Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Nasib Tragis Sophie Scholl di Bawah Pisau Guillotine
AULA utama kampus Ludwig-Maximilians-Universität, Munich di hari itu, 18 Februari 1943, masih sangat hening. Di jam kuliah itu, Sophie Scholl (diperankan Julia Jentsch) bersama kakaknya Hans Fritz Scholl (Fabian Hinrichs) bergegas mendaki anak tangga. Adrenalin kakak-adik itu melonjak seiring memburu langkahnya sembari menoleh kanan-kiri. Sesampainya di balkon atas aula, Sophie dan Hans buru-buru mengeluarkan tumpukan selebaran dari koper kulit yang mereka bawa. Beberapa tumpukan mereka letakkan di sejumlah koridor kampus dan di depan pintu-pintu kelas. Sebagian lagi di dekat anak tangga dan pilar-pilar aula. Sesaat kemudian, ‘Kriiing!’ Bel selesai jam pelajaran berbunyi lantang. Sophie langsung melempar sisa-sisa pamfletnya dari balkon yang kemudian berterbangan dan berjatuhan ke lantai dasar aula.
- Kisah Tarigan, Laskar Buronan Westerling di Medan
SETELAH berhasil memimpin operasi penerjunan pasukan ke kota Medan, Letnan Raymond Pierre Westerling menetap di Hotel Mijn de Boer. Hotel itu kini telah bersalin rupa menjadi Hotel Dharma Deli dengan hiruk-pikuk lalu lintas kendaraan di depannya. Tapi, ketika Westerling tinggal di sana, suasana di sekitar hotel yang letaknya di pusat kota itu masih asri. “Saya menemukan tempat yang menawan, dengan banyak vila-vila yang cantik terletak di taman bunga yang indah,” kenang Westerling dalam memoarnya Challenge to Terror. Pada Oktober 1945, Westerling mengemban misi untuk mengembalikan kekuasaan Belanda di Medan. Tugasnya antara lain mengorganisasikan pasukan sambil merencanakan operasi intelijen. Di Hotel de Boer itulah Westerling sehari-hari menjalankan pekerjaannya. Bersamaan dengan itu, tentara Sekutu pimpinan Brigjen T.E.D. Kelly mendarat di Medan. Jadi, keberadaan Westerling di Medan berada di bawah supervisi Sekutu (Inggris).
- Dan Westerling Pun Tersenyum
SIAPA tak kenal Westerling? Di bangku sekolah, guru-guru sejarah mengenalkannya sebagai sosok kejam, yang membantai ribuan orang di Sulawesi Selatan. Bahkan penyanyi Iwan Fals mempopulerkan namanya lewat lagu “Pesawat Termpurku”, meski liriknya tak ada sangkut-pautnya dengan Westerling: Kalau hanya senyum yang engkau berikan, Westerling pun tersenyum Tapi rasanya tak semua orang tahu bagaimana perjalanan hidupnya dan banyak kisah lainnya. Westerling adalah legenda kekejian dalam sejarah Indonesia. Dia dituduh membantai 40 ribu orang di Sulawesi Selatan. Menganggap kepala Sukarno tidak lebih mahal dari sebutir peluru yang menjadikannya alasan untuk tak membunuhnya. “Orang Belanda sangat perhitungan, satu peluru harganya 35 sen, Sukarno harganya tidak sampai 5 sen, berarti rugi 30 sen yang tak dapat dipertanggungjawabkan,” kata Westerling di depan para pendukungnya di Belanda. Seperti nyawa tak berarti, Westerling pun memerintahkan pembunuhan terhadap tentara Siliwangi dalam peristiwa Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung. Dia, bersama kongsinya, Sultan Hamid II melancarkan aksi kudeta terhadap kepemimpinan Republik Indonesia Serikat pada 23 Januari 1950. Kudeta gagal. Para pemberontak kocar-kacir. Sultan Hamid II ditangkap dan diadili sementara Westerling kabur. Ia kemudian hidup dalam pelarian. Belakangan diketahui, aksi kudeta APRA tersebut disokong oleh Pangeran Bernhard, suami Ratu Juliana. Aksi Westerling mempercepat jalannya sejarah. Republik Indonesia Serikat berada di ujung tanduk. Kaum unitaris menyongsong kemenangan, menyingkirkan kaum federalis dukungan Belanda. Indonesia kembali ke dalam bentuk negara kesatuan. Belanda hengkang total. Westerling menjadi noda hitam dalam sejarah Indonesia. Kali ini, noda hitam itu kami angkat, bukan untuk menjadikan Westerling semakin melegenda, tetapi menjadikannya pelajaran bahwa kekerasan bukan cara yang baik untuk mencapai tujuan. Berikut ini laporan khusus Westerling. Drama Sebabak Lelaki Stambul Jalan Menuju Pembantaian Atas Nama Ketertiban Teror Subuh di Timur Matahari Kongsi Dagang Meneer Komandan Unjuk Bedil Serdadu Ratu Adil Misi Klandestin Pangeran Oranye Akrobat Gagal Sultan Ketujuh Sponsor Utama Anti Republik Balada Petualang dalam Pelarian Lakon Cavaradossi Si Kapten Turki Masa Senja Serdadu Tua
- Perang Westerling di Timur Jauh
KAPTEN R.P.P. Westerling kembali bangkit dari kubur. Kali ini komandan DST (Depot Pasukan Khusus) Belanda paling legendaris itu dimunculkan oleh sutradara berdarah Maluku Jim Taihuttu dalam De Oost. Itu nama drama perang bertajuk petualangan militer Belanda di Indonesia, salah satu tanah jajahannya di Timur Jauh. Begitu dirilis empat hari yang lalu, De Oost langsung menuai kecaman beruntun dari para veteran Belanda dan keluarganya. Salah satu dari mereka adalah Palmyra Westerling, salah satu putri dari Raymond Westerling. Dalam surat terbuka yang beberapa hari ini beredar di media sosial, Palmyra menyerukan khalayak Belanda untuk memboikot peredaran film tersebut.
- Benarkah Westerling Sakti Mandraguna?
BAGI generasi muda Sulawesi Selatan di masa kiwari, mungkin nama Raymond Pierre Paul Westerling sekadar nama dalam buku sejarah. Namun tidak begitu di era 1950 atau 1960-an. Di masa itu nama Westerling seolah tabu buat terucap dari mulut. Perkaranya tak lepas dari kisah-kisah kebrutalan eks kapten cum komandan Depot Speciale Troepen (DST) atau pasukan khusus Belanda itu periode 1946-1947. Pemerintah RI menyebut korban pembantaian Westerling mencapai 40 ribu jiwa, meski di salah satu memoarnya, Mes Aventures en Indonésie (terjemahan: Challenge to Terror) ia hanya mengaku mencabut 463 jiwa warga sipil dan gerilyawan. “Memang itu tahun 1950-1960an kalau orang Bugis, orang Makassar dengar namanya Westerling kayak apa emosinya,” ujar sejarawan Anhar Gonggong kepada Historia
- Ketika S.M. Amin Dipalak Timur Pane
SUTAN Mohammad Amin Nasution pontang-panting menjalankan pemerintahan di Sumatra Utara. Sebagai gubernur muda, Amin mesti menghadapi dua kubu sekaligus. Di satu sisi, Belanda datang kembali menancapkan kekuasaan. Tapi di sisi lain, kelompok laskar pun berbuat sesuka hati dan malah malah turut mengacau keamanan. “Tantangan kedua yang harus dihadapi, adalah dari pihak Laskar Marsuse di bawah pimpunan Timur Pane,” tutur Amin dalam memoarnya Kenang-kenangan dari Masa Lampau. Menurut Amin, Laskar Marsuse tersebut merupakan gabungan beberapa laskar yang bersatu menuntut suatu pengakuan resmi dari pemerintah. Sebagaimana disebutkan Kementerian Penerangan RI dalam buku Republik Indonesia: Propinsi Sumatra Utara, Timur Panelah yang mengorganisasi berbagai barisan Laskar Marsuse.
- S.M. Amin, Gubernur Pertama Sumatra Utara
SUTAN Mohammad Amin Nasution menjadi salah satu dari enam pahlawan nasional yang ditetapkan tahun ini. Dia dikenal sebagai gubernur Sumatra Utara yang pertama. Penganugerahan gelar itu sendiri disematkan oleh Presiden Joko Widodo dalam upacara yang berlangsung di Istana Negara bertepatan pada Hari Pahlawan, 10 November 2020. “Saat ini Sumatra Utara ada 11 pahlawan nasional yang pada pagi ini dianugerahkan oleh Presiden bertambah menjadi 12 pahlawan nasional,” kata Gubernur Sumatra Edy Rahmayadi dalam acara syukuran pemberian gelar pahlawan kepada S.M. Amin di rumah dinas gubernur, dikutip detik.com.
- Enam Hal Penting Tentang Westerling
PENYEBARAN Covid-19 semakin meresahkan masyarakat Indonesia. Jumlah korban yang terus bertambah seolah menegaskan bahwa virus ini tidak bisa dianggap remeh. Namun, di tengah berbagai kabar pilu tentang virus tersebut, kabar baik datang menghampiri keluarga korban pembantaian rakyat Sulawesi Selatan oleh serdadu Belanda selama kurun 1946-1947. Penantian selama delapan tahun akhirnya terbayar sudah. Diberitakan The Guardian, para hakim pengadilan Sipil Belanda di Den Haag memutus Pemerintah Belanda harus membayar kompensasi atas kejahatan militer yang mereka lakukan di Sulawesi Selatan. Kasus ini sendiri dibawa ke pengadilan oleh pengacara HAM Liesbeth Zegveld pada 2012. Baru pada Maret 2020 gugatan ini berhasil dimenangkan.
- Pandangan Westerling terhadap Islam
SEBANYAK 12 ahli waris dari keluarga korban keganasan Raymond Westerling di Sulawesi Selatan medio 1946-1947, bakal mendapat kompensasi antara 123 euro sampai 10 ribu euro (sekira Rp2,2 juta sampai Rp181 juta). Kompensasi yang mesti dibayarkan pemerintah Belanda setelah gugatan mereka dimenangkan pengadilan di Den Haag lewat persidangan yang berjalan selama delapan tahun terakhir. Kasus itu berkaitan dengan laku si jagal Westerling bersama pasukan DST (Depot Speciale Troepen atau Satuan Serdadu Khusus), khususnya kala membantai sejumlah warga Desa Suppa pada 28 Januari 1947. Total jumlah korban kebengisan kapten berjuluk “Si Turki” itu dalam kurun 1946-1947, disebutkan mencapai 40 ribu jiwa.
- Keluarga Korban Westerling Menangkan Gugatan
BUTUH delapan tahun bagi Pengadilan Sipil Belanda di Den Haag mencapai keputusan soal kasus pembantaian rakyat Sulawesi Selatan oleh serdadu Belanda dalam kurun 1946-1947. Sejak kasus itu diajukan pengacara HAM Liesbeth Zegveld pada 2012, akhirnya palu para hakim di Den Haag memvonis pemerintah Belanda untuk membayar kompensasi. Zegveld sendiri meski lega lantaran upaya gugatannya berhasil, namun sempat menyesalkan soal lamanya jalannya persidangan hingga tercapainya keputusan itu. “Kami puas dengan keputusannya. Prosesnya tidaklah mudah; butuh delapan tahun persidangan,” ungkapnya, dikutip The Guardian, Jumat (27/3/2020) waktu setempat.
- Pengakuan Sang Jagal Westerling
DALAM wawancara pada 1969, yang ditayangkan dalam acara "Altijd Wat" (Ada Saja) di televisi NCRV pada 14 Agustus 2012 pukul 21.10 waktu Belanda, Kapten Raymond Westerling mengakui tanpa ragu bertanggungjawab atas pembunuhan 3.500 –buku-buku sejarah di Indonesia menyebut sampai 40.000– rakyat Sulawesi Selatan dalam operasinya pada 1946-1947. “Saya bertanggungjawab dan bukannya prajurit yang ada di bawah saya. Perbuatan itu adalah tindakan saya pribadi. Jumlah persisnya korban bisa dibaca pada laporan patroliku,” kata Westerling.
- Lakon Cavaradossi Si Kapten Turki
MUNGKIN suatu kebetulan jika bertahun kemudian, setelah petualangannya di Indonesia berakhir, Westerling mencoba peruntungannya jadi pemain opera. Lakon yang diperankannya pun menarik: Westerling jadi sosok perupa Cavaradossi, karakter yang mengalami korban penyiksaan. Sebuah peran yang berlawanan dengan lakon kehidupannya di masa perang. Semua bermula pada 1956, ketika Westerling menginap di sebuah hotel di Den Haag. Menurut koran Utrechts Nieuwsblad edisi 24 Desember 1956, di tempat itulah dia mendengar pementasan paduan suara, yang membuat sang kapten begitu terkesan. Kemudian dia menemui pemimpin paduan suara Coen Ruivenkamp, yang juga terkenal sebagai zangpedagoog, guru menyanyi, khusus lagu-lagu seriosa atau opera. “Saya berharap banyak darinya. Dia adalah seorang tenor besar yang dramatis,” kata Coen kepada Utrechts Nieuwsblad.





















