Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah Mantan Pilot John F. Kennedy
SEBUAH kapal kargo tiba di Timika, Papua pada September 1967. Kapal itu lalu mengeluarkan beberapa peti yang kemudian dibawa ke sebuah lapangan rumput di pantai. Peti-peti berisikan logam itu lalu dirakit. Perakitan logam-logam dari peti-peti itu rupanya menjadi pemandangan menarik bagi orang-orang Komoro. Setiap hari, ada 200-an orang Komoro yang menonton para teknisi itu bekerja. Yang dirakit orang asing itu ternyata sebuah pesawat helikopter tipe Bell 204 B, yang hanya bisa memuat dua orang saja, termasuk pilotnya. Tentu orang-orang Komoro belum pernah melihatnya.
- Ketika Sukarno dan Kennedy Berdebat
HARI masih belum terlalu terik di negara bagian Maryland, Amerika Serikat. Presiden John F. Kennedy bergegas menuju pangkalan Angkatan Udara Andrews. Ada apa gerangan? Rupanya seorang tamu penting telah datang. Pada 24 April 1961, Presiden Sukarno berkunjung ke Amerika Serikat. Pukul 10 pagi, pesawat Pan Am yang membawa rombongan Sukarno mendarat. Presiden Kennedy menerima secara langsung kedatangan Sukarno dengan upacara penyambutan. Pertemuan dilanjutkan ke Washington untuk mengadakan pembicaraan informal. Turut mendampingi Sukarno, Wakil Perdana Menteri Pertama Johanes Leimena, Menteri Luar Negeri Subandrio, dan Duta Besar Zairin Zain.
- Hikayat Setusuk Sate
SEHARI usai Proklamasi, dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Sukarno terpilih sebagai presiden pertama Indonesia. Lepas sidang, dengan berjalan kaki, Sukarno pulang ke rumahnya di Jalan Pegangsaan. Di jalan, dia bertemu dengan tukang sate pinggir jalan. Lalu, meluncurlah perintah pertamanya sebagai presiden: “Sate ayam lima puluh tusuk.” Tanpa sungkan, dengan berjongkok di dekat got dan tempat sampah sebagaimana orang kebanyakan, Sukarno melahap sate pesanannya. “Itulah seluruh pesta perayaan terhadap kehormatan yang kuterima,” kata Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Sate terbilang makanan populer sejak dulu. Dari pedagang kaki lima hingga restoran menyajikan menu sate. Pada 2011 dalam survei CNN Go sate menempati urutan 15 sebagai World’s 50 most delicious foods. Dalam jajak pendapat pembaca oleh lembaga yang sama sate juga masuk dalam delapan jajanan kaki lima terfavorit di dunia.
- JPO Pertama di Indonesia
PEMERINTAH berpikir zebra cross mampu menjawab kebutuhan pejalan kaki untuk menyeberang. Namun, perilaku berkendara di Jakarta membuyarkan pikiran tersebut. “Pengendara Jakarta kalau mendekati zebra cross bukan mengurangi kecepatan mobil, tapi justru mempercepatnya untuk mendahului si pejalan kaki yang mau menyeberang,” tulis Kompas, 12 Oktober 1965. Muncul pikiran lain untuk memecahkan urusan menyeberangkan orang di jalan besar dan ramai. Di jalan-jalan semacam inilah nyawa pejalan kaki sering melayang. Orang menyebutnya ‘jalan setan’. Antara lain di Jalan Matraman, Salemba, Hayam Wuruk-Gajah Mada, Sudirman, dan Thamrin. "Penyeberangan manusia pada tempat-tempat ramai sejak adanya lalu-lintas modern merupakan masalah rumit dan sulit. Ribuan warga kota telah menjadi korban keganasan lalu-lintas," tulis F. Bodmer dan Moh. Ali dalam Djakarta Djaja Sepandjang Masa, terbitan 1969.
- Duka Australia di Pulau Bangka
SENYUM ceria menghiasi wajah 22 perawat yang tergabung dalam Australian Army Nursing Service (AANS) begitu tiba di Heidelberg Military Hospital, Melbourne. Petang 24 Oktober 1945, di tengah guyuran hujan, mereka mendapat sambutan meriah. Mereka adalah para perawat yang selamat dari kekejaman tentara Jepang semasa Perang Dunia II. Vivian Bullwinkel ada di antara mereka. “Dia menunjukkan bekas peluru yang menyerempet pinggang kanannya sewaktu serdadu-serdadu Jepang membantai para perawat, serdadu, dan warga sipil Australia di pantai Bangka,” tulis harian The Argus, 25 Oktober 1945. Sekira dua bulan kemudian, Bullwinkel membeberkan kepada The Canberra Times, 21 Desember 1946, tentang apa yang kemudian dikenal dengan Pembantaian Pulau Bangka. Kesaksiannya membuka mata dunia akan kekejaman Jepang dan mendorong Australia untuk melakukan penyelidikan.
- Rumah Proklamasi
Dalam catatan sejarah, rumah pembacaan Proklamasi sering berpindah kepemilikan. Ada yang mengatakan rumah ini milik pengusaha Arab. Ada pula yang menyebut milik advokat Belanda.
- Jatuh Bangun Tugu Proklamasi
JIP-jip berisi orang Inggris terparkir di dekat Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta sejak pagi 17 Agustus 1946. Para wartawan asing tak mau ketinggalan untuk meliput acara hari itu. Mereka datang untuk mengawasi jalannya peresmian Tugu Proklamasi. Segala perisapan peresmian sudah siap. Tugu Proklamasi sudah diselubungi kain merah putih. Karangan bunga dari toko Florida milik Nyonya Gerung dan ibunya menjadi hiasan yang mengelilinginya. Tapi, hingga pukul sembilan pagi persemian belum juga dimulai. Padahal, jip-jip itu sudah mengawasi sejak tiga jam sebelumnya. “Pada jam 09.00 pagi saya kena marah Bung Syahrir,” kata Johanna Tumbuan atau Johanna Masdani dalam memoarnya di buku kumpulan cerita perempuan, Sumbangsihku Bagi Pertiwi.
- Sukarno, Patung, dan Patung Sukarno
SETELAH kontroversi patung Sukarno yang akan dibangun di Bandung Barat, kini viral patung Sukarno di Bung Karno Sport Center Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan. Pembangunannya menelan biaya sekitar 500 juta. Patung ini dipersoalkan karena tidak mirip Sukarno; mukanya tembem serta kaki dan badannya besar. Tampaknya Sukarno merupakan tokoh sejarah yang paling banyak dibuatkan patung. Berbagai daerah seolah berlomba-lomba membangunnya. Di satu daerah saja bisa ada beberapa patung Sukarno. Sukarno memang suka pada seni dan arsitektur. Ia mengoleksi lukisan dan tertarik pada patung serta monumen. Namun, bukan tentang dirinya tetapi gagasannya. Gagasan itu mewujud dalam patung dan monumen yang menjadi landmark kota, seperti Patung Selamat Datang, Patung Pembebasan Irian Barat, Patung Dirgantara, dan tentu saja Monumen Nasional.
- Makanan Tadi Malam
KONVOI pasukan Sekutu membawa logistik untuk tawanan perang dan interniran (APWI atau Allied Prisoners of War and Internees) di Bandung diadang dan diserang tentara dan pejuang. Penyergapan itu memaksa mereka kembali ke Jakarta. Sekutu pun meminta bantuan pemerintah Indonesia agar pengiriman bantuan kemanusiaan tidak mendapat gangguan di perjalanan. Pemerintah mengerahkan siswa Akademi Militer Tangerang bersama para pembinanya. Pengiriman dilaksanakan dalam tiga misi. Misi pertama pada 11 Desember 1945 dipimpin oleh Mayor Daan Mogot. Sedangkan misi kedua pada akhir Desember 1945 dipimpin oleh Kapten Kemal Idris. Kedua misi ini berjalan dengan lancar.
- Sigap Menangkal Babi-Babi Suap
KOLONEL I Gusti Kompyang (IGK) Manila tahu betul beragam tantangan yang bakal dihadapi ketika menduduki jabatan manajer timnas Indonesia untuk SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Bukan hanya soal segudang problem persiapan tim, tapi juga “hantu” judi dan suap yang sudah lama membayangi persepakbolaan Indonesia. Manila (kini Mayjen TNI Purnawirawan) punya keyakinan bahwa para bandar judi dan tukang suap masih jadi ancaman buat tim Garuda. Empat tahun sebelumnya, sebuah kasus suap menggegerkan persepakbolaan nasional. Suap hinggap ke timnas Indonesia pra-Olimpiade 1987. Elly Idris, Bambang Nurdiansyah, Noach Maryen, Louis Mahodim langsung dikenai hukuman larangan bertanding selama tiga tahun akibat kasus itu.
- Babi dalam Masyarakat Nusantara
KETIKA pengikut Magellan berkunjung ke Tidore, raja meminta kami untuk membunuh semua babi yang kami bawa dalam kapal. Itu demi menunjukkan cinta kami kepadanya. Padahal dalam hal-hal lainnya dia tak begitu taat. Itu meski dia telah lima puluh tahun memeluk agama Islam. Sebagai gantinya, sang raja pun bilang akan memberi kami kambing serta ayam dalam jumlah yang sama. Kami membunuh babi-babi itu demi menyenangkan hatinya dan menggantungnya di bawah dek. "Kalau orang-orang itu kebetulan melihat babi mereka menutup muka agar tak melihat atau mencium baunya," tulis Pigafetta, penjelajah Venesia, dalam catatannya pada 1524.
- Babi dalam Masyarakat Batak Toba
Keberadaan babi di kota Medan sedang dipermasalahkan. Ribuan massa yang mengatasnamakan gerakan #savebabi menggelar unjuk rasa menolak isu pemusnahan babi. Gagasan ini muncul setelah wabah virus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika dan Hog Cholera (Kolera Babi) melanda peternakan babi di Sumatra Utara. Untuk mengatasinya, pemerintah didesas-desukan akan memusnahkan babi yang tercemar penyakit dan menertibkan peternakannya. Aksi #savebabi tersebut dilakukan di depan kantor DPRD Sumatra Utara di Jalan Imam Bonjol, Medan. Para pengunjuk rasa umumnya berasal dari suku Batak sebab mereka mengenakan ulos – kain khas Batak – sebagai penanda identitas. Bagi mereka babi mempunyai nilai penting. Selain mata pencaharian, beternak babi tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan Batak.





















