Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah A.R. Baswedan dan Calon Mertua
PERTEMUAN Abdurrahman Baswedan dengan perempuan yang kemudian menjadi istrinya terjadi di usia yang masih sangat muda. Baswedan ketika itu masih berusia 17 tahun, sementara Syaikhun berusia 12 tahun. Keduanya memang telah lama saling kenal karena Syaikhun adalah putri pamannya sendiri. Suatu hari di tahun 1925, Baswedan menyampaikan maksudnya menikahi Syaikhun kepada kedua orangtuanya. Keputusan itu cukup mengejutkan, mengingat remaja seusianya masih mengikuti segala kehendak orangtua, termasuk soal perjodohan. Namun sebelum meneruskan maksud itu ke sang paman, ayah Baswedan meminta anaknya merubah sikap-sikap yang mungkin tidak bisa diterima pamannya.
- Bertanah Air Indonesia, Bukan Hadramaut
PARA peserta Konferensi Peranakan Arab di rumah Said Bahelul di Kampung Melayu, Semarang, tegang. Suasana perkenalan berjalan canggung, karena sejak lama komunitas Arab mengalami konflik yang dipicu soal strata sosial antara sayid dan non-sayid. Sayid, atau disebut juga alawi, adalah istilah yang digunakan untuk menyebut keturunan Nabi Muhammad dan karenanya membuat mereka merasa istimewa. Abdul Rahman (A.R.) Baswedan mencairkan suasana dengan mengajukan jalan tengah. “Solusi sederhananya panggil semua Arab dengan ‘saudara’ atau al-akh. Tidak peduli alawi atau non-alawi, you are my brother,” ujar Samhari Baswedan, anak kesebelas A.R. Baswedan, kepada Historia. Kompromi tersebut mendapat sambutan baik. Konferensi Peranakan Arab, yang dimulai pada 3 Oktober 1934, dihadiri sekira 40 orang Arab peranakan dari Arrabitah, organisasi pro-sayid, dan Al-Irsyad, organisasi non-sayid. Mereka berasal dari Surabaya, Semarang, Pekalongan, dan Jakarta.
- The Bitter Life of Sutan Sjahrir
SITI Rabyah Parvati was only five years old when she accompanied her father, Sutan Sjahrir, to Zurich, Switzerland, for medical treatment. Sjahrir had to seek treatment in Europe after suffering a stroke, which was caused by high blood pressure he had endured while in prison. With the permission of President Sukarno, Sjahrir was allowed to seek treatment abroad. In 1965, Sjahrir and his family left for Zurich. “We got permission for Papa to seek treatment, as long as it wasn't in the Netherlands. So, we finally got permission to go to Zurich and receive treatment there. I was five years old back then,” recalled Siti Rabyah in a discussion titled “Sjahrir: Our Struggle” held at the Nasdem Library. In 1962, Sjahrir was given political prisoner status by the Sukarno regime. Sjahrir, along with several opposition figures known as the “Bali Connection,” was accused of conspiring to harm President Sukarno. Shortly after Sjahrir was detained, his party, the Indonesian Socialist Party (PSI), was disbanded by the government. The PSI was disbanded along with Masyumi because its cadres were involved in the PRRI-Permesta regional movement.
- Penculikan Kepala Stasiun CIA
PADA pertengahan 1983, Letnan Kolonel William Francis Buckley menjabat Kepala Stasiun CIA dengan menyamar (cover) sebagai pejabat urusan politik di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beirut, Lebanon. Dia ditugaskan untuk membantu Lebanon mengembangkan metode menghadapi terorisme. Buckley juga berusaha membangun kembali intelijen Amerika Serikat setelah pengeboman Kedutaan Besar Amerika Serikat beberapa bulan sebelumnya. Serangan itu menewaskan 17 orang Amerika, termasuk Robert C. Ames, kepala analis CIA Timur Tengah, dan beberapa petugas CIA. “Satu sumber mengatakan Buckley dipilih untuk tugas berbahaya karena dia tidak punya keluarga,” tulis Bob Woodward dan Charles R. Babcock di Washington Post, 26 November 1986.
- Dampak Krisis Minyak Dunia terhadap Indonesia
Berbagai krisis minyak dunia kadang membawa keuntungan, namun sering juga menimbulkan tekanan ekonomi bagi Indonesia.
- Brutal dan Primitifnya Sejarah Roma dalam Romulus
LANGIT di Alba Longa masih benderang. Mendung dan hujan masih belum terlihat tanda-tandanya. Tetapi di suatu hari pada abad ke-8 SM itu nasib suku Alba dan 29 suku lain yang sudah enam bulan mengalami kekeringan dan terancam kelaparan bakal ditentukan. Numitor (diperankan Yorgo Voyagis), raja Alba yang dijadikan tetua dari 30 suku yang terhimpun dalam Liga Latin, menyambut hangat kedatangan Ertas (Emilio De Marchi), raja dari suku Gabi, dan Spurius (Massimiliano Rossi), raja dari Velia. Keduanya datang terakhir menyusul para raja dari 27 suku yang berkumpul di Alba Longa. Mereka akan menggelar ritual keramat yang dipimpin seorang ahli nujum. Sang ahli nujum menyampaikan bahwa tanah di 30 suku itu akan terselamatkan oleh hujan jika Raja Numitor dan putrinya, Silvia (Vanessa Scalera), mengasingkan diri ke Meridian, sebuah kawasan terpencil di selatan.
- Julius Caesar Menyeberangi Rubicon
RUBICON trending topic karena mobil Jeep itu digunakan oleh Mario Dandy Satrio ketika menganiaya David hingga koma. Warganet pun menyelam untuk mencari jejak digital pelaku penganiayaan itu. Dari postingan di media sosialnya, pelaku suka mengendarai dan memamerkan kendaraan mewah: mobil Rubicon dan motor gede Harley Davidson. Mirisnya, kendaraan itu disebut menunggak pajak. Padahal, ayahnya seorang pejabat Ditjen Pajak. Publik pun mempertanyakan bagaimana pejabat eselon tiga bisa memiliki kekayaan Rp56 miliar. Bila Mario mengendarai Rubicon, maka Julius Caesar menyeberangi Rubicon. Sama-sama menentukan dalam hidup mereka.
- Senjakala Telenovela
SEBAGAI stasiun televisi swasta penyedia tayangan telenovela, SCTV kerap diplesetkan menjadi “Saluran Cerita TelenoVela”. Sepanjang dekade 1990-an, sejumlah serial telenovela unggulan ditayangkan SCTV dan memperoleh rating tinggi. Sebut saja Kassandra (1992), Maria Mercedes (1993), Morena Clara (1994), Maria de lal Bario (1995), hingga Esmeralda (1997). Pada 2000, SCTV untuk kali kedua menayangkan Esmeralda. Penayangan ulang serial telenovela asal Meksiko (Televisa) ini karena minat penonton yang tinggi. Esmeralda (diperankan Leticia Calderon) berkisah tentang gadis buta yang tertukar sejak bayi, cintanya terhalang status sosial, serta perjuangannya mendapatkan penglihatan dan pengakuan cinta. Penayangan perdana Esmeralda menggunakan sulih suara berbahasa Inggris. Sementara penayangan ulang menggunakan bahasa Indonesia. Namun, penayangan kedua tak berjalan mulus lantaran menuai protes. “Tayangan telenovela Esmeralda dihentikan karena adanya protes dari Front Pembela Islam (FPI),” lansir Bali Post, 1 Juli 2000.
- Media Massa Murba
SEBELUM Partai Murba didirikan, para pengikut Tan Malaka berjibaku menyediakan corong bagi suara mereka. Malelo Siregar, pengikut Tan Malaka dan pendiri Partai Rakjat yang kemudian berfusi menjadi Partai Murba, memulainya dengan mingguan Murba yang terbit pada November 1947. “Untuk pertama kalinya kelompok Tan Malaka mempunyai surat kabarnya sendiri,” tulis Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 3. Pimpinan Pusat Sarekat Buruh Gula (SBG), organisasi yang bersimpati pada Tan Malaka, mengikutinya lewat Murba: Harian Merdeka untuk Murba yang nomor resminya keluar pada 1 Maret 1948. Sjamsu Harja Udaja menjadi redaktur utamanya. Tan Malaka dengan nama samaran A.R. Dasoeki menulis serangkaian tulisan yang menentang kebijakan pemerintah berunding dengan Belanda.
- Raja yang Dibuang ke Cianjur
MAKAM tua itu terpuruk dimakan usia. Di atasnya, sekumpulan batu kali tersusun rapi, membentuk ruas persegi panjang 1,5 x 2 meter persegi. Dari sesela bebatuan, rerumputan liar tumbuh subur, seolah menjadi pelindung makam dari sengatan matahari. Tak ada yang tahu persis siapa yang bersemayam di makam yang terletak di Kampung Salagedang, Cianjur. “Sejak saya bocah, pusara itu hanya dikenal orang-orang kampung sebagai makamnya Jilolo, gegeden (orang besar) dari tanah seberang,” ujar R. Agus Thosin (65), salah seorang sesepuh Salagedang.
- Sultan Jailolo Mencari Leluhur Hingga Cianjur
JARUM jam menunjuk angka 10.30 WIB. Sinar matahari cukup terik. Rombongan keluarga Sultan Jailolo Ahmad Sjah dari Maluku Utara memasuki Kampung Salegedang, Cianjur, Jawa Barat. Jumlah mereka sepuluh orang. Rombongan itu menuju makam leluhur mereka, Sultan Hajuddin atau Sultan Jailolo ketiga. Mereka sempat kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang dari Halmahera. Tapi kelelahan itu sirna begitu mereka berdiri tepat di depan makam Sultan Hajuddin. Makam berukuran 1,5 x 2 meter persegi itu terletak di belakang Taman Makam Pahlawan Cianjur. Usianya sudah satu abad lebih. Makam tersusun dari beberapa batu kali. Di sesela batu kali, rumput liar tumbuh subur. Seolah menjadi pelindung makam dari panasnya sinar matahari.
- Dari Jailolo ke Priangan
MAKAM tua itu terpuruk dimakan usia. Di atasnya, sekumpulan batu kali tersusun rapi, membentuk ruas persegi panjang1,5 x 2 meter persegi. Dari sesela bebatuan, rerumputan liar tumbuh subur, seolah menjadi pelindung makam dari sengatan matahari. Tak ada yang tahu persis siapa yang bersemayam di makam yang terletak di Kampung Salagedang, Cianjur. “Sejak saya bocah, pusara itu hanya dikenal orang-orang kampung sebagai makamnya Jilolo, gegeden (orang besar) dari tanah seberang,” ujar R. Agus Thosin (65), salah seorang sesepuh Salagedang.





















