top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Petualangan Menteri Soesanto Tirtoprodjo dan Soepeno

    SETELAH berjalan dari Jawa Tengah melewati berbagai rintangan, rombongan kecil Menteri Kehakiman Soesanto Tirtoprodjo dan Menteri Pembangunan dan Urusan Pemuda Soepeno akhirnya mencapai Desa Ganter di kaki Gunung Wilis yang masuk wilayah Nganjuk, Jawa Timur. Mereka menginap dua malam di rumah kamituwa, lalu pindah karena tak betah sebab pak kamituwa amat pelit. Mereka kemudian menumpang di rumah penduduk miskin bernama Krama-Dul. Di rumah kecil dan terpencil itulah kedua menteri mendapat kenyamanan. Kendati sesaat, mereka bisa menikmati istirahat dan kedamaian di tengah pelarian menghindari penangkapan pasukan Belanda. Namun di sana pula mereka akhirnya harus berpisah. Pelarian Soesanto-Soepeno dimulai setelah pasukan Belanda menduduki ibukota RI Yogyakarta dalam Agresi Militer II. Di Solo, keduanya bersama Menteri Kemakmuran IJ Kasimo, Mendagri dr. Sukiman Wiryosanjoyo, Gubernur Militer Kolonel Gatot Subroto, residen Surakarta, dan walikota Solo rapat menentukan kelanjutan pemerintahan. Kendati rapat memutuskan keempat menteri mengambil-over dan membagi rata pekerjaan kabinet, keputusan belum sempat dijalankan karena pasukan Belanda keburu mendekati Solo. Dari sana mereka menyingkir ke Tawangmangu pada 20 Desember 1948.

  • Jakarta Kota Tinja

    GUBERNUR DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali mengumpat. Kali ini dalam siaran langsung ketika diwawancarai salah satu stasiun televisi swasta. “Lalu apa tuduhan yang lebih keji lagi, istri saya menerima dana CSR (dana sosial perusahaan swasta) untuk main di Kota Tua. Lu buktiin, tahi, bangsat, goblok, nenek bego,” ujarnya dengan jengkel sebelum disela. Umpatannya itu keluar terkait konflik antara dirinya dan DPRD DKI Jakarta dalam kasus APBD. Kata “tahi” bukan sekali ini keluar dari mulut Ahok. Tahun lalu, dia pernah menyebut Jakarta sebagai “Kota Tahi” kala mengomentari kepengurusan kawasan Kota Tua yang tak becus. Ternyata “tahi” memiliki ceritanya sendiri dalam sejarah Jakarta (dulu Batavia). Tepatnya ketika pasukan Mataram menyerbu Batavia pada 1629. Raja Mataram, Sultan Agung (1593-1646) berambisi menaklukkan Batavia untuk memuluskan jalan menaklukkan Kesultanan Banten. Pasukan Mataram menyerbu Batavia dua kali, tahun 1628 dan 1629.

  • Grafik Perjalanan Harga Emas Indonesia

    Dianggap sebagai investasi yang menjanjikan, popularitas emas tak lekang oleh waktu.

  • The Telenovela Craze in Indonesia

    There was a time when Latin American original soundtracks were very popular in Indonesia. The lyrics were familiar to many, even to school children. The generation of that era surely still remembers the intro and excerpts from these songs. Marimar... Aww! Costeñita soy. (Marimar... Aww! I am a beach girl). Or, Ay, amor, ay, amor, aquí está tu Rosalinda/ Rosalinda ay amor... ay amor! (Oh love, oh love, here is your Rosalinda/ Rosalinda oh love... oh love!) Marimar and Rosalinda are two telenovela series starring Mexican actress and singer Thalia Sodi Miranda. Both telenovelas were produced by Televisa, a Mexican telenovela production house. Marimar aired in 1994, while Rosalinda aired in 1999. Thalia first starred in the series Maria Mercedes, also produced by Televisa, which aired in 1992. When Maria Mercedes, Marimar, and Rosalinda aired in Indonesia in the mid-1990s, Thalia's charm captivated Indonesian audiences.

  • Menculik Pacar Westerling

    ORANG-orang Medan pada masa revolusi kemerdekan mengenang sosok Raymond Westerling sebagai seorang algojo, tukang jagal berdarah dingin. Dia selalu bergerak saat malam. Hanya disertai dua atau tiga orang pengawal, Westerling memburu satu persatu pejuang republik. Setelah dieksekusi, mayat mereka dipertontonkan kepada khalayak. Begitulah Westerling menebar teror semasa bertugas di Medan. “Saya teringat pula akan kisah seorang algojo tentara Belanda bernama Westerling, yang di sekitar Medan melakukan teror pembunuhan,” tutur sastrawan Sitor Situmorang dalam otobiografinya Sitor Situmorang: Seorang Sastrawan 45 Penyair Danau Toba. Sitor mengawali kariernya sebagai jurnalis harian Waspada di Kota Medan.

  • Westerling On the Road to Massacre

    FIVE parachutists jumped from an Allied plane and landed on the airfield of Medan. There, several Japanese had been waiting for them to make sure the guests didn't possess any arms. The five parachutists were then followed by the dispatch of several containers, half of which contained weapons while the rest had logistics inside. However, one of the parachutes failed to open. The commander's eyes were fixed on the sky as he anxiously hoped that the troubled container wouldn’t cause any problem with the Japanese. Soon afterwards, the container crashed into the ground. "At the shock of landing, the container broke. There was an explosion of cigarettes. I breathed again," said the commander in his memoir, Challenge to Terror. That commander was Raymond Westerling. He wasn't yet a captain in the squad, but an English officer, whose rank was a captain, was only a second-in-command. "Because of my special training and my nationality, in practice I was chief of the team," said Westerling.

  • Sebelum Westerling Beraksi di Indonesia

    PANGKAT berbentuk dua garis mirip huruf “V” itu sudah tersemat di lengan Kopral Raymond Westerling. Pun dengan emblem singa bertuliskan Nederland dan satu insignia hitam kecil bertuliskan “No. 10 Commando” berwarna merah darah sebagai penanda prajurit muda itu sudah menjadi manusia “berbeda” kala tiba di kota Porthmadog, Wales, medio Juli 1942. Westerling sudah tak lagi sekadar prajurit asing dengan tugas-tugas rendahan. Darahnya masih mendidih akibat latihan khusus di Depot Komando Achnacarry, Skotlandia (Maret-Juni 1942) yang beberapakali nyaris menamatkan nyawanya. “Lolos dari maut selusin kali selama latihan, saya meninggalkan Achnacarry dengan kondisi fisik yang tangguh, keras, dan gelisah untuk berjibaku dengan musuh. Mungkin fisik saya terlalu bagus. Hampir setiap kali dalam latihan, saya tak pernah tidak antusias untuk beraksi,” kenang Westerling dalam memoarnya, Challenge to Terror.

  • Kisah Taruna Sim, Nas, dan Alex

    NEGERI Belanda luluh lantak ketika Jerman mendudukinya pada 1940. Begitulah Angkatan Perang Kerajaan Belanda hancur lebur tanpa perlawanan dalam Perang Dunia II. Imbasnya sampai ke wilayah jajahan, Hindia Belanda. Pemerintah kolonial kekurangan opsir untuk menata pasukan tentara kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Demi memenuhi kebutuhan itu, pemerintah kolonial membuka Akademi Militer Belanda (KMA) di Bandung. Baik orang-orang Belanda maupun pribumi diterima masuk KMA untuk mengenyam pendidikan perwira. Bermodal ijazah AMS (setara SMA), pemuda Tahi Bonar Simatupang mendaftar ke KMA. Keputusan Simatupang mengikuti seleksi KMA sebenarnya perjudian besar. Dia nekat mengubur cita-citanya melanjutkan studi ke sekolah tinggi kedokteran. Lagipula, postur tubuhnya yang kecil agak kurang cocok menjadi tentara. Di benak Simatupang kala itu hanya ingin membuktikan ketidakbenaran sebuah mitos. Ada anggapan umum saat itu bahwa kaum pribumi seperti dirinya tidak layak menjadi tentara.

  • Kolonel Husein Yusuf Dipecat Karena Tak Ada di Tempat

    KELAMAAN libur memang kerap bikin terlena. Perkara itu pula yang pernah membuat jengkel Kolonel Alex Kawilarang, panglima Teritorium I/Sumatra, terhadap bawahannya. Kisahnya bermula ketika Kawilarang berkunjung ke Kutaraja yang merupakan ibu kota provinsi Aceh pada 1950. Dalam lawatannya ke kota yang kini bernama Banda Aceh itu, Kawilarang tidak mendapati Kolonel Husein Yusuf, komandan Divisi X. Husein Yusuf tidak menyambut Kawilarang karena sedang pulang kampung di Bireuen. Absennya Husein Yusuf menyebabkan Kawilarang tersinggung.

  • Kesko Siliwangi, Cikal Bakal Kopassus

    MALAM menuju puncaknya. Gulita membekap kawasan Asrama Militer Batujajar, Jawa Barat ketika sekelebat bayangan bergerak cepat di belakang pos penjagaan. Sejurus kemudian, dari bagian belakang, secara kilat bayangan hitam itu membekap prajurit penjaga pos. Sang prajurit tergagap. Dia coba melawan. Namun pitingan tangan yang kuat disertai ancaman pisau komando yang terhunus membuatnya tak bisa berkutik. “Sang penyergap itu tak lain adalah Visser, instruktur sekaligus komandan kami. Dia memang begitu, nyaris setiap waktu selalu menguji kesiapsiagaan kami sebagai pasukan komando,” kenang almarhum Marzoeki Soelaiman, salah satu anak didik generasi pertama dari Roden Barendrecht Visser alias Mochamad Idjon Djanbi. Marzoeki juga masih ingat bagaimana aksi Visser saat melakukan latihan penyerbuan dari laut di Pelabuhan Ratu. Dalam skenario, para siswa peserta pelatihan dengan menggunakan beberapa perahu karet akan melancarkan penyerangan ke arah sebuah lapangan udara di muara Sungai Cimandiri.

  • Alex Kawilarang dan Harta Karun Jepang

    SERSAN Mayor (Purn.) Sanip masih ingat perintah atasannya ketika mulai terjun di palagan Sulawesi Utara pada Agustus 1959. Kepada para prajurit Batalyon 330 Kudjang I Siliwangi, komandan tersebut menekankan jika nanti harus berhadapan dengan Panglima Angkatan Perang Revolusiener (APREV) Alex Evert Kawilarang maka diupayakan untuk ditangkap hidup-hidup. "Jangan sakiti beliau! Pak Alex adalah orang tua kita yang sedang khilaf dan harus disadarkan,” ujar sang komandan. Tak cukup hanya dengan perintah. Para prajurit Siliwangi juga menempelkan berbagai selebaran dan pengumuman tertulis di hutan-hutan Sulawesi Utara. Menurut A.H. Nasution, itu dilakukan semata-mata karena bentuk rasa hormat para prajurit asal Jawa Barat itu kepada tokoh senior Siliwangi tersebut.

  • Ayah Pendiri Kopassus Tenggelam di Samudera Hindia

    SEBUAH rumah di Jalan Papandayan, Bandung kedatangan tamu tak diundang pada suatu hari di tahun 1942. Perempuan pemilik rumah membukakan pintu dan mempersilahkan tamunya masuk. “Apa-apaan ini?” tanya perempuan itu kepada tamu tak diundang itu. “Sudahlah, Mam, sudahlah,” kata pemuda yang pulang di waktu yang tak tepat itu. Si perempuan itu lalu memanggil suaminya di kamar. Perempuan itu menghampiri pemuda itu lagi dan memberi peringatan kepada anak laki-laki satu-satunya itu. “Kamu bisa ditembak mati kalau tertangkap lagi. Ayo kembali saja ke sana,” perintah ibu itu kepada anaknya supaya kembali ke kamp tawanan militer Jepang.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page