top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • DNA Tan Malaka Mendekati Kebenaran

    HASIL penyelidikan DNA (deoxyribose nucleic acid) di sebuah laboratorium di Korea Selatan menunjukkan bahwa kerangka tulang yang digali di sebuah makam di Desa Selopanggung, Kediri, pada 12 November 2009, adalah Tan Malaka “mendekati kebenaran”. Saat ini pemeriksaan sisa sampel kerangka di Selopanggung sedang dalam proses pemeriksaan analisis LCN (low number copy) sebuah metode baru ekstrasi sampel DNA. Menurut Tim Identifikasi Tan Malaka, dokter spesialis forensik Jaya Surya Atmadja dari Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, untuk mendapatkan hasil seratus persen bahwa DNA tersebut adalah Tan Malaka masih harus mengikuti perkembangan teknologi DNA yang semakin maju.

  • DNA Tan Malaka Menghilang

    TAN Malaka merupakan tokoh antikolonial yang mobilitasnya sangat tinggi. Selama 30 tahun dia melalang-buana, dari Pandan Gadang (Suliki) hingga Surabaya, dari Penang hingga Amsterdam. Dia selalu waspada karena bertahun-tahun jadi buronan intel. Polisi kolonial mengganjarnya dengan sebutan “jago menghilang”. “Rupanya setelah meninggal pun kemampuan menghilang Tan Malaka tak berkurang sehingga DNA-nya sulit dicari,” canda sejarawan Asvi Warman Adam dalam konferensi pers laporan hasil pemeriksaan DNA atas kerangka yang diduga Tan Malaka di Wisma Shalom, Jakarta Pusat (9/1). “Dia tokoh yang mempunyai reputasi internasional, sehingga tampaknya DNA-nya pun harus diperlakukan secara internasional.”

  • Ketika Adnan Buyung Nasution Bertemu Tan Malaka

    SUATU hari di tahun 1946, seorang lelaki berpakaian pangsi warna hitam datang ke rumah Rahmad Nasution di Yogyakarta. Rahmad memperkenalkan lelaki itu kepada anaknya, Adnan Bahrum Nasution alias Buyung, 12 tahun, sebagai “Oom” yang tak bernama, yang baru belakangan diketahuinya kalau si Oom itu bernama Tan Malaka. Tan Malaka, kata Buyung, sering kali datang ke rumahnya, membahas persoalan politik yang tengah berkecamuk di republik saat itu. Buyung kecil ingat betul apa yang dibicarakan Tan kepada ayahnya: kritik kepada pemerintahan Sjahrir yang waktu itu dianggap terlalu lemah menghadapi Belanda. “Kalau ada maling masuk rumahmu, usir dia keluar, kalau perlu pukul! Jangan ajak dia berunding,” kata lelaki yang akrab dipanggil Bang Buyung itu menirukan Tan Malaka.

  • Kala Tan Malaka Kemalingan di China

    TINGGAL jauh dari kampung halaman tanpa bekal cukup dan sanak famili jelas merepotkan. Terlebih, jika saat tinggal itu yang bersangkutan sedang dalam status pelarian. Lengkaplah sudah penderitaan. Kondisi itulah yang dialami Tan Malaka, salah satu founding fathers Indonesia, ketika tinggal di Shanghai dari 1930-1932 –Tan tinggal dengan menyewa sebuah kamar di rumah milik Tionghoa di Chapei. Tan sadar betul semua kesulitan dan bahaya yang mengitarinya merupakan risiko dari pilihan hidupnya, memperjuangkan kemerdekaan negerinya. Maka, Tan menjalaninya dengan biasa sebagaimana dia menjalani hidup di masa-masa sebelumnya di tempat-tempat yang juga berbeda. Tan tinggal di Shanghai dengan nama samaran Ossario, yang disebutnya sebagai seorang wartawan asal Filipina yang bekerja pada Bankers Weekly.

  • Menumpas Pengikut Tan Malaka (1)

    YOGYAKARTA, 18 Maret 1947, Presiden Sukarno mengumumkan penyatuan nasional antara kekuatan tentara resmi yakni Tentara Republik Indonesia (TRI) dengan kekuatan lasykar langsung di bawah pimpinan Jenderal Soedirman. Hal itu dilakukan demi mengikat kekuatan dalam menghadapi ancaman agresi militer Belanda. “Rumor bahwa Belanda akan menyerang kedudukan Republik memang sudah santer terdengar saat itu,” ungkap sejarawan Robert B. Cribb. Namun dalam kenyataannya, seruan itu hanya diikuti oleh 5 lasykar terbesar. Masing-masing adalah Barisan Pemberontak Rakjat Indonesia (BPRI), Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI), Pemoeda Sosialis Indonesia (Pesindo), Lasjkar Boeroeh (LB) dan Markas Poesat Hizboellah Sabilillah (MPHS).

  • Menumpas Pengikut Tan Malaka (2)

    PERTEMPURAN di pinggir Kali Citarum itu berlangsung selama dua hari dua malam. Masing-masing pihak saling bergantian melakukan serbuan. Tak jarang pertempuran harus diakhiri dengan perkelahian brutal jarak dekat menggunakan bayonet, klewang dan golok. Korban pun berjatuhan, baik dari pihak Tentara Repoeblik Indonesia (TRI) maupun dari pihak Lasjkar Rakjat (LR). “Orang-orang LR itu memang pandai silat. Mereka rata-rata adalah jawara atau jago di era sebelum Jepang berkuasa,” ujar Endin (93), eks prajurit dari Batalyon Beruang Merah. Karena kalah taktik dan kurang menguasai medan, pasukan gabungan TRI sempat dipukul mundur dari wilayah Lamaran . Kekalahan TRI itu, otomatis menjadikan gerak LR semakin melaju ke arah kota Karawang, di mana satu unit pasukan anak buah Sutan Akbar itu tengah dikepung oleh pasukan Siliwangi pimpinan Kapten Lukas Koestarjo.

  • Tan Malaka dan Angkatan Laut di Surabaya

    USAI aksi menolak UU Cipta Kerja yang berujung bentrok pada Selasa (6/10/20), nama Tan Malaka kembali menjadi pembicaraan. Bermula dari Banten. Aparat kepolisian daerah menangkap 14 orang peserta aksi di mana delapan di antaranya merupakan mahasiswa. Dari salah seorang mahasiswa, aparat menyita buku Merdeka 100 Persen karya Tan Malaka. “Buku [Tan Malaka] kita dapatkan saat kita melakukan penggeledahan tersangka OA. Kita kembangkan, yang bersangkutan kita kenakan pasal 212 (KUHP), menyembunyikan buku itu, salah satu objek penelitian,” kata Wakil Direkture (Wadir) Reserse dan Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Banten AKBP Dedi Supriadi sebagaimana diberitakan suara.com, Minggu (11/10/20).

  • Indonesia dalam Mimpi Tan Malaka

    SELAIN dikenal sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan di Indonesia, Tan Malaka juga malang melintang di dunia politik internasional. Ketika dibuang ke Belanda pada 1922, ia pernah dicalonkan sebagai wakil Partai Komunis Belanda dalam pemilihan umum. Ia kemudian pergi ke Moskow dan diangkat sebagai utusan Komunis Internasional (Komintern) untuk Asia Tenggara. Sebagai buronan politik Belanda, Inggris, hingga Amerika, Tan melakukan gerakan-gerakan bawah tanah di berbagai negara. Dua puluh tahun dalam persembunyian, tugasnya adalah mendirikan partai-partai komunis di Asia Tenggara. Tan baru kembali ke Indonesia pada 1942 ketika Jepang mulai menduduki Hindia Belanda. Selama Jepang berkuasa, ia masih bergerak di bawah tanah dan baru muncul di keramaian pasca-Proklamasi 1945.

  • Bertemu Kembali Tan Malaka

    SEPEKAN telah berlalu sejak pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia dilakukan Bung Karno dan Bung Hatta di hadapan ribuan orang di Pegangsaan Timur, Jakarta. Aktivitas masyarakat mulai kembali normal. Bung Karno, dan sebagian tokoh bangsa tengah disibukkan dengan kegiatan kenegaraan. Sementara pimpinan lainnya memilih beristirahat, menikmati suasana tenang setelah berhari-hari merasakan kondisi tegang menjelang kemerdekaan. Itulah yang dilakukan Ahmad Subardjo di kediamannya. Suatu pagi, ketika hari belum terlalu terik, Subardjo kedatangan seorang kawan yang tidak pernah disangka. Dia telah lama kehilangan kontak dengan kawannya itu. Kali terakhir bertemu pada sekitar 1930-an, ketika Subardjo tinggal di Leiden, Belanda.

  • Tan Malaka Menyamar

    SUATU malam di Bogor pada akhir 1945. Dua orang lelaki datang ke rumah Harun Kabir yang terletak di Jalan Ciwaringin Nomor 33. Setelah berbicara agak lama dengan tokoh pergerakan Bogor itu, salah satu dari mereka kemudian pergi dengan meninggalkan kawannya: seorang lelaki hampir separuh baya yang mengenalkan dirinya sebagai Ilyas Husein. Ilyas kemudian tinggal agak lama di rumah Harun. Dia menempati sebuah kamar kosong di bagian belakang. Dalam kenangan Hetty Kabir, putri kedua Harun Kabir, Ilyas merupakan orang yang selalu berbicara lembut dan baik, agak pendiam dan pandai bermain piano.

  • Ketika Tan Malaka Ingin Pulang

    DARI Belanda, Tan Malaka pergi ke Moskow. Ia tampil sebagai wakil Indonesia dalam kongres keempat Komintern (Komunis Internasional) pada November 1922. Dalam waktu bersamaan diadakan kongres kedua Profintern, himpunan serikat-serikat buruh komunis yang didirikan pada 1921. Kongres Profintern mengusulkan untuk pertama kali agar sebuah konferensi buruh angkutan di negara-negara Pasifik diadakan di Timur Jauh. Konferensi itu akan diselenggarakan di Kanton (kini Guangzhou), Tiongkok. Pada 1923, Tan Malaka telah berada di Kanton sebagai wakil Komintern untuk Asia Tenggara. Ia diberi kewenangan luas terkait urusan partai dan berhubungan dengan kelompok-kelompok dan tokoh-tokoh di kawasan itu. Ia juga terlibat dalam mengorganisasi Konferensi Buruh Transportasi Pasifik pada Juni 1924.

  • Jejak Buruh di Awal Mei

    SEJAK 1884, kaum pekerja di Amerika Serikat (AS) ramai menyuarakan tuntutan bekerja “Delapan Jam Sehari”. Kala itu, bahkan sejak awal abad ke-19, banyak perusahaan-perusahaan yang memaksa buruh memeras keringat selama 14, 16, bahkan 18 jam sehari. Maka ketika kelas buruh dalam jumlah besar menghimpun diri dalam serikat-serikat buruh ditambah resolusi Serikat Buruh Nasional yang menyampaikan tuntutan serupa pada 1886, gerakan itu menemukan momentumnya. Sebelum Mei 1886, puluhan ribu buruh di AS kerap melakukan pemogokan. Pada 1 Mei, sekira 30 ribu pekerja di Chicago turun ke jalan bersama anak-anak serta istri, membuat kota lumpuh. Di seluruh penjuru AS, tak kurang dari 350 ribu diorganisasikan Federasi Buruh Amerika untuk mogok kerja. Dua hari berselang, saat pemogokan belum juga surut, pemerintah mengirim polisi untuk meredam aksi buruh di pabrik McCormick. Polisi menembaki pemogok: empat orang tewas dan banyak yang luka-luka. Buruh pun marah, bahkan merencanakan membalas dengan senjata, misalnya saja anggota kelompok Knights of Labour.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page