top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10077 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Epos Majapahit Lebih Seru dari Game of Thrones

    DARI adaptasi novel fantasi A Song of Ice and Fire (1991) lahirlah film seri Game of Thrones nan seru yang digarap sineas David Benioff dan Daniel Brett Weiss hingga delapan season (2011-2019). Padahal kalau menengok ke belakang, wiracarita dan Babad Majapahit juga tak kalah seru. Segala hal terkait dengan kisah peperangan entah kompleksitasnya, pengkhianatannya, hingga perebutan takhta lintas wilayah dan kerajaan juga terjadi di seputar era kebangkitan dan kejatuhan Kerajaan Majapahit. Bedanya, epos dan Babad Majapahit terjadi di dunia nyata minus raksasa atau naga seperti di Game of Thrones. Namun, tidak banyak yang mengetahui cerita-cerita menakjubkan tentang Majapahit, utamanya publik di luar Indonesia. Bertolak dari realita itulah Herald van der Linde mencoba merangkum dan mengalirkan ceritanya agar lebih enak dibaca lewat buku Majapahit: Intrigue, Betrayal and War in Indonesia’s Greatest Empire yang diterbitkan pada Mei 2024.

  • Dua Gubernur Jenderal VOC

    MASA kepemimpinan tiga gubernur jenderal VOC: Willem van Outhoorn (1691–1704), Joan van Hoorn (1704–1709), dan Abraham van Riebeeck (1709–1713) diwarnai nepotisme yang membuat gerah Heeren XVII atau Dewan Tujuh Belas di negeri Belanda. Van Outhoorn, yang lahir di Larike, Ambon pada 1635, menjadi gubernur jenderalmenggantikan Johannes Camphuys (1684–1691). Sebelum menjadi gubernur jenderal, menurut Bea Brommer dalam To My Dear Pieternelletje: Grandfather and Granddaughter in VOC Time, 1710–1720, Van Outhoorn sempat menempuh pendidikan di Belanda. Ia dikirim ke Belanda seperti kebanyakan anak laki-laki lainnya. Setelah menyelesaikan Sekolah Latin di Rotterdam, ia mendaftar sebagai mahasiswa hukum di Universitas Leiden pada 23 September 1653. Ia memperoleh gelarnya pada 1657 dan disumpah di pengadilan hukum Belanda.

  • Ancaman Pemakzulan Gubernur Jenderal VOC

    ANGGOTA Dewan Hindia Antonio Hurdt tak menyangka dirinya tidak terpilih menjadi gubernur jenderal VOC. Ia semakin kecewa karena orang yang menggantikan Gubernur Jenderal Cornelis Speelman, yang meninggal pada 1684, adalah Joannes Camphuys, salah satu anggota termudaDewan Hindia. Terpilihnya Joannes Camphuys sebagai gubernur jenderal tidak semata-mata keputusan De Heeren Zeventien atau Dewan Tujuhbelas di Belanda.Keputusan itu justru munculberdasarkan hasil pemungutan suara rahasia yang dilakukan anggota Dewan Hindia di Batavia. Mulanya Dewan Tujuhbelas menunjuk Balthazar Bort,direktur jenderal atau orang nomor dua di wilayah koloni, untuk menggantikan Speelman. Namun, Bortmeninggal dunia sehingga penentuan gubernur jenderal dilakukan dengan pemungutan suara rahasia.

  • Bataha Santiago Digantung Akibat Lawan VOC

    BUKU pelajaran sejarah Indonesia hanya menyebut kerajaan-kerajaan Buddha, Hindu, atau Islam saja. Kerajaan-kerajaan Kristen tak pernah ada dalam buku pelajaran. Maka jangan heran jika nama Bataha Santiago tak dikenal oleh banyak orang. Dari sedikit yang mengenalnya, ada Angkatan Darat (AD). Matra dalam TNI itu mengabadikan nama Bataha Santiago sebagai nama Komando Resort Militer (KOREM) yang membawahi daerah di provinsi Sulawesi Utara, yakni Korem 131/Santiago yang berpusat di kota Manado. Selain itu, nama Santiago juga menjadi nama desa di Sangihe. “Ia bernama Bataha yang dibaptis dalam agama Katolik dengan nama Santiago,” tulis JP Tooy dkk dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Utara.

  • Anak Yatim Piatu dan Terlantar pada Masa VOC

    PENDUDUK Batavia tak hanya pria dan wanita dewasa, tetapi juga anak-anak termasuk anak-anak yatim piatu dan terlantar. Wabah penyakit dan kemiskinan menyebabkan jumlah mereka bertambah. Mereka ditampung di panti asuhan yang didirikan oleh penguasa kota Batavia. Seperti halnya kastil dan benteng, panti asuhan juga merupakan bangunan awal yang didirikan di Batavia. Sejarawan Jean Gelman Taylor menulis dalam The Social World of Batavia: Europeans and Eurasians in Colonial Indonesia, lima tahun setelah Batavia berdiri, sebuah tempat penampungan untuk anak-anak yatim piatu sudah dibangun di kota itu. Tak hanya menerima anak-anak Eropa, panti asuhan yang didirikan pada Oktober 1624 itu juga merawat anak-anak yatim piatu dari keturunan campuran atau Eurasia maupun penduduk lokal beragama Kristen. Di sana, mereka dididik sesuai kebiasaan Eropa dengan tujuan untuk mewujudkan masyarakat yang beradab di wilayah koloni.

  • Kisah Dua Anak Gubernur Jenderal VOC yang Bermasalah

    NAMA Rijcklof van Goens tak hanya dikenal sebagai gubernur jenderal VOC, prestasinya sebagai diplomat juga diakui di kalangan Kompeni. Van Goens pernah ditunjuk menjadi utusan VOC ke Keraton Mataram. Pengetahuannya tentang keadaan politik di keraton membuka jalan bagi Kompeni untuk mengatasi kemelut politik yang terjadi di Kerajaan Jawa. Van Goens pernah empat kali melakukan kunjungan ke wilayah Mataram dalam kurun tahun 1648 dan 1654. Ia pun pernah melakukan perjalanan ke daerah pedalaman Jawa. Perjalanan karier van Goens sebagai pegawai VOC tak dapat dikatakan mudah. Putra perwira kavaleri di garnisun Belanda itu berlayar ke Batavia tahun 1628 bersama orang tuanya. Nahas, tak lama setelah tiba di Batavia, van Goens yang kala itu berusia sebelas tahun menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya meninggal dunia (1629-1630).

  • Kisah Kamus Sejarah Mengenai Indonesia

    Kamus Sejarah Indonesia terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menjadi perbincangan serius belakangan ini. Polemik berpangkal dari absennya KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) – organisasi Islam terbesar di Indonesia -- sebagai lema kamus tersebut. Tidak hanya bagi insan sejarah, kelalaian itu menjadi pemberitaan nasional. “Hilangnya” sosok Hasyim Asy’ari dalam Kamus Sejarah Indonesia, bagi banyak kalangan, terutama kelompok NU dianggap mereduksi peran tokoh ulama tersebut dalam sejarah bangsa. Hilmar Farid selaku Dirjen Kebudayaan Kemendikbud telah meminta maaf dan mengakui itu sebagai buah keteledoran. Pernyataan senada dikemukakan oleh Mendikbud Nadiem Anwar Makarim. Selain menariknya dari peredaran (take down), Nadiem mengatakan akan merevisi total kamus tersebut.

  • Tak Ada Lema KH Hasyim Asy’ari, Kamus Sejarah Picu Kontroversi

    Kamus Sejarah Indonesia Jilid I yang disusun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menuai kontroversi. Pasalnya, nama tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari disebut tak dimuat dalam kamus tersebut. Beberapa pihak memprotes Kemendikbud karena dianggap telah membelokkan sejarah. Cucu KH Hasyim Asy’ari, M. Irfan Yusuf Hakim, mempertanyakan mengapa nama kakeknya bisa hilang dari kamus. "Kami sempat membicarakan itu walaupun lewat daring dengan keluarga. Kami mempertanyakan itu juga. Ini hilang atau sengaja dihilangkan. Makanya kami mempertanyakan ke pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud," kata Irfan seperti dikutip dari Detik.com, Selasa, 20 April 2021.

  • Ketika Dokter Gila Turut Merumuskan Kamus Oxford

    MENJELANG hari Natal, dr. William Chester Minor (diperankan Sean Penn) masih hanyut dalam imajinasinya yang ia tuangkan ke atas kertas. Dengan pensil, ia membuat sejumlah lukisan di kamar tahanannya di Rumahsakit Jiwa Broadmoor. Kesibukannya baru terhenti kala seorang sipir RSJ bernama Muncie (Eddie Marsan), datang dan memberikan sebuah buku. The Life and Opinions of Tristram Shandy, Gentleman judul buku tersebut. Buku itu dihadiahkan Muncie sebagai bentuk terimakasih para kolega Muncie setelah Minor menyelamatkan nyawa salah satu sipir muda di RSJ Broadmoor. Saat membuka satu per satu halamannya, tetiba sebuah pamflet jatuh dan menarik perhatian Minor. Pamflet itu berisi informasi ajakan partisipasi kepada semua orang yang berbahasa Inggris untuk turut berkontribusi dalam perumusan kamus besar bahasa Inggris Oxford. Sejak saat itu, Minor meminta lebih banyak buku untuk turut mengirimkan kontribusinya.

  • Lika-liku Perumusan Kamus Ternama Dunia

    SUDAH dua dekade kebuntuan menghinggapi para akademisi Delegasi Agung Oxford University Press dalam menyusun kamus besar bahasa Inggris baru. Hingga akhirnya, mereka bertemu filolog Skotlandia James Augustus Henry Murray (diperankan Mel Gibson) yang mulanya dipandang sebelah mata lantaran tak punya ijazah sarjana, pada suatu pagi tahun 1878. “Kita, delegasi terhormat Oxford meski sudah mengerahkan sepasukan akademisi termasuk saya, hanya jalan di tempat selama 20 tahun. Bisa disebut kita mengalami kemunduran. Perkembangan bahasa bergulir lebih cepat dari usaha kita, terlebih bahasa kita (bahasa Inggris) sudah hadir di seluruh penjuru dunia. Karenanya saya rasa Tuan Murray adalah solusi yang inkonvensional dan tepat bagi kita,” tutur Frederick James Furnivall (Steve Coogan) membela kompetensi Murray.

  • Kamus dari Penjara Sultan

    EKSPEDISI Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman dan saudaranya Frederick de Houtman tiba di pelabuhan Aceh pada 21 Juni 1599. Mereka dijamu dengan hangat. Namun Sultan Aceh tidak berminat berdagang dan hanya ingin menggunakan kapal-kapal dan senjata Belanda untuk menyerang Johor di Semenanjung Melayu. Intrik para saudagar Portugis mengacaukan rencana itu dan menimbulkan salah paham serta kekerasan. Pada 1 September 1599, pasukan Sultan Aceh menyergap dan membunuh Cornelis de Houtman dan beberapa orang lain. Pemimpin lain dari ekspedisi, Le Fort, berhasil meloloskan diri dengan dua kapalnya, tetapi 30 awak kapal termasuk Frederick de Houtman ditangkap. Frederick dibujuk masuk Islam dengan iming-iming jabatan tinggi dan dinikahkan dengan perempuan Aceh. Dia menolak. Dia pun mendekam dipenjara Benteng Pidi selama 26 bulan (11 September 1599 sampai 25 Agustus 1601).

  • Aksara Menunjukkan Peradaban Nusantara

    AKSARA-aksara Nusantara menginspirasi Edi Dolan, yang akrab dipanggil Edo, untuk berkarya membuat kaligrafi. Sebelumnya, dia membuat kaligrafi aksara Arab, namun sejak tahun 2005 dia mengembangkan kaligrafi aksara Sunda dan Jawa kuno. Dan ternyata, banyak orang yang tertarik dengan aksara Nusantara. Hal ini terlihat dari animo pengunjung yang menghadiri pameran aksara Nusantara di beberapa kota seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. “Saat pameran di Yogyakarta, awalnya jadwal pameran selama satu minggu, namun diperpanjang sampai tiga kali,” kata Edo dalam diskusi, pemeran dan workshop “Aksara Ibu Peradaban” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, pada 8 September 2015. Edo tidak menulis kaligrafi di kain kanvas atau kaca. Dia memilih kertas dari kulit pohon Paper mullberry atau disebut Saeh oleh orang Sunda. Dia membuat sendiri kertas dari pohon itu dengan cara ditumbuk-tumbuk setelah direbus. Hasilnya adalah kertas daluang.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page