Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kekerasan Terhadap Etnis Tionghoa
Data jumlah korban kekerasan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia 1740–1998.
- “Kalau Soal Kemanusiaan Bung Karno Lebih Hebat”
RUMAH bercat putih di bilangan Tulodong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu tak mudah ditemukan. Tak ada nomor rumah di pintu pagarnya. Ia terapit dua rumah tetangganya yang lebih terlihat dominan. Setelah beberapa kali menekan tombol bel yang terselip di sisi kiri dalam tembok pagar, sang tuan rumah keluar membuka pintu. Dia sendiri. “Ibu sedang keluar, dia baru pulang dari Melbourne”. Empunya rumah, Farid Prawiranegara, anak keempat Sjafruddin Prawiranegara. Ayahnya adalah petinggi Partai Masyumi. Sjafruddin pernah jadi ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) saat Sukarno ditahan Belanda dan gubernur Bank Indonesia sebelum bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pernah dicap sebagai pemberontak, Sjafruddin mendapat gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah pada 10 November 2011.
- Menyeru Dakwah Menebar Jihad
MUKTAMAR di Malang, 7 November 1968, sudah akan berakhir ketika panitia menerima telegram dari Istana Negara. Sekretaris Negara Alamsjah Ratu Perwiranegara, pengirim telegram, memaklumatkan pesan pemerintah: menolak pemilihan Mohamad Roem sebagai ketua Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Tak pelak seluruh peserta muktamar kecewa. Sebelumnya, harapan merehabilitasi Partai Masyumi terkubur karena tak mendapat restu dari militer. Pembentukan partai Islam baru mendapat lampu hijau asalkan tak melibatkan bekas tokoh-tokoh Masyumi dalam jajaran pimpinan. Demikianlah, pada 20 Februari 1968, Parmusi didirikan di bawah pimpinan Djarnawi Hadikusumo dan Lukman Harun, dua aktivis Muhammadiyah. Tak senang, para bekas aktivis Masyumi menyusun rencana untuk mengambil alih kepemimpinan partai melalui muktamar pertama di Malang. Dalam muktamar, peserta menjatuhkan pilihan kepada Roem, yang dianggap tak sekeras Mohammad Natsir.
- Masyumi Bukan Partai Terlarang
SEJAK bergabung dengan PRRI, Mohammad Natsir, ketua umum Masyumi, mengirim pesan agar namanya tak dikaitkan lagi dengan Masyumi supaya partai tak dianggap terlibat pemberontakan. Namun, pesan ini tak bisa menghalangi perselisihan di tubuh Masyumi. Sebagian besar pimpinan partai menentang, malahan beberapa di antaranya mendesak partai agar mendukung secara resmi aksi-aksi Natsir. Seperti dilakukan Kasman Singodimedjo dalam pidatonya di bioskop Roxy, Magelang pada 31 Agustus 1958.
- Ikhtiar Terhenti di Konstituante
MASYUMI menggantungkan harapan tinggi untuk bisa menjadikan syariat Islam rujukan hukum tertinggi di Indonesia. Perjuangannya sudah dimulai sejak sidang-sidang awal Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1945. Kegagalan meloloskan syariat Islam melalui Piagam Jakarta tak membuat surut usaha mewujudkan cita-cita mendirikan negara Islam. Masyumi disiapkan jadi perahu politik umat Islam untuk ikut ajang pemilihan umum dan pemilihan anggota Konstituante 1955. Menggalang aspirasi umat Islam untuk membentuk negara yang bersendikan syariat.
- Demi Hak dan Akhlak Perempuan
BERSAMAAN didirikannya Masyumi pada 7 November 1945, dibentuk pula wadah bagi anggota partai perempuan, yaitu Masyumi Muslimat. “Pada masa revolusi, di bidang sosial pada kaum Muslimat diserahkan tugas pekerjaan yang bersifat seperti Palang Merah dan bagian penyediaan (supply) kebutuhan pangan dan pakaian para pejuang militer,” tulis Hamzah Wiryokusukarto dalam Wawasan Politik Seorang Muslim Patriot Dr. Soekiman Wirjosandjojo 1898–1974.
- Setelah Rohayan Menembak Soeprapto
PADA 15 Februari 1990, Yohannes Surono, Paulus Satar Suryanto, Simon Petrus Solaiman, dan Norbertus Rohayan diambil dari sel mereka di Penjara Cipinang. Mereka dibawa ke tempat lain untuk dieksekusi. Mereka semua merupakan tahanan politik (tapol) 1965 eks prajurit Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Sukarno, yang terlibat dalam Gerakan 30 September (G30S) 1965. Peran mereka hampir sama, menculik jenderal-jenderal Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) untuk dihadapkan ke presiden lantaran para jenderal itu diduga menjadi anggota Dewan Jenderal yang akan mengkudeta Presiden Sukarno.
- Imigran Penentu Standar Musik Dunia
BARANGKALI tak banyak orang yang bisa membayangkan kehidupan Heinrich Engelhard Steinweg. Lahir pada 15 Februari 1797, di tengah sebuah keluarga besar yang bahagia di desa Wofshagen, Jerman. Saban hari keluarganya memetik sayuran dari ladang sendiri, dan sungai yang mengalir dari pegunungan menyediakan ikan-ikan segar. Namun pada usia 15 tahun Heinrich telah menjadi yatim piatu. Ia juga kehilangan beberapa saudaranya dalam perang melawan Napoleon. Heinrich sendiri kemudian bergabung dengan militer, dan ditugasi menjadi peniup terompet. Seperti dicatat Alan C. Elliott dalam A Daily Dose of the American Dream: Stories of Success, Triumph, and Inspiration, meski tak punya pendidikan musik formal, Heinrich ternyata punya bakat alami dalam musik. Ia kerap menghibur para tentara dengan permainan sitar dan pianonya. Namun pada 1822 ia memutuskan untuk berhenti sebagai tentara dan melanjutkan hidupnya sebagai tukang kayu. Dari sinilah ia mulai belajar membuat berbagai alat musik di ruangan dapur rumahnya.
- Tomegoro Yoshizumi Pendukung Republik
Tomegoro Yoshizumi, mata-mata Jepang yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.
- Tomegoro Yoshizumi, Intel Negeri Sakura
SUKARNO menghormati dua orang Jepang yang berjuang untuk Indonesia. Selain Ichiki Tatsuo, seorang lainnya adalah Tomegoro Yoshizumi. Yoshizumi lahir di Oizumi-Mura Nishitagawa pada 1911. Ketika berusia 21 tahun, dia menjadi satu dari sekian banyak spion militer Jepang yang dikirim ke Selatan (Hindia Belanda). Kala itu, Jepang mengirim banyak spionnya ke berbagai negeri untuk berbagai tujuan, yang tak melulu politik dan militer. “Sejak membuka diri, Jepang memaksimalkan kerja-kerja spionase untuk memakmurkan bangsanya,” tulis Wenri Wanhar, wartawan Historia, dalam bukunya, Jejak Intel Jepang: Kisah Pembelotan Tomegoro Yoshizumi. Para spion Jepang itu menyamar dengan menjalankan beragam profesi, dari pengusaha warung kelontong hingga rumah bordil.
- Kekecewaan Seorang Jepang
PADA 15 Februari 1958, Presiden Sukarno menyerahkan sebuah teks kepada Shigetada Nishijima untuk disimpan di biara Buddha Shei Shoji di Minatoku, Tokyo. Teks itu berisi kenangan Sukarno kepada dua orang Jepang yang membantu perjuangan Indonesia: Ichiki Tatsuo dan Yoshizumi Tomegoro. Di biara Buddha itu kemudian dibuat monumen Sukarno (Soekarno hi) bertuliskan: "Kepada sdr. Ichiki Tatsuo dan sdr. Yoshizumi Tomegoro. Kemerdekaan bukanlah milik suatu bangsa saja, tetapi milik semua manusia. Tokyo, 15 Februari 1958. Soekarno."
- Pahit Getir Hidup Sjahrir
SITI Rabyah Parvati baru berusia lima tahun ketika ikut mendampingi ayahnya, Sutan Sjahrir ke Zurich, Swiss, untuk menjalani perawatan. Sjahrir harus berobat ke negeri Eropa usai terkena serangan stroke. Penyakit itu mendera sebagai akibat tekanan darah tinggi yang dialaminya sewaktu mendekam dalam penjara. Atas seizin Presiden Sukarno, Sjahrir diperbolehkan berobat ke luar negeri. Titimangsa 1965, Sjahrir sekeluarga berangkat ke Zurich. “Kami mendapat izin untuk Papa berobat, asalkan bukan di negeri Belanda. Jadi, kami akhirnya mendapat izin untuk ke Zurich dan mendapat pengobatan di sana. Itu adalah saat saya usia lima ahun,” kenang Siti Rabyah dalam diskusi “Sjahrir: Perjuangan Kita” di Perpustakaan Nasdem, pekan lalu. Pada 1962, Sjahrir dikenai status tahanan politik oleh rezim Sukarno. Sjahrir bersama sejumlah tokoh oposisi yang disebut “Bali Connection” dituding berkomplot untuk mencelakai Presiden Sukarno. Tak lama setelah Sjahrir ditahan, partainya, Partai Sosialis Indonesia (PSI), dibubarkan oleh pemerintah. PSI dibubarkan bersama Masyumi lantaran kadernya terlibat dalam gerakan daerah PRRI-Permesta.




















