top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Dari Zakat Sampai Koperasi

    UNTUK kesekian kalinya, buruh perkebunan dan pabrik kapas milik pemerintah di Delangu, Solo, melakukan aksi mogok menuntut perbaikan nasib. Namun, aksi kali ini pada Juli 1948, berujung ricuh. Terjadi bentrokan dengan anggota Sarekat Tani Islam Indonesia (STII). Dalam pernyataan persnya, dikutip Pandji Ra’jat, 16 Juli 1948, STII menyebut beberapa petani STII yang bekerja di ladang dengan penjagaan anggota Hizbullah dikeroyok 500 pemogok. Mereka dipaksa menghentikan pekerjaan. Sementara SOBSI, ​​onderbouw PKI, dan Front Demokrasi Rakyat mendukung aksi buruh Delangu sekaligus mencela tindakan STII. Sekalipun pemerintah ambil tindakan, insiden ini masih berlanjut. Pada 13 September 1948, beberapa anggota STII diculik Pesindo. Penculikan ini merupakan bagian dari rangkaian kegentingan di Solo yang bermuara pada peristiwa Madiun 1948.

  • Antara Komunis atau Majikan

    DALAM konferensi Masyumi tahun 1947, muncul diskusi mengenai pengaruh ajaran Islam dalam gerakan perburuhan di Indonesia. Konferensi itu pun memutuskan untuk membuat konferensi khusus mempelajari persoalan tersebut dengan melibatkan para ulama dan tokoh serikat buruh. Konferensi khusus itu dihelat setahun kemudian. Setelah mendiskusikannya, konferensi menyimpulkan tak ada ketentuan dalam Al-Qur’an yang membahas masalah perburuhan. Tetapi terdapat beberapa indikasi dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan tradisi Nabi Muhammad Saw. yang memberi jalan dalam memecahkan masalah kaum pekerja. Sehingga tak ada salahnya jika Masyumi mendirikan serikat buruh.

  • Menegaskan Kawan dan Lawan

    SEMENTARA penyelesaian soal Darul Islam (DI) masih terkatung-katung, Kasman Singodimedjo, wakil ketua umum Masyumi, membuat pernyataan kontroversial. Dia mengatakan pemerintah seharusnya memberi amnesti kepada anggota DI yang tertangkap. Pemberian amnesti ini merupakan satu-satunya jalan untuk memulihkan keamanan. Kasman mengibaratkan pemerintah dan DI sebagai ayah dan anak. “Betapapun nakalnya anak, yah, kalau diajar tidaklah sampai dipukul mati,” tulis harian Abadi, 19 September 1955.

  • Paman Sam Mencoblos Masyumi

    MADIUN, 18 September 1948, dianggap sebagai peristiwa kelam bagi Masyumi. Banyak anggota Masyumi, dari guru hingga kiai, menjadi korban. Sehingga, Masyumi mengusulkan 18 September sebagai Hari Berkabung Nasional. Sejak itu, kebencian Masyumi terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) tak tertahankan lagi. “Sementara kukuh membenci komunis, Masyumi cenderung pro-Amerika, dan hubungan dekat antara diplomat-diplomat Amerika dengan para pemimpin Masyumi, terutama Sukiman, telah banyak dicatat di media massa,” tulis Ann Swift dalam The Road to Madiun: The Indonesian Communist Uprising of 1948.

  • Darul Islam Mencederai Masyumi

    TAK ada kertas tulis. Mohammad Natsir pun menulis di kertas berkepala surat “Savoy Homann Hotel”, tempat dia menginap. Dia lalu meminta Ahmad Hassan, ulama utama Persatuan Islam (Persis) yang menjabat Menteri Agama di Negara Pasundan, untuk menyampaikan suratnya kepada S.M. Kartosoewirjo. Harapannya, surat itu bisa sampai karena Kartosoewirjo menghormati Hassan. Natsir datang ke Bandung pada awal Agustus 1949. Sebagai ketua komisi untuk penyelesaian masalah Darul Islam, dia diutus Perdana Menteri Mohammad Hatta untuk membujuk Kartosoewirjo agar mengurungkan niat mendirikan Negara Islam atau Darul Islam. Hatta sendiri sudah membujuk Kartosoewirjo tapi tak berhasil, sementara pada 6 Agustus dia bertolak ke Belanda untuk menghadiri Konferensi Meja Bundar.

  • Jalan Terjal Masyumi Menuju Ajal

    SETELAH serangkaian diskusi mengenai masa depan politik Islam, timbul gagasan untuk mendirikan organisasi politik. Pada Oktober 1945, sebuah komite dikepalai Mohammad Natsir dibentuk untuk merealisasikan rencana tersebut. Tak lama, Wakil Presiden Mohammad Hatta mengeluarkan Maklumat No. X tentang anjuran membentuk partai-partai politik. Natsir bergerak cepat. Pada 7–8 November 1945, di Gedung Madrasah Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakarta, dihelatlah Kongres Umat Islam yang dihadiri para pemimpin muslim dan perwakilan organisasi muslim. Kongres memutuskan pembentukan satu-satunya partai politik yang menyalurkan aspirasi politik umat Islam.

  • Redup Terang Bulan Bintang

    MASYUMI, sedari kemunculannya, sudah menggetarkan banyak orang. Tak tanggung-tanggung, sejumlah organisasi dan partai politik yang tumbuh sebelum dan sesudah masa perang, dari berbagai aliran, tergabung di dalamnya. Tak pelak Masyumi dianggap sebagai satu-satunya partai politik yang menyalurkan aspirasi umat Islam dan partai Islam terbesar di masanya. Dan jika pemilihan umum digelar saat itu, sebelum 1950-an, Masyumi diyakini akan meraih suara mayoritas. Namun, sedari awal, Masyumi ternyata lapuk. Pertentangan dari dalam tak henti merongrongnya. Dari luar, Masyumi tak bisa mengimbangi kekuatan partai nasionalis dan komunis; dan lebih-lebih Sukarno. Gagasan menjadikan ajaran dan hukum Islam sebagai dasar negara pun kandas di Konstituante. Keblingeran sejumlah pemimpinnya yang melibatkan diri dalam Darul Islam dan terutama PRRI tak hanya menjadi amunisi bagi lawan politiknya untuk meyerang, tetapi juga menjadi jalan Masyumi menuju sunyi. Presiden Sukarno memerintahkan pembubaran Masyumi jika tak ingin dinyatakan sebagai partai terlarang. Alasan itu pula yang membuat penguasa Orde Baru trauma dan mengabaikan desakan untuk merehabilitasi Masyumi. Namun, Masyumi tak ingin terkubur dalam sejarah. Seperti dikatakan Mohammad Natsir, ketua umum Masyumi, pada 17 Desember 1952: “Saya peringatkan kepada semua orang yang mendengar kata-kata ini atau yang membaca apa yang saya katakan sekarang, ialah, bahwa Masyumi sebagai wujud organisasi terbesar di seluruh Indonesia, adalah mempunyai semangat jihad. Masing-masing dari kami dapat di-‘diam’-kan dengan bermacam cara, tapi ribuan orang akan menggantikannya...” Masyumi tak ada lagi tapi semangatnya menyala lewat dakwah dan politik yang dilakukan oleh mereka yang mengklaim sebagai pewarisnya.* Berikut ini laporan khusus Masyumi. Jalan Terjal Masyumi Menuju Ajal Darul Islam Mencederai Masyumi Tanding Sengit Bulan Sabit vs Palu Arit Paman Sam Mencoblos Masyumi Menegaskan Kawan dan Lawan Antara Komunis atau Majikan dari Zakat Sampai Koperasi Melawan Lekra, Menghalalkan Seni Kampiun Persatuan Pemuda Islam Muslimat Masyumi Demi Hak dan Akhlak Perempuan Ikhtiar Terhenti di Konstituante Trio Masyumi dalam PRRI Masyumi Bukan Partai Terlarang Menyeru Dakwah, Menebar Jihad “Kalau Soal Kemanusiaan Bung Karno Lebih Hebat”

  • Sutan Sjahrir dan Manifesto Antifasis

    SUTAN Sjahrir tak banyak meninggalkan warisan. Sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan yang pernah menjabat perdana menteri pertama Indonesia, Sjahrir hanya meninggalkan sedikit harta bagi keluarganya. Partai yang dibentuknya, Partai Sosialis Indonesia (PSI), dibubarkan oleh rezim Sukarno. PSI pun hanya menyisakan segelintir kader intelektual. “Partainya kecil banget tuh PSI. Tapi, dia (Sjahrir) sebut ini partai kader. Jadi tidak perlu besar. Dia fokus pada kaderisasi. Itu PSI zaman dulu,” kata intelektual publik Rocky Gerung dalam diskusi Sutan Sjahrir “Perjuangan Kita” di Perpustakaan Nasdem, Jakarta Pusat, 30 Januari 2026. Semasa mudanya, Rocky teridentifikasi sebagai “Orkit” alias “Orang Kita”, sebutan untuk jaringan kelompok intelektual yang berafiliasi dengan PSI. Selain berorientasi pada pedagogi, menurut Rocky, salah satu ciri intelektual Sjahrir ialah pemikirannya tentang antifasisme. Sjahrir menerangkannya dengan gamblang dalam pamflet perjuangan berjudul Perjuangan Kita yang terbit pada 1945, sebelum PSI terbentuk.

  • CIA dan Operasi Jakarta di Chile

    PADA 11 September 1973 Jenderal Augusto Pinochet mengerahkan pasukan, tank, dan Angkatan Udara, menyerbu istana kepresidenan La Moneda untuk menggulingkan Presiden Chile Salvador Allende, seorang sosialis demokrat. Allende memutuskan bunuh diri menggunakan senapan AK-47 pemberian sahabatnya, pemimpin Kuba, Fidel Castro. Namun, banyak orang percaya, kalau dia ditembak mati. Keluarga Allende menerima versi resmi bahwa Allende bunuh diri. Untuk kembali memastikan kematiannya, pada 2011 keluarga mengizinkan jenazah Allende digali untuk diselidiki oleh Pengadilan Chile dengan melibatkan para pakar internasional, termasuk ahli balistik. Dua bulan setelah penggalian, hasil penyelidikan diumumkan dan disimpulkan bahwa Allende bunuh diri.

  • Meredam Murka Gunung Kelud

    LAPISAN abu vulkanis setebal 10 cm menutup lantai bata Situs Petirtaan Geneng di Brumbung, Kepung, Kediri. Tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur mulai menggali situs ini pada awal Juli 2020. Telah berabad lamanya petirtaan ini terkubur oleh aktivitas vulkanis Gunung Kelud yang berada di dekatnya. "Termasuk bencana banjir yang menerjang membuat sebagian struktur bangunan pemandian suci itu runtuh," kata Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog BPCB Jawa Timur, dalam webinar "Bencana Alam dan Jejak Peradaban Abad 12-14 M" yang diadakan Teknik Geofisika ITS. Di situs ini ditemukan bongkahan batuan andesit yang diduga terlontar dari perut Kelud. Dorongan dari dalam tanah telah merusak struktur gapura. Sepertinya situs ini memiliki gapura paduraksa yang beratap.

  • Mula Operasi Plastik

    KRISDAYANTI, Mpok Atiek, dan Nikita Mirzani mengaku melakukan operasi plastik. Para selebriti tersebut menjalani bedah estetis (kosmetik) untuk memperindah penampilan. Operasi plastik juga dilakukan pasien penderita tumor kulit, bibir sumbing, atau luka bakar. Operasi plastik golongan terakhir ini disebut bedah konstruktif. Tujuannya untuk menangani bagian tubuh yang cedera. Praktik operasi plastik di Indonesia bermula dari masuknya pengetahuan medis Barat. Mulanya, bedah plastik ditujukan hanya untuk perbaikan, khususnya pada korban perang yang mengalami luka bakar atau kerusakan di bagian wajah. Pengetahuan tentang prosedur rekonstruksi ini dibawa oleh para ahli bedah Austro-Hungaria yang tinggal di Hindia-Belanda. Mereka datang karena bergabung dengan Korps Medis Angkatan Darat (KNIL) setelah Perang Dunia I. Mereka berpengalaman melakukan operasi pada korban perang selama beberapa tahun.

  • Dilema Partai Kader

    MALAM itu, 12 Februari 1948, di rumah ibunda Soebadio Sastrosatomo di Kliteran, Yogyakarta. Sekira sepuluh orang pengikut Sutan Sjahrir berkumpul: Soebadio, Soepeno, Djohan Sjahroezah, Soegondo, Tedjasukmana, A. Halim, dan lain-lain. Mereka sepakat mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI), terlepas dari Partai Sosialis yang dikuasai kaum komunis. Persoalan muncul, bagaimana dengan Sjahrir yang tak hadir karena sedang di Bukittinggi? Apakah tidak menunggu kabar darinya sebelum mendeklarasikan lahirnya partai baru ini, apalagi jika dia akan dijadikan ketuanya? Meski bukan anggota dan hanya simpatisan, A. Halim mengusulkan tidak perlu menunggu kabar dari Sjahrir, tetapi namanya ditempatkan nomor urut satu. Soebadio setuju, Djohan masih ragu khawatir Sjahrir tidak setuju. Halim hakulyakin Sjahirir pasti setuju. “...dengan begitu lahirlah Partai Sosialis Indonesia di Kliteran, Yogyakarta, dengan ketuanya di Bukittinggi,” tulis A. Halim, “Sjahrir yang Saya Kenal,” termuat dalam Mengenang Sjahrir.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page