanya santai-santai saja. Dipanggil julukan apapun yang berkaitan dengan orang tua atau garis keturunan, saya merasa hal yang wajar dan biasa, tidak pernah tersinggung, karena tidak pernah dilakukan untuk tujuan menyakiti. Hanya sebatas julukan atau bercanda anak kecil saja. Jadi saya tidak pernah terganggu dengan itu,” kata Nana. Siapapun yang melihat Nana pasti akan berpikir ia berasal dari keturunan Arab murni. Karena secara fisik Nana memang terlihat seperti kebanyakan orang-orang dari wilayah jazirah Arab, terutama bentuk wajahnya. Namun, apakah betul demikian? Historia mencoba menjawabnya.
- Asal Gen Yunani-Siprus dalam DNA Ariel
NAZRIL Irham atau yang populer disapa Ariel Noah mengaku kerap menerima celetukan “rasis” dari teman-temannya. “Ah pelit lu, Padang!” Begitulah celetukan yang jamak diterima oleh musikus kelahiran 16 September 1981 itu. Namun alih-alih menanggapi, Ariel tak ambil pusing dengannya. Ia menganggapnya semata selorohan saja. “Nggak sampai bully, hanya ejekan ringan,” kata Ariel pada Historia sambil terkekeh. Lahir di Pangkalan Brandan, Langkat, Sumatera Utara, Ariel tumbuh sebagai remaja di lingkungan berbahasa Sunda di Bandung. Keluarganya berasal dari Sumatera. Ariel mengidentifikasi dirinya sebagai orang Padang. Garis leluhur dari pihak ibunya berasal dari Padang, sementara ayahnya campuran Padang-Batak. Kakek Ariel dari pihak ayah merupakan orang Padang dari Bonjol, sementara neneknya seorang Batak bermarga Siregar.
- Elvis Menyanyi Dangdut
PERNAH suatu masa celana cutbrai menjadi tren. Pedangdut Achmad Rafiq, yang meninggal 19 Januari 2013, didaulat sebagai orang yang mempopulerkannya. Dia memboyong goyang pinggul dan gaya kostum mencolok ke dangdut bersama celana panjang cutbrai khas yang dikenal sebagai “celana A. Rafiq.” Orang datang ke penjahit cukup bilang, “Tolong jahitin celana A. Rafiq. Orang (penjahit) sudah tahu. Itu tidak bisa hilang dalam sejarah,” kata A. Rafiq kepada Andrew N. Weintraub dalam Dangdut Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia. Dilahirkan di Semarang pada 1949, A. Rafiq dibesarkan dalam keluarga religius yang memiliki leluhur dari Timur Tengah, India, dan Turki. Dia mahir membaca Alquran. Ketika dia memutuskan berkarier di dunia musik, keluarganya menentang. Tapi dia nekat. Dia pergi dari Semarang untuk bergabung dengan orkes Melayu Sinar Kemala di Surabaya.
- Anjangsana Ahmad Subardjo di Negeri Persia
IRAN sebagai pewaris Peradaban Persia kembali jadi tolok ukur pendidikan Islam secara menyeluruh dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES). Negeri yang sedang dikeroyok Amerika Serikat (AS) dan Israel itu mampu bertahan berkat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya. “Muslim Persia sudah menunaikan tugas kesejarahannya mengembangkan ilmu pengetahuan dan filsafat. Maka mungkin inilah saatnya atau paling lama abad depan, adalah giliran Muslim Asia Tenggara,” ujar cendekiawan Din Syamsuddin dalam sambutannya pada gala dinner GIHES di Jakarta, sebagaimana disiarkan akun Youtube gontortv, Sabtu (6/9/2026). Tokoh pendidikan dari Muhammadiyah itu merujuk pada sejarah masa keemasan Islam (abad ke-8-abad ke-14). Persia sendiri melahirkan banyak tokoh yang sampai sekarang masih jadi rujukan sampai ke negeri-negeri Barat. Di antaranya matematikawan Muhammad bin Musa al-Khwarizmi (780-850 Masehi) yang acap disebut “Bapak Aljabar” dan namanya diabadikan untuk “algoritma”. Lalu, Ibnu Sina (980-1037 Masehi) yang jadi pionir kesehatan modern.
- Edutainment Kasih Paham Sejarah dengan Reenactment
SANG dwiwarna sudah dikibarkan para pemuda dan rakyat jelata lepas pembacaan teks proklamasi. Tetapi belum lama menyesapi alam kemerdekaan, mereka digegerkan oleh kedatangan sebarisan prajurit bersenjata lengkap dengan mengusung bendera “Union Jack”. Dor! Dor! Dor! Bum! Letusan senjata dan ledakan pun menggema di halaman Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok), Jakarta. Di tengah situasi chaos, pasukan pejuang republik bermodalkan bedil-bedil rampasan serdadu Jepang menjawab tantangan itu. Nyawa mereka pertaruhkan karena tak rela pasukan Inggris sebagai kepanjangan tangan Sekutu itu menyokong kembalinya Belanda yang hendak’ balik menjajah bekas koloninya. Tetapi peristiwa itu bukan kejadian nyata yang terulang kembali, melainkan satu adegan dalam gelaran sosiodrama “Romansa Negeri” pada 16 Agustus 2023. Agenda Munasprok dalam memperingati HUT RI ke-78 itu dilakoni para reenactor (pereka ulang sejarah) lengkap dengan “impresian” atau seragam disertai atribut dan properti yang otentik sesuai masanya.
- Gaza dalam Lintasan Sejarah
BALASAN Pasukan Pertahanan Israel (IDF) ke Jalur Gaza, Palestina lepas serangan roket Hamas pada 7 Oktober 2023 makin menggila. Tak hanya memutus semua akses kebutuhan hidup dasar untuk penduduk sipil Palestina, serangan-serangan IDF turut menyasar permukiman, kamp pengungsian, dan rumahsakit. Kementerian Luar Negeri Palestina dalam sejumlah posting-an di akun X-nya, @pmofa, pada Rabu (18/10/2023) mengungkapkan, sudah lebih dari tiga ribu jiwa yang tewas dan 12 ribu terluka. Jumlah itu sudah termasuk ratusan orang yang tewas kala Israel membombardir Rumahsakit Al-Ahli Arab atau Rumahsakit Baptist di pusat kota Gaza. Kecaman pun bermunculan. Tak hanya dari WCC atau Dewan Gereja Dunia tapi juga sejumlah badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “UNICEF mengecam keras serangan terhadap Rumahsakit Al Ahli Arab di Gaza yang menelan ratusan korban sipil yang tewas dan terluka. Kami menyerukan perlindungan terhadap semua warga sipil, termasuk anak-anak dan infrastruktur kebutuhan mereka. Kami mendesak gencatan senjata sesegera mungkin dan akses terhadap bantuan kemanusiaan,” ungkap badan dana amal anak-anak PBB di akun X-nya, @UNICEF, Rabu (18/10/2023).
- Kepoin Muspusal, Paham Sejarah Maritim dengan Teknologi Mutakhir
MUSEUM tak melulu outdated atau ketinggalan zaman, garing, membosankan, lebih-lebih angker. Kesan-kesan itulah yang ingin ditinggalkan oleh Museum Pusat TNI Angkatan Laut Jalesveva Jayamahe (Muspusal) di Surabaya. Dengan menggunakan teknologi kekinian, Muspusal menyajikan serba-serbi sejarah maritim lewat beragam cara yang vibe-nya asyik dan seru. Hal itu tampak nyata kala Historia beranjangsana ke Muspusal Kamis (23/11/2023) siang. Berada tak jauh dari Pangkalan Utama TNI AL V (Lantamal V), Muspusal yang berada di sudut Jalan Sarjawala dan Jalan Pati Unus, Ujung, kota Surabaya itu bernaung di bawah Dinas Sejarah Angkatan Laut (Disjarhal). Saat mendampingi Historia, Kepala Muspusal Letkol Laut (KH) Drs. I Putu Sara Partama, M.A.P. berkisah bahwa beberapa bangunan tahap pertamanya baru didirikan di atas lahan 1,6 hektare dari total lahan 3,2 hektare. Kelak, sesuai rencana, Muspusal jadi museum militer terbesar di Asia Tenggara.
- Satu Gugur Dua Senyap
PASUKANNYA kocar-kacir digempur oleh tentara Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Ditemani beberapa rekannya, Bardan Nadi bersembunyi di sebuah pondok bersama keempat anaknya. Namun persembunyiannya diketahui tentara KNIL karena informasi dua mata-mata yang menyamar sebagai pencari damar. Seruan agar menyerah tak dihiraukannya. Begitu pondokan dihujani tembakan, Bardan mencoba kabur dengan tangan kanan memegang senapan lantak dan tangan kiri menggendong Paini Trisnowati, putrinya yang berusia dua tahun. Nahas, tiga butir peluru menembus tubuh Paini. Bardan seketika membeku dan memilih menyerah. Setelah menguburkan anaknya atas seizin tentara Belanda, ia digelandang ke tangsi KNIL di Ngabang, Kalimantan Barat. Di sana ia disiksa saat interogasi sampai harus dirawat di klinik tentara. Setelah itu ia dipindahkan ke Penjara Sungai Jawi –kini menjadi bagian kompleks Rumah Sakit Umum Santo Antonius– di Pontianak.





















