top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • The Last Moment of Wolter Mongisidi

    DESPITE being 86 years old, the man still looks strong and dashing. His memory is intact, his voice is clear. During the interview with Historia.ID on Friday (1/5/24), he was able to tell his story smoothly. The man is Robby Herman Mongisidi, a retired soldier residing in Malalayang, Manado, North Sulawesi. One of the things he is proud of, apart from successfully being a soldier, is his first placement in the unit that bears his late brother's name: Battalion 720/Wolter Mongisidi. Robby is the younger brother of national hero Robert Wolter Mongisidi, having a gap of ten years in age. Robby was still very young when his brother fought to defend Indonesian independence from the threat of Dutch recolonization. Fortunately, Robby knew someone who became one of the witnesses of Wolter's last moment before his death. Robby decided to meet that person, Pastor Purukan, one day in December 1974, when he visited his home in Malalayang.

  • Di Balik Kematian Wolter Mongisidi

    SEMASA hidupnya, Maulwi Saelan kerap terlihat geram jika membahas kematian sahabatnya, Robert Wolter Mongisidi. Bagi pejuang kemerdekaan asal Sulawesi Selatan itu, sejatinya nyawa Bote, panggilan akrab Wolter, masih bisa diselamatkan andaikan para pejabat Negara Indonesia Timur (NIT) memohonkan amnesti kepada Ratu Juliana di Den Haag, Belanda. “Nyatanya mereka tidak pernah memiliki niat baik itu karena bagi para pejabat NIT, Bote tak lebih sebagai penjahat biasa yang harus dienyahkan,” ungkap Saelan kepada Historia. Wolter ditembak mati oleh tim eksekusi dari Polisi Militer Belanda di sebuah lapangan yang masuk ke wilayah Tello, Makassar, pada 5 September 1949. Sebelumnya, pengadilan yang dipimpin oleh Hakim Mr. Dr. B. Damen meluluskan tuntutan tim oditur militer untuk memberikan vonis mati kepada pemuda kelahiran Malalayang, Sulawesi Utara, pada 14 Februari 1925 itu.

  • Detik-detik Terakhir Wolter Mongisidi

    KENDATI usianya sudah 86 tahun, tubuhnya masih sehat dan terlihat gagah. Ingatannya masih kuat, suaranya pun jelas. Kala ditemui Historia.ID pekan lalu, Jumat (5/1/24), dia bercerita dengan lancar. Dialah Robby Herman Mongisidi. Robby merupakan warga Malalayang pensiunan tentara. Satu hal yang mungkin membuatnya bangga, selain berhasil menjadi tentara, adalah penempatan pertamanya di kesatuan yang memakai nama mendiang kakaknya: Batalyon 720/Wolter Mongisidi. Robby merupakan adik kandung Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi. Usia keduanya terpaut jauh, lebih dari sepuluh tahun. Robby belum tahu banyak ketika kakaknya berjuang mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan kembali Belanda. Namun, Robby beruntung. Dia mengetahui orang yang tahu detail cerita detik-detik terakhir Wolter. Oleh karenanya, dia bergegas menemui orang itu.

  • Ketika Hamka Menggugat Imajinasi

    PARA nabi yang pensiun, bosan di surga. Mereka ingin kebagian jatah cuti bergilir turun ke bumi. Tuhan bertanya kepada Nabi Muhammad, untuk apa ke bumi. Muhammad menjawab untuk riset karena akhir-akhir ini umatnya sedikit yang masuk surga. Menurut Tuhan, kebanyakan mereka dari daerah tropis karena kena racun Nasakom (nasionalis, agama, dan komunis). Demikian pembuka cerita pendek berjudul “Langit Makin Mendung” karya Kipandjikusmin, yang dimuat di majalah Sastra pada 8 Agustus 1968. Cerpen ini berniat mengkritik Sukarno yang mengusung Nasakom. Cerpen ini menuai prahara sastra. Puluhan artikel di koran dan majalah dari pelbagai pengamat bersilang pendapat. Puncaknya, Sastra dibredel dan pemimpin redaksinya, H.B. Jassin, diseret ke meja hijau. Departemen Agama menuduh Jassin bertanggung jawab atas pemuatan cerpen yang menghina Tuhan dan merusak akidah umat Islam.

  • Menghalau Racun Pembunuh Hama

    “PERNAH di sebuah kota di jantung Amerika manusia hidup dalam harmoni dengan lingkungannya,” Rachel Carson memulai cerita. Namun, semuanya lenyap. Penyakit misterius menyapu manusia hingga ternak. Pohon-pohon bersemi tapi tak ada lebah, tak ada penyerbukan dan takkan ada buah. Sungai-sungai seolah tak bernyawa; ikan-ikan mati. “Apa yang telah membungkam suara-suara dari musim semi di kota-kota yang tak terhitung jumlahnya di Amerika?” Rachel Carson pun menjelaskan bagaimana interaksi makhluk hidup dengan lingkungan dan bagaimana manusia menunjukkan karakter jahatnya dengan mencemari lingkungan, terutama dalam penggunaan pestisida. “Untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, setiap manusia sekarang mengalami kontak dengan bahan kimia berbahaya, dari saat dia berada di janin hingga kematian,” tulis Carson. “Dalam waktu kurang dari dua dekade penggunaan pestisida sintetis di seluruh dunia, kematian terjadi hampir di mana-mana.”

  • Teror yang Menghantui Salman Rushdie

    SALMAN Rushdie, penulis novel kontroversial Ayat-ayat Setan (The Satanic Verses) diserang saat memberikan kuliah dalam satu acara di New York pada Jumat, 12 Agustus 2022. Mengutip The Guardian, dalam acara festival seni musim panas Chautauqua itu, Rushdie baru saja duduk dan tengah diperkenalkan oleh seorang panelis. Seorang lelaki tiba-tiba naik dan menyerang penulis berusia 75 tahun itu. Rushdie ditusuk beberapa kali, termasuk satu tusukan mengenai lehernya hingga darah mengalir di lantai. Ia segera dibawa ke rumah sakit menggunakan helikopter. Ia selamat meski harus dipasangi ventilator. Pelakunya berhasil ditangkap.

  • Kisah Menteri Termuda dalam Sejarah Indonesia

    TANGGA Veranda Istana Merdeka, Jakarta, kembali menjadi saksi lahirnya putra-putri terbaik bangsa. Rabu (23/10/2019) sekira pukul 08.30 WIB, Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan jajaran menterinya. Kompak berseragam batik, menteri-menteri terpilih dalam Kabinet Indonesia Maju ini akan mendampingi pemerintahan Jokowi-Ma’ruf selama 5 tahun kedepan. Dari sekian menteri yang sebelumnya dipanggil oleh Jokowi, sosok Nadiem Makarim cukup mendapat sorotan. Diberitakan detik.com, pendiri perusahaan transportasi berbasis daring, Gojek, ini menjadi menteri termuda dalam jajaran pemerintahan Jokowi. Berusia 35 tahun, Nadiem resmi menempati kursi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

  • Menteri Pertahanan yang Hilang

    PASCA Proklamasi 17 Agustus 1945, urusan pemerintahan mulai ditata. Kabinet pertama pun dibentuk pada 19 Agustus 1945 bernama Kabinet Presidensial. Kabinet Presidensial terdiri atas 12 Menteri Departemen ditambah lima Menteri Negara yang tidak mengepalai suatu Departemen tertentu. Kabinet ini kemudian dilantik oleh Presiden Sukarno pada 2 September 1945. Salah satu menteri dalam kabinet ini adalah Supriyadi, tokoh pemberontakan Peta (Pembela Tanah Air) di Blitar pada Februari 1945. Supriyadi diangkat sebagai Menteri Keamanan Rakyat. Kementerian ini kemudian berubah menjadi Kementerian Pertahanan. Namun, Supriyadi tak pernah kelihatan bahkan dinyatakan hilang.

  • Nasihat Menjelang Pemberontakan

    14 FEBRUARI 1945, kota Blitar dikejutkan dengan kejadian yang menghebohkan. Sepasukan prajurit PETA (Pembela Tanah Air) pimpinan Shodanco Supriyadi, Shodanco Muradi dan Shodanco Sunanto melakukan perlawanan terhadap militer Jepang. Selain perilaku diskriminasi dari prajurit-prajurit Jepang, pemberontakan tersebut dipicu juga oleh kemarahan para anggota PETA terhadap pihak militer Jepang yang kerap membuat penderitaan terhadap rakyat. Kendati gagal, namun tidak dapat dimungkiri jika pemberontakan tersebut sempat membuat penguasa militer Jepang ketar-ketir. Itu terbukti saat mereka melakukan penumpasan, seluruh kekuatan militer Jepang di Blitar dikerahkan, bahkan juga melibatkan unsur-unsur kavaleri dan infanteri dari wilayah lain.

  • Koes Plus dan Mantan Perwira AURI

    SEBAGAI pemuda yang mengalami masa revolusi kemerdekaan, Mohammad Sidik Tamimi alias Dick Tamimi beruntung pernah kuliah di Technisch Hogeschool (Sekolah Tinggi Teknik) Bandung meski tidak sampai lulus. Orang-orang seperti dirinya dibutuhkan untuk membangun negara setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan Sukarno-Hatta. Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) merupakan salah satu yang membutuhkan banyak tenaga untuk membangun dirinya. Meski dilanda berbagai macam kekurangan termasuk pesawat dan segala suku cadangnya, alat negara yang baru berdiri pada 9 April 1946 itu berhasil menghimpun banyak teknisi muda. Dick salah satu di antaranya.

  • Montase Seorang Ikon

    BOCAH pirang itu sangat aktif dan selalu riang. Berjalan ke sana ke mari, memainkan benda apapun yang menarik perhatiannya, atau menirukan orang dewasa melakuan pekerjaan memenuhi hari-harinya. Orang-orang sangat menyukainya. “Dia adalah magnet. Semua orang ingin menjumpainya,” kata Wendy Elizabeth, sang ibu. Dalam sebuah pesta di rumahnya, bocah itu memainkan gitar, drum, dan piano mainan yang menjadi hadiahnya secara bergantian. Aksinya mengundang tawa para hadirin, terutama sang ibu. Cobain sejak kecil sudah menyukai musik.

  • A Dutch East Indies Referee at the Olympics

    Wednesday evening, June 13, 1928. The Olympic Stadium in Amsterdam, Netherlands, was filled with thousands of spectators. They were excited to watch the Olympic football final rematch between two South American powerhouses: Uruguay and Argentina. On the sidelines stood a linesman from a distant land in the east. He was probably unknown to the Dutch public. However, his presence was a pride for Dutch East Indies football. His name was Max Foltynski. Foltynski wasn't alone. On the other side of the field was H. Maeck from Belgium. Meanwhile, the referee was J. Mutters from the Netherlands.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page