Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah Perburuan Kapten Westerling
GAGAL menguasai Bandung pada 23 Januari 1950, para prajurit APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) mundur ke arah Cianjur. Di sana lagi-lagi ratusan pengikut Kapten Westerling tersebut harus menghadapi batu sandungan dari Batalyon H Divisi Siliwangi pimpinan Mayor Sutoyo. “Mereka terkepung dan kocar-kacir, bahkan sebagian nekad menerjunkan dirinya ke jurang-jurang yang ada di wilayah hutan-hutan Maleber, “ tulis Kolonel (purn) Mochamad Rivai dalam Tanpa Pamrih, Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sadar gerakannya patah di tengah jalan, Westerling memutuskan untuk melarikan diri ke Jakarta. Pengawal setianya Pim Colsom dan dua anggota polisi Indonesia yang membelot menyertai pelarian Westerling. Sang kapten melarikan diri menggunakan tiga mobil yang ia tumpangi secara bergantian di tiap titik tertentu.
- Westerling Melarikan Diri ke Malaya
KAPTEN Raymond Westerling gagal menjalankan aksinya mengudeta pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS) yang dipimpin Sukarno-Hatta. Ia meninggalkan Bandung dalam keadaan kacau akibat aksi bersenjata Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Menurut sejarawan Frederik Willems sebagaimana dikutip dari tulisannya di harian De Volkskrant, 6 Agustus 2012, memastikan pemerintah Belanda di Den Haag mengetahui aksi pelarian Westerling itu. Pada 22 Februari 1950, marinir Belanda menyelamatkan Westerling dari kejaran tentara Indonesia dengan menggunakan pesawat albatros Catalina dan langsung diterbangkan ke Malaya (kini Singapura).
- Alat Perang Made in Republik
Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo terperangah mendengar penjelasan Letnan Kolonel Eddie Soekardi. Kepala Staf TKR (Tentara Keamanan Rakyat) itu nyaris tak percaya Resimen 13 yang dipimpin Eddie akan melawan tentara Inggris dengan potongan-potongan pipa besi buat saluran air. “Pak Oerip awalnya bingung, tetapi akhirnya merasa takjub pipa besi buat air bisa dijadikan bom oleh anak buah saya,” kenang tokoh Perang Konvoi Sukabumi-Cianjur itu sambil tertawa.
- Alex Kawilarang Anak Angkat Oerip Soemohardjo
SEKELOMPOK perwira muda KNIL berkumpul di rumah seorang senior. Mereka mengobrol santai. Sampailah mereka pada obrolan tentang gadis. Ada gadis yang di antaranya mereka golongkan sebagai gadis montok. Montok diartikan mereka sebagai mollig dalam bahasa Belanda yang mereka pelajari di sekolah. “Kemontokannya dapat segera kita lihat,” kata salah seorang pemuda. Si senior tentu mendengar soal gadis mollig tersebut. Dia pun berkomentar. “Mollig tidak dapat dilihat, tetapi hanya dapat dirasakan,” kata si senior yang terkenal pendiam itu mengejutkan para pemuda yang merupakan bawahannya itu.
- Harakiri Jiwa Jenderal Oerip
AWAL November 1948. Sudah beberapa hari, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo terbaring di tempat tidur. Kondisi kesehatannya menurun drastis. Penyakit jantung yang diidapnya sejak ditahan dalam kamp internir Jepang kembali kambuh. Lelah dan lesu kerap menghiasai wajah tuanya. Di hari ke-17 bulan itu, senja baru saja singgah di Yogyakarta. Sang istri, Rohmah Soemohardjo, tengah mengambil segelas susu dari dapur, ketika pintu yang menuju ke sayap kiri rumah tetiba terbanting dengan sangat keras. “Anehnya, tak ada orang dan tak ada angin yang bertiup,” ungkap Rohmah dalam Oerip Soemohardjo, Letnan Jenderal TNI (22 Februari 1893—17 November 1948).
- Jalan Terjal Serdadu Kolonial
BATAVIA, suatu pagi di bulan Oktober 1914. Cuaca begitu cerah. Udara amat segar. Sepasukan seksi kecil KNIL bersemangat menuju lapangan tembak di Sunter. Sambil berjalan mereka acap bersiul. Di tengah perjalanan, mereka mendapati seekor kerbau yang tertambat pada sebuah tonggak pendek. Tanpa mereka duga, hewan piaraan penurut itu lepas dan langsung berlari menuju jalan besar tempat mereka melintas. Dalam sekejap, serdadu-serdadu itu langsung memanjat pohon-pohon di pinggir jalan sembari memaki kerbau itu. Kerbau itu anteng di bawah pohon. Satu-satunya serdadu yang tak memanjat pohon adalah yang berkulit paling hitam dan bertubuh paling pendek: Oerip Soemohardjo. Sambil melinting rokok tembakau shagnya, dia tertawa. Dialah komandan seksi itu.
- Oerip Soemohardjo di Mata Belahan Jiwa
SUDAH tiga kali Letnan Oerip Soemohardjo mendapat rumah dinas di Pension Lemster, Magelang. Tiga kali pula dia harus rela melepas rumah dinas itu. Oerip yang lajang harus mengalah. Rekannya sesama tentara KNIL hendak menikah dan membutuhkan rumah. Di rumah dinasnya yang keempat, lagi-lagi seorang rekan memintanya dengan alasan yang sama. Kontan Oerip menjawab, “Jangan, karena sekarang saya mau kawin.” Kabar Oerip mau kawin bikin orang-orang tercengang dan bertanya, “Apa? Dengan siapa?”
- Kunjungan ke Garis Depan
AKHIR April 2014. Dari atas pembaringannya, Eddie Soekardi yang berusia seabad berkisah tentang mantan pemimpinnya: Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. Ia mengatakan, meskipun ia dari unsur PETA, secara pribadi ia merasa cocok dengan Oerip yang eks perwira KNIL tersebut. “Saya lebih suka menganggap beliau sebagai seorang bapak dibanding seorang komandan,” ujar Eddie Soekardi, eks Komandan Resimen III TKR. Pertemuan pertama Eddie dengan Oerip berlangsung Oktober 1945. Ketika Sukabumi dan Cianjur tengah dibekap ancaman perang melawan Inggris, tiba-tiba Oerip muncul di garis depan. Dengan menggunakan sebuah mobil usang dan disertai tiga pengawalnya, ia mendatangi Eddie yang sedikit “panik” dan menanyakan detail persiapan perang.
- Bekas Rumah-Vila Itu
DI kilometer 9 Jalan Kaliurang, di sisi kiri jalan dari arah Yogyakarta, Kantor Desa Sardonoharjo menawarkan suasana keteduhan. Beberapa pohon besar berdiri kokoh. Pot-pot berisi beragam tanaman memenuhi halamannya. Kantor desa seluas sekira 200 meter persegi itu berdiri di lahan seluas dua hektar dan berada di bagian belakang sebuah kompleks perkantoran. Arsitekturnya perpaduan art deco dan Jawa. Langit-langitnya tinggi. Di beberapa bagian dipenuhi ventilasi yang menambah kesejukan di dalamnya. Siang itu, pertengahan Juli 2016, dua karyawati sibuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Sesekali mengobrol. Mereka menempati ruangan tengah, yang berukuran sekitar 6x4 meter, tempat bertemunya pegawai dan tamu. Di ruang itu pula dulu Oerip Soemohardjo biasa menjamu tetamunya.
- Melepas Mas Oerip
TELEPON berdering di rumah Panglima Besar Jenderal Soedirman. Kopral Aceng yang kebetulan berada di dekatnya segera mengangkatnya. Telepon dari ajudan yang mengabarkan kematian Letjen Oerip Soemohardjo. “Kena apa?” tanya Aceng. Ajudan itu menjawab singkat, “sakit gigi.” Aceng bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana bisa sakit gigi mengakibatkan kematian; mungkin sudah waktunya. Dia segera menuju ke Rumah Sakit Panti Rapih, tempat Soedirman dirawat. Dia melapor kepada Letkol Suprapto, “Lapor Pak. Jenderal Oerip wafat.”
- Sang Jenderal di Rapat Koboy
GEDUNG besar bergaya setengah art deco itu masih berdiri kokoh di tengah kota Yogyakarta. Catnya bercorak kombinasi hijau tua dan hijau muda; menandakan bangunan itu berada di bawah pengawasan TNI AD (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat). Semula, gedung yang dibangun tahun 1904 itu adalah rumah dinas pejabat administrator perkebunan Hindia Belanda di Jawa Tengah dan Yogyakarta, namun pada 1942-1945 dikuasai militer Jepang. Kini, gedung itu menjadi Museum Pusat TNI Dharma Wiratama. “Pasca proklamasi kemerdekaan gedung ini kemudian beralih fungsi menjadi MBTKR (Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat),” ujar pemandu museum kepada Historia. Di gedung MBTKR itu terjadi peristiwa sangat penting. Sebulan usai diumumkan Maklumat Pemerintah tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 oleh Presiden Sukarno, TKR belum memiliki pemimpin tertinggi. Kendati presiden sudah menetapkan Soeprijadi sebagai menteri keamanan rakyat, sampai batas yang sudah ditentukan pemimpin pemberontakan pasukan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar itu tak juga muncul. Isu yang berembus, Soeprijadi dibunuh tentara Jepang.
- Sang Teknokrat Militer
KALAH dalam pemilihan panglima besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 12 November 1945, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo mengisyaratkan untuk mengundurkan diri. Dia menganggap hasil pemilihan itu sebagai suara ketidakpercayaan terhadap dirinya. Kendati menang dalam pemilihan, Soedirman tak serta merta jadi panglima besar. Sampai beberapa lama, pemerintahan Sutan Sjahrir tak jua melantiknya. Ada dua alasan. Sjahrir adalah seorang antifasis Jepang, sementara Soedirman jebolan PETA (Pembela Tanah Air), organisasi militer bentukan Jepang. Pemboikotan ini juga dipakai sebagai alat tawar-menawar; menekan militer agar menerima Amir Sjarifuddin, teman separtainya di Partai Sosialis, sebagai menteri pertahanan, sementara yang terpilih adalah Sultan Hamengkubuwono IX.





















