Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dardanella Jadi Saksi Konflik Yahudi-Arab di Palestina
VLADIMIR Klimanoff alias A. Piedro punya banyak mimpi besar saat merintis The Malay Opera Dardanella di Sidoarjo pada 1920-an. Salah satunya menjadikan Dardanella sebagai rombongan pertunjukan nomor satu di Nusantara. Piedro mendirikan Dardanella tepat di hari ulang tahunnya yang ke-23 pada 21 Juni 1926. Mulanya hanya memberikan pertunjukan di tempat-tempat kecil di Jawa Timur. Seiring berjalannya waktu, dengan bergabungnya sejumlah pemain berbakat, di antaranya Tan Tjeng Bok, Soetidja yang kemudian dikenal dengan nama Miss Dja atau Dewi Dja, Astaman, hingga Miss Riboet II, Dardanella menjelma menjadi kelompok pertunjukkan yang dikenal di berbagai wilayah Nusantara.
- Sanghyang Dedari, Pertunjukan Penolak Marabahaya dari Bali
MENCARI pertunjukan seni saat berkunjung ke Bali bukan hal yang sulit. Umumnya wisatawan akan disuguhkan pertunjukan tari Kecak. Tari ini mudah ditemui di berbagai pura. Jauh sebelum tari kecak terkenal sebagai pertunjukan profan, ia merupakan tari pengiring tari Sanghyang. Perbedaannya, tari Kecak mengambil lakon Ramayana sedangkan Sanghyang hadir sebagai pertunjukan tanpa lakon tertentu. Pertunjukan Sanghyang atau yang bisa pula disebut tari Sanghyang bukanlah pertunjukan biasa. Ia tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan namun juga sakral. Sanghyang merupakan bagian dari ritual masyarakat Bali. Tarian ini ditampilkan sebagai salah satu cara menolak wabah dan mara bahaya.
- Operasi Palmer Dinas Intelijen Cekoslowakia di Indonesia
DALAM rapat para panglima Angkatan Darat seluruh Indonesia di Markas Besar Ganefo, Senayan, Jakarta, 28 Mei 1965, Presiden Sukarno menyampaikan pidato berjudul “Imperialis Mau Menghantam, Kita Harus Siap Siaga.” Sukarno mengatakan sudah tentu pihak musuh mengadakan spionase hebat kepada kita. Pada suatu hari rumah Bill Palmer di Gunung Mas, Puncak, Bogor, digerebek dan ditemukan dokumen. “Salah satu dokumen itu nyata betul apa yang saya tadinya masih betwijfelen (meragukan). Kan dulu itu selalu berkata oleh pihak kiri, Bill Palmer adalah spion CIA. Bil Palmer adalah orang CIA. Tadinya saya sendiri, terus terang, is dat wel waar (benarkah), bahwa Bill Palmer itu spion CIA? Sebab dia itu begitu baik, apalagi terhadap film artis Indonesia. He, kiranya pada waktu rumahnya digerebek, anak-anak kita ini mendapat dokumen di rumah Bill Palmer. Itu yang ditunjukan. Wah betul, hij was een spion (dia adalah mata-mata),” kata Sukarno.
- Ketika DN Aidit Menyanyi Lagu Arab
SELASA, 26 November 1963 malam, halaman kantor Pengurus Besar Front Nasional di Jalan Merdeka Selatan begitu semarak. Malam itu tengah diadakan perpisahan dengan delegasi yang hendak menyukseskan Ganefo. Beberapa tokoh kemudian menyanyikan lagu daerah maupun lagu dari negara-negara perwakilan. Ketua CC PKI D.N. Aidit, yang saat itu juga menjabat sebagai Ketua MPRS, tak mau luput dari perhatian. Ia naik panggung dan menyanyikan lagu dari daerah Sumatera Utara, “Madekdek Magambiri”. Begitu selesai, ia mengarahkan pandangan kepada Wakil Ketua DPR-GR Arudji Kartawinata. “Pak Arudji, saya akan menyanyikan sebuah lagu bahasa Arab,” kata Aidit seperti dikutip koran HR Minggu, 1 Desember 1963.
- Catatan Tiongkok tentang Raja Arab di Nusantara
SEORANG penguasa Arab, Raja Da-zi mengirimkan sebuah tas yang berisi uang, meletakannya di perbatasan negara Ratu Sima. Sang Ratu di Jawa itu membuat Raja Da-zi penasaran karena ketegasannya menghukum mereka yang tak jujur. Tiga tahun berlalu, tas itu tak tersentuh. Orang-orang hanya melihatnya. Tak ada yang berani mengambilnya. Suatu hari, putra mahkota tanpa sengaja menyentuh tas itu. Ratu Sima marah besar sampai ingin membunuhnya. Namun, para menteri keburu mencegahnya. “Kesalahanmu terletak di kakimu, karena itu sudah memadai jika kakimu dipotong,” kata sang ratu. Para menteri kembali menghalanginya. Akhirnya, Ratu Sima hanya memotong ibu jari kaki sang pangeran. Raja Da-zi pun takut dan tak berani menyerang negara sang ratu. Demikian kesaksian utusan Tiongkok yang diabadikan dalam Sejarah Baru Dinasti Tang. Tercatat pada 674 M, Ratu Sima ditahbiskan sebagai pemimpin perempuan di Ho-Ling. Menariknya dalam catatan itu Raja Da-zi dikaitkan dengan orang Arab.
- Pers Berbahasa Arab Penyebar Kemerdekaan Indonesia
SEBUAH lahan kosong tertutup pagar seng di Gang Tengah, Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Di lahan ini dulu berdiri sebuah rumah. Aneka macam cerita keluar dari rumah itu. Pernah menjadi markas pemuda pro-Republik, anggota BKR, dan gudang senjata pada masa Jepang sampai awal kemerdekaan Indonesia. Tapi cerita berikut ini bukan tentang tiga hal itu. Ini cerita tentang peran kantor berita Arabian Press Board (APB). Dari rumah itulah APB turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia sejak 2 September 1945. Tapi peran APB tak selalu terang. Perlu penambahan data untuk memperjelasnya dan memperkuatnya. “Terkait peran pers APB dalam kemerdekaan, sangat menarik untuk penggalian sumber lagi,” ungkap sejarawan Rusdhy Hosein dalam diskusi “Diplomasi Pers Asad Shahab dalam Kemerdekaan Indonesia” di FISIP Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Selasa, 28 November 2018.
- Ali Bakatsir, Sastrawan Nasionalis Peranakan Arab
DI seantero Timur Tengah, nama Ahmad Sukarno sudah kadung kondang untuk merujuk siapa presiden pertama Indonesia. Bahkan di Kairo, ibukota Mesir, Ahmad Sukarno diabadikan sebagai nama salah satu jalan. Padahal nama asli Bung Karno hanya Sukarno. Perkara nama Ahmad Sukarno bermuasal dari ulah aktivis mahasiswa Indonesia di Mesir. Di zaman revolusi mereka tergabung dalam Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Tujuannya agak unik dan terkesan pragmatis. Nama yang bernuansa Islami itu memberi citra Indonesia sebagai negara yang dipimpin oleh orang Muslim. Pada masanya, nama Ahmad Sukarno kian viral justru karena pentas drama. Bagaimana bisa? Dalam seminar internasional bertajuk “Ali Ahmad Bakatsir: Sastrawan dalam Jejak Sejarah Indonesia” yang digelar kemarin (24/9) di teater Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, terungkap siapa yang berperan dalam popularisasi nama Ahmad Sukarno di Timur Tengah.
- Kitab Mujarab Bagi Pelupa
BUKU ini dilarang edar di Indonesia pada masa Orde Baru. Sepertinya pejabat Kejaksaan Agung era Orba tak perlu lama-lama memutuskan pelarangan buku ini. Halaman pertama pada buku ini saja sudah mempertanyakan peran Soeharto di dalam kudeta 1 Oktober 1965. Bahkan dalam lembar halaman selanjutnya, Julie Southwood dan Patrick Flanagan, penulis buku ini, memposisikan Soeharto sebagai pelaku aktif kudeta yang berakhir pada penyingkiran Sukarno. Penulis menghubungkan keterlibatan Amerika Serikat dan jejaring Soeharto di dalam rangkaian kudeta terhadap Sukarno. Sejumlah data disajikan untuk memperkuat argumen kenapa Amerika berkepentingan atas Indonesia. Julie dan Patrick mengutip laporan Departemen Luar Negeri AS kepada Kongres pada 1975 tentang betapa pentingnya Indonesia bagi Amerika, salah satunya karena Indonesia diprediksi menjadi penyuplai penting bagi kebutuhan energi Amerika.
- Kala Arab Saudi Memesona di Piala Dunia
PIALA DUNIA 1994 di Amerika Serikat merupakan Piala Dunia pertama bagi Arab Saudi. Selain menjadi debut, Piala Dunia 1994 menjadi bukti prestasi baik Arab Saudi yang kala itu dilatih Jorge Solari. Di pertandingan pembuka, kontra Belanda, Arab Saudi mengagetkan publik sepakbola dunia. Skill ciamik ditambah serangan-serangan terpola Arab Saudi acap membuat barisan belakang Belanda yang dikomandani Ronald Koeman kerap kerepotan. Di menit ke-18, sayap kanan Talal Jebreen berhasil merepotkan dua bek Belanda hingga terpaksa menjatuhkannya. Tendangan bebas yang didapat Arab lalu dimanfaatkan dengan baik oleh gelandang Fuad Anwar dengan sundulan ke pojok kiri gawang Ed de Goey. Arab unggul lebih dulu.
- Asad Shahab, Jurnalis Arab Pro Republik
SEJARAH mencatat Mesir adalah negara pertama yang mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia. Para pelajar Indonesia yang ada di sana menerima berita tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia dari kantor berita Arabian Press Board (APB). Berita-berita itu diteruskan dalam konferensi Liga Arab. Walhasil, negara-negara Islam di Timur Tengah bersimpati dan memberikan dukungannya. Menurut Nabiel A. Karim Hayaze, peneliti Menara Center –Lembaga Riset Keturunan Arab– dari berita-berita itulah negara di Timur Tengah mendapat informasi tentang Indonesia; negara berpenduduk Muslim dengan presidennya yang bernama Ahmad Sukarno. Dan sejak itu pula masyarakat Mesir memantau perjuangan Indonesia melawan Belanda yang berujung pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Mesir.
- Hoesin Bafagieh, Guru Menulis AR Baswedan
SAMBIL membawa tulisannya supaya dimuat, A.R. Baswedan menemui Hoesin Bafagieh di kantor Majalah Zaman Baroe. Di hadapan Maskati, Bafagieh langsung menolak keinginan Baswedan. “Saya telah mengejeknya dengan kata-kata yang menghina, nyatakan bahwa karangannya belum bisa mendapat tempat di halaman Zaman Baroe dan ia perlu belajar kembali,” ujar Bafagieh dalam Aliran Baroe Tahun II No. 6 Januari 1939. Menurut Nabiel Karim Hayaze, penyusun buku Kumpulan Tulisan dan Pemikiran Hoesin Bafagieh, Hoesin jauh lebih senior dari Baswedan. “Ketika Baswedan mulai semangat menulis, Hoesinlah yang mengajarkan Baswedan menulis,” kata Nabiel dalam diskusi buku yang diselenggarakan di Universitas Indonesia, Selasa, 7 November 2017. Nabiel melanjutkan, keturunan Arab yang aktif dalam pergerakan bukan hanya Baswedan meski dia yang paling dikenal.
- Kisah Surat Hatta untuk Baswedan
GERAM. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan suasana hati keluarga salah satu bapak pendiri bangsa, Mohammad Hatta, saat mengetahui surat beratasnamakan ayahandanya tersebar luas di jagat maya. “Hidup Bung Hatta menginspirasi keturunannya. Kami selalu ambil nilai-nilai baik dari teladan beliau. Tapi heran masih juga ada kelompok yang mau mempecundangi nama besar Bung Hatta,” ucap Halida Nuriah Hatta, putri bungsu Mohammad Hatta, kepada Historia. Halida Hatta pernah membagikan foto surat tersebut dalam akun media sosialnya. Di sana ia menyebut jika surat tersebut palsu dan isinya tidak sesuai dengan kepribadian Hatta. "Pelajarilah kiprah Bung Hatta dari masa remajanya sampai dengan akhir hidupnya," tulis Halida.





















